Senin pagi, era aliansi resmi dimulai.
Dan harus diakui, Saudara-saudara, aliansi itu berjalan lebih rapi dari yang diperkirakan banyak pihak. Jawaban seragam dilancarkan ke seluruh penjuru: ke karyawan, ke klien, ke satpam, sampai ke tukang kopi keliling yang ikut-ikutan bertanya.
"Bu Anara sama Pak Arga sekarang gimana, sih?"
"Rekan kerja."
"Pak Arga sama Bu Anara beneran enggak ada apa-apa?"
"Kami rekan kerja."
Sempurna. Konsisten. Dan sama sekali tidak dipercaya oleh siapa pun.
"Menurut saya sih tetap cocok, ya," komentar satpam di lobi kepada monitor CCTV-nya, yang belakangan memang lebih sering jadi teman curhat daripada alat pengawas. "Saya mantau tiap hari. Orang kalau pura-pura biasa itu kelihatan. Mereka ini pura-puranya enggak niat."
Puncak ujian aliansi itu datang hari Rabu, ketika Pak Handoko dari Pratama Group turun langsung meninjau progres tahap dua.
Klien besar itu datang dengan ceria seperti biasa, memeluk erat kedua bos muda itu bergantian seperti memeluk keponakan sendiri, lalu duduk di kursi meeting dengan mata yang berbinar-binar penuh arti.
"Jadi ... gimana duo ini? Masih suka bertengkar?" Pak Handoko menyeringai lebar.
"Kami tidak pernah bertengkar, Pak. Kami berdiskusi dengan intens," jawab Anara.
"Kami rekan kerja yang saling menghargai," tambah Arga.
Pak Handoko menatap mereka berdua bergantian, lalu tertawa terbahak-bahak sampai harus memegangi meja. "Rekan kerja! Saling menghargai! Bagus, bagus, bagus!" Ia mengusap ujung matanya. "Saya ini sudah tiga puluh tahun di dunia bisnis, Nak. Saya sudah lihat ribuan orang kerja sama. Dan saya bisa bilang satu hal: kalian berdua itu bukan rekan kerja."
"Pak Handoko—"
"Kalian itu duo," potong pria tua itu dengan mantap. "Duo. Kayak gula sama kopi. Bisa dipisah, tapi kenapa dipisah? Udah, jangan dibantah, saya lagi nikmatin."
Tidak ada yang membantah. Dua-duanya memilih menyeruput minumannya masing-masing dengan wajah netral yang dilatih bertahun-tahun, sementara Pak Handoko tertawa sendiri sampai akhir meeting.
Di luar urusan kantor, klausul enam kontrak tisu berjalan dengan disiplin militer: pengiriman kopi susu lintas gedung tidak pernah telat.
Bahkan sekarang berkembang jadi perang rating yang sengit.
"Kopi hari ini nilai delapan. Manisnya pas. — A"
"Delapan masih bukan sepuluh, Nona. Besok saya kirim dari tempat lain. — S"
"Jangan sampai gue kasih sembilan. Lo bakal sombong. — A"
"Saya tidak sombong. Saya hanya menghargai pengakuan. — S"
Di tengah semua itu, ada satu perubahan kecil yang tidak disadari dua sekutu itu: kedua tim mereka mulai akrab.
Bermula dari makan siang bersama di kantin lantai sembilan — awalnya terpaksa karena meja penuh — lalu berlanjut menjadi kebiasaan. Anak buah Anara bertukar rekomendasi kopi dengan anak buah Arga. Anak-anak magang dari dua gedung mulai berbagi tugas dan berbagi gosip dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.
"Menurut lo, bos kita sebenarnya gimana, sih?" tanya anak magang gedung seberang.
"Kalau kata satpam lobi, mereka itu pura-puranya enggak niat," jawab anak magang gedung sini.
"Tapi kemarin bos gue senyum sendiri lihat ponsel. Gue merinding."
"Bos gue juga. Dia bahkan bilang makasih ke kurir. BIASANYA ENGGAK PERNAH."
Dua anak magang itu saling menatap dengan wajah orang yang baru menemukan konspirasi besar, lalu sepakat untuk menyimpan temuan ini rapat-rapat — kesepakatan yang bertahan kurang dari satu jam sebelum satu kantin mendengarnya.
