Masih ada satu janji yang belum ditunaikan Anara. Janji yang dibuat dengan sembrono dua minggu lalu, di depan layar video call, kepada seorang wanita berkacamata bundar yang sekarang sedang menyeruput boba taro dengan mata berbinar seperti mau menonton pertandingan final.
"Oke. Gue siap." Mikhaella duduk bersila di kamarnya, segelas boba taro di tangan kiri, sebungkus keripik di tangan kanan. "Laporan lengkap, seperti yang lo janjiin. Mukanya, suaranya, makannya apa, sendoknya dipegang tangan mana. SEMUANYA. Mulai."
"Mik, gue—"
"MULAI, ANARA."
Maka Anara mulai. Ia bercerita dari awal: ruang privat, dua mamah, pintu kayu berukir yang terbuka. Ia bercerita datar-datar saja, sesekali diselingi keluhan, persis seperti orang membacakan laporan keuangan triwulan.
Tapi Mikhaella bukan penonton biasa. Wanita itu menyimak setiap kata dengan tubuh condong ke kamera, dan ketika Anara sampai ke bagian pintu terbuka, tangannya berhenti mengaduk boba.
"Terus ... orang yang masuk itu ..." Anara menarik napas. "Arga."
Hening.
"Arga ... yang mana?" Suara Mikhaella pelan sekali, seperti orang yang takut mendengar jawabannya.
"Arga yang mana lagi, Mik. Seberang. Musuh bebuyutan gue. Arga Satria Megantara."
Kacamata bundar itu melorot sampai ke ujung hidung.
"ARGA?!" Mikhaella berdiri sampai kursinya jatuh ke belakang. "MUSUH BEBUYUTAN LO ITU ADEKNYA DAVE?! ANAKNYA JENG AYU?! YANG LO CERITAIN SETIAP HARI ITU?!"
"Gue enggak ceritain dia setiap hari—"
"Ra. RA." Mikhaella membenarkan kacamatanya dengan tangan gemetar, seperti seorang ilmuwan yang baru menemukan spesies baru. "Selama dua tahun gue sama Dave, adeknya itu disimpen kayak rahasia negara. Enggak pernah nongol, enggak pernah ada fotonya, namanya aja enggak pernah disebut lengkap. Dan sekarang gue tahu siapa dia. Dan dia itu ... orang yang paling sering lo omelin sejak setahun terakhir."
"Bukan paling sering—"
"Gue mau tanya satu hal, dan lo jawab jujur." Mikhaella mendekat ke kamera sampai wajahnya memenuhi layar. "Sejak kita mulai teleponan ini ... lo udah nyebut nama Arga berapa kali?"
"Ya ampun, Mik, gue enggak ngitung—"
"GUE YANG NGITUNGIN. SEBELAS KALI, RA. Sebelas kali dalam lima menit!" Mikhaella menunjuk ke kamera dengan jari yang dramatis. "Rekor lo sama Dave selama dua tahun pacaran itu enggak pernah sebelas kali! Paling mentok tiga! Dan itu pun dua-duanya pas lo ngabarin gue putus!"
Anara membuka mulut untuk membantah, dan mendapati dirinya tidak punya bahan bantahan. Menyebalkan sekali, sahabatnya ini. Kenapa orang yang hobinya ngitungin nama orang malah dikasih ke gue sebagai sahabat, pikirnya kesal.
"Itu beda konteks, Mik. Gue nyebut dia karena kami kerja bareng dan dia nyebelin."
"Nyebelin." Mikhaella mengangguk-angguk dengan wajah paling tidak percaya yang pernah diproduksi umat manusia. "Ra, dengerin gue. Selama gue kenal lo — dan gue kenal lo dari kita masih sama-sama culun — baru kali ini ada cowok yang bikin lo secerewet ini. Cowok lain lewat di hidup lo kayak iklan, lima detik di-skip. Yang ini? Sebelas kali dalam lima menit, dan matanya lo beda tiap nyebut namanya."
"Mata gue biasa aja."
"Mata lo enggak bisa bohong, Ra. Itu kelemahan lo dari lahir."
Anara diam. Dan seperti biasa, keheningan itu adalah jawaban yang paling jujur.
Mikhaella menghela napas, lalu duduk kembali, mengambil bobanya, dan nadanya berubah lembut — nada yang cuma keluar kalau sahabatnya itu sedang serius sungguhan.
