Rapat darurat di kantin lantai lima itu sebenarnya terlaksana, Jumat pagi, sebelum meeting. Sayangnya rapat itu hanya menghasilkan satu keputusan: jaga sikap, jawab seperlunya, dan jangan panik. Tujuh menit bicara, karena jam delapan lebih lima belas Anara sudah ditarik telepon dari Pratama dan Arga diseret asistennya ke rapat lain.
Dua jenderal itu berpisah tanpa strategi. Dan semesta, seperti biasa, memanfaatkan kelalaian itu dengan sangat baik.
Kamis berikutnya, artikel majalah itu terbit.
Anara mengetahuinya bukan dari sekretarisnya, bukan dari tim humas, tapi dari Mikhaella — yang mengirimkan tautan artikel itu disertai empat puluh tujuh emoji tertawa. Anara menghitungnya. Empat puluh tujuh. Sahabat macam apa itu.
Judul artikelnya: Dua CEO Muda, Dari Rival Jadi Mitra: Kisah di Balik Proyek Paling Dibicarakan Tahun Ini.
Isinya sebenarnya bagus. Wawancara yang dulu itu ditulis dengan rapi: perjalanan Anara membangun perusahaan dari nol, proyek gabungan yang ambisius, dan transformasi dua perusahaan yang dulu bersitegang menjadi mitra. Fotonya Anara tampak profesional, duduk tegak, tersenyum secukupnya.
Dan foto Arga? Dari belakang. Sesuai permintaan. Punggung berjas mahal, berdiri menghadap jendela kantornya, kota terbentang di bawahnya. Keterangan fotonya: Sang CEO, yang dikenal menolak tampil di depan kamera, memilih diabadikan dari belakang.
Semua aman. Seharusnya aman.
Masalahnya, Saudara-saudara, internet itu bukan tempat yang aman. Internet adalah tempat di mana orang punya waktu luang yang berbahaya.
Dalam dua hari, punggung berjas mahal itu menjadi misteri nasional skala kecil. "CEO dari belakang" mulai dibicarakan di media sosial. Siapa dia? Kenapa anti difoto? Ganteng enggak, sih, kira-kira?
Dan seperti hukum alam yang kejam: semakin disembunyikan, semakin orang penasaran.
Lalu, hari Sabtu pagi — pagi yang seharusnya tenang, pagi menjelang makan siang dua keluarga yang sudah cukup menegangkan tanpa bantuan apa pun — seorang warga di daerah lokasi survei luar kota itu mengunggah sebuah foto lama.
Fotonya buram, diambil diam-diam dari kejauhan, tapi cukup jelas: dua orang muda berdiri di tanah liat bekas hujan. Yang laki-laki berkemeja rapi dengan lengan digulung. Yang perempuan ... memakai sandal jepit karet, rambut curly-nya diikat seadanya, dan keduanya sedang tertawa. Tertawa lepas, seperti dua orang yang lupa sedang bermusuhan.
Keterangan fotonya sederhana: Katanya rival. Tapi kok ketawanya gitu?
Foto itu, tentu saja, meledak.
"GUE MAU PINDAH NEGARA," Anara mengumumkan kepada langit-langit apartemennya, Senin pagi, setelah membaca semuanya. "FOTO ITU ADA SANDAL JEPIT GUE, MIK. SANDAL JEPIT KARET. Kredibilitas gue sebagai CEO hancur dalam satu akhir pekan!"
"Justru itu, Ra, justru itu yang bikin orang suka!" Suara Mikhaella di telepon terdengar bahagia sekali, tidak simpati sama sekali. "CEO muda, turun ke lapangan, pakai sandal jepit, ketawa bareng rival! Lo tahu enggak komentar teratas isinya apa? Ini bukan rival, ini prewedding!"
"ASTAGA."
"Komentar keduanya lebih parah. Mau gue bacain?"
"ENGGAK."
Di kantor, suasana tidak lebih baik. Anak magang — lagi-lagi anak magang, kaum paling berani sekaligus paling ingin tahu di seluruh perusahaan — tertangkap sedang memperbesar foto buram itu di komputernya, dan ketika sadar dilihat atasannya, ia mematikan layar dengan kecepatan yang hanya dimiliki orang yang tahu dirinya salah.
Satpam di lobi bahkan sudah punya pendapat. "Menurut saya sih cocok, ya," ucap bapak itu kepada siapa pun yang lewat, tanpa diminta. "Saya ini kan mantau CCTV tiap hari. Saya tahu mana orang yang saling benci, mana yang pura-pura benci."
Dan kedua mamah? Oh, kedua mamah itu merespons dengan cara masing-masing yang sangat khas.
Eva menelepon sambil terisak bahagia: "Anakku masuk majalah! Mamah cetak ya, Nak, lima eksemplar, buat dibagi-bagi ke tante-tante!"
Ayu lebih jauh lagi. "Nak, Ibu sudah laminating artikelnya. Sudah Ibu pigura. Sekarang ada di ruang tamu, di sebelah foto kamu waktu wisuda. Komposisinya pas, Nak, seolah memang ditakdirkan bersebelahan."
"Bu. Itu artikel bisnis."
"Di mata Ibu itu undangan versi mahal," jawab Ayu tenang.
