EZA
Setelah hari itu, entah kenapa aku merasa Sora mulai berbeda, seperti menghindariku. Bahkan, kini aku mulai kesulitan untuk menemuinya secara langsung. Alasan demi alasan pun terlontar, yang mana aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali memakluminya. Bahkan seolah Sora menganggap aku tidak tahu, jika dia mulai sering berbalik arah saat dia melihatku dari kejauhan.
Aku pun mencoba untuk menemuinya di kelas, seperti biasa. Namun, aku lebih sering tidak menemukannya di sana. Entah karena jam kelasku yang keluar lebih lama. Atau pergantian mata kuliahku yang terlalu cepat. Membuatku seolah tidak memiliki kesempatan untuk mencuri waktu. Aku tidak tahu mengapa demikian.
Sebenarnya apa salahku? Apa aku menyinggung perasaannya tanpa aku sadari?
Otak ini berusaha mengingat setiap kejadian, mungkin saja aku melakukan kesalahan. Namun, aku tidak tahu pasti apa itu. Malah membuat kepalaku semakin sakit karena penumpukan memori dengan kapasitas berat. Ditambah gosip kedekatan Sora dengan Adi yang membuatku semakin bingung.
“Ah, sudahlah! Aku bisa mengurusnya nanti setelah semuanya selesai.”
Jujur saja. Semakin hari, bukan hanya frekuensi bertemu yang semakin berkurang. Bahkan bertukar kabar pun semakin jarang. Apalagi hampir tiga minggu ini kesibukanku bertambah. Membuatku sedikit mengabaikannya. Entah itu kegiatan organisasi atau kuliah yang sebentar lagi akan memasuki ujian akhir semester.
“Mobilnya sudah datang?” tanyaku.
“Sekitar lima menit lagi,” ucap Jey.
“Ah, baiklah.”
Hari ini organisasi yang aku ikuti tengah bersiap untuk masa bimbingan perdivisi, yang kebetulan kali ini dari divisi hutan gunung. Persiapan ini sudah dilaksanakan sejak tiga minggu yang lalu. Dari persiapan administrasi, materi, fisik, dan lainnya yang mencakup persyaratan kegiatan yang legal dan aman.
Sambil menunggu, sesekali aku mengecek ponsel. Tidak ada hal yang penting di sana. Bahkan Sora pun belum membalas pesan yang ku kirim dua jam yang lalu. Tidak lama, mobil yang akan mengangkut tim pun datang. Aku mulai bergerak kembali membantu rekan tim untuk membereskan barang yang akan dibawa.
Saat semua sudah selesai, tidak sengaja aku melihat Sora bersama Adi dari kejauhan, seperti tengah bercengkrama sambil berjalan ke arah selatan. Aku ingin memanggil nama Sora, tapi rasanya ini terlalu menonjol di mana keadaan terlalu ramai dan sibuk jika disangkut-pautkan dengan urusan pribadi. Aku pun meminta waktu pada rekan tim untuk beberapa menit sebelum keberangkatan.
Diam-diam aku pergi ke arah yang sama dengan yang dituju Sora tanpa sepengetahuan rekan tim dan ternyata arah yang mereka tuju itu adalah kantin. Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya, setelah beberapa hari begitu sulit walau hanya ingin sekadar mengobrol hal konyol. Namun, langkahku terhenti saat aku mendengar hal yang menyayat hati.
Apa-apaan ini?
Tanganku terkepal seketika tanpa aku sadari. Aku ingin marah, tapi dengan susah payah aku harus menahan amarahku. Ini terasa sulit dan menyakitkan. Aku cukup tahu di mana posisiku. Entah di mana aku berdiri atau dalam hidup Sora.
Tubuhku masih mematung di tempat yang sama. Bahkan aku melihat seolah Adi sengaja mendesak Sora untuk menjawabnya. Adi bisa melihatku dengan jelas karena beberapa detik mata kami bertemu satu sama lain, tapi tidak dengan Sora. Bingung, gelisah, bahkan perasaanku menjadi kacau sekarang.
