Undangan ulang tahun Jeng Ayu itu akhirnya tiba juga, dan tidak ada klausul mana pun yang bisa menyelamatkan mereka berdua.
Masalah dimulai dari hal yang paling sepele: hadiah. Anara menghabiskan tiga hari memikirkan hadiah untuk ibu dari musuh bebuyutannya — kalimat yang lima bulan lalu tidak akan masuk akal dipakai dalam satu tarikan napas — sampai akhirnya ia melakukan hal yang paling tidak masuk akal: bertanya kepada anaknya.
"Lo, ibu lo sukanya apa?" tanya Anara lewat chat, tanpa basa-basi, karena basa-basi hanya membuang waktu perang.
Balasannya datang lima menit kemudian. "Bunga. Syal. Atau apa pun yang bisa dia pamerkan ke grup arisan sambil bilang ini dari calon menantu."
"ARGA."
"Itu jawaban paling akurat yang bisa saya berikan. Beli bunga saja. Syal berisiko, salah warna bisa jadi bahan ceramah dua jam."
Anara akhirnya membeli bunga, satu buket besar yang cantik, dan memilih gaunnya sendiri tanpa bantuan mamahnya — sebuah pencapaian kemerdekaan yang patut dicatat sejarah.
***
Rumah keluarga Arga berdiri di kawasan lama yang tenang: besar, rapi, dengan taman yang terawat dan lampu-lampu hangat. Dari luar, rumah itu terlihat seperti rumah impian di majalah.
Dari dalam, Anara langsung paham apa yang dulu Arga maksud.
Rumah itu besar, tapi sunyi. Furniturnya mahal tapi jarang disentuh. Di bufet ruang keluarga berdiri bingkai-bingkai foto: dua anak laki-laki dari kecil sampai remaja — yang satu selalu tertawa lebar di semua foto, yang satu selalu berdiri kaku seperti dipaksa ikut pemotretan. Tidak banyak foto orang tua. Tidak ada foto ayah sama sekali, dan Anara cukup dewasa untuk tidak bertanya.
"Yang ini Arga umur tujuh tahun!" Ayu menarik Anara ke bufet dengan antusiasme seorang pemandu museum. "Lagi ulang tahun, disuruh pakai kostum robot, nangis karena kostumnya kekecilan. Lihat mukanya! Dari kecil memang mukanya kayak gitu, enggak berubah!"
"Bu." Arga muncul dari arah dapur dengan wajah korban perang. "Tamu tidak perlu melihat arsip."
"Tamu yang mana? Ini kan Anara." Ayu menjawab seolah itu menjelaskan segalanya, dan anehnya, memang menjelaskan segalanya.
Anara mengintip foto itu dan harus menggigit bibirnya sendiri. Arga kecil berkostum robot dengan wajah murung itu adalah penemuan terbesar abad ini. "Pak, bisa gue minta fotonya buat arsip perusahaan? Buat kalau lo mulai nyebelin di meeting."
"Sentuh foto itu, dan aliansi kita bubar malam ini juga."
"Klausul lima bilang bubar itu cuma butuh satu kata: selesai."
"Malam ini saya hampir mengucapkannya."
Mereka bertengkar pelan di depan bufet foto, dan dari dapur, Eva dan Ayu mengintip dengan senyum yang identik satu sama lain, sementara Damares sudah menemukan posisinya: kursi paling nyaman di rumah itu, dengan segelas teh, menjalankan tugasnya sebagai penyewa kursi internasional.
Malam itu, rumah besar yang biasanya sunyi mendadak penuh. Eva dan Ayu menguasai dapur sambil mengatur segalanya. Damares membawakan cerita-cerita kalemnya yang ternyata cocok dengan selera humor Ayu. Makan malam berlangsung ramai, hangat, dan berisik dengan cara yang menyenangkan.
Dan Anara melihatnya dengan mata kepala sendiri: Jeng Ayu tertawa sepanjang malam, tertawa lepas, dengan mata yang berkali-kali menyapu ruang makan yang penuh itu seperti orang yang sedang menghafal pemandangan langka.
