Kamis malam itu, deadline tahap dua menggerogoti hidup semua orang, dan satu dokumen kunci tersangkut di satu tempat: meja Arga Satria Megantara, menunggu satu tanda tangan.
"Dokumennya harus ke Pratama besok jam delapan pagi," ucap Anara di telepon. "Lo bisa kirim kurir?"
"Kurir saya sudah pulang semua. Saya masih di kantor." Terdengar suara kertas di seberang sana. "Kalau Anda mau cepat, Anda yang ke sini. Gedung saya tidak gigit, Nona."
Maka jam sembilan malam, untuk pertama kalinya dalam sejarah permusuhan mereka, Anara menyeberang ke gedung seberang. Bukan sebagai penyerbu. Sebagai tamu.
Lobi gedung itu sepi dan mengilap, dan satpamnya — versi seberang dari satpamnya sendiri — menyambutnya dengan senyum tahu segalanya.
"Nona dari seberang, ya? Silakan, Nona. Lantai dua belas. Bapak sudah kabari."
Anara ingin bertanya sejak kapan ia dikenal sebagai "Nona dari seberang", tapi memutuskan beberapa pertanyaan lebih baik tidak dijawab.
Ruang kerja Arga di lantai dua belas itu persis seperti orangnya: rapi, minim barang, dan dinginnya pas-pasan. Satu meja besar, satu rak dokumen, satu sofa kerja, dan satu kulkas kecil di sudut yang — Anara mengeceknya diam-diam, demi ilmu pengetahuan — benar-benar hanya berisi air putih.
"Jadi bener," gumamnya.
"Anda baru saja menginspeksi kulkas saya?" Arga menoleh dari dokumennya.
"Menyalurkan rasa ingin tahu ilmiah." Anara mengambil dokumen yang sudah ditandatangani, mengeceknya, dan seharusnya saat itu juga ia pulang.
Seharusnya.
Tapi di luar sana, langit memutuskan lain. Petir menyambar, dan dalam hitungan detik hujan turun seperti ditumpahkan dari langit pakai ember raksasa. Berita lalu lintas di ponsel Anara menampilkan warna merah di semua arah: macet total, banjir di dua titik, perkiraan normal dua jam.
"Dua jam," Anara menatap layar ponselnya dengan putus asa.
"Maka kita bekerja dua jam." Arga sudah kembali ke dokumennya. "Sofa itu nyaman. Air putih di kulkas. Maaf, tidak ada kopi susu. Saya tidak menyimpan minuman pendukung kegagalan ginjal."
"Itu namanya kebahagiaan, Pak. Lo enggak akan paham."
Dua jam itu berjalan dengan aneh. Awalnya sunyi, hanya bunyi hujan dan keyboard. Lalu Anara menemukan mie instan cadangan di laci pantry kantor itu — peninggalan karyawan, kata Arga, bukan miliknya, katanya lagi, terlalu defensif untuk sesuatu yang bukan miliknya — dan mereka berakhir makan mie instan di dua sisi meja besar itu, seperti dua pengungsi perang yang gencatan senjata demi makan malam.
"Gue mulai dari kamar kos, lo tahu enggak," ucap Anara di tengah makan, entah kenapa. Mungkin karena hujan. Hujan memang selalu membuat orang bercerita. "Meja kecil, kipas angin, sama satu laptop second. Tiga tahun pertama gue tidur lima jam sehari."
"Saya tahu." Arga menyesap tehnya. "Semua orang di industri ini tahu cerita itu. Itu sebabnya dulu saya menyebut perusahaan Anda ... menarik."
"Menarik. Dulu lo bilang perusahaan gue perlu evaluasi total."
"Dua hal itu tidak bertentangan, Nona."
Anara terkekeh, dan untuk beberapa saat mereka kembali ke mie masing-masing.
Sambil makan, mata Anara menyapu meja besar itu. Tidak ada foto keluarga, tidak ada piala, tidak ada satu pun barang personal — kecuali sebuah pot kaktus kecil di sudut meja, satu-satunya makhluk hidup di ruangan itu selain penghuninya.
"Lo piara kaktus?"
"Itu pemberian resepsionis waktu kantor ini buka. Saya tidak pernah menyiramnya, tapi dia bertahan." Arga menatap kaktus itu sekilas. "Saya menghargai makhluk yang tidak butuh banyak perawatan."