“Di mana? Kita harus berangkat sekarang. Kau tidak mau kan nanti dikoreksi habis-habisan.” Itu pesan dari Jey di mana kami harus segera berangkat sesuai jadwal yang sudah ditentukan sejak awal.
Tanpa berpikir panjang, aku pun memutuskan pergi dari tempat itu dengan rasa penasaran yang tinggi. Sora, aku mohon! Tunggu aku pulang!
Setelah menyempatkan untuk berpamitan pada Sora lewat pesan, aku pun menaiki mobil dengan perasaan campur aduk. Aku tidak mengecek ponselku lagi setelah itu, dan berusaha fokus pada apa yang akan aku hadapi beberapa hari ke depan. Ini bukan hal yang mudah. Kau harus mengerahkan seluruh tenaga dan pikiran di sini agar hal-hal yang tidak tertuga bisa diminimalisir.
Kami mulai berjalan sambil membawa ransel gunung masing-masing dengan kapasitas penuh, yang memiliki berat sekitar delapan puluh hingga delapan puluh lima liter per ransel. Sebenarnya anggota organisasi dibagi menjadi dua tim. Tim satu bertugas menyusuri lokasi hutan yang jarang terjamah bersama anggota muda. Tim dua bertugas untuk beroperasi di bagian daratan untuk mengatur kedatangan dan kepulangan tim satu, dan sebagai perantara untuk melakukan pertolongan jika ada hal darurat yang terjadi pada tim satu. Kebetulan, aku masuk ke dalam tim satu yang bertugas untuk mengawal dan membimbing anggota muda, di mana aku adalah salah satu pengurus dari divisi yang sedang digelar.
Medan yang diambil kali ini masuk dalam kategori sulit karena membuat jalur baru dengan menentukan titik koordinat yang akan dilalui, sesuai dengan rencana awal saat dibahas dalam rapat anggota. Di sinilah peran alat tulis, peta RBI, kompas, dan douglas protractor navigasi digunakan untuk melakukan resection dan intersection. Maka dari itu, butuh pemahaman yang dalam untuk hal ini agar anggota muda tidak salah mengambil jalur dalam hutan rimbun seperti saat ini.
Tidak terasa hari terus berganti. Rasa lelah mulai terasa menguasai diri. Bahkan aura senduku sepertinya semakin kentara, terlihat dari bagaimana cara para rekan tim memandangku dengan rasa iba penuh pertanyaan. Padahal aku sudah berusaha untuk tetap baik-baik saja, dan berusaha keras untuk tetap profesional dengan mengesampingkan perasaan.
“Eza, aku datang.” Tiba-tiba aku mendengar suara Jey mendekat yang aku sendiri tidak tahu dari arah mana dia muncul.
“Hm, coba kau lihat di sebelah sana! Aku belum mengeceknya.” Aku menunjuk arah kanan tubuh Jey setelah memastikan di mana posisinya saat ini.
Kami sedang mengumpulkan kayu bakar untuk sekadar menghangatkan tubuh atau bisa digunakan pula untuk memasak makanan walau kami sudah memiliki kompor gas untuk digunakan. Kami tidak menebang sembarangan, karena hutan memiliki perlindungan. Hanya memungut ranting yang berjatuhan, atau pohon yang tumbang dan lapuk yang memang pohon tersebut sudah tidak memiliki kesempatan untuk hidup. Itu yang layak dimanfaatkan untuk kami bertahan hidup dengan tidak merusak hutan yang kami singgahi.
“Sebenarnya kau kenapa?” Pertanyaan Jey cukup mengusik telingaku.
“Apanya yang kenapa? Aku baik-baik saja. Lelah, itu sudah biasa,” jawabku dengan santai.
“Jangan merasa aku tidak memperhatikanmu. Sejak keberangkatan hingga hari ini, aku melihat kau menyembunyikan sesuatu. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”
“Ah, tidak ada,” singkatku.
“Hah, masih saja tidak mau mengaku. Padahal jelas-jelas itu terlihat dari wajahmu, sampai anak-anak bertanya-tanya. Mungkin mereka merasa kau akan cerita apa pun padaku.”
