Musim hujan itu selalu datang berbarengan dengan dua hal: deadline akhir tahun, dan flu. Dan Anara Clarys Graceva, seperti biasa, memilih melawan ketiganya sekaligus dengan modal kopi susu dan tekad yang keras kepala.
Senin pagi, ia sudah tampak pucat di ruang meeting lantai sembilan.
"Anda bersin empat kali dalam sepuluh menit," komentar Arga dari seberang meja, tanpa menoleh dari dokumennya.
"Gue enggak bersin. Itu bersin orang sebelah."
"Orang sebelah Anda adalah dinding, Nona."
"Dindingnya berdebu." Anara menyedot ingusnya dengan wibawa yang tersisa. "Lanjut meeting."
Rabu pagi, sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah perusahaan itu terjadi: Anara tidak masuk kantor.
Kantor lantai sepuluh mendadak seperti kehilangan gravitasi. Karyawan berjalan lebih pelan, meeting berjalan lebih cepat, dan sekretaris Anara menjawab semua pertanyaan dengan satu kalimat resmi: "Bu Anara sedang tidak enak badan."
Berita itu, tentu saja, menyeberang ke gedung seberang sebelum jam makan siang — dibawa oleh angin, oleh anak-anak magang, dan oleh jaringan komunikasi lintas gedung yang tidak tercatat di dokumen resmi mana pun.
Dan berita itu juga sampai ke tempat yang lebih jauh: rumah keluarga.
"Kamu demam?!" Suara Eva di telepon naik tiga oktaf. "Sekretaris kamu yang lapor ke Mamah! Kamu sendiri kenapa enggak lapor?! Kamu ini anaknya—"
"Mah. Gue cuma flu. Bukan kritis. Mah, gue masih bisa—"
"Jangan banyak bicara! Istirahat! Mamah ke sana sekarang bawa—"
"Mah, kalau Mamah ke sini, Mamah bakal nata ulang apartemen gue dan gue malah enggak bisa tidur. Gue janji makan, janji minum obat, janji tidur. Deal? Deal kan, Mah, deal?"
Di seberang sana terdengar helaan napas panjang seorang ibu yang kalah negosiasi. "... Deal. Tapi tiap dua jam kamu kabari Mamah. Foto termometernya. Jangan bohong, Mamah bisa cek lewat mata kamu kalau video call."
Telepon itu ditutup. Lima menit kemudian, di rumah besar yang sepi, seorang mamah lain menerima berita yang sama lewat jaringan ibu-ibu, dan langsung berdiri dari sofanya.
"Anak itu sakit sendirian di apartemennya," ucap Ayu pada ruangan kosong. Lalu, setelah berpikir tepat tiga detik, wanita itu mengangkat ponselnya dan menekan satu nomor dengan senyum seorang jenderal yang menemukan celah di pertahanan musuh. "Halo, Nak. Ibu tahu kamu sibuk. Tapi Ibu mau kasih tahu satu informasi. Bukan nyuruh, loh, ya. Ibu cuma ... menginformasikan."
Sore itu, kurir pengantar kopi susu harian kembali dengan gelas yang tidak terkirim dan satu laporan: "Bu Anaranya enggak ada, Pak."
Arga menatap gelas itu lama sekali.
Lalu ia mengambil jaketnya, mengambil kuncinya, dan pergi — meninggalkan tiga rapat yang terpaksa dijadwal ulang, dan satu asisten yang menatap kepergiannya dengan mulut terbuka.
***
Pukul tujuh malam, bel apartemen Anara berbunyi.
Anara menyeret tubuhnya ke pintu dalam balutan selimut, rambut curly-nya berantakan ke segala arah, hidungnya merah seperti tomat, dan mendapati pemandangan paling absurd minggu itu: Arga Satria Megantara berdiri di depan pintunya dengan kantong apotek di satu tangan dan kantong makanan di tangan lainnya.
"... Lo ngapain di sini," suara Anara serak seperti radio rusak.
"Evaluasi klausul enam." Arga berjalan masuk tanpa diundang, seolah ini apartemennya. "Kopi susu Anda tidak terkirim hari ini. Kontrak mengharuskan pengiriman berjalan."
"Klausul enam ngatur kopi susu, bukan ngatur orangnya dateng—" Anara tidak sempat menyelesaikan protesnya karena bersin kelima hari itu meledak.