***
Selasa malam, akhirnya, rapat darurat yang sesungguhnya terjadi. Bukan di kantor — terlalu banyak kuping — tapi di sebuah kedai kopi kecil di pinggir kota, pojok paling dalam, jauh dari jendela.
Arga datang memakai topi.
"Anda kira kita mata-mata?" Anara menatap topi itu dari atas sampai bawah.
"Sekarang kita memang buronan, Nona. Foto saya ada di mana-mana, walaupun cuma punggung." Arga duduk, melepas topinya, dan menatap Anara lelah. "Punggung saya sekarang lebih terkenal dari prestasi saya."
"Gue lebih parah. Sandal jepit gue sekarang lebih terkenal dari perusahaan gue."
Untuk sepersekian detik, keduanya sama-sama terdiam — lalu, entah siapa yang mulai, keduanya tertawa. Tertawa lelah, tertawa pasrah, tertawa seperti dua orang yang sudah kehabisan tenaga untuk marah pada kekacauan yang sama.
"Ini gara-gara lo, sih," ucap Anara akhirnya, menunjuk dengan sendoknya. "Kalau lo enggak anti difoto, enggak ada misteri, enggak ada yang kepo."
"Justru karena Anda muncul jelas-jelas, mereka jadi punya bahan pembanding." Arga menyesap kopinya. "Tapi sudahlah. Salah-menyalahkan tidak menyelesaikan apa pun. Saya mengundang Anda ke sini bukan untuk bertengkar."
"Kaget gue."
"Saya serius." Arga meletakkan cangkirnya. "Nona. Selama seminggu ini, cerita tentang kita ditulis oleh dua pihak yang sama sekali tidak bisa dipercaya: ibu-ibu, dan internet. Kalau kita diam, mereka yang pegang narasinya. Besok-besok bisa muncul artikel baru, gosip baru, undangan makan siang baru. Kita tidak bisa mengandalkan keadaan, karena keadaan jelas berpihak ke mereka."
Anara menyipitkan mata. "Lo ngusulin apa?"
"Kita pegang kendalinya sendiri." Arga mengeluarkan selembar tisu dari kotak di meja — tidak ada kertas lain — dan sebuah pulpen. "Kita buat kesepakatan resmi. Berdua. Tertulis."
"Kontrak? Di atas tisu?"
"Dokumen tidak dinilai dari kertasnya, Nona, tapi dari isinya." Dan dengan wajah seserius menandatangani kontrak ratusan miliar, Arga menulis di atas tisu itu, sambil membaca keras-keras:
"Satu. Jawaban seragam untuk semua pihak: kami rekan kerja, tidak lebih. Dua. Tidak ada pertemuan keluarga tanpa persetujuan kedua belah pihak. Tiga. Tidak ada yang boleh memberi harapan ke ibu masing-masing, termasuk lewat candaan. Empat. Evaluasi setiap dua minggu. Lima. Klausul keluar: pihak mana pun bisa mengakhiri kesepakatan kapan saja, tanpa penalti, cukup dengan bilang ..." ia berhenti menulis, berpikir sebentar, "... selesai."
"Kata sandinya selesai." Anara mengangguk pelan, terkesima meski enggan mengakuinya. "Lo pikirin ini dari kapan?"
"Sejak Sabtu. Sejak foto sandal jepit itu keluar."
Anara mengambil pulpen itu dan menambahkan satu baris dengan tulisannya yang lebih berantakan. "Enam. Kopi susu selama masa kesepakatan harus tetap dikirim sesuai jadwal. Ini klausul penting."
"Itu klausul paling tidak penting yang pernah saya baca."
"Tanda tangan atau enggak, nih."
Arga menatapnya. Anara menatap balik. Lalu, dengan ketegasan dua CEO yang sedang menandatangani merger raksasa, keduanya menandatangani selembar tisu itu di kedai kopi pojok paling dalam.
Sang barista, yang dari tadi memperhatikan dari balik mesin kopi, mengira ia baru menyaksikan sebuah lamaran. Lima menit kemudian, dua gelas dessert diantar ke meja itu dengan kartu kecil bertuliskan: Gratis, dari kami. Semoga lancar sampai pelaminan!
Kedua penandatangan kontrak itu menatap dessert gratis itu, lalu menatap satu sama lain, lalu memutuskan dengan sangat dewasa untuk tidak membahasnya sama sekali.
"Jadi kita resmi ... sekutu?" Anara menjabat tangan yang terulur di atas meja.
"Sekutu. Bukan teman. Jangan lewat batas." Arga menjabatnya kembali, kaku dan cepat.
Dan keduanya sama-sama tidak menyadari bahwa jabat tangan itu bertahan dua detik lebih lama dari yang dibutuhkan sebuah jabat tangan sekutu.
DEG!
Dua-duanya. Malam itu juga. Dan dua-duanya pulang meyakinkan diri masing-masing bahwa itu cuma karena dessert gratis.
Kontrak di atas tisu, disaksikan barista, disegel jabat tangan. Saudara-saudara, percayalah: begitulah semua bencana besar dimulai — dengan rencana yang rapi, dan dua orang yang bersumpah itu semua cuma strategi.