“Aku baik-baik saja, Jey. Aku hanya ingin fokus sampai kegiatan ini selesai dan bisa pulang dengan aman dan selamat,” jelasku.
“Kalau itu pasti. Aku pun ingin.”
“Sepertinya sudah cukup. Ayo kita kembali!” Aku memang tidak ingin mengatakan apa pun. Namun, ucapan Jey membuatku tertegun.
“Jika hal yang kau hadapi sungguh mengganggu, maka saat kita turun nanti segera selesaikan. Dan jika kau hanya ingin sekadar bercerita masalahmu, datanglah padaku! Sepertinya aku masih memiliki waktu untukmu. Semoga sedikit bantuan yang aku tawarkan ini bisa membuatmu merasa sedikit lega, dan lebih siap menghadapi masalah apa pun yang membuat kualitas hidupmu menurun.” Aku mendengar langkah Jey. Dia melewatiku seraya berkata, “aku hanya ingin melihat Eza yang biasanya. Semoga kau beruntung!”
Tubuh ini masih terpaku di tempat yang sama, sambil merenungi masalah yang mungkin pria lain akan menertawakan jika mereka tahu mood-ku kacau hanya karena seorang wanita. Ini termasuk harga diri yang mungkin sebagian besar dari mereka pasti akan menyepelekan perasaan ini, karena kaum kami mendoktrin diri sebagai ‘pria tangguh’ di mana menangis untuk wanita itu seolah mencoreng nama baik dan harga diri.
Aku sempat berpikir di saat istirahat untuk mencari solusi pada masalah yang tengah aku hadapi. Sebenarnya, solusi itu ada pada diriku sendiri. Namun, untuk hal ini entah kenapa keberanian itu sulit aku dapatkan. Sampai aku berusaha keras memupuk diri agar keberanian itu segera datang seperti waktu pertama aku menyapanya.
Tidak terasa ini sudah hari keenam. Bersyukur semuanya berjalan dengan lancar. Saat ini aku bersama rekan tim tengah menunggu jemputan yang sudah dijadwalkan. Sinyal ponsel pun sudah nampak di area ini walau pun tidak sekencang di area perkotaan.
Secara iseng, aku pun mengaktifkan ponsel yang sengaja aku matikan sejak pendakian. Ponselku terus bergetar dipenuhi oleh berbagai notifikasi yang masuk. Mataku langsung menangkap nama Sora di barisan ke tiga pada notifikasi pesan. Tanpa menunggu aku langsung membuka isi pesan itu.
Sora : Hati-hati! Aku tidak tahu bahaya apa yang nantinya kau akan hadapi. Aku hanya bisa berdo’a, semoga kau bisa pulang dengan selamat!
Itu pesan enam hari yang lalu. Seolah lupa dengan rasa gundah, sudut bibirku tertarik sampai menampakkan sebuah senyum tipis. Hal sepele ini mampu mengubah mood-ku hanya dalam hitungan detik. Tanganku mulai menari di atas ponsel layar sentuh ini.
Eza : Aku sudah di daratan. Sedang menunggu jemputan.
Kurang dari lima menit pesan dari Sora muncul kembali.
Sora : Syukurlah. Apa kau sehat?
Eza : Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah.
Sora : Aku senang mendengarnya. Saat kau sampai nanti, segeralah istirahat.
Aku sungguh ingin mengungkapkan rasa rindu ini padanya. Namun, aku urungkan. Aku takut dia sudah menjadi milik orang lain saat aku meninggalkannya tempo hari.
Eza : Tentu. Aku harap setelah kegiatan ini selesai kita bisa bertemu.
Setelah mengirimkannya, perasaanku harap-harap cemas. Namun, balasan dari Sora cukup membuatku sedikit lega sekaligus tidak sabar.
Sora : Tentu saja. Kita bisa bertemu.
Rasanya aku ingin segera pulang dan menyelesaikan semua ini dengan cepat. Bahkan mobil jemputan pun terasa lama untuk sampai di tempat ini.
