SORA
Kuliah tahun keduaku sudah berjalan setengahnya. Cukup banyak cerita menarik yang menghiasi di dalamnya. Liburan semester ganjil memang bisa dibilang cukup lama. Sekitar satu bulan, terkadang lebih. Namun, asal kau tahu, libur semester genap jauh lebih panjang dan membosankan jika kau tidak memiliki kegiatan ekstra untuk mengisinya.
Hari ini aku berencana membantu Mama menghias beberapa kue pesanan. Sebenarnya Mama melakukan ini berawal dari rasa bosan juga, karena setiap hari hanya berdiam diri di rumah, sementara aku dan Papa pergi untuk melakukan kewajiban kita. Lalu Mama berinisiatif untuk membuka bisnis dekorasi kue secara online dan ternyata berhasil.
Di balik itu semua, kemampuan Mama dalam mendekorasi kue memang patut diacungi jempol. Pelanggan Mama memang cukup banyak, tapi Mama hanya menerima beberapa karena beliau tidak ingin hasilnya tidak memuaskan jika mengerjakannya seolah dikejar dengan waktu. Maka dari itu sistem yang Mama terapkan yaitu, sistem pre-order.
Sejujurnya, aku suka dengan sesuatu yang bersifat artistik seperti ini. Keindahan yang dihasilkannya itu sangat memanjakan mata. Menanamkan kekaguman yang sulit dijelaskan oleh kata-kata.
Keahlian Mama ini sedikit menurun padaku. Namun, keahlian Papa jauh lebih dominan dalam darahku. Maka dari itu aku lebih mendalami sesuatu yang bersifat administratif dan menjadikan seni kue hanya sekadar hobi. Namun, aku suka keduanya. Siapa tahu aku bisa menjadi keduanya di masa depan.
Bukankah jika ditelaah hal-hal seperti ini memiliki kaitan yang menguntungan?
“Sepertinya kita akan mendapat dua pesanan lagi.” Kabar itu malah membuat Mama terlihat bingung.
“Terima saja, Ma. Kita bisa untung banyak.” Otakku langsung bekerja saat laba menghampiri.
“Mama tidak yakin bisa menyelesaikannya,” ucap Mama.
“Bukankah semua pesanan ini akan diambil besok? Bahkan untuk pesanan hari ini saja semua sudah beres dikerjakan. Tinggal menunggu pelanggan yang menjemput. Lalu, masalahnya apa sampai Mama tidak yakin?”
“Ini saja baru diproses dua, masih ada sisa dua lagi. Masa sudah mau ditambah lagi?”
“Memangnya dua pesanan itu untuk kapan?”
“Yang satu untuk besok dan satunya lagi untuk lusa. Kalau untuk lusa, mungkin Mama bisa sanggupi, tapi yang untuk besok sepertinya akan Mama tolak.”
“Loh, jangan! Sayang, Ma. Apa Mama lupa kalau aku sedang libur?”
“Nanti kamu kelelahan, mending Mama tolak saja.”
“Kalau emang Mama tidak mau, biar aku saja yang terima.” Ucapku dengan penuh percaya diri. Namun saat Mama memperlihatkan dekorasi yang diinginkan, seketika nyaliku menciut.
“Iya, sudah. Yang itu Mama tolak saja.” Aku langsung pura-pura fokus pada dekorasi yang tengah aku kerjakan. Tidak memedulikan Mama yang sedikit menggerutu.
Saat percaya dirimu mulai timbul, kau malah berlebihan, Sora.
Mungkin bagi Mama dekorasi yang tengah aku kerjakan ini cukup mudah, tapi bagiku tidak. Aku harus mengerjakannya dengan sangat hati-hati. Jangan sampai ada aku mengecewakan pelanggan Mama yang sudah mempercayakan tugas ini padanya. Karena pantang bagi Mama untuk mengecewakan pelanggannya. Mama juga tidak sembarangan memberikan tugas yang sekiranya aku masih belum mampu mengeksekusinya.
Lebih dari tiga jam, akhirnya aku bisa menyelesaikan dekorasi kue ini. Aku sungguh kagum pada karyaku sendiri, karena di dalamnya ada usaha yang keras untuk menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan apa yang diinginkan.