"Kaktus itu metafora lo banget, Pak. Duri di luar, air dikit di dalam."
"Dan Anda itu metafora kopi susu, Nona. Manis, dan bikin orang susah tidur."
Anara nyaris tersedak mie-nya. Pria ini kalau menyerang memang tidak pernah pakai aba-aba.
Lalu, dengan keberanian yang dipinjam dari suara hujan, Anara akhirnya menanyakan hal yang sebenarnya sudah lama menggantung di kepalanya.
"Lo sama kakak lo ... enggak dekat, ya?"
Tangan Arga berhenti sebentar di atas gelasnya.
"Tidak." Jawabannya pendek, tapi tidak tajam. "Kami berbeda dari kecil. Dia selalu pandai membuat ibu tersenyum. Saya selalu pandai membuat ibu khawatir dengan cara yang berbeda — terlalu diam, terlalu serius, terlalu asing di rumah sendiri." Pria itu menatap hujan di jendela. "Lalu dua tahun lalu dia membuat ibu menangis, dan sejak itu saya memutuskan jarak itu biarkan saja jauh. Beberapa jarak memang sebaiknya tidak diperpendek."
Anara tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, dan entah bagaimana, keheningan setelah itu tidak terasa canggung sama sekali.
"Rumah lo sepi, ya," ucap Anara akhirnya, pelan.
"Rumah saya besar," koreksi Arga. "Sepi itu kata yang berbeda."
"Tapi maksud lo sama."
Arga tidak membantah. Ia berdiri, berjalan ke jendela besar ruang kerjanya, dan menunjuk samar ke arah gedung seberang yang basah oleh hujan. "Dari jendela ini, saya bisa melihat lantai sepuluh gedung Anda. Bertahun-tahun, lampu di lantai itu menyala paling lama. Saya selalu kalah pulang dari lampu itu, dan itu menyebalkan."
Anara berdiri di sampingnya, menatap gedungnya sendiri dari seberang. "Lampu itu lampu gue."
"Saya tahu sekarang. Dulu saya mengira lantai sepuluh itu dihuni mesin." Arga menatapnya sekilas. "Ternyata dihuni manusia yang kulkasnya penuh kopi susu. Penjelasannya masuk akal."
Hujan mulai mengecil lewat tengah malam. Jalanan kembali bernapas, dan Arga — tanpa diminta, tanpa diduga — mengambil kunci mobilnya.
"Saya antar. Jam segini Anda tidak akan dapat taksi, dan dokumen itu tidak akan sampai ke Pratama kalau pemiliknya diculik di jalan."
"Gue bisa—"
"Nona. Demi deadline."
Maka mereka melaju menembus sisa hujan, di dalam mobil yang hangat dan senyap. Anara yang lelah luar biasa akhirnya kalah oleh kursi yang empuk, dan kepalanya miring perlahan ke jendela.
Dari balik kemudi, Arga melirik sekilas, lalu memelankan laju mobilnya tanpa sadar.
"Sama seperti di rest area dulu," gumamnya, nyaris tak terdengar. "Tidur seenaknya. Untung kali ini tidak mengorok."
"Saya denger itu," gumam Anara, mata masih terpejam.
"Tidak mungkin. Anda tidur."
"Tukang ngomongin orang tidur itu enggak ada benernya."
Mobil itu berhenti di depan lobi apartemen Anara tepat saat hujan benar-benar berhenti. Anara turun, dokumen di tangan, dan membungkuk sedikit ke jendela mobil yang terbuka.
"Makasih tumpangannya. Dan ... makasih ceritanya."
Arga mengangguk kecil. "Demi deadline, Nona. Ingat itu."
"Iya, Pak. Demi deadline."
Mobil itu melaju pergi. Anara berdiri di lobi apartemennya sendirian, menatap lampu merah belakang mobil itu menghilang di tikungan, dan baru sadar satu hal kecil yang mengganggu.
Sepanjang malam itu, tidak sekali pun ia merasa ingin pulang.
DEG!
"Salah mie instan," Anara memutuskan dengan tegas, sambil berjalan ke lift. "Mie instan memang berbahaya."