EZA
“Tunggu!” peringat Sora.
“Kenapa?” tanyaku.
“Aku bingung, Za.”
“Kau bingung kenapa?”
“Bagaimana jika nanti di sana ada banyak orang?”
Dahiku mengernyit mendengar ucapan Sora. “Lalu, apa kau mau kita mojok berdua saja?”
Tiba-tiba Sora memukul lenganku. “Ish, bukan begitu.”
Sejenak, aku berpikir kembali. Sampai akhirnya aku sedikit mengerti keresahannya. “Tenang saja. Aku tidak akan pergi ke mana pun selama kita di sana.”
“Janji?”
“Hm.” Aku mengangguk mantap.
Aku pikir masalahnya sudah selesai. Ternyata itu hanya pikiranku saja. Nyatanya Sora masih dengan keraguannya.
“Eza, apa benar tidak apa-apa?” tanya Sora.
“Astaga, Sora! Sungguh, tidak apa-apa. Siapa pun bisa datang berkunjung. Ini fasilitas kampus, dan kami sebagai pengurusnya. Walau kau bilang kau tidak punya tujuan, tapi aku yang mengajakmu. Aku hanya ingin kau semakin banyak mengenal orang dan kau banyak dikenal orang.” Aku mencoba menjelaskan pada Sora, di mana dia terus-menerus bertanya soal ini sejak aku menjemputnya dari kelas A Jurusan Manajemen.
“Sejujurnya aku tidak butuh itu.”
“Mungkin suatu hari nanti kau akan membutuhkannya.” Aku menjeda ucapanku sejenak. Pikiranku mulai berkelana mengingat bagaimana diri ini bisa sampai pada titik di mana aku bisa sedikit bersyukur dengan apa yang aku jalani. “Kita makhluk sosial. Memiliki karakter yang berbeda-beda. Meski duniamu hanya berotasi, tapi terkadang kau harus seperti revolusi bumi. Semakin beragam karakter manusia yang kau lihat dan kehidupannya, bawalah logikamu pada sisi positif. Maka pikiranmu akan semakin terbuka dengan karaktermu yang lebih baik. Kau bisa menemukan hal terbaik dalam hidup dan semesta.”
Aku mulai mengalihkan perhatian di mana Sora tengah menatapku dengan raut wajah yang datar. Seketika aku sadar jika aku terlalu banyak bicara. “Maaf, aku tidak bermaksud mengguruimu.”
“Tidak apa-apa. Kau benar.” Sontak, Sora pun tersenyum. “Aku hanya tidak bisa seperti dirimu.”
“Kau tidak perlu seperti diriku. Jadilah dirimu sendiri dengan versi terbaik.” Aku melempar senyum padanya agar Sora bisa lebih tenang dalam menghadapi hal baru. Aku tidak berniat membuatnya tertekan, karena rasa itu sungguh tidak menyenangkan. “Ayo! Ada aku.”
Aku memang tidak tahu bagaimana kehidupan Sora sebelumnya, sebelum akhirnya kami bisa saling melempar senyum tanpa ada rasa sungkan. Namun, aku merasa Sora memiliki sisi lain yang unik. Di mana aku belum pernah menemukannya di sisi mana pun.
Ruang organisasi terletak di gedung yang lain. Posisinya sedikit ke dalam agak pinggiran. Aku harap kalian bisa membayangkannya!
Di kampus ini lebih dari lima organisasi yang dikelola. Masing-masing organisasi memiliki pembimbing dari para dosen yang aktif, untuk mengawasi setiap kegiatan yang diadakan para anggota mahasiswanya. Di dalam organisasi juga memiliki ketua inti dan jajaran kepengurusan yang dipilih dari anggota mahasiswa organisasi tersebut, di mana mereka menjabat selama satu periode sampai masa jabatannya selesai, dengan kurun waktu kurang lebih satu tahun.
Tidak hanya itu, ada ketua tambahan dan jajaran kepengurusan di setiap kegiatan yang akan dilaksanakan. Ini berlaku selama kegiatan itu berlangsung sampai selesai. Jika para anggota mengadakan kegiatan lagi dengan tema yang berbeda, maka kepengurusannya pun diganti lagi. Biasanya akan diketuai oleh perwakilan setiap divisi sebagai ketua pelaksana kegiatan.