Sejenak, aku meregangkan otot-otot syaraf agar bisa sedikit lebih rileks sebelum melanjutkan tugas yang lain. Aku baru ingat jika aku belum mengecek ponselku sejak pagi. Jadi, aku beranjak sebentar untuk pergi ke kamar. Ada beberapa notifikasi dari beberapa aplikasi. Namun, mataku langsung menangkap barisan notifikasi pesan.
Eza : Bagaimana harimu? Apa kau memiliki rencana untuk keluar rumah hari ini?
Eza : Sora, apa kau sibuk? Aku ingin berkunjung ke rumahmu.
Eza : Ah, sepertinya liburan semestermu tidak membosankan. Baiklah, kalau begitu. Jika kau ada waktu, aku harap kau membalas pesanku.
Seluruh pesan itu Eza kirimkan sejak pagi dan aku baru melihatnya di pukul satu siang. Sunggung ironis memang. Untung saja, pesannya bukan dalam kategori mendesak.
Sora : Maaf, aku sedikit sibuk. Aku tengah membantu Mama mendekorasi kue untuk pesanan. Jika kau ingin main ke rumah, datanglah. Hanya saja aku akan tetap sibuk dengan hal ini.
Eza : Baiklah, aku akan datang.
Mataku membelalak membaca isi pesannya. Bahkan durasi membalasnya pun terbilang sangat cepat. Apa liburannya tidak menyenangkan? Atau dia sedang bercanda?
Aku sedang tidak ingin memikirkan hal ini. Ada hal yang jauh lebih penting dilakukan daripada sekadar menebak-nebak apa yang dirasakan orang lain. Aku sengaja membawa ponselku ke dalam dapur. Berjaga-jaga siapa tahu Eza memang benar akan datang ke rumah.
Saat aku tengah mengecek kondisi kue, tiba-tiba pintu rumah ini diketuk. Aku pikir itu pelanggan yang membuat janji untuk mengambil pesanannya. Jadi, aku tidak melepas celemek yang sedari tadi menempel pada tubuh. Namun, saat aku membuka pintu, ternyata itu Eza.
“Aku pikir kau hanya bercanda.” Dalam datarnya raut wajah yang aku tampakkan, di situ ada keterkejutan yang sengaja tidak aku perlihatkan.
“Jika menyangkut soal kamu aku tidak bercanda. Memangnya kau tidak merindukanku?”
“Sut! Jangan keras-keras.” Aku mencubit lengan Eza dan dia hanya menyengir kuda.
“Masuklah! Kau ingin minum apa?”
“Tidak perlu repot-repot.”
“Kalau begitu, aku tinggal. Semoga kau betah ya!”
“Loh, Kok ditinggal? Memangnya kau mau ke mana?” tanyanya.
“Bukannya sebelum kau ke sini aku sudah bilang.”
“Lalu, untuk apa aku hanya duduk di sini? Sama saja kalau begitu.” Dia seperti bergumam, tapi aku masih bisa mendengarnya.
“Terus, apa kau mau membantu?” tanyaku asal. Aku pikir dia akan menolak, tapi jawabannya memang mencerminkan seorang Eza.
“Boleh,” ucapnya dengan semangat.
Seketika dahiku mengernyit. “Memangnya kau bisa?”
“Nggak,” ucapnya dengan polos.
“Astaga!” Aku melemparnya dengan bantal sofa dan dia tertawa.
Mungkin karena kegaduhan ini, tiba-tiba Mama datang dari arah dapur.
“Mama,” ucapku.
“Pantas ramai sekali, ternyata ada Eza di sini,” ucap Mama.
“Eh, iya, Tante. Bagaimana kabarnya?” ucap Eza sambil menyalami Mama.
“Kabar Tante baik. Kamu sendiri?” tanya Mama.
“Baik juga Tante.”
“Sayang, suguhkan sesuatu. Masa mejanya kosong,” ucap Mama padaku.
“Dia tidak ingin apa pun.” Aku melirik Eza dan memasang wajah balas dendam, tapi aku salah dalam mengambil waktu, karena Mama malah membelanya.
“Tidak boleh seperti itu pada tamu. Apalagi ini temanmu. Sudah, ambilkan sesuatu di dalam kulkas!”
“Iya, Ma.” Sebelum aku beranjak pergi, aku melihat Eza merasa bangga karena balas dendamku gagal.
