SORA
Keputusan apa pun yang kau ambil aku akan coba menerimanya, tapi tolong jangan menghindar lagi dariku. Dan jika memang kau belum yakin atas semua ungkapanku ini, beri aku waktu agar bisa membuatmu yakin jika aku serius. Ucap Eza tadi siang.
Perkataan Eza itu begitu jelas terserap dalam otakku, sampai rasanya aku kesulitan untuk fokus hanya sekadar membaca ulang materi yang mungkin bisa saja soalnya akan keluar besok. Malam ini, malam yang membingungkan sampai rasanya aku cukup gelisah memikirkan segala hal yang tidak berkesinambungan.
Maaf, jika ungkapan ini terkesan buru-buru dan tidak romantis. Aku sudah berusaha menahannya, tapi rasa rindu ini sulit aku kendalikan. Ucap Eza tadi siang.
“Ah, Eza ....” Aku mulai merengek pada diriku sendiri. Rasanya aku ingin memukulinya, tapi tidak bisa. Aku merasa menyesal karena tadi aku tidak menyempatkan diri untuk melakukannya. “Kau sungguh tidak pengertian, Eza. Kenapa tidak menunggu sampai ujiannya selesai agar pikiranku tidak bercabang seperti sekarang? Padahal besok hari pertama ujian. Ah ... Eza.”
Aku mencoba tidak mengidahkannya lagi. Ini masih pukul delapan malam. Aku masih memiliki sisa waktu sekitar dua jam lagi sampai jam tidurku tiba. Namun, ponselku bergetar di mana nama Adi tertera sebagai pengirim pesan.
“Kau juga mau apalagi? Apa kehidupan kalian sangatlah santai padahal besok ujian?” Setelah mengomel, aku pun mengecek isi pesannya, dan itu sangatlah tidak penting.
Aku membiarkan pesan itu begitu saja, tapi tidak lama pesan lain pun datang dari pengirim yang sama. Padahal tadi sore aku sudah bilang jika aku akan sangat sibuk malam ini dan mungkin akan mengabaikannya. Namun, orang ini seolah tidak memiliki akal dengan mengirimkan pesan yang tidak aku butuhkan. Semacam “Apa kau sudah makan?” saat aku bilang belum, dia hanya menyuruhku untuk segera makan tanpa menawariku makanan atau membelikannya. Sungguh, aku tidak butuh itu semua. Aku tidak butuh basa-basi busuk tanpa pergerakan. Seketika aku teringat Eza lagi.
Mereka sangat jauh berbeda.
Jujur saja, aku lebih nyaman dengan sikap Eza ketimbang Adi. Bahkan saat di kantin itu tanpa berpikir panjang aku langsung menolaknya, tidak seperti tadi bersama Eza. Sekarang aku mengerti kenapa Eza ada di kantin waktu itu, tapi tidak menyapaku seperti biasanya. Pasti dia syok, di mana aku juga baru tahu jika Eza pun menyukaiku. Aku sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya saat itu.
“Hm, kisah cinta orang dewasa itu rumit.”
Tidak terasa, sudah lebih dari lima puluh halaman buku ini aku baca, karena sesungguhnya membaca buku non-fiksi itu jauh lebih melelahkan ketimbang membaca buku cerpen atau pun novel. Buku seperti ini tidak memiliki jalan cerita yang unik, tapi bisa membuat pembacanya lebih cerdas dengan pengetahuan yang baru. Namun, bukan berarti kedua buku itu tidak memiliki nilai. Mereka memiliki nilai yang dikemas dengan cara yang indah.
Aku pun beranjak dari ranjang untuk mengisi ulang air di gelasku yang sudah kosong. Keadaan rumah mulai sepi. Mungkin karena besok hari senin jadi harus tidur lebih awal agar hari seninmu tidak berubah menjadi mimpi buruk.
Saat aku kembali ke kamar, aku mengecek ponsel sejenak sebelum pergi tidur. Ada pesan yang dikirimkan satu jam yang lalu.
Eza : Terima kasih untuk hari ini. Aku senang bisa bertemu denganmu lagi dan mengobrol banyak hal. Selamat malam! Sampai bertemu besok di ujian pertama di akhir semester. Semoga ujianmu lancar! Ah, iya. Aku rindu.
Seketika aku merasa aneh, tanpa sadar aku menggigit bibir dalamku guna menahan perasaan yang tiba-tiba ingin membuncah. Aku memastikan sekali lagi pesan yang dikirimkan Eza padaku. Dengan sekuat tenaga, aku berusaha untuk bersikap biasa saja. Namun, semakin dipikirkan dan dibayangkan, aku menjadi salah tingkah dibuatnya. Bahkan senyumku mulai tampak dengan malu-malu.
