Kamis malam itu, bel apartemen Anara berbunyi tepat saat ia baru saja menuangkan mie instan ke mangkuk — makan malam para pejuang lembur sedunia.
Di depan pintu, berdiri Jeng Ayu dengan tote bag besar dan senyum yang terlalu cerah untuk jam delapan malam.
"Surprise!"
"Jeng ..." Anara menatap tote bag itu dengan curiga. "Jeng Ayu mau ngebujuk aku, ya."
"Tante mau makan bareng kamu." Ayu mengangkat tote bagnya, memamerkan rantang-rantang di dalamnya. "Ngebujuk itu bonus. Sekarang minggir, sopnya masih panas, dan Tante sudah keliling dua kali cari parkir di gedung kamu ini."
Maka sepuluh menit kemudian, mie instan itu tersingkir ke sudut meja — para pejuang lembur pun harus mengalah pada sop buntut rumahan — dan mereka berdua makan berhadap-hadapan di meja makan apartemen Anara yang jarang dipakai makan berdua siapa pun.
Sebelum makan, tentu saja, Jeng Ayu melakukan ritual wajibnya: inspeksi kulkas.
"Nak. Kulkas kamu ..." Ayu membuka pintu kulkas dan terdiam dengan khusyuk. "... isinya kopi susu semua. Satu rak penuh. Kamu ini manusia atau kedai kopi?"
"Itu rak minuman, Jeng. Rak bawah ada telur, kok."
"Telur sama kopi susu. Ya Tuhan." Ayu mengambil sebotol kopi susu dan membaca labelnya dengan mata menyipit, seperti sedang memeriksa barang bukti di persidangan. "Kamu tahu enggak, anak Tante yang satu itu kulkasnya juga mengenaskan. Isinya air putih doang. Kalian ini dua-duanya sama aja ... astaga, Tante sampai enggak tahu mau ngomong apa."
"Mungkin itu justru tandanya kami enggak cocok, Jeng. Dua kulkas bermasalah enggak bisa disatuin."
"Justru bisa. Nanti saling isi." Ayu menutup pintu kulkas dengan bunyi klik yang penuh kemenangan.
Ayu bertanya soal kantor. Anara menjawab. Anara bertanya soal arisan. Ayu menjawab panjang sekali, lengkap dengan gosip pendukung. Semuanya terasa seperti makan malam biasa antara tante dan keponakan kesayangannya.
Sampai Ayu meletakkan sendoknya.
"Nak. Kamu penasaran enggak, kenapa dari sekian banyak anak orang yang Tante kenal, Tante milih kamu buat Arga?"
Anara ikut meletakkan sendoknya. "Karena aku anaknya Jeng Eva?"
"Bukan." Ayu menggeleng pelan, dan untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya tidak rempong sama sekali. "Tante kenal kamu dari kamu umur tujuh tahun, Nak. Kamu itu anak yang kalau main di rumah Tante, mainannya dirapiin sendiri sebelum pulang, padahal enggak ada yang nyuruh. Tante ingat."
Anara diam.
"Terus kamu gede. Tante lihat kamu bangun perusahaan dari nol, Nak. Dari meja kecil di kamar kos, sampai sekarang gedung lima belas lantai. Enggak pakai nama siapa-siapa, enggak pakai duit siapa-siapa. Tante itu diam-diam bangga, kamu tahu. Tante suka pamer ke teman-teman Tante: itu, anaknya Jeng Eva, kayak anak Tante sendiri."
"Jeng ..."
"Terus kemarin itu terjadi. Sama kakaknya Arga." Ayu menarik napas panjang, dan di matanya ada sesuatu yang lama disimpan. "Tante malu, Nak. Anak Tante sendiri bikin kamu nangis. Dan kamu tahu apa yang bikin Tante makin malu? Kamu enggak pernah jelek-jelekin dia di mana pun. Kamu enggak bakar-bakaran, enggak balas dendam, enggak manfaatin nama Tante buat apa-apa. Kamu cuma ... berdiri lagi. Rapi. Sendiri. Kayak kamu selalu."
Ayu meraih tangan Anara di atas meja.
"Tante enggak milih kamu karena kamu anak Jeng Eva, Nak. Tante milih kamu karena kamu, kamu. Karena Tante sudah lihat sendiri dua puluh empat tahun, dan Tante enggak pernah lihat kamu jadi orang jahat. Sekali pun enggak pernah."