“Awas kau!” ucapku pada Eza tanpa suara.
Saat aku kembali, aku pun menyuguhkan Eza dengan segelas minuman dingin dan setoples keripik pisang.
“Eza, Tante tinggal lagi ke dapur. Masih ada pekerjaan yang harus diurus,” ucap Mama.
“Aku dengar Tante sedang membuat dekorasi kue. Apa aku boleh membantu?” ucap Eza.
“Memangnya kamu bisa?” tanya Mama.
“Aku bisa belajar,” ucap Eza penuh percaya diri. “Atau aku juga bisa membantu apa pun yang bisa ku bantu.”
Mama terkekeh. “Sudah, tidak apa. Lebih baik kamu duduk saja di sini.”
Sebelum Eza bicara lagi, aku langsung mendahuluinya. “Tidak perlu ngeyel. Sudah, duduk. Aku juga mau kembali ke dapur.”
“Tidak perlu, sayang, kamu temani Eza di sini.”
Eza pun berbisik. “Tuh, apa aku bilang.”
“Ish.” Aku mencubit lengan Eza karena terlalu gemas. Hari ini dia sungguh menyebalkan.
Akhirnya, aku yang mengalah. Sekarang aku, Eza, dan Mama berkumpul di dapur. Kita semua mengerjakan tugas masing-masing. Selama kerja bakti ini berlangsung, entah kenapa aku merasa Eza semakin konyol. Bahkan aku sungguh tidak percaya jika kekonyolannya ini begitu melekat pada dirinya, seolah sudah mendarah daging. Sampai Mama pun terus tertawa sampai terpingkal-pingkal. Aku pun tidak bisa menahan tawaku sampai rasanya perut ini sakit.
Aku akui. Adaptasi Eza sungguh cepat. Mungkin karena karakter dia memang mudah disenangi oleh orang lain. Dia sungguh beruntung. Aku iri padanya.
“Eza, mending kita ngobrol di depan saja,” ajakku.
“Memang kenapa kalau di sini?” tanyanya.
“Kau membuat pesanan kue pelanggan tidak selesai-selesai,” ucapku.
“Aku sedang membantu, kau tidak boleh seperti itu.”
Meneruskan bicara dengan Eza tidak akan selesai. Maka aku pun langsung beralih pada Mama. “Bagianku sudah selesai, Ma. Aku akan mengajak Eza ke atap. Sepertinya dia memang tidak cocok di area dapur seperti ini.”
Mama masih dengan kekehannya. “Iya, sayang. Pergilah.”
Aku dan Eza hanya berkomunikasi lewat tatapan. Sampai akhirnya Eza pun setuju untuk keluar dari area dapur dan mengajaknya sesuai dengan apa yang aku ucapkan. Entah ke mana Eza yang selama ini aku kenal, atau memang yang saat ini adalah wujud aslinya.
Ah, entahlah.
Tempat ini memang tidak indah, tapi cukup nyaman jika dipakai untuk bercengkrama dengan santai, Meski jika di siang hari seperti ini pasti digunakan untuk menjemur pakaian. Namun, untung saja hari ini Mama tidak menggosok baju, jadi setidaknya tidak ada pemandangan yang aneh yang akan menusuk mata.
“Terima kasih kau sudah mau datang dan membuat kekacauan,” sindirku.
“Sama-sama,” ucapnya.
Seketika tangan ini refleks memukul lengannya.
“Akhir-akhir ini kau senang sekali memukul lenganku.”
“Akhir-akhir ini juga kau menyebalkan.”
Eza terkekeh. “Aku minta maaf.”
Aku menatapnya dengan tatapan menyelidik. “Kenapa kau kembali seperti ini lagi? Padahal tadi kau begitu heboh.”
“Sejujurnya aku sungguh gugup tadi. Dari pada membuat kekonyolan yang memalukan, sekalian saja merubahnya menjadi kerusuhan.” Nada bicara Eza sungguh menunjukkan sebagai pria tak berdosa.
“Kau ini!” Aku sudah bersiap ingin mencubitnya lagi, tapi sengaja aku tahan.
“Bercanda.”
Seolah kehabisan kata-kata, kali ini Eza lebih banyak diam. Mungkin yang dibicarakannya benar. Ditambah hari mau menjelang sore. Membuat keadaan sekitar menjadi terasa seperti momen bagi anak senja.
