Sabtu itu, kontrak di atas tisu menghadapi ujian pertamanya: makan siang dua keluarga di Restoran Padang Sederhana Mewah, tempat yang namanya saja sudah kontradiksi, dan isinya lebih kontradiksi lagi.
Dua jenderal yang kemarin masih saling perang, hari ini datang sebagai sekutu. Setidaknya, itu yang tertulis di tisu.
Di rumah keluarga, persiapan Anara berlangsung seperti persiapan perang, lengkap dengan briefing dari komandan tertinggi.
"Inget, Nak, makan yang anggun," ucap Eva sambil memilihkan anting untuk putrinya. "Jangan langsung pesen rendang dua porsi kayak di rumah Tante Astrid."
"MAH! Kenapa semua orang tahu soal rendang dua porsi?!"
"Dunia ibu-ibu itu kecil, Sayang. Lebih kecil dari dunia kamu sama Arga."
Damares, yang hari ini resmi meninggalkan zona netralnya karena tidak punya pilihan, hanya berkomentar singkat dari balik korannya. "Papah datang, papah makan, papah pulang. Itu tiga tugas papah hari ini. Sisanya urusan kalian."
"Pah, kamu itu ayah atau penyewa kursi?"
"Penyewa kursi yang membiayai kursinya," jawab Damares kalem, dan tidak bisa dibantah.
***
Di restoran, dua mamah komplotan itu sudah tiba lebih dulu — tentu saja — dan sudah mengatur meja dengan strategi yang hanya bisa dirancang oleh dua orang dengan pengalaman arisan puluhan tahun: dua kursi kosong yang bersebelahan, terjepit di antara dua ibu, di posisi paling tengah meja.
Anara dan Arga tiba hampir bersamaan dari dua pintu berbeda, saling menatap sepersekian detik dengan tatapan pasukan yang akan turun ke medan tempur, lalu duduk di dua kursi jebakan itu dengan kaku.
"Nah! Udah lengkap!" Ayu bertepuk tangan. "Pesen dulu, pesen dulu!"
Makan siang itu dimulai dengan basa-basi standar, sampai Eva melemparkan pertanyaan pertama yang sudah mereka berdua antisipasi lewat chat semalam.
"Jadi, kalian berdua ini sekarang ... statusnya apa, sih?"
"Rekan kerja," jawab Anara.
"Rekan kerja," jawab Arga, di detik yang sama persis, dengan intonasi yang sama persis pula.
Hening sejenak. Lalu dua ibu itu saling pandang dan terkikik seperti dua remaja.
"Kompak banget," ucap Ayu.
"Kami sudah latihan—" Anara tersedak air putihnya sendiri. "Maksudnya, kami memang sepemikiran. Dalam konteks profesional."
"Dalam konteks profesional," ulang Eva, mengangguk-angguk dengan wajah yang jelas tidak percaya sedikit pun.
Di tengah suasana itu, Damares melakukan tugas keempatnya hari ini — tugas yang tidak ia daftar sendiri: menilai calon ... maksudnya, menilai rekan kerja putrinya.
Papah itu menjabat tangan Arga lama, menatapnya dengan tatapan kalemnya yang khas, lalu bertanya satu hal saja.
"Kamu sudah makan, Nak?"
Arga, yang siap menghadapi pertanyaan tentang penghasilan, rencana masa depan, sampai riwayat keluarga, tampak bingung sepersekian detik. "... Sudah sedikit, Om. Tadi pagi."
"Bagus. Orang yang lupa makan itu orang yang lupa pulang." Damares mengangguk pelan, lalu kembali ke rendangnya. "Lanjutkan."
Dan entah kenapa, justru pertanyaan sesederhana itu yang membuat Arga duduk sedikit lebih tegak, seperti baru saja lulus ujian yang tidak ia ketahui jadwalnya. Di seberang meja, Anara menatap papahnya dengan bangga yang ia sembunyikan di balik gelas.
Namun makan siang ini tidak akan lengkap tanpa satu momen menegangkan. Momen itu datang ketika Eva, dengan segala ketidaksengajaan yang khas darinya, bertanya, "Jeng Ayu, anaknya yang sulung kok enggak ikut? Yang namanya Dav—"
Sendok Anara berhenti. Bahu Arga menegang. Udara di meja itu berubah sepersekian detik.
