SORA
Jujur saja, perkataan Jey cukup mengusik perasaanku sampai rasanya mata ini enggan untuk terpejam.
Sora, apa yang kau pikirkan? Ayo tidur! Jangan sampai kau mengidap insomnia hanya gara-gara memikirkan candaan yang tidak penting!
Aku gemas sendiri pada diri yang entah sejak kapan menjadi perasa terhadap candaan orang lain. Apalagi aku melihat karakter Eza dan Jey tidak jauh berbeda. Mereka lucu dan menyenangkan. Mungkin bercanda seperti itu biasa untuk mereka.
Tapi sepertinya Eza juga masih sendiri. Aku tidak pernah melihat dia dekat dengan perempuan yang kategori layaknya pacar. Atau mungkin dia memiliki hubungan jarak jauh?
Otakku sibuk memikirkan hal yang bukan kapasitasku. Namun, mengingat bagaimana aku jadi lebih sering berinteraksi dengannya, tidak terasa senyum ini merekah. Eza tampan dan manis, sesuai porsinya sebagai seorang pria. Angan ini mulai melayang-layang bahkan hampir meninggi dengan tidak sopannya, tapi untung saja kesadaranku langsung membawa angan itu kembali untuk tetap pada kenyataan.
“Astaga! Kenapa kau begitu jauh, Sora? Tidak-tidak, kau harus ingat! Kalian teman baik, jadi jangan merusaknya. Tugas kuliah semakin hari semakin banyak. Kau tidak boleh seperti ini. Harus fokus, oke!”
Aku berusaha mengingatkan diri agar tidak melampui batas. Memang tidak ada yang melarang jika aku memiliki hubungan lebih dengan seorang pria. Namun, aku mencoba untuk sadar diri karena posisi. Aku juga tidak ingin kuliahku berantakan hanya karena pria yang tidak bertanggung jawab. Itu tidak masuk ke dalam konsep yang ku buat sebelum aku masuk dunia Universitas.
Tanganku meraih ponsel kembali yang sudah ku jauhkan dari jangkauan. Mencari konten yang bisa membuatku terlelap dengan cepat, dan usahaku berhasil. Aku mulai mengantuk. Bahkan menguap sudah tidak terhitung. Tidak terasa, mata ini pun mulai terlelap yang entah sekarang di pukul berapa. Anehnya, aku terbangun kembali setelah merasa baru beberapa saat tertidur.
Kenapa tidurku cepat sekali? Apa aku benar-benar mengidap insomnia?
Mata ini mulai melihat sekitar. Namun, ada yang berbeda. Pandanganku mengabur, padahal mataku sehat, tidak memiliki keluhan apa pun. Aku juga masih ingat jika lampu kamar ini tidak dimatikan karena aku tidak terlalu suka tidur dalam kondisi gelap.
Tapi ... kenapa kamarku terasa remang-remang seperti ini?
Otakku tetap bekerja mencari jawaban. Sampai akhirnya aku mulai menggerakkan tubuh, tapi rasanya kaku. Dahiku mengernyit merasakan keadaan aneh pada tubuh ini. Aku mencoba kembali untuk menggerakkan tangan dan kaki. Namun, usahaku nihil. Bahkan hanya sekedar jari-jariku saja, mereka tidak bergerak. Seolah mati ditinggalkan roh.
Aku sedang tidak berada di suhu abnormal, tapi kenapa rasanya aku mati rasa?
Aku mencoba sekali lagi, tapi tetap tidak bisa. Rasa putus asa mulai menyelimuti karena ketidakberdayaan. Ku pejamkan kembali mata ini, berharap keadaan membaik seperti beberapa saat yang lalu. Rasa putus asa ini membuat tubuhku letih.
Entah berapa lama aku tertidur kembali. Namun, aku masih mendapati keadaan yang sama. Aku mulai berteriak, bahkan menangis sekencang-kencangnya agar orang rumah bisa mendengarnya dan membantuku keluar dari rasa putus asa. Anehnya apa yang aku lakukan tetap sia-sia. Mama dan papa seolah tidak mendengar suaraku.
Tuhan ... ada apa lagi denganku? Aku tidak mungkin mati ‘kan?
Aku cukup bisa merasakan bagaimana jatungku masih berdetak. Di tengah rasa putus asa yang semakin membelenggu, tiba-tiba telingaku terasa panas. Padahal aku ingat suhu di kamarku ini lebih sering dingin dalam cuaca apa pun. Apalagi di musim penghujan seperti bulan-bulan ini.