"Ra. Gue mau bilang satu hal serius, dan abis ini gue enggak akan ngulang." Mikhaella menatapnya dari balik layar. "Urusan gue sama Dave udah selesai, dan gue baik-baik aja, beneran. Jadi jangan pernah sekalipun lo nolak sesuatu yang bagus buat hidup lo cuma karena ada nama kakaknya di tengah-tengah. Gue tim lo bahagia, Ra. Titik. Enggak ada tapi-tapian."
"Mik ..."
"Titik, gue bilang." Mikhaella menyeruput bobanya dengan galak. "Sekarang balik ke topik: dua belas kali. Barusan lo nyebut lagi pas bilang nyebelin."
"GUE ENGGAK—" Anara berhenti, menghitung mundur di kepalanya, lalu menyerah. "Iya. Dua belas. Puas lo?"
"Puas banget." Mikhaella nyengir lebar sekali. "Oh iya, satu info lagi. Nyokap gue kemarin cerita: di grup ibu-ibu arisannya, Jeng Ayu udah cerita ke mana-mana soal calon besannya. Tante Sari masuk grup itu, Ra. Tante. Sari."
Anara menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mengerang panjang, suaranya seperti mesin yang kehabisan bahan bakar.
"Lo mau enggak mau, berita lo jalan lebih cepat dari lo, Ra. Di mata ibu-ibu se-komplek, lo udah tunangan. Minggu depan mungkin udah dapet kiriman parsel."
"Eh, tapi serius deh." Mikhaella menyeruput bobanya sampai berbunyi. "Satu komplek ibu-ibu itu sekarang kerjaannya ngomongin lo. Nyokap gue sampai enggak enak sendiri, soalnya dia kan hampir jadi besan Jeng Ayu versi lama. Sekarang grup arisannya rame bahas calon besan versi baru, dan nyokap gue cuma bisa komen pakai stiker. Stiker, Ra. Itu level awkward paling tinggi."
"Tante Astrid enggak apa-apa?"
"Nyokap gue lebih tegar dari yang lo kira, Ra. Dia malah yang bilang ke gue: untung bukan Mikhaella, kalau Mikhaella mah udah kabur di makan malam pertama." Mikhaella tertawa geli. "Nyokap gue tuh sebenarnya tim gue banget, cuma jalurnya muter."
Anara ikut tertawa kecil. Hubungan Mikhaella dan Tante Astrid memang sedang diperbaiki pelan-pelan, dan lucunya, justru kehebohan perjodohan ini yang sekarang jadi bahan obrolan ibu dan anak itu setiap malam. Semesta kadang punya cara yang aneh untuk memperbaiki sesuatu: lewat kehebohan hidup orang lain.
"Oh iya, satu lagi. Gue hampir lupa." Mikhaella menyipitkan mata dengan gaya interogatornya. "Gue denger-denger dari jaringan ibu-ibu ... lo pegangan tangan di lobi restoran?"
"JABAT TANGAN, MIK! JABAT! TANGAN!" Anara hampir melempar bantal ke layar ponselnya. "Gila, ya, jaringan ibu-ibu itu lebih cepat dari kantor berita! Berita kemarin malam aja udah sampai ke grup arisan!"
"Di mata ibu-ibu, jabat tangan lima detik itu sama aja lamaran."
"ITU JABAT TANGAN PERANG! Kami lagi nyusun strategi buat nolak!"
"Perang cinta, tetep," jawab Mikhaella santai, menyeruput bobanya lagi.
"Ini bencana, Mik."
"Ini sinetron," koreksi Mikhaella riang. "Dan gue penonton setia. Episode minggu ini gue kasih bintang lima."
Video call itu berakhir satu jam kemudian, dengan Mikhaella tertawa sampai menangis tiga kali dan Anara menggerutu sepanjang jalan. Setelah layar mati, Anara berbaring di kasurnya, menatap langit-langit kamar apartemennya yang sepi.
Sebelas kali. Dua belas, kata Mikhaella.
Ia mengambil ponselnya, membuka chat dengan "Seberang (Proyek)". Pesan terakhir di sana masih menggantung sejak Rabu: Kita harus ketemu membicarakan ini. Bukan di kantor.
Jempolnya melayang di atas keyboard beberapa saat.
Lalu ia menutup chat itu, menarik selimut sampai sebatas hidung, dan memutuskan bahwa malam ini ia akan tidur dan tidak memikirkan apa pun. Terutama tidak memikirkan kenapa jantungnya berdebar aneh setiap kali membaca ulang pesan itu.
DEG!
Diam, kamu. Tidak ada yang bertanya.