"Lagi di luar negeri, Jeng," jawab Ayu mulus, senyumnya tidak bergeser sedikit pun, tapi matanya sekilas menatap Anara dengan hati-hati. "Sudah lama. Kerja di sana."
Dan Damares — sang penyewa kursi, sang pengkhianat paling damai sedunia — memilih detik itu untuk menebus dosa-dosanya. "Jeng Ayu, rendang di sini juara. Tapi coba Jeng Ayu cicip gulai kepala kakapnya dulu, itu yang paling mereka banggakan. Pelayan! Gulainya tolong diambilkan lagi!"
Topik bergulir pergi, dibawa gulai kepala kakap. Anara menatap papahnya. Papahnya mengedip sekilas, sangat cepat, lalu kembali ke piringnya.
Pengkhianat, tapi pengkhianat yang tahu kapan harus membela.
Sementara itu, dua ibu itu bergantian membuka galeri aib masa kecil seperti membuka koleksi pribadi.
"Anara kecil itu pernah nangis seharian karena kalah lomba mewarnai. Besoknya latihan mewarnai seminggu penuh, Nak. Keras kepalanya memang dari orok!" cerita Eva dengan bangga yang salah tempat.
"Arga juga enggak kalah! Waktu SD dia enggak mau masuk seminggu gara-gara ranking dua. Seminggu, Jeng! Gara-gara ranking dua!" balas Ayu tidak mau kalah.
"Mah."
"Bu."
Dua anak itu kompak menunduk ke piring masing-masing, dan untuk pertama kalinya malam itu mereka menemukan satu kesamaan lagi yang tidak tertulis di kontrak mana pun: sama-sama korban pameran aib yang diselenggarakan ibu masing-masing.
Adapun momen paling berbahaya hari itu justru datang tanpa suara. Ketika piring rendang Anara habis dan gadis itu masih menatap sisa kuahnya dengan rindu, Arga — tanpa menoleh, tanpa komentar, tanpa drama — mengangkat tangannya ke arah pelayan dan berkata pelan, "Rendangnya tambah satu porsi lagi. Buat meja ini."
"Buat meja ini" yang mendarat persis di depan Anara.
Dua ibu itu saling mencengkeram lengan satu sama lain di balik meja. Anara menatap porsi rendang barunya, lalu menatap Arga, yang sedang sibuk sekali menatap es tehnya.
"Buat meja, maksudnya," ucap Arga datar.
"Iya. Mejanya keliatan laper," jawab Anara, tidak kalah datar.
Dua ibu itu harus pura-pura batuk berbarengan untuk menyembunyikan sesuatu.
***
Makan siang itu akhirnya usai tanpa korban jiwa. Di parkiran, saat dua mamah sibuk berangkulan dan Damares sibuk memarkirkan dirinya di dalam mobil, dua sekutu itu menyempatkan rapat evaluasi kilat tiga puluh detik.
"Front bersatu berjalan sesuai rencana," lapor Arga.
"Hampir gagal di bagian status," Anara mengoreksi. "Lo jawabnya kebablasan kompak."
"Anda yang mulai."
"Yang penting selamat. Oh, dan ... makasih soal rendangnya."
Arga tidak menjawab, hanya mengangguk kecil, tapi sudut bibirnya bergerak sepersekian milimeter ke atas — gerakan yang untungnya tidak terlihat oleh dua mamah di kejauhan, karena kalau terlihat, bisa-bisa besok sudah ada gedung yang dikontrak buat resepsi.
Namun sebelum mereka berpisah, Ayu menoleh dari pintu mobilnya dengan senyum yang berbahaya.
"Oh iya! Bulan depan Ibu ulang tahun! Makan malam di rumah, kecil-kecilan aja!" Wanita itu melambaikan tangan riang. "Kalian berdua wajib datang, ya! Enggak ada kata enggak buat orang ulang tahun!"
Mobil itu melaju pergi, meninggalkan dua sekutu yang berdiri mematung di parkiran.
"... Ini masuk klausul dua, kan?" Anara menoleh. "Pertemuan keluarga harus persetujuan dua pihak."
"Secara teknis, ini bukan pertemuan keluarga Anda. Ini undangan ulang tahun ibu saya." Arga menghela napas panjang sekali. "Dan percayalah, Nona. Ibu saya sudah belajar: enggak ada kata enggak itu kalimat yang tidak bisa digugat."
Dua sekutu itu pulang ke arah masing-masing dengan perasaan yang sama: kontrak mereka baru saja menemukan lubang pertamanya.