[ POV : Miranda ]
Aku menutup novel yang baru saja selesai kubacakan pada udara kosong perpustakaan. Jari-jariku masih merasakan tekstur sampul buku yang sudah agak lusuh—Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono. Buku yang kupilih hari ini karena puisi-puisinya yang melankolis seolah mencerminkan perasaanku sendiri.
Sudah tiga minggu ini aku memiliki rutinitas aneh: datang ke sudut perpustakaan yang sepi setiap sore, memilih buku, dan membacakannya dengan suara keras. Awalnya, aku melakukan ini untuk melatih suara—sebagai mahasiswa kedokteran tahun kelima, aku sering harus presentasi di depan kelas dan dokter senior. Membaca dengan intonasi yang baik adalah keterampilan yang kurasa perlu diasah. Tapi itu hanya dalih yang kukatakan pada siapa pun yang bertanya mengapa aku menghabiskan waktu di pojok sunyi ini.
Tapi kini, alasan itu terasa seperti kebohongan yang kukatakan pada diri sendiri.
Yang benar adalah: aku menikmati kesendirian di sudut perpustakaan ini. Di sini, tidak ada teman-teman kuliahku yang bertanya tentang nilai, tentang rencana spesialisasi, atau tentang mengapa aku selalu terlihat lelah akhir-akhir ini. Di sini, aku bisa menjadi diriku sendiri—hanya Miranda dan buku-buku yang tidak akan menghakimiku. Tidak ada ekspektasi, tidak ada tuntutan untuk menjadi sempurna di mata orang lain.
Hari ini berbeda. Aku merasakan ada yang mengamatiku.
Bukan dalam artian yang mengganggu—tidak. Ini lebih seperti kehadiran yang tenang, yang mendengarkan dengan penuh perhatian. Ketika aku membacakan puisi Chairil Anwar tadi, aku bisa merasakan ada telinga yang benar-benar mendengar, bukan hanya mendengar suara tapi memahami makna di balik setiap kata yang kuucapkan.
Sensasi itu aneh tapi menyenangkan. Selama ini aku membaca untuk diriku sendiri, atau lebih tepatnya untuk mengisi kekosongan yang selalu kurasa akhir-akhir ini. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, aku merasa bacaanku bermakna bagi orang lain. Ada seseorang di luar sana yang menghargai kata-kata yang kuucapkan, yang memahami keindahan sastra yang kubagikan.
Aku menoleh ke arah timur perpustakaan. Di sana, seorang pemuda duduk sendirian di meja nomor 47. Tongkat putih terlipat rapi di samping kursinya, laptop khusus terbuka di depannya, tapi layarnya tidak menyala. Pemuda itu duduk dengan postur yang tegak, kepala sedikit miring—posisi seseorang yang sedang mendengarkan dengan serius. Tangannya sesekali bergerak halus di atas meja, seolah mengikuti irama kata-kata yang kuucapkan.
Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Jadi, aku memang punya audiens. Seorang pemuda tunanetra yang entah mengapa memilih untuk mendengarkan bacaanku daripada melanjutkan pekerjaannya sendiri.
Ada sesuatu yang menyentuh dalam pemandangan itu. Cara pemuda itu mendengarkan—begitu fokus, begitu khusyuk—membuatku merasa dihargai dengan cara yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Bahkan ketika aku presentasi di depan para profesor kedokteran, tidak pernah ada yang mendengarkanku dengan kualitas perhatian seperti ini. Tidak ada yang mendengarkan seolah-olah setiap kata adalah anugerah yang berharga.
Aku mengamatineya lebih lama. Wajahnya tampak damai, meski ada garis kelelahan di sekitar matanya. Rambut hitamnya sedikit berantakan, mungkin karena kebiasaan meraba-raba. Ia mengenakan kemeja biru muda yang sudah agak pudar, jeans yang nyaman, dan sepatu kets yang terlihat sering dipakai. Tidak ada yang istimewa dari penampilannya, tapi ada sesuatu yang membuatku ingin terus memandangnya.
