Efek foto resmi dari depan itu ternyata tidak meredakan apa pun. Justru sebaliknya: undangan mulai berdatangan untuk dua nama sekaligus, seolah kota ini sudah sepakat bahwa dua CEO itu adalah satu paket.
Yang terbaru: malam apresiasi bisnis tahunan, acara paling ramai di kalender industri.
Dan sesuai doktrin aliansi — gosip yang dikendalikan lebih aman daripada gosip liar — mereka datang bersama.
"Aturan mainnya," ucap Arga di mobil, dalam perjalanan ke venue, "kita masuk, kita ramah, kita foto satu kali dengan jarak sopan, kita bicara dengan klien, lalu kita pulang sebelum jam sepuluh."
"Kenapa sebelum jam sepuluh?"
"Karena setelah jam sepuluh, orang-orang mulai mabuk dan bertanya hal-hal yang tidak bisa dijawab dengan kata rekan kerja."
Rencana itu berjalan mulus ... selama kurang lebih dua puluh menit.
Masalah pertama bernama seorang CEO muda perusahaan logistik, yang sejak menit pertama menempelkan dirinya di sisi Anara seperti stiker promosi. Ganteng, ramah, tertawanya renyah, dan — ini yang paling berbahaya — sama sekali tidak membaca situasi.
"Bu Anara, saya dari dulu penggemar perjalanan bisnis Ibu. Dari kamar kos sampai gedung lima belas lantai, itu luar biasa."
"Ah, biasa aja, Pak—"
"Kalau berkenan, lain waktu saya ingin mengundang Ibu makan malam, membahas potensi kolaborasi. Atau tidak membahas apa pun juga boleh." CEO itu mengedip. Mengedip, Saudara-saudara.
Anara membuka mulut untuk menjawab sopan, ketika sebuah gelas muncul di sampingnya, dipegang oleh tangan yang sangat ia kenal.
"Nona. Minumannya." Arga berdiri di sana dengan senyum paling profesional yang pernah ada, dan menatap sang CEO logistik dengan keramahan yang suhunya minus dua derajat. "Maaf, Pak. Pratama mencari Nona Anara. Urusan penting."
"Oh, ya, silakan—"
"Permisi." Dan Anara pun ditarik pelan menjauh, satu tangan Arga menempel sangat ringan di punggungnya, hanya sepersekian senti, hanya beberapa detik.
"Pratama enggak ada di sini," bisik Anara begitu mereka menjauh.
"Memang." Arga menyesap minumannya dengan tenang. "Orang itu membicarakan kolaborasi sambil mengedip, Nona. Itu bukan proposal bisnis, itu pelanggaran etika."
"Lo dengar dari mana? Lo kan jauh di seberang sana."
"Saya punya pendengaran yang baik."
"Lo punya kepo yang baik, maksudnya."
Arga tidak menjawab, dan ketidakjawaban itu dicatat baik-baik oleh memori Anara untuk keperluan masa depan.
Namun semesta itu adil, Saudara-saudara. Tidak sampai satu jam kemudian, giliran Arga yang dikerubungi: seorang pemodal ventura ternama, perempuan, elegan, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang ia incar. Malam itu yang ia incar adalah CEO yang baru saja menampakkan wajahnya dari depan untuk pertama kalinya di depan publik.
"Pak Arga. Akhirnya saya melihat wajahnya langsung. Punggungnya saja sudah membuat penasaran satu kota, apalagi aslinya."
"Tanda pengenal acara ini memang efektif mempertemukan orang, Bu," jawab Arga datar, mundur setengah langkah.
"Kapan-kapan kita bicara investasi, ya. Di tempat yang lebih ... privat." Kartu nama berpindah tangan dengan gerakan yang terlalu lambat untuk urusan bisnis.
Dan dari jarak lima meter, Anara Clarys Graceva menemukan dirinya berjalan mendekat tanpa benar-benar memerintahkan kakinya sendiri.
"Pak Arga." Anara menyela dengan senyum paling profesional yang pernah ada, suhunya juga minus dua derajat. "Telepon dari Ibu. Katanya penting."
Arga menatapnya. "Ibu saya tidak menelepon."