Sekretaris Anara juga mencatat perubahan itu dalam laporan tidak resminya kepada diri sendiri: bosnya sekarang lebih sering tersenyum ke ponsel, lebih jarang menggeram ke dokumen, dan dua kali ketahuan memesan kopi susu ekstra dengan alasan "buat jaga-jaga" — padahal semua orang tahu kopi susunya selalu datang sendiri dari seberang.
Tapi sekretaris yang baik tahu kapan harus buta. Maka ia menutup catatan mentalnya dan pura-pura sibuk dengan jadwal.
Di sela-sela itu semua, satu tantangan baru muncul: undangan makan malam apresiasi dari Pratama, merayakan progres proyek gabungan, dan undangan itu — tentu saja — ditujukan kepada dua perusahaan sekaligus.
"Ini jebakan atau bukan?" tanya Anara lewat chat.
"Ini acara resmi. Yang berbahaya itu bukan acaranya, tapi kalau kita datang terpisah dan ditanya-tanya orang," balas Arga. "Usul saya: kita datang bersama, dengan narasi kita sendiri, sebelum orang lain menuliskannya untuk kita. Itu inti aliansi, Nona."
"Dateng bareng ke acara resmi. Lo sadar enggak itu bahan bakar buat gosip?"
"Gosip yang kita kendalikan lebih aman daripada gosip yang berkeliaran bebas."
Maka malam apresiasi itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, dua CEO itu datang ke satu acara dalam satu mobil, satu rombongan, satu frame foto resmi — foto pertama mereka berdua dari depan, senyum profesional, jarak sopan.
Di malam apresiasi itu sendiri, Pak Handoko naik ke panggung kecil dan menutup pidatonya dengan mengangkat gelas ke arah dua bos muda itu. "Untuk duo terbaik tahun ini! Semoga proyeknya lancar, dan semoga ..." pria tua itu menyeringai penuh arti, "... semuanya lancar. Kalian tahu maksud saya."
Satu ruangan tertawa. Dua bos itu mengangkat gelas dengan senyum kaku yang serasi, dan Anara menggeram pelan tanpa menggerakkan bibirnya: "Dia sengaja."
"Biarkan. Untuk pria seusianya, bahan hiburannya memang tinggal kita," balas Arga, juga tanpa menggerakkan bibir.
Keduanya tertawa kecil di balik gelas masing-masing, lalu berhenti bersamaan ketika sadar mereka sedang tertawa bersama di depan umum. Profesional. Harus tetap profesional.
Internet, tentu saja, langsung bekerja lembur.
Misteri CEO dari belakang akhirnya terpecahkan, dan reaksi netizen terbagi dua: separuh kecewa karena misterinya hilang, separuhnya lagi malah makin bersemangat karena "kok pas banget berdiri sebelahan gitu, sih". Anara membaca kolom komentar sampai jam dua pagi sambil memaki dirinya sendiri karena membaca kolom komentar sampai jam dua pagi.
***
Dua minggu berlalu, dan sesuai klausul empat, evaluasi pertama digelar di kedai kopi pojok paling dalam itu — markas rahasia mereka sekarang.
"Evaluasi satu," Arga membuka rapat dengan selembar tisu kontrak yang dikeluarkan dari map kulitnya — tisu itu sudah dilaminating, Saudara-saudara, dilaminating, karena "dokumen harus dirawat". "Laporan Anda?"
"Ter kendali," lapor Anara. "Gosip kantor turun empat puluh persen. Jaringan ibu-ibu masih liar, tapi itu memang medan yang enggak bisa dimenangkan. Pihak lo?"
"Terkendali. Ibu saya hanya menyebut kata menantu dua kali minggu ini. Turun dari tujuh."
"Dua kali itu masih tinggi, Pak."
"Nona, dengan standar ibu saya, dua kali itu praktis puasa."
Sang barista, yang sudah hafal dua pelanggan pojok ini, mengantarkan dua dessert dengan kartu kecil: Buat pasangan kontrak tisu. Semoga langgeng!
"Kami bukan pasangan," ucap keduanya serempak, dengan intonasi yang sama persis.
Sang barista mengangguk-angguk dengan senyum yang jelas tidak percaya, lalu kembali ke balik mesin kopinya sambil bergumam sesuatu yang terdengar seperti "kompak banget".
Dua sekutu itu membubarkan evaluasi pertamanya dengan keyakinan penuh bahwa semuanya terkendali.
Keduanya salah besar, tentu saja. Tapi biarlah, biarkan mereka menikmati kemenangan kecilnya. Badai itu masih antre dengan sabar di bab-bab berikutnya.