"Duduk. Sekarang." Arga meletakkan barang-barangnya di meja dan mulai mengeluarkan isinya satu per satu: obat demam, vitamin, tisu, termometer, bubur pesanan dari restoran langganan keluarganya, dan satu botol — Anara memicingkan mata — kopi susu.
"Kopi susu untuk besok, kalau demamnya sudah turun. Malam ini Anda minum yang ini." Arga menyodorkan gelas berisi sesuatu yang hangat dan berbau jahe.
"Ini apaan."
"Teh jahe madu. Minuman orang waras yang sedang sakit."
"Gue mau kopi susu."
"Dan saya mau laporan tiga harian yang tidak pernah telat. Kita berdua belajar bahwa keinginan tidak selalu terkabul."
Anara menggeram pelan, tapi tenaganya cukup hanya untuk menggeram, jadi ia minum juga teh jahe itu sambil memasang wajah korban penculikan. Arga mengamati suhu di termometer, mengatur obat sesuai jadwal di meja, lalu — tanpa bertanya — membuka laptopnya di meja makan apartemen itu.
"Lo ngapain?"
"Bekerja. Ada dua rapat yang saya tinggalkan untuk ini, dan saya tidak berniat menyelesaikannya di kantor jam sebelas malam." Arga menatapnya di atas layar laptop. "Anda istirahat. Saya bekerja. Kita tidak saling ganggu. Ini namanya efisiensi, bukan perhatian. Tolong dicatat."
"Tercatat. Bukan perhatian," ulang Anara serak. "Sama seperti buburnya nanti bukan bubur, dan obatnya bukan obat."
"Anda mulai delirium. Minum obatnya."
Anara memang akhirnya menyerah. Ia mengerjap berkali-kali di sofa, berusaha membaca satu dokumen di ponselnya — yang dengan sigap disita Arga dan diletakkan di meja, jauh dari jangkauan — sampai akhirnya kalah oleh demam, jahe hangat, dan bunyi keyboard yang ternyata menenangkan.
Ketika Anara tertidur di sofa dengan selimut melorot ke lantai, Arga berdiri, mengambil selimut cadangan dari ujung sofa, dan menyampirkannya tanpa suara. Ia berdiri di sana beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan seorang sekutu, menatap wajah pucat yang biasanya penuh amukan itu sekarang tenang seperti anak kecil.
"Sembuh, Nona," ucapnya nyaris tak terdengar. "Kantor itu tidak bisa apa-apa tanpa Anda. Dan saya ..." ia berhenti, memilih kata dengan hati-hati, "... membutuhkan laporan tiga harian Anda."
Pukul sebelas malam, Arga meninggalkan apartemen itu setelah menata semuanya: obat berjajar sesuai jam, bubur cadangan di kulkas, dan ponsel Anara diisi dayanya di meja.
Keesokan paginya, Anara bangun dengan demam yang sudah turun dan menemukan sebuah catatan di meja makannya, ditulis dengan tulisan tegak yang mulai ia hafal:
"Obat di meja. Bubur di kulkas. Kopi susu hanya boleh diminum jika suhu sudah normal. Jangan ke kantor sebelum benar-benar sembuh — ini bukan permintaan, ini kebijakan aliansi. — S"
Anara membaca catatan itu dua kali. Tiga kali. Lalu menyimpannya ke laci, bukan ke tempat sampah, dengan alasan yang bahkan tidak berani ia buat-buat.
DEG!
"Iya, iya," gerutunya pada langit-langit apartemen. "Diam kamu."
***
Jumat pagi, Anara kembali masuk kantor dengan hidung yang masih sedikit merah, disambut karyawannya seperti pahlawan kembali dari perang. Satpam di lobi menyapanya dengan anggukan panjang penuh arti, yang kalau diterjemahkan kira-kira berbunyi: saya tahu siapa yang jenguk, Bu.
Di meja kerjanya, di atas tumpukan dokumen, ada satu gelas kopi susu dengan catatan baru.
"Selamat kembali. Nilai pengiriman kali ini seharusnya sepuluh, karena pengirimnya menunggu empat hari. — Seberang"
Anara menatap catatan itu, menatap jendela ke arah gedung seberang, dan tersenyum kecil — senyum yang buru-buru ia hapus ketika sekretarisnya masuk.
Tapi sekretarisnya sudah melihat. Sekretaris selalu melihat.