Kabar buruk itu datang hari Kamis, dalam bentuk yang paling tidak mencurigakan: satu panggilan telepon biasa ke ponsel Jeng Ayu.
Ayu mengangkatnya sambil tersenyum, karena nama yang tertera di layar adalah nama anak sulungnya. Tapi lima menit kemudian, wanita itu duduk di sofa rumahnya yang besar dengan telepon sudah turun di pangkuan, dan tidak bergerak untuk waktu yang lama.
Dave pulang. Minggu depan. Bukan untuk liburan — untuk pindah kerja ke kantor pusat di kota ini. Untuk menetap.
Ayu menatap layar ponselnya lama setelah sambungan itu terputus.
Ia mencintai kedua anaknya — itu hal yang tidak perlu dipertanyakan. Tapi mencintai dua anak itu ternyata dua pekerjaan yang sangat berbeda. Anak bungsunya mencintai dalam diam: datang kalau dipanggil, mengobati kalau disakiti, tidak pernah meminta apa-apa. Anak sulungnya mencintai dalam suara: menelepon kalau perlu sesuatu, meminta maaf dengan kalimat yang terlalu rapi, dan selalu, selalu berhasil membuat orang lupa pada kesalahannya sebelum sempat marah betulan.
Dua puluh sembilan tahun jadi ibu, dan Ayu masih tidak tahu cara mengasuh anak sulungnya itu tanpa merasa sedang ditipu pelan-pelan.
Dan sekarang anak itu pulang, ke kota yang sama, ke lingkar hidup yang sama dengan Anara — gadis yang dua tahun lalu menangis karena anaknya, dan yang baru saja mulai tersenyum lagi karena anaknya yang satu lagi.
Ayu memijit pelipisnya. "Ya, Tuhan," bisiknya pada rumahnya yang sepi. "Jangan biarkan Ibu gagal dua kali."
Malam itu juga, Arga dipanggil pulang ke rumah besar yang sepi itu, dan menemukan ibunya duduk menunggu dengan dua cangkir teh yang sudah dingin.
"Kapan dia sampai?" tanya Arga langsung, tanpa basa-basi, setelah mendengar semuanya.
"Senin depan." Ayu memutar-mutar cangkirnya. "Dia bilang ... dia mau memperbaiki banyak hal. Dia bilang dia berubah."
"Orang selalu bilang begitu di bandara."
"Arga." Ayu menatap anak bungsunya, dan di mata wanita itu ada sesuatu yang jarang terlihat: takut. "Ibu takut, Nak. Bukan takut dia pulang. Ibu takut dia merusak ... semua yang baru mulai baik."
Arga diam sejenak. "Merusak apa, Bu?"
"Kamu tahu maksud Ibu." Ayu menarik napas. "Ibu gagal sekali, Nak. Ibu gagal mendidiknya soal perasaan, dan Anara yang membayar kegagalan itu. Sekarang, baru saja Ibu melihat ada cahaya di antara kalian berdua ... dia pulang. Ibu kenal anak Ibu yang satu itu. Dia tidak pernah pulang tanpa alasan."
Arga tidak menjawab. Ia menatap dua cangkir teh dingin itu, dan rahangnya mengeras seperti biasa setiap nama kakaknya disebut.
"Biar saya yang memberi tahu Anara," ucapnya akhirnya. "Dia berhak dengar ini dari orang yang tidak punya kepentingan apa pun."
Ayu menatap anaknya lama, dan untuk sekali ini, ia memilih tidak mengomentari kalimat itu.
***
Jumat pagi, Arga menyampaikannya di sela meeting, dengan nada yang ia jaga tetap datar seperti membaca laporan cuaca.
"Kakak saya pulang. Senin depan. Pindah kerja ke sini, menetap."
Pen Anara berhenti bergerak di atas dokumennya. Hanya sepersekian detik, tapi Arga melihatnya — pria itu memang selalu melihat hal-hal sepersekian detik.
"Oh." Anara menatap dokumennya lagi. "Oke. Terus?"
"Tidak ada terus. Hanya ... Anda berhak tahu lebih dulu, supaya tidak kaget kalau suatu hari berpapasan."