Astaga! Kenapa kau membuatku seperti ini, Eza?
“Apa kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu?” Aku pun teringat jika aku masih menggantungkan jawaban yang mungkin membuat Eza tidak nyaman. “Ah ... bagaimana ini?”
Sora : Terima kasih kembali atas waktu yang kau berikan. Semoga ujianmu juga lancar! Selamat malam!
Aku memutuskan untuk tidur daripada terus terbelenggu oleh perasaan yang membingungkan, karena aku sendiri pun tidak tahu apa yang aku inginkan setelah kejadian hari ini. Meski prinsipku kuat, tapi ada hatiku yang tidak ingin kehilangan dia.
“Segala sesuatu yang menyangkut perasaan itu melelahkan.”
Aku ingin tidur dengan nyenyak. Jadi, aku harap tidak ada gangguan apa pun malam ini. Aku butuh lebih banyak energi untuk menghadapi hari esok. Semoga Tuhan berkenan untuk mengabulkan permintaanku ini!
***
Perasaan tenang menyambut pagi. Aku bersyukur, mimpi itu tidak datang malam tadi. Aku harus berterima kasih pada Tuhan karena salah satu keinginanku terkabul. Menjadikanku lebih siap menghadapi hari, meski sedikit gugup karena memikirkan soal apa yang akan muncul di ujian nanti.
Semoga aku bisa!
Setelah rapi dengan setelan resmi, aku pun pergi ke meja makan untuk mengisi perut agar daya tahan tubuh bisa terjaga selama beraktivitas. Tidak lupa, aku juga meminum vitamin tambahan sebagai penyokong.
“Selamat pagi!” sapaku seraya duduk di kursi meja makan.
Bukannya menjawab sapaanku, Mama malah menyindirku. Tidak lupa dengan senyum jahilnya. “Habis kencan auranya beda ya, Pa?”
“Hm.” Papa menatapku sambil mengangguk-angguk. “Hebat sekali pengaruh teman prianya itu.”
“Tapi Mama akui, anaknya baik sih, Pa. Sopan lagi.”
“Sayangnya, kemarin Papa tidak sempat melihat anaknya. Tadinya Papa mau interogasi dia.”
Mendengar ucapan Papa, seketika aku tidak terima. “Ih, Papa. Eza itu cuma teman, kenapa mesti diinterogasi segala?”
“Memangnya kenapa? Dia berani mendekati putri Papa, berarti dia juga harus berani bertemu dengan Papa.”
“Tapi kita itu teman, Pa. Tidak perlu lah sampai begini,” ucapku.
“Papa itu laki-laki. Sedikit banyaknya Papa tahu, jika tidak ada pertemanan murni di antara laki-laki dan perempuan. Bahkan dulu, Papa dan Mama juga terjalin sebagai teman. Sampai akhirnya Papa melamar Mama dan punya kamu sekarang.”
Aku langsung mengatupkan bibirku, karena Papa benar. Baru saja aku merasa tenang setelah kebingungan yang melanda sejak kemarin. Sekarang malah diingatkan lagi.
“Mama lihat perhatian Eza sama kamu itu seperti melihat tambatan hati, tapi ya, kalau kalian memang berteman ya tidak apa-apa. Asal kalian harus tahu batasan. Ingat! Kalian masih kuliah. Mama rasa kalian juga pasti memiliki cita-cita dan masih suka dengan kebebasan. Puaskan dulu sampai rasa penasaran itu tidak ada, meski hal seperti ini tidak sepenuhnya mutlak. Usia kalian masih senang menemui hal baru dan pencarian jati diri. Mama hanya mau berpesan, semoga kamu bahagia, bisa jaga diri. Meski Papa dan Mama selalu berusaha untuk menjagamu. Namun, diri dan hidupmu adalah tanggung jawabmu sendiri. Maka pemikiran kritis untuk diri sendiri itu sangat dibutuhkan dan harus sesuai porsinya.”
Mendapat wejangan di pagi hari membuat otakku bisa menerima. Apalagi penuturan dan intonasi yang digunakan cukup membuat otakku bekerja lebih awal. Hatiku sedikit tercubit mengingat kenyataan. Namun, orang tuaku benar. Aku harus bisa memikirkan semua ini sendiri, meski aku tidak sendirian. Seketika aku tersadar dari perasaan bahagia yang belum bisa menjanjikan apa-apa.
Menjadi dewasa pun tidak mudah.