“Mobilnya masih di mana?” tanyaku.
“Ada kendala. Sepertinya kita harus menunggu sedikit lebih lama. Ban mobilnya mengalami kebocoran dan dia tidak membawa ban serep. Lokasi mobilnya cukup jauh untuk menjangkau bengkel,” jelas Jey.
Baru beberapa saat perasaanku mulai membaik, malah hal lain yang membuat emosiku kembali mengguncang. Dan benar saja, setelah lebih dari satu jam akhirnya mobil jemputan pun datang dengan terseok-seok karena kondisi jalanan yang ditempuh memang membutuhkan usaha lebih keras untuk melewatinya.
Astaga kehidupan!
***
Ini sudah hari selanjutnya. Namun, kegiatan belum juga selesai. Meski ini hanya sebatas laporan dan pengembalian barang yang memang ada beberapa barang yang dipinjam dari Organisasi Mahasiswa Pecinta Alam kampus lain. Kemarin aku menyempatkan pulang untuk sekadar menengok orang rumah.
“Kamu itu baru pulang, istirahat dulu! Nggak cape gitu?” ucap Mama saat mendapati diriku sudah rapi kembali dan bersiap untuk pergi.
“Aku mau keluar sebentar, Ma.”
“Sebentarmu itu bisa pulang besoknya, dan besoknya pun entah jam berapa.”
Aku hanya terkekeh melihat Mama mulai mengomel, karena apa yang Mama katakan memang benar. “Aku usahakan untuk pulang sore atau malam.”
“Hah, kamu ini. Susah sekali dibilangin. Iya sudah, sana. Hati-hati!”
“Iya, Ma.” Setelah berpamitan aku pun mulai menunggangi sepeda motorku.
Sejujurnya aku masih lelah dan membutuhkan banyak istirahat. Tubuhku juga masih merasa ngilu dan pegal, karena selama masa bimbingan itu tidurku tidak terlalu nyenyak. Kalian pasti tahu sendiri sensasi tidur di hutan dengan beralaskan matras dan hanya dilindungi oleh kain flysheet. Kami memang membawa tenda dome, tapi hanya satu karena selama kegiatan itu kami tidak hanya tinggal di satu titik. Dan jika membawa tenda dome beberapa lagi itu akan sangat merepotkan dan memakan waktu. Jadi semuanya harus serba ringkas, tapi aman.
Hampir satu jam aku menempuh perjalanan dari rumahku ke rumah Sora. Ditambah jalanan cukup padat mengingat ini hari minggu. Di mana jalanan akan terus sibuk karena minoritas orang yang tetap bekerja di akhir pekan. Rasanya begitu gugup saat aku sampai di depan rumah Sora yang terasa sepi. Mungkin karena daerahnya memang seperti ini, terakhir kali aku berkunjung pun suasananya tidak jauh berbeda dengan sekarang. Namun, aku merasa lingkungan yang seperti ini memang cocok dengan kepribadian Sora yang ku kenal.
Setelah berusaha menenangkan diri, aku pun mulai mengetuk pintu rumahnya. “Permisi!”
Aku menunggu beberapa saat, tapi belum juga ada tanggapan. Padahal sebelum aku sampai kemari aku sudah memastikan jika Sora sedang ada di rumah. Aku pun mengulanginya beberapa kali. Tidak lama pintu itu pun terbuka.
“Ah, Eza. Maafkan aku. Aku sedang di kamar mandi tadi dan orang rumah sedang di belakang. Jadi agak sedikit lama meresponnya,” ucap Sora.
“Iya, tidak apa-apa. Aku pikir kau tertidur atau memang di rumahmu tidak ada siapa-siapa, Tadinya aku ingin pulang saja takut mengganggu.”
“Kau tidak mengganggu. Bukankah kita memiliki janji?” Sora menjeda ucapannya. “Kalau begitu, masuklah dulu! Aku akan bersiap sebentar. Kau ingin minum apa?”
“Air putih saja.”