"Gue udah kelar sama itu semua, Pak." Anara mengangkat wajahnya, dan senyumnya kali ini tipis tapi asli. "Itu berkas lama. Sudah diarsip, sudah dilem, sudah masuk gudang. Lo enggak perlu ngabarin gue kayak ngabarin berita duka."
Arga mengangguk. "Bagus kalau begitu."
Sore harinya, ada satu hal kecil yang tidak masuk klausul mana pun: untuk pertama kalinya, bukan kopi susu yang dikirim Arga ke Anara — melainkan Anara yang mengirim sesuatu ke gedung seberang. Sebungkus kue kering dari toko langganan kantornya, dengan catatan singkat yang ditulisnya empat kali sebelum berani dikirim:
"Makasih sudah ngasih tahu. Beneran. — Sebelah"
Balasannya datang sebelum Anara pulang kantor. Bukan pesan, tapi foto: kue kering itu sudah dibuka di meja kerja Arga, di sebelah pot kaktus kecil itu, dengan satu kue sudah berbekas gigitan.
Tidak ada kata-kata. Tidak perlu ada. Anara menyimpan foto itu ke galerinya, lalu menatap tindakannya sendiri dengan heran, lalu memutuskan untuk tidak menyelidiki kenapa ia menyimpannya.
***
Namun malam itu, di apartemennya, Anara menemukan dirinya berdiri di depan jendela lebih lama dari biasanya, menatap gedung seberang tanpa benar-benar menatapnya. Berkas lama, katanya tadi. Iya, berkas lama. Cuma entah kenapa, gudang itu malam ini terasa tidak setertutup yang ia kira.
Mikhaella, diberi tahu lewat video call, bereaksi dengan tenang yang sudah dewasa — tenang yang dibayar mahal dengan air mata dua tahun lalu.
"Gue udah selesai, Ra. Beneran." Mikhaella menyeruput bobanya. "Tapi gue kenal dia. Dave enggak pernah pulang tanpa alasan. Dia itu orang yang paling benci ninggalin zona nyamannya. Kalau dia pulang ... berarti ada sesuatu di sini yang dia mau."
"Apa pun itu, bukan urusan gue."
"Amin. Tapi tetep, Ra. Pasang pagar." Mikhaella menatapnya dari layar dengan serius. "Bukan buat jagain masa lalu lo. Buat jagain masa depan lo."
Di rumah keluarga, malam yang sama, dua mamah komplotan mengadakan rapat darurat dengan teh dan kue yang tidak termakan.
"Kalau anak itu macam-macam lagi sama Anara," ucap Eva dengan suara yang sangat kalem, kalem yang justru menyeramkan, "aku turun tangan sendiri, Yu. Bukan sebagai mamah. Sebagai preman."
"Antre di belakang aku, Jeng," jawab Ayu, dan untuk sekali itu, dua wanita itu tidak tertawa sama sekali.
"Atau begini." Eva mencondongkan badan, matanya menyala seperti jenderal menemukan peta musuh. "Kita jagain Anara bergantian. Senin sampai Rabu kamu, Kamis sampai Sabtu aku. Minggu kita serahkan ke suami aku, biar dia merasa berguna."
"Atau," Ayu mengangkat satu jari, "aku paksa anakku balik ke luar negeri. Bilang ada beasiswa dadakan."
"Beasiswa untuk orang umur tiga puluh?"
"Ibu-ibu kalau panik enggak pernah mikir logis, Jeng. Kamu harusnya tahu itu dari pengalaman."
Damares di sudut ruangan menurunkan korannya. "Dua preman, satu rumah. Baiklah. Papah siapkan dana pengacara."
Untuk pertama kalinya, tidak ada yang menertawakan lelucon papah.
Dan tepat saat itulah — karena semesta memang punya selera humor yang perlu dievaluasi — ponsel Anara bergetar di apartemennya.
Satu pesan masuk dari nomor yang sudah dua tahun tidak pernah muncul, yang tidak pernah sempat ia hapus karena tidak pernah sempat ia pikirkan.
"Ra, gue balik ke kota. Bisa ketemu? Ada yang mau gue omongin. — Dave"
Anara menatap layar itu lama sekali, sampai layarnya padam sendiri, sampai kota di luar jendelanya berganti warna.
Ia belum membalas.
Tapi ia juga belum menghapus.