“Kau punya rencana apa selama liburan?” tanyaku lebih dulu. Tidak enak jika aku membiarkannya hanya menatap langit sore yang cerah.
“Justru aku sedang mencari kesibukan. Makanya saat kau menawarkan untuk datang, maka aku langsung bergegas kemari,” ucap Eza.
“Bukannya rumahmu jauh. Aku rasa tadi kau cepat sekali sampai.” Aku sungguh ingat bagaimana Eza datang, walau tidak benar-benar ku hitung.
“Kebetulan aku sedang mengunjungi kampus. Siapa tahu ada anak-anak di ruang organisasi. Biasa ramai, tapi tadi tidak ada sama sekali. Mungkin kau bisa membayangkan sedikit bagaimana kesepiannya aku tadi?”
“Memangnya kegiatanmu waktu itu benar-benar sudah beres?” tanyaku.
“Kemarin aku dan rekan tim menyelesaikan semuanya tanpa sisa. Hanya tinggal revisi laporan, yang mungkin membutuhkan satu hingga dua hari pengerjaan,” jelas Eza.
“Ah ....” Aku hanya mengangguk-angguk pelan, karena aku sendiri bukan bagian dari mereka. Aku tidak tahu kenapa aku sampai tidak tertarik untuk menjadi anak organisasi yang aktif. Padahal mungkin waktuku bisa berguna sedikit jika aku mengikutinya. Tidak harus organisasi yang sama dengan Eza.
“Ah, iya. Apa selama liburan kau full membantu Mamamu?” tanya Eza.
“Jika hanya ada pesanan saja, karena pelanggan tidak datang setiap hari. Mama pun membatasi kuotanya. Memangnya kenapa?” Aku mengalihkan perhatian pada Eza.
“Tidak apa-apa. Aku hanya berencana mengajakmu pergi keluar lagi. Anggap saja ini bagian dari liburan semester,” ucapnya.
“Ah, seperti itu. Boleh saja. Ke mana? Kapan?”
“Bagaimana kalau kita pergi mendaki untuk beberapa hari?”
Aku tertegun seketika. Yang tadinya hati ini baik-baik saja, tiba-tiba aku merasa sesak. Bahkan seolah luka lama mencuat kembali dan itu rasanya sakit. Seketika aku bingung bagaimana caranya merespon. Aku berusaha menutupi apa yang aku rasakan. Berharap Eza tidak melihat reaksi yang aku berikan.
“Bagaimana kalau kita pergi ke tempat lain saja?”
“Memangnya ada tempat yang ingin kau kunjungi?”
“Sejujurnya, tidak ada.” Aku menjeda ucapan. “Aku tidak tahu.”
Perasaanku tiba-tiba kacau dan sulit ku perbaiki. Aku juga langsung melihat ke belakang. Aku tidak mau orang tuaku mendengar apa yang tadi kami bicarakan. Sebenarnya aku rindu tentang mereka. Namun, ada bagian hatiku yang belum siap menghadapi semua itu. Ada keinginan yang penuh kebimbangan yang mungkin aku belum bisa menghadapinya.
“Mungkin nanti kita bisa berkabar untuk perencanaan selanjutnya. Aku akan menunggu waktu senggangmu,” ucap Eza.
“Tentu.”
Untuk hal ini aku belum bisa menceritakan padanya. Aku belum siap menerima respon apa pun dari Eza, karena ini masa lalu yang berkesan sekaligus yang mengerikan. Aku tidak ingin semuanya terulang. Meski setiap perjalanan pasti memiliki momen tersendiri. Namun, tidak bisa dipungkiri jika rasa takut itu masih tetap bertahta. Bahkan aku harus berusaha lebih ekstra jika memang aku sudah dalam posisi siap untuk kembali.
Terlalu banyak yang harus dipertimbangkan, sampai aku pun bingung harus mengawalinya dari sudut mana. Aku tidak bisa keluar dari belenggu ini. Namun, entah kenapa, aku merasa aku bisa melihat ada secercah harapan dari dalam diri Eza. Mungkin saja, suatu hari nanti aku bisa berbagi cerita ini padanya tanpa ada rasa takut atau pun beban yang membuat diri ini selalu bungkam.
Sungguh, aku bisa kembali?