Telinga ini semakin tidak nyaman dan perasaan ini semakin kacau saat aku melihat sesosok hitam berbaju putih melayang di sudut kamar. Rambutnya hitam panjang terurai. Namun, aku tidak dapat melihat bagaimana rupanya. Bahkan aku tidak ingin melihatnya, karena dari penampakannya saja aku sungguh tahu itu makhluk apa.
Aku takut. Bahkan sangat takut. Aku ingin menangis, tapi air mataku tidak kunjung keluar. Sampai aku berusaha memejamkan mata, meski jantung ini sudah berdegup tidak karuan. Aku ingin lari menyelamatkan diri. Namun, aku tidak berdaya di atas ranjang tanpa bisa berkutik sedikit pun. Di saat itu pula aku menyadari jika sosok itu masih ada lagi di sisi yang lain. Dia sedang terduduk di atas lemari. Aku bisa melihat kain putih itu menjuntai, tanpa kedua kaki yang seharusnya.
Di balik rasa ketakutan, aku baru menyadari jika aku terbangun di dua dunia. Di mana kenyataan dan alam bawah sadar berdampingan. Tubuhku diam, karena dia berada di dunia nyata. Namun, pikiran dan rohku hidup di alam bawah sadar. Dua kehidupan yang sudah terikat sejak dilahirkannya manusia itu ke bumi.
Lalu, aku harus bagaimana? Aku ingin kembali.
Aku mulai pasrah dengan rasa yang ada. Mata batin ini terasa berat. Sepertinya aku mulai terlelap kembali. Namun, baru beberapa saat, sebuah suara begitu memekakkan telinga. Gendang telingaku sakit. Rasanya aku ingin lari untuk menghindarinya. Sebuah teriakan dari makhluk itu yang semakin lama semakin kencang dan membawaku pada kehidupan yang sebenarnya.
“Astaga!”
Napasku terengah. Mataku terbuka sempurna. Akhirnya aku kembali. Bahkan rasa panas dan tidak nyaman yang sedari tadi membelenggu telinga, kini hilang. Tergantikan dengan rasa dingin nan sejuk. Aku pun mencoba menggerakkan tangan dan kaki dan itu berhasil.
Rasa lelah ini membuat air mataku menetes. Aku benar-benar bisa menangis sekarang. Aku pun mengalihkan perhatian pada setiap sudut yang tadi ku lihat. Mereka sudah tidak ada, seolah apa yang aku lihat itu hanyalah mimpi buruk. Aku meraih ponsel, yang ternyata waktu fajar sudah tiba. Untuk kesekian kalinya, aku merasakan malam yang panjang dan mengerikan.
Setelah kejadian itu mood-ku langsung terjun. Semangatku untuk menyambut hari hilang entah ke mana. Bahkan saat aku menghampiri meja makan pun mama dan papa seolah tidak tahu apa-apa. Semuanya normal, seperti hari biasanya.
“Makannya yang benar. Itu masih banyak, ya ampun,” keluh Mama.
“Nggak nafsu makan, Ma.” Padahal aku sudah berusaha menelan nasi goreng kesukaanku ini, dengan toping telur mata sapi yang dimasak dengan cukup kering.
“Tumben ... atau mau sarapan bubur saja? Atau mau roti?” Mama terus menawarkan makanan-makanan yang biasa aku makan. Namun, mendengar semua makanan itu selera makanku tetap tidak tumbuh.
“Tidak usah, Ma. Aku mau langsung berangkat saja.” Berniat meninggalkan meja makan. Suara Papa pun mulai terdengar.
“Habiskan dulu makanannya, baru berangkat. Ini masih jam tujuh pagi. Kamu tidak akan terlambat meski berangkat tiga puluh menit lagi.”
Aku menatap Papa sambil menekuk wajah. Mood-ku sudah kacau, ditambah dengan ucapan Papa yang membuatku semakin down. Aku pun beralih pada Mama yang tengah menatapku khawatir.
“Ma, boleh aku bekal saja sarapannya?” ucapku.
“Boleh. Mau apa?” tanya Mama.
“Roti saja.”
“Iya, sudah. Mama siapkan dulu.”
Aku pun duduk kembali sambil bertopang dagu. Tanganku yang bebas memainkan sendok yang ada di atas piring. Aku terkejut tiba-tiba Papa berucap demikian.
“Kamu itu kenapa? Dari tadi Papa lihat kamu itu murung. Kamu lagi patah hati? Laki-laki mana yang berani?”
“Ish, Papa. Siapa yang patah hati?” ucapku tidak terima.
“Lah, itu. Dari tadi manyun. Kamu malah bikin pagi Papa mendung,” ucap Papa.
“Tanpa aku begini pun ini pagi sudah sendu,” ucapku tidak mau kalah.
“Iya, ditambah sama kamu.”
“Ih, Papa ....” Aku mulai merengek.