"Memang," jawab Anara tenang, dan menariknya menjauh dengan gerakan yang persis sama seperti yang tadi dilakukan Arga — tangan di punggung, ringan, beberapa detik.
Sang pemodal ventura menatap kepergian mereka dengan alis terangkat, lalu tersenyum penuh arti dan berbisik sesuatu kepada rekannya yang tidak akan pernah kita ketahui isinya, tapi bisa dipastikan bukan soal investasi.
Dan masih ada satu insiden lagi malam itu yang tidak akan pernah diakui oleh dua-duanya.
Saat sesi foto resmi, fotografer acara meminta mereka berdiri lebih dekat. "Lebih dekat sedikit, Bu, Pak. Ini kan foto mitra kebanggaan acara ini. Senyumnya yang lepas, dong, masa kaku begitu, kayak foto ijazah."
Maka mereka merapat. Satu langkah. Dua langkah. Sampai bahu mereka nyaris bersentuhan, dan fotografer itu masih belum puas juga.
"Ibu miring sedikit ke arah Bapak. Nah, gitu. Tahan ... satu ... dua ..."
Di detik kedua itulah Anara sadar bahwa ia bisa mencium samar aroma yang biasanya datang bersama kopi susu jam delapan malam. Dan di detik yang sama, Arga sadar bahwa rambut curly cokelat itu hampir menyentuh bahunya, dan ia tiba-tiba lupa bagaimana cara berdiri yang benar.
"Tiga! Bagus! Terima kasih, Bu, Pak! Kalian pasangan ... eh, mitra paling fotogenik malam ini!"
Kata "pasangan" yang terlanjur meluncur itu tidak dikoreksi oleh siapa pun. Fotonya beredar keesokan paginya, dan kolom komentar membutuhkan tenaga tambahan.
Di layar ponsel Anara, pesan dari Mikhaella masuk beruntun. Ternyata foto-foto acara itu sudah beredar.
"RA. LO SAMA DIA DATENG BARENGAN?!"
"Komentar netizen: kalau ini bukan jodoh, terus definisi jodoh itu apa."
"LO HARUS LIAT FOTO YANG DIA NGASIH LO MINUM. Gue simpan. Buat anak cucu lo nanti."
Anara mematikan layar ponselnya dengan tenaga yang cukup untuk memecahkan layar itu, untungnya tidak jadi.
***
Evaluasi kedua digelar tiga hari kemudian di kedai kopi pojok, dan suasana rapat kali ini lebih mirip sidang.
"Agenda pertama," Arga membuka, "insiden acara apresiasi."
"Bagus. Gue mau mulai." Anara melipat tangannya. "Lo minggu lalu narik gue dari orang dengan alasan Pratama yang enggak ada di sana. Itu apa namanya?"
"Perlindungan aset aliansi." Arga tidak berkedip. "Dan Anda? Menarik saya dari pemodal ventura dengan alasan telepon dari ibu saya — yang Anda sendiri akui tidak ada?"
"Balasan setimpal. Namanya pemerataan."
"Cemburu, mungkin?"
"LO yang cemburu duluan!"
Hening sejenak. Keduanya saling menatap, sama-sama sadar bahwa rapat ini sudah keluar jalur sejak kalimat pertama.
Arga menarik napas, mengeluarkan tisu terlaminating itu, dan mengambil pulpennya. "Usul klausul tujuh," ucapnya, menulis dengan tangan stabil. "Dilarang cemburu. Cemburu adalah pelanggaran profesionalisme aliansi dan membahayakan objektivitas kedua pihak."
"Setuju. Tambahin: yang cemburu duluan harus ngaku."
"Tidak ada yang cemburu, Nona. Klausul ini preventif."
"Iya, preventif." Anara menandatangani tambahan itu. "Buat jaga-jaga. Berjaga-jaga dari sesuatu yang enggak ada. Sangat logis."
Mereka menandatangani klausul tujuh dengan wajah dua negara yang baru menandatangani larangan senjata padahal gudang masing-masing penuh.
Sang barista menyaksikan semuanya dari balik mesin kopi dengan mata berkaca-kaca haru, seperti penonton yang sudah menunggu adegan ini sejak episode pertama.
Dia tahu. Semua orang tahu. Hanya dua orang di meja pojok itu yang masih bersikeras bahwa ini semua cuma strategi.