Salah satunya Organisasi Mahasiswa Pecinta Alam. Aku mengikuti organisasi ini dari semester satu di tahun pertama kuliah. Tidak langsung menjadi anggota begitu saja setelah mendaftar. Aku harus mengikuti beberapa tes untuk kualifikasi, dan itu membutuhkan hingga berhari-hari bahkan berminggu-minggu sampai akhirnya aku dinyatakan lulus sebagai anggota Organisasi Mahasiswa Pecinta Alam.
Entah kenapa aku tertarik dengan organisasi ini. Mungkin karena eratnya sebuah tali persaudaraan yang menurutku belum pernah aku temui sebelumnya. Bahkan kini namaku sudah masuk di salah satu divisi sebagai anggota dan pengurus sekaligus.
Saat aku dan Sora tiba, ada Jey yang tengah sibuk dengan ponselnya. Aku sengaja tidak menegurnya, berniat ingin membuat Jey terkejut karena ku lihat dia begitu fokus. Namun, rencanaku gagal. Jey lebih dulu menyadari kedatangan kami. Dia cukup antusias melihat Sora datang bersamaku.
“Hai, Sora! Akhirnya kau berkunjung kemari. Ayo, sini!” Jey melambaikan tangannya. Tidak lupa dengan senyum yang entah kenapa aku mual melihatnya.
“Ah, iya, terima kasih,” ucap Sora.
“Jey, kau jangan membuatnya takut,” ucapku.
“Aku hanya menyambutnya. Kenapa kau sensitif sekali. Bahkan aku lihat Sora baik-baik saja.” Jey pun beralih pada gadis yang masih berdiri di sampingku. “Bukan begitu, Sora?”
“Hm.” Aku melihat Sora mengangguk.
“Sora, duduklah di sana!” Aku pun beralih pada Jey. “Awas ya kalau kau menyentuhnya! Jangan sampai lecet!”
“Ck, posesif!” teriak Jey.
Aku masuk ke dalam ruang organisasi sejenak untuk mencari kotak P3K terlebih dahulu. Aku sudah berkeliling ke setiap penjuru ruangan ini, tapi tak kunjung menemukan apa yang sedari tadi aku cari.
“Jey, terakhir kali siapa yang pakai obat-obatan? Semalam aku menyimpannya di tempat biasa, tapi sekarang tidak ada.”
“Emh, Avi kalau tidak salah. Kenapa semua orang mencari kotak P3K akhir-akhir ini? Coba kau lihat di loker yang satunya!” ucap Jey.
“Itu isinya berkas-berkas. Mana ada kotak P3K-nya di sana,” sanggahku.
“Kau sendiri tahu bagaimana anak itu. Sini aku bantu!” Jey pun bangun dari duduknya dan mulai menuju loker yang dia sebutkan. “Nih! Apa aku bilang.”
Aku hanya menyengir pada Jey yang tengah menekuk wajahnya. “Maaf, kepalaku sudah pusing.”
“Kau ini!” ucap Jey.
Di tengah pembicaraanku dengan Jey, tiba-tiba suara Sora mulai terdengar. “Sebaiknya kau istirahat saja agar tubuhmu bisa pulih lebih cepat.”
“Aku bisa istirahat nanti,” ucapku.
“Kenapa harus nanti? Kalau begitu kau pulang saja. Aku pun akan pulang,” ucap Sora.
“Kenapa pulang? Bahkan kita baru saja sampai di sini. Nikmati saja dulu! Tenanglah! Aku baik-baik saja. Ada dia di sini yang menjagaku. Bahkan sejak semalam dia mau menemani.” Aku menepuk-nepuk punggung Jey yang menatapku malas, tapi aku tidak peduli.
“Jadi, semalam kau tidak pulang?” tanya Sora.