Ruangan itu hening sejenak. Anara menatap sop buntutnya yang menguap, dan mendapati bahwa semua lelucon yang biasanya antre di tenggorokannya memilih diam.
"Arga itu anak Tante yang paling lurus, Nak," lanjut Ayu, suaranya makin pelan. "Dan justru karena dia paling lurus, dia yang paling kesepian. Rumah Tante besar, tapi sepi. Dia kabur ke kantor karena kantornya enggak pernah sepi. Tante enggak butuh dia nikah cepat-cepat. Tante butuh ada satu orang di dunia ini yang berani ngelawan dia, berani ketawa di depan dia, dan bikin dia mau pulang ke rumah yang ada orangnya."
Ayu menepuk tangan Anara dua kali, lalu tersenyum.
"Tante enggak minta kamu cinta dia, Nak. Cinta enggak bisa dipesen kayak katering. Tante cuma minta satu: buka pintunya sedikit aja. Kalau ternyata enggak ada apa-apa, pintunya boleh kamu tutup lagi, Tante janji enggak akan ngunci dari luar. Tapi kalau ternyata ada sesuatu ... jangan kamu kunci rapat-rapat cuma karena kamu takut. Itu aja. Bisa?"
Anara menatap wanita di depannya itu lama sekali.
"... Jeng Ayu enggak fair, deh. Dateng bawa sop, pulang-pulang ngebobol pertahanan orang."
"Itu keahlian Tante. Dilatih dua puluh tujuh tahun." Ayu nyengir, dan seketika itu pula wajah rempongnya kembali seperti tidak pernah pergi. "Nah! Udah, sopnya habisin. Oh iya, hampir lupa: Sabtu ini makan siang dua keluarga, ya. Papah kamu udah oke."
Anara yang baru saja trenyuh langsung terlonjak. "PAPAH AKU KENAPA BISA OKE?!"
"Tanya papahmu. Tante cuma pelaksana lapangan."
Malam itu juga, lewat sambungan telepon, terungkaplah kronologis lengkapnya. Damares, sang kepala keluarga, sang penjaga netralitas abadi, menjawab dengan kalem dari balik korannya:
"Papah cuma bilang iya karena mamah kamu sudah pesan restoran, Nak. Menolak itu butuh energi. Papah sudah tua."
"Pah!"
"Itu pun papah mikirnya makan siang biasa. Papah enggak baca detail undangannya. Papah tahunya sekarang, sama seperti kamu." Terdengar suara halaman koran dibalik. "Jadi kalau mau menyalahkan, salahkan sistem distribusi informasi di rumah ini. Papah cuma korban."
Pengkhianat. Pengkhianat paling damai sedunia memang selalu punya alasan yang masuk akal.
Sepeninggal Jeng Ayu, Anara membereskan rantang-rantang itu dalam keadaan pikiran melayang. Buka pintunya sedikit. Jangan dikunci rapat-rapat cuma karena takut.
Ia berdiri di jendela apartemennya, menatap lampu-lampu kota. Di kejauhan sana, gedung kantornya berdiri gelap, dan di seberangnya, gedung itu — gedung yang entah kenapa selalu menyala paling lama — masih punya beberapa jendela yang terang di lantai atas.
Lembur lagi, pikirnya. Orang itu memang enggak pernah pulang.
Anara mengambil ponselnya, membuka chat "Seberang (Proyek)", dan kali ini jempolnya tidak ragu-ragu.
"Rapat darurat. Perang kita makin besar. Besok sebelum meeting, kantin lantai lima, jam delapan. Jangan telat. — A"
Satu menit kemudian, balasan masuk.
"Akan saya usahakan tidak telat, mengingat biasanya yang telat itu Anda. — S"
Anara tertawa kecil di tengah apartemennya yang sepi, lalu menatap layar ponselnya dengan kesal pada dirinya sendiri.
Buka pintunya sedikit, kata Jeng Ayu.
"Enggak ada pintu-pintuan," gerutu Anara pada langit-langit apartemennya. "Ini rapat. Rapat darurat. Titik."
Langit-langit apartemen itu, seperti biasa, memilih tidak percaya.