“Baiklah, tunggu sebentar!” Sora pun masuk ke dalam, membiarkanku duduk di ruang tamunya.
Aku mendengar suara lain selain suara Sora. Tidak lama seorang wanita menghampiriku dengan senyumnya yang anggun. Aku rasa usianya tidak jauh berbeda dengan usia Mama.
“Temannya Sora?” tanya beliau.
“Iya, Tante. Saya Eza, teman satu kampusnya Sora.” Aku memperkenalkan diri sambil bangkit dari duduk untuk memberi salam.
“Ah, iya-iya. Tante Mamanya Sora. Kamu yang waktu itu mengantar Sora pulang kan? Yang waktu hujan malam itu?” tanyanya.
“Iya, Tante.”
“Sudah lama sekali.”
Rasa canggung ini cukup kentara ku rasakan, meski terlihat jika mamanya Sora tipikal yang ramah, mudah bergaul, dan keibuan. Mungkin karena ini kali pertama aku bertemu langsung dengan orang tuanya. Aku berusaha menampilkan yang terbaik sebisaku, walau rasa gugup sudah tidak bisa dijelaskan. Ini demi gadis seperti Sora. Setidaknya penilaian orang tua Sora terhadapku tidak terlalu buruk setelah pertemuan hari ini.
Kedatangan Sora yang baru keluar dari sebuah ruangan, yang aku pikir itu kamarnya, membuat mata ini hanya fokus padanya tanpa sadar. Dia terlihat beda hari ini dengan pakaiannya yang belum pernah aku lihat selama di kampus. Dia terlihat cantik dan elegan dengan balutan rok span yang menutupi sampai tiga per empat kakinya, ditambah outer warna army yang membuat dia semakin memukau.
Ah, Sora, kau semakin membuatku tidak rela.
“Eza, ayo!”
“Ah.” Seketika aku tersadar dari pikiranku sendiri. Aku merasa malu karena terlalu terpukau dengan penampilan Sora. Bahkan aku mendengar mamanya Sora terkekeh mendapatiku menatap putrinya sampai terpaku. Astaga! Kau keterlaluan Eza!
“Ayo!” ucapku seraya mengangguk.
“Pulangnya jangan malam. Besok kalian ujian kan?” ucap beliau.
“Iya, Tante.”
“Iya, Ma.”
“Ya sudah, hati-hati!”
“Iya, Tante.”
Setelah berpamitan, aku pun mulai mengendarai sepeda motor menuju salah satu mall di kota ini. Untung saja acara keluar ini sudah kita rundingkan, jadi pakaian yang aku kenakan cukup mendukung. Setidaknya tidak membuat Sora malu karena pergi bersamaku ke tempat yang memang jarang aku kunjungi.
Cukup menghabiskan waktu hanya sekadar mencari hadiah untuk kado pernikahan teman SMA Sora. Sampai mengelilingi mall ini. Tidak terhitung berapa kali kami bolak-balik dari lantai bawah ke lantai atas, dari ujung satu ke ujung yang lain sampai akhirnya Sora puas dengan apa yang dia dapatkan.
“Bisakah kita duduk sebentar? Sekalian kita cari makan,” ucapku.
“Boleh.”
Untunglah tidak ada perdebatan di sini, seperti kisah salah satu temanku bersama kekasihnya yang pernah dia ceritakan. Setidaknya aku tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk itu.
Aku sungguh bersyukur karena yang aku ajak ini adalah Sora.
Ada food court di lantai atas. Kami pun pergi ke sana. Setelah memilih makanan apa yang akan dipesan, kami pun memilih tempat duduk sesuai apa yang Sora inginkan. Namun, semakin lama, aku melihat Sora lebih memperhatikan ponselnya.
“Sepertinya kau sibuk?” ucapku memecah keheningan di antara kami.
“Hanya sekadar pesan biasa. Dia sedikit berisik,” ucap Sora yang masih menatap ponselnya.
“Ah, apa itu Adi?” Entah kenapa aku begitu ingin menyebutnya, tapi ada perasaanku yang lain yang enggan mengungkit nama itu.