“Eh, kenapa?” Mama datang dari dapur dengan sekotak makanan yang belum ditutup. Aku melihat ada beberapa roti yang diolesi selai coklat dan stroberi.
“Kayanya putri kita lagi patah hati. Mungkin sama yang nganterin kemarin itu loh,” ucap Papa.
“Masa sih, Pa?” Mama pun beralih padaku. “Kamu nggak ada niatan ngenalin dia sama Mama dan Papa?”
“Ih, kok Mama sama saja. Dia itu hanya teman, namanya Eza. Kita beda jurusan,” jelasku.
“Beda jurusan kok bisa saling kenal? Seingat Mama kamu tidak ikut organisasi apa pun kan?” Tatapan Mama mulai menelisik yang membuatku seolah terpojok.
Seketika aku bingung menjelaskan bagaimana aku dan Eza bisa saling kenal sekarang. namun, aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan. “Pa, nggak berangkat sekarang? Nanti awal bulan Papa nggak gajian.”
Papa pun melihat ponselnya yang disimpan di atas meja makan. “Ah, iya. Ma, Papa berangkat, ya!”
“Ah, iya, Pa. Hati-hati!” ucap Mama.
Setelah mengecup puncak kepalaku dan bersalaman dengan Mama, Papa pun langsung pergi karena tempat kerjanya cukup memakan waktu. Setelah perginya Papa aku pikir posisiku sudah aman, ternyata itu hanya anggapanku saja.
“Sayang, tapi Mama masih penasaran. Kamu benar lagi patah hati?” tanya Mama dengan raut wajahnya yang begitu ingin tahu.
“Nggak, Ma. Beneran. Mood-ku sedang turun saja karena tidurku semalam kurang nyenyak.”
“Ah ....”
“Iya, sudah. Aku juga mau berangkat ya, Ma.”
“Iya, sayang. Hati-hati! Nanti beli jus, kamu nggak makan nasi.”
“Iya, Ma.”
Setelah berpamitan, aku pun mulai pergi meninggalkan rumah dengan sepeda motorku. Aku berpikir kenapa diri ini semakin hari semakin terasa janggal. Setelah malam itu, aku merasa ada yang berbeda dari dalam diriku. Seperti ada sesuatu yang sulit diterima oleh akal sehat.
Setelah memarkirkan motor, aku melihat Eza dari kejauhan. Sepertinya dia juga baru datang. Aku sedang tidak ingin bertegur sapa dengan siapa pun yang aku kenal. Apalagi sampai Eza melihatku murung seperti ini. Aku pun mengambil jalan lain, agar aku bisa menghindar dari pria itu. Namun, entah bagaimana, aku pun akhirnya bertemu dengannya di persimpangan lorong.
“Selamat pagi!” ucap Eza dengan ceria penuh semangat.
“Ah, iya. Selamat pagi!” Aku berusaha memasang senyum untuk menyambutnya.
“Aku baru sampai dan melihatmu begitu terburu-buru. Padahal jam masuk masih lama. Apa pagi ini kau memiliki jadwal yang membingungkan?”
Aku tahu maksudnya, karena terkadang ada beberapa dosen yang memang cukup membingungkan untuk soal jadwal agar kelas beliau tetap terisi.
“Tidak-tidak. Aku hanya ingin duduk di kelas saja. Kebetulan aku juga mau makan bekal yang diberikan Mama tadi.”
“Kalau begitu, aku temani. Ayo!” ajaknya.
“Ah, tidak usah. Aku juga ada tugas yang harus aku selesaikan. Kalau begitu, aku duluan, Eza!” ucapku seraya melangkah menjauhinya.
Aku sedikit berbohong tentang tugas. Justru hari ini tidak ada tugas apa pun karena itu aku cukup santai. Untung saja Eza tidak memaksa, apalagi sampai mengikutiku. Aku pun di salah satu kursi dan mulai memakan sarapan sampai habis. Tidak terasa dosen pun sudah memasuki kelas di mana seluruh mahasiswa kelas A Jurusan Manajemen sudah ada di posisi masing-masing.
Di cuaca yang seperti ini, jam kelas terasa lama dan panjang. Ditambah perasaanku yang belum juga membaik membuat semuanya terasa jenuh. Bahkan kerap kali aku menguap karena mengantuk sepanjang satu mata kuliah yang berdurasi kurang lebih dua jam.
Diakhir mata kuliah, dosen malah memberikan sejumlah latihan. Di mana sederet soal tentang teori manajemen yang berjumlah tiga pertanyaan terpampang di layar proyektor. Namun, percayalah. Jangan dulu senang dengan tiga pertanyaan ini, karena sudah bisa dipastikan jika jawaban yang nanti akan dihasilkan bisa mengalahkan panjangnya sebuah cerpen.