“Hm, aku tidak sempat. Jadwalnya padat, rumahku cukup memakan waktu, belum kadang cuaca berubah-ubah dalam beberapa menit. Tinggal di ruangan ini pun tidak masalah, ada selimut juga. Bahkan kami cukup sering tinggal di sini karena kegiatan,” jelasku.
“Ah, begitu. Aku minta maaf, Eza,” ucap Sora.
“Hey, ini bukan salahmu. Aku sudah terbiasa dengan kehidupan seperti ini.” Aku melihat Sora sedikit murung.
“Iya, Sora. Kau tenang saja. Dia itu kuat, masalah seperti ini pasti dia bisa atasi. Yang penting kau harus tahu, dia melakukan semua itu karena terlalu cinta sama kamu,” ucap Jey.
Seketika aku terbatuk-batuk saat tengah meminum air. Untung saja obat yang ku minum sudah mengalir melewati kerongkongan. Jey terus menepuk punggungku yang jaraknya memang dekat, sepertinya dia pun terkejut atas reaksiku. Saat mereda, aku mulai menatap Jey yang dia pun menatapku. Aku memberinya peringatan untuk tidak bicara sembarangan.
“Eza, kau baik-baik saja?”
Pertanyaan Sora membuatku mengalihkan perhatian. “Iya, kau tenang saja. Aku hanya terlalu buru-buru.”
“Ah, syukurlah,” ucap Sora.
Diam-diam aku mencubit pinggang Jey tanpa sepengetahuan Sora. Dia mengaduh pelan sambil menepuk mulutnya. Aku pun mengambil duduk di dekat Sora dan kami mulai mengobrol, meski kebayakan hanya aku dan Jey yang terus melempar pertanyaan lalu menyanggah satu sama lain.
Sesekali aku melirik Sora yang fokus jika seseorang tengah bercerita. Responnya lembut, dia lebih banyak tersenyum dan mengangguk sesekali. Aku selalu menikmati setiap momen diantara kami. Tidak terasa waktu berganti lebih cepat.
“Sepertinya aku harus pulang. Terima kasih untuk jamuannya!” ucap Sora.
“Kau tidak perlu sungkan. Datanglah kemari jika kau ingin! Siapa tahu kita bisa jadi bestie,” ucap Jey.
“Apa aku tidak cukup untuk menjadi temanmu?” ucapku.
“Cukup. Namun, siapa yang tahu jika kau sedang menyebalkan. Jadi Sora masih punya pilihan, yaitu aku,” ucap Jey sambil menunjuk dirinya.
Mataku melihat benda yang bisa ku gunakan untuk menggertak Jey. Tidak lupa dengan nada sarkas untuk menyempurnakan gertakannya. “Sepertinya ada helm baru. Cocok jika ku lempar. Apa kau mau coba?” Aku menatap Jey yang kini tengah meringis.
“Ah, tidak usah. Kau tidak perlu repot-repot.” Jey pun beralih dariku. “Sora, sepertinya aku akan sedikit sibuk. Kalau begitu, aku permisi!”
“Iya, tentu,” ucap Sora.
“Baik-baiklah dengannya. Sekarang dia sedang dalam mode singa kelaparan.”
Jey masih saja berulah. Namun, setelah mengatakannya, dia langsung lari dari hadapan kami. Padahal aku sudah bersiap untuk melemparnya karena mulutnya yang sering bolos kuliah.
“Awas kau, Jey!” teriakku.
“Kalian sangat dekat. Aku suka melihat keakraban kalian,” ucap Sora mengalihkan perhatianku.
“Ah, kebetulan kita satu jurusan, satu organisasi, dan kami pun tumbuh bersama di sini. Bagaimana kita tidak menjadi dekat. Apalagi frekuensi bertemu dengannya lebih sering daripada bertemu denganmu.”
Sora terkekeh. “Iya, aku mengerti. Awalnya kebiasaan berubah jadi terbiasa.”
“Iya, kau benar,” ucapku. Dan semoga kita bisa lebih dari itu!
Kalimat itu masih aku simpan dengan baik. Aku masih menunggu momen yang pas untuk mengutarakannya. Aku tidak ingin kita menjadi canggung jika apa yang aku harapkan tidak terwujud. Aku takut