Mungkin caranya duduk dengan tenang, atau bagaimana jari-jarinya sesekali bergerak di udara seolah sedang mengetik kata-kata yang baru saja kuucapkan. Ada keeleganan dalam gerakan-gerakannya, sebuah keanggunan yang datang dari seseorang yang telah lama belajar menavigasi dunia dengan cara yang berbeda. Gerakannya ekonomis namun penuh makna, seolah setiap sentuhan memiliki tujuan yang jelas.
Aku mulai penasaran. Apakah ia mahasiswa sastra? Wajahnya yang tenang dan cara ia mendengarkan menunjukkan seseorang yang memahami keindahan bahasa. Mungkin ia juga penyuka puisi, atau penulis muda yang sedang mencari inspirasi. Atau mungkin ia seperti diriku—seseorang yang mencari pelarian dari rutinitas yang melelahkan melalui keindahan kata-kata.
Tanpa sadar, aku mulai memilih bagian-bagian yang lebih menarik untuk dibaca. Ketika sampai di puisi tentang kerinduan dan kehilangan, aku membaca dengan intonasi yang lebih dalam, lebih penuh perasaan. Bukan karena aku ingin mengesankan pemuda itu—tentu saja tidak—tapi karena aku merasakan bahwa ada seseorang yang benar-benar memahami dan menghargai apa yang k****a. Ada pendengar yang layak mendapatkan yang terbaik dari setiap kata yang kuucapkan.
Suaraku mengalir lebih natural, lebih bebas. Aku merasakan kata-kata mengambang di antara kami, menciptakan jembatan tak kasat mata yang menghubungkan dua dunia yang berbeda.
Aku mengumpulkan buku-bukuku perlahan, berusaha tidak membuat suara yang mengganggu. Aku tidak ingin merusak momen ini, apa pun itu. Ketika aku berdiri untuk pergi, aku sempat melirik sekali lagi ke arah pemuda itu.
Ia masih duduk dengan posisi yang sama, seolah masih menunggu kata-kata berikutnya. Ada sesuatu yang melankolis dalam postur tubuhnya, sebuah kerinduan yang bisa kurasakan meski kami tidak pernah bertukar kata. Aku hampir ingin menghampirinya, mengucapkan salam, bertanya apakah ia menikmati bacaan hari ini. Tapi keraguan menghentikanku. Bagaimana jika aku salah paham? Bagaimana jika ia sebenarnya tidak mendengarkan sama sekali?
Aku berjalan keluar perpustakaan dengan perasaan hangat di d**a. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, aku merasa bacaanku benar-benar bermakna bagi seseorang. Bukan karena nilai atau penilaian akademis, tapi karena murni apresiasi terhadap kata-kata dan cerita.
Di dalam mobil yang membawaku pulang, aku terus memikirkan pemuda itu. Ada sesuatu dalam caranya mendengarkan yang membuatku yakin bahwa ia bukan pendengar yang kebetulan. Ia memahami sastra, menghargai keindahan bahasa, dan mungkin—hanya mungkin—ia merasa kesepian seperti diriku. Mungkin kami sama-sama tersesat di tengah keramaian dunia dan menemukan rumah dalam keheningan perpustakaan.
Pemikiran itu membuatku tersenyum. Mungkin kami berdua sama-sama mencari sesuatu di perpustakaan itu. Aku mencari ketenangan dari rutinitas kedokteran yang melelahkan, ia mungkin mencari inspirasi atau sekadar pelarian dari dunianya sendiri.
Malam itu, di apartemen kecilku di dekat kampus, aku duduk di meja belajar yang dipenuhi buku-buku kedokteran. Tapi alih-alih membuka textbook Patologi yang harusnya k****a untuk ujian minggu depan, aku malah memilah-milah koleksi buku sastiraku. Jari-jariku menyentuh satu per satu punggung buku, seolah sedang memilih teman terbaik untuk besok.