Masih ada waktu sekitar dua puluh menit lagi menuju jam ujian pertama. Hari ini ada tiga mata kuliah yang harus aku selesaikan. Suasana kampus dua kali lipat lebih ramai dari hari-hari biasanya, karena sebagian besar jadwal ujiannya berbarengan. Berbagai orang melakukan aktivitas. Dari yang tengah fokus belajar sampai ada yang hanya mengobrol dengan teman-temannya sambil minum kopi.
Beragam sekali kehidupan kampus ini.
Tujuanku kali ini sedikit berbeda karena letak kelas yang biasa aku datangi berbeda bangunan. Bahkan untuk duduk pun tidak bisa sembarangan. Kita harus duduk sesuai Nomor Pokok Mahasiswa yang sudah diatur oleh para panitia ujian kampus. Momen seperti ini hanya bisa dijumpai saat ujian semester saja.
“Hey!”
Aku terperanjat saat seseorang menepuk bahuku. Saat aku melihat siapa pelakunya, aku langsung menatap orang itu malas. “Kenapa kau begitu hobi muncul tiba-tiba seperti ini?”
“Aku tidak muncul tiba-tiba. Bahkan ini ruang terbuka yang siapa saja bisa singgah,” ucapnya dengan santai.
Dia Eza, siapa lagi. Pria yang menyebalkan sekaligus menyenangkan di waktu yang bersamaan. Aku sedang tidak ingin menanggapinya. Jadi, aku pun melanjutkan langkah yang sempat terhenti. Namun, aku bingung kenapa Eza tetap berjalan di sampingku, bukannya letak kelas kami berbeda gedung. Bahkan saat bertemu belokan pun dia masih terus mengikutiku. Aku pun langsung terasadar.
“Za, apa kau sedang menerorku?” Aku sungguh tahu jika aku belum memberinya jawaban tentang pernyataannya kemarin, tapi ya bukan seperti ini juga.
“Maksudmu?” Ku lihat dahinya mengernyit.
“Kenapa kau terus mengikutiku? Ini hari pertama ujian.” Aku berharap dia mengerti.
“Iya, aku tahu, tapi aku tidak mengikutimu.”
“Terus ini apa?” Aku mencolek lengannya dengan gemas.
“Kita satu gedung. Kelasku tepat di bawah kelasmu. Eza menunjuk gedung yang sedang kita tempuh. “Apa kau tidak tahu?”
Mataku membelalak mendengarnya. Bahkan raut wajah yang entah kenapa terlihat polos sekarang membuatku begitu malu. Pasalnya aku sudah menuduh Eza yang bukan-bukan. Padahal aku sendiri yang tidak tahu apa-apa.
Astaga! Bisa-bisanya kau, Sora!
Tanpa mengatakan apa pun lagi, aku langsung mempercepat langkah karena rasa malu ini sudah begitu nampak di wajah. Namun, aku masih bisa mendengarnya yang tengah berucap. “Kalau memang inginmu seperti itu, aku bisa mengabulkannya.” Bahkan aku bisa mendengar kekehannya yang membuatku tidak ingin bertemu dengannya lagi.
Ah, sial!
Jadwal ujian yang pertama hingga terakhir begitu rapat. Bahkan para panitia ujian hanya diberikan waktu sekitar lima menit untuk melakukan pergantian mata kuliah. Duduk berjam-jam tanpa istirahat membuat punggungku sakit. Belum lagi kepala yang terus menunduk untuk mengerjakan soal secara tertulis, itu membuat rasa pegal semakin kentara terasa.
Akhirnya jadwal ujian hari ini selesai dengan menghabiskan waktu kurang lebih sekitar lima jam untuk tiga mata kuliah. Aku pun membereskan alat tulis dan bersiap untuk keluar dari ruangan. Namun, saat aku tengah menuruni tangga, aku melihat punggung Eza tengah bersandar pada dinding dekat tangga yang mengarah pada lantai bawah.
Pandangannya lurus ke depan, dengan tas punggung yang dia sampirkan di salah satu bahu. Satu tangan masuk saku celana hitamnya, dan tangannya yang lain tengah memainkan sesuatu, seperti pena. Meski hanya lima derajat kemiringan yang ku lihat, tapi aku bisa memastikan jika posisi berdiri Eza yang seperti itu terlihat tampan.
Ah, apa yang sedang aku pikirkan?
Tiba-tiba Eza memanggilku. “Sora!”
Seketika aku bingung. Pikiranku masih mengingat jelas bagaimana kejadian tadi yang membuatku malu setengah mati. Sampai akhirnya aku memilih mematung di tikungan tangga.
“Kenapa kau malah diam di sana? Ayo!” Eza mulai berjalan menaiki tangga di mana aku berdiri.