“Hm, dia terlalu banyak bertanya.”
Perasaanku semakin tidak karuan. Pikiran ini juga semakin sulit dikendalikan. Aku mulai memainkan tanganku yang bebas untuk tidak terlalu mengepal kuat karena menahan emosi yang mungkin bisa saja meluap lagi.
“Sepertinya kalian semakin akrab.” Harusnya aku senang jika Sora memiliki teman lain, karena kesibukan membuatku menjadi sering meninggalkannya. Itu artinya ada kemajuan pada diri Sora agar dia tidak sering sendirian. Namun, kenapa hatiku tidak suka?
“Hanya berinteraksi jika butuh. Memangnya kenapa?” Perhatian Sora mulai terarah padaku.
“Ah, tidak apa-apa. Hanya bertanya,” ucapku.
Sora pun mengangguk-angguk. “Oh, iya. Kenapa saat itu kau tidak menemuiku?”
Dahiku tiba-tiba mengernyit. “Kapan?”
“Di kantin pas kau akan berangkat. Aku melihatmu keluar dari sana.”
Aku tertegun mendengar Sora mengetahui keberadaanku saat itu. Namun, aku mencoba menjelaskannya dengan jujur. “Tadinya aku ingin pamit secara langsung, tapi rekan timku yang lain memintaku untuk bergegas. Jadi, aku tidak sempat.”
“Ah, begitu. Syukurlah! Aku kira kau marah.”
“Kenapa aku harus marah?”
“Entahlah, mungkin perasaanku saja.”
“Aku tidak marah. Mungkin karena kesibukan, kita jadi tidak bisa berkomunikasi dengan baik.”
“Ya, kau benar.”
Tidak lama, pesanan kami pun datang. Aku sudah memikirkan hal ini semalaman. Bagaimana pun hasilnya, setidaknya aku bisa sedikit tahu bagaimana hubungan mereka.
“Boleh aku bertanya sesuatu padamu?”
“Tentu saja,” jawab Sora yang mulai menikmati makannya.
“Apa kau dan Adi memiliki hubungan lebih dari teman?” Pertanyaanku sukses membuat dia menatapku kembali, dan tatapannya kali ini sedikit berbeda. Seperti tatapan yang dia berikan padaku saat kali pertama kami berinteraksi.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” tanyanya.
“Aku hanya ingin tahu. Jika kau enggan menjawab, tidak apa-apa. Itu hakmu.”
“Kami hanya teman satu kelas, tidak lebih,” jawabnya yang cukup membuat perasaanku semakin lebih baik.
“Sungguh?”
“Kenapa kau terlihat begitu senang?” Tatapan Sora mulai menelisik.
Aku sudah tidak bisa mengontrol diri untuk bersikap pura-pura lagi. “Tidak apa-apa. Aku hanya takut ada orang yang tidak senang jika dia tahu kau pergi keluar bersamaku.”
“Justru aku yang merasa seperti itu.”
Kini ucapan Sora yang membuatku terkejut. “Kenapa begitu?”
“Kau sibuk. Bahkan beberapa kali aku melihat sepertinya kau sedang dekat dengan seorang gadis. Aku tidak ingin merusaknya.”
“Apa selama ini kau menghindar dariku karena ini?” Aku berusaha memastikan agar di antara kami tidak ada yang salah paham karena saling diam.
Sora mengangguk pelan sambil mengatupkan bibirnya.
“Aku sedang tidak dekat dengan gadis mana pun,” ucapku.
“Tapi sepertinya gadis itu menyukaimu.”
“Dengar baik-baik! Aku tidak menyukai gadis mana pun yang kau maksud, karena sejak awal gadis yang aku sukai itu bernama Sora dan dia ada di hadapanku sekarang.”
Entah keberanian dari mana aku mengatakan hal itu dengan lancar dan lantang. Bahkan rasanya ada bagian hatiku yang merasa lega setelah mengucapkannya meski ada bagian hatiku yang lain yang tengah takut akan kenyataan apa yang harus aku dengar selanjutnya.