Saman karya Ayu Utami? Terlalu kontroversial. Aku tidak yakin ingin membaca sesuatu yang begitu berani di tempat umum. Laskar Pelangi? Terlalu mainstream, dan aku yakin pemuda tunanetra itu sudah pernah mendengarnya berkali-kali. Cantik Itu Luka? Terlalu panjang untuk dibaca dalam satu sesi, dan ceritanya mungkin terlalu kompleks untuk pembacaan pertama.
Akhirnya, pilihanku jatuh pada kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Cerpen-cerpen yang dalam, filosofis, tapi tidak terlalu berat. Sempurna untuk dibacakan di perpustakaan yang tenang. Tema-tema tentang spiritualitas dan pencarian makna hidup mungkin akan menarik bagi seseorang yang jelas-jelas memiliki kepekaan sastra yang tinggi.
Aku meletakkan buku itu di samping tas kuliahku, sebuah tanda bahwa aku sudah memutuskan akan kembali besok. Keputusan ini membuatku sedikit berdebar-debar, seolah-olah besok akan terjadi sesuatu yang penting.
Tapi mengapa aku merasa seperti ini? Ini hanya rutinitas membaca yang kebetulan didengar seseorang. Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang perlu dipikirkan berlebihan. Tapi entah mengapa, pemikiran tentang pemuda itu terus mengganggu konsentrasiku.
Ketika aku akhirnya membuka buku Patologi dan mulai mempelajari tentang sel-sel yang abnormal dan penyakit yang merusak tubuh manusia, pikiranku sesekali melayang ke pemuda di perpustakaan. Ada kontras yang menarik antara dunia medis yang keras dan rasional dengan dunia sastra yang lembut dan penuh perasaan.
Di dunia kedokteran, aku belajar tentang cara tubuh rusak dan cara memperbaikinya. Segala sesuatu harus logis, terukur, berbasis bukti. Tidak ada ruang untuk interpretasi atau perasaan. Tapi di sudut perpustakaan itu, aku merasakan sesuatu yang sedang dibangun—sebuah koneksi yang aneh, sebuah keintiman tanpa kata-kata, sebuah kehadiran yang saling menghargai.
Mungkin itulah yang kucari selama ini tanpa kusadari. Bukan hanya ketenangan, tapi koneksi. Seseorang yang bisa memahami keindahan yang kusuka, yang bisa menghargai kata-kata tanpa perlu penjelasan atau analisis yang rumit. Seseorang yang mendengarkan dengan hati, bukan hanya dengan telinga.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam ketika aku akhirnya menutup buku dan bersiap tidur. Tapi sebelum memejamkan mata, aku tersenyum sekali lagi, membayangkan wajah tenang pemuda itu ketika mendengarkan cerita tentang surau yang roboh dan manusia-manusia yang kehilangan arah. Aku membayangkan bagaimana ekspresinya akan berubah ketika mendengar kalimat-kalimat yang paling menyentuh.
Besok, aku akan kembali. Dan mungkin, hanya mungkin, kali ini aku akan memiliki keberanian untuk tersenyum jika mata kami bertemu—meski aku tahu mata pemuda itu tidak akan membalas tatapanku.
Tapi itu tidak masalah. Yang penting adalah kehadiran itu sendiri—kehadiran yang nyaman, yang menghargai, yang membuat rutinitas sederhana membaca buku menjadi sesuatu yang istimewa dan bermakna. Kehadiran yang membuat kata-kata tidak lagi jatuh ke dalam kehampaan.
Dalam tidurku malam itu, aku bermimpi tentang kata-kata yang terbang di udara, tentang cerita-cerita yang menemukan pendengar yang tepat, dan tentang dua jiwa yang terhubung melalui kekuatan bahasa dan apresiasi terhadap keindahan yang tersembunyi di antara halaman-halaman buku.