Saat mencuci piring — Anara memaksa membantu, karena didikan Eva tidak mengizinkan tamu diam saja — Arga muncul di sampingnya, mengambil lap, dan mulai mengeringkan tanpa diminta.
Mereka bekerja berdampingan dalam diam beberapa saat. Hanya bunyi air dan piring.
"Rumah lo bagus," ucap Anara akhirnya, pelan. "Tinggal diisiin suara aja."
Arga tidak langsung menjawab. Tangannya terus mengeringkan piring yang sama lebih lama dari yang diperlukan.
"Terakhir kali rumah ini seramai ini ..." ia berhenti sebentar, "... saya tidak ingat. Mungkin waktu saya masih sekolah. Sebelum semua orang sibuk dengan versi hidupnya masing-masing."
"Malam ini rame, kok."
"Malam ini rame," Arga menatap ke arah ruang makan, tempat tawa ibunya masih terdengar sampai ke dapur, "karena ada keluarga Anda di dalamnya."
Anara tidak menjawab. Ia menyerahkan piring terakhir, dan Arga menerimanya, dan tangan mereka bersentuhan sepersekian detik di bawah busa sabun, dan keduanya sepakat untuk tidak membahasnya sampai kapan pun juga.
Puncak malam itu, tentu saja, adalah lilin dan kue. Ayu berdiri di depan kue ulang tahunnya dengan mata berbinar, dikelilingi orang-orang yang datang malam itu.
"Ibu enggak perlu kado mahal-mahal," ucap Ayu sebelum meniup lilin. "Ibu cuma mau tahun depan tiup lilinnya ... sama cucu."
"JENG AYU!"
"Ibu!"
Dua protes dari dua arah meledak serempak. Eva bertepuk tangan paling keras. Damares tertawa sampai harus melepas kacamatanya — kacamata pinjam dari istrinya, karena beliau tidak berkacamata, tapi begitulah efek tawa seorang papah yang jarang tertawa keras.
Dan di tengah kekacauan itu, Anara dan Arga saling menatap dari dua sisi meja, sama-sama merah di telinga, sama-sama tidak tahu harus berbuat apa, dan sama-sama sepakat dalam hati bahwa ibu-ibu adalah kekuatan alam yang tidak bisa dilawan kontrak mana pun.
***
Malam itu, lagi-lagi, Arga mengantar Anara pulang. Kali ini tanpa hujan, tanpa alasan deadline, tanpa pembenaran apa pun yang masuk akal dalam kontrak mereka.
Mobil melaju pelan menembus kota yang sudah tenang.
"Terima kasih sudah datang," ucap Arga akhirnya, suaranya pelan, mata tetap di jalan. "Ibu saya ... sudah lama tidak segembira itu. Saya hampir lupa beliau bisa segembira itu."
"Jeng Ayu memang selalu gembira, kok. Rempong, maksudnya. Itu beda tipis."
"Bedanya tipis, tapi saya tahu bedanya." Arga terdiam sejenak. "Dan malam ini beda. Karena ada yang mengisi rumah itu selain gema."
Anara menatap keluar jendela, ke arah lampu-lampu kota yang berlarian, supaya pria itu tidak melihat wajahnya.
"Kapan-kapan kalau rumahnya sepi lagi, lo tahu harus ngapain," ucapnya ringan. "Bikin ribut sendiri. Nyalain TV keras-keras. Masak mie instan tengah malam. Beli kopi susu satu rak."
"Kopi susu tidak menyelesaikan kesepian, Nona."
"Enggak. Tapi bikin sepinya manis dikit."
Arga tertawa kecil — tawa yang jarang, yang keluar tanpa izin dari pertahanannya — dan suara itu memenuhi mobil yang senyap dengan cara yang membuat Anara berani bersyukur malam itu gelap.
DEG!
Kontrak di atas tisu itu sudah punya tujuh klausul, Saudara-saudara. Tujuh klausul yang mengatur jawaban, pertemuan, harapan, evaluasi, kata keluar, kopi susu, dan larangan cemburu.
Tapi tidak ada satu pun klausul di sana yang mengatur momen seperti ini: mobil yang senyap, kota yang sudah tidur, dan dua orang yang mulai kehabisan alasan untuk menyebut ini semua sekadar strategi.