Jadi, apakah kuliah itu menyenangkan? Jawabannya, tergantung orang yang menjalaninya. Untuk menjalani pendidikan tidak hanya harus memiliki niat. Kita juga harus memiliki prinsip, tujuan, dan uang. Maka kau akan tetap dijalurnya meski sedikit terombang-ambing karena sebuah gelombang.
Ada jeda waktu untuk memasuki mata kuliah yang kedua. Sebenarnya itu hanya dosen pengertian saja yang memberikan waktu untuk bersantai beberapa menit. Anggap saja kita sedang diberikan waktu untuk masa transisi dari mata kuliah yang satu ke mata kuliah yang lainnya.
Aku memutuskan untuk pergi ke kantin sejenak, hanya sekadar membeli jus dan sebotol air mineral. Namun, aku melihat Eza di sana. Dia tengah mengobrol dengan seseorang. Sebelum Eza menyadari kehadiranku, Aku bergegas memutar haluan. Sesampainya di kelas, ponselku bergetar.
Eza : Sepertinya hari ini kau begitu sibuk.
Aku sengaja membacanya lewat bar notifikasi tanpa membuka pesan tersebut, karena aku tidak berniat untuk membalas pesan dari Eza. Beberapa menit kemudian ponselku bergetar lagi dan nama yang sama yang tertera di layar.
Eza : Baiklah. Semoga harimu menyenangkan di bawah guyuran air hujan. Jika kau memiliki waktu, hubungi aku!
Tidak terasa sudut bibirku terangkat. Mungkin sepertinya bertemu dengan Eza bukan keputusan yang buruk. Gara-gara perasaan aneh ini, aku jadi terus menghindari Eza yang sebenarnya dia tidak salah apa pun.
Akhirnya, aku pun mengirimkan balasan atas pesan Eza. Tidak lama dari itu, kelas pun di mulai kembali dengan mata kuliah yang berbeda. Suasana kelas saat ini terasa santai karena pembawaan dosen yang sekarang tidak terlalu membosankan. Bahkan puluhan menit berlalu pun begitu tidak terasa sampai akhirnya mata kuliah ini sudah sampai di penghujung waktu.
“Mungkin dicukupkan sekian materi hari ini. Semoga kita bisa bertemu lagi di minggu selanjutnya,” ucapnya.
“Iya, terima kasih atas waktunya, Bu.”
Aku pun menyimpan buku binder ke dalam tas beserta penanya. Bersantai sejenak di ruang kelas yang mulai tidak terlalu ramai. Ada beberapa orang yang masih asyik mengobrol satu sama lain, tapi aku lebih memilih untuk memainkan ponsel. Tema konten yang aku lihat cukup abstrak dan lucu. Hal ini membuat mood-ku sedikit lebih baik.
“Aku suka melihatmu selalu tersenyum seperti ini.”
“Eh.” Aku langsung memalingkan wajah dan melihat ada Eza di dekatku. Jujur saja, aku sedikit terkejut mendapatinya di ruang kelasku secara tiba-tiba. Aku pun mengecek kembali pesan dan dia tidak mengatakan apa jika ingin mengunjungi kelasku. “Sejak kapan kau di sini?”
“Sejak kau sibuk tertawa dengan ponselmu.” Eza menunjuk ponselku dengan dagunya.
“Ah ... begitu.” Aku pun mengatupkan bibirku.
“Hm, sebenarnya kau sedang lihat apa? Coba aku lihat!” Eza pun memiringkan kepalanya di mana jarak kami cukup dekat. Dia duduk tepat di sampingku.
“Tidak boleh! Rahasia.” Aku menjauhkan ponsel dari jangkauan Eza.
“Tidak boleh ada rahasia. Pokoknya aku mau lihat.”
“Tidak mau. Jangan memaksa.” Entah kenapa, Eza cukup menggemaskan hari ini.
“Aku tidak memaksa. Aku minta.”
“Ih, tetap tidak boleh.”
Tanganku bergerak ke sana kemari, tapi tangan Eza juga melakukan hal yang sama. Tiba-tiba kursiku terjungkat ke belakang.
“Ah ....”
Jantungku berdegup cukup cepat karena terkejut. Namun, hal lain juga memengaruhi kinerja jantungku. Seketika waktu terasa berhenti berputar. Mataku dan mata Eza seolah saling mengunci satu sama lain. Bahkan jarak tubuh kami terlalu dekat dengan tangan Eza yang menahan tanganku, dan tangannya yang lain menahan kursiku. Aku merasa kaku dalam kungkungannya. Hingga untuk bernapas pun aku enggan.
Kenapa perasaanku seperti ini?