“Emh, sepertinya aku meninggalkan sesuatu. Aku akan kembali ke atas untuk mengecek kursiku.”
“Ah, seperti itu. Mari aku temani!”
Eza lebih dulu melangkah naik. Padahal niat hati aku hanya ingin menghindar darinya dengan alasan yang mungkin bisa diterima. Namun, tebakanku salah. Sepertinya aku harus membuang malu ini dan melupakan kejadian tadi.
Sepertinya Eza juga lupa. Semoga saja!
Ruang ujianku sudah kosong. Namun, aku mencari sesuatu yang tidak hilang di sana karena terlanjur mengatakannya.
“Apa yang tertinggal? Mau aku bantu mencarinya?” tawar Eza.
“Tidak perlu. Kursiku yang itu. Sepertinya itu hanya perasaanku saja. Mungkin fokusku sedikit berkurang karena terlalu lelah.” Aku mencoba beralasan lagi sebisaku.
“Ah.” Eza pun mengangguk-angguk. “Baiklah kalau begitu.”
“Iya, seperti itu.” Aku menjeda sejenak ucapanku. “Eza, kita turun!”
Baru juga satu langkah aku melewatinya, tiba-tiba lenganku ditahan Eza.
“Aku ingin bicara sebentar, bisa?” tanyanya.
“Ah, jika kau ingin bicara. Bicara saja.”
“Apa kau sudah memiliki jawabannya?”
Aku tahu, tidak ada seorang pun yang mampu menjalani hubungan tanpa kepastian, meski itu hanya sekadar jawaban. Namun, aku tidak bisa memutuskannya terlalu cepat. Banyak hal yang harus aku pertimbangkan, dan untuk memiliki seorang kekasih itu sudah melenceng dari apa yang aku rencanakan.
“Sejujurnya, aku tidak tahu, Eza. Aku bingung.”
“Apa yang membuatmu bingung? Beritahu aku!”
“Kita masih kuliah.”
“Aku tidak mengajakmu menikah hari ini.”
“Iya, aku tahu.”
“Apa kau belum yakin padaku setelah banyaknya hari yang kita lewati?”
“Sejujurnya, iya. Aku tidak ingin memiliki hubungan yang hanya sebatas bersenang-senang dan ketika bosan bisa berganti seenak hati tanpa memikirkan perasaan.”
“Aku tahu. Aku belum bisa menjanjikanmu sebuah komitmen, tapi aku memilihmu karena aku memang serius atas perasaan ini.” Eza menjeda ucapannya. “Apa kau memiliki perasaan untuk pria lain?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Hanya memastikan agar aku tahu apa yang aku lakukan ini benar.”
“Tidak ada. Fokusku sedang tidak di sana.”
Hening menyelimuti. Ruangan kosong yang hanya dihuni oleh kami berdua terasa begitu sesak dan hampa. Entah aku atau pun Eza. Kami sama-sama diam dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya aku pun mengajukan hal ini untuk kelanjutan hubungan kita.
“Aku tidak tahu ini akan berhasil atau tidak, tapi mari kita jalani hubungan ini dengan baik. Sekaligus kau meyakinkanku atas perasaanmu.”
Mungkin opiniku aneh jika diperdengarkan oleh pasangan yang lain. Karena pada hakikatnya yang namanya hubungan harus ada validasinya, seperti status untuk keduanya. Namun, bagiku untuk sekarang hal itu belum aku butuhkan. Aku masih ingin kebebasan dan pendidikan. Dibalik itu juga aku ingin mempelajari karakter Eza lebih dalam.
“Memang tidak ada jaminan di sini, tapi aku bisa menjamin diriku sendiri. Kau bisa fokus pada tujuanmu dan aku bisa menjaga diriku. Anggaplah ini sebuah kesepakatan. Semacam bisnis, tapi bukan bisnis. Semacam politik, tapi bukan sepenuhnya politik,” ucapku.
Sebuah status kebanyakan hanya untuk mengikat dan iya, aku setuju, tapi itu juga tidak menjamin apa pun jika ditelaah lebih dalam lagi. Banyak pengkhiatan terjadi meski sebuat status bertengger dengan jelas di d**a mereka. Aku ingin memilikinya secara utuh dan masalah status aku rasa orang lain akan melihat sendiri dari bagaimana kedekatanku dengan Eza tanpa perlu dijelaskan.
“Kalau begitu, aku setuju,” ucap Eza.
Kami saling melempar senyum. Tiba-tiba Eza menggandeng tanganku untuk pergi meninggalkan ruangan yang menjadi saksi kisah kami yang mulai berlanjut.
Aku harap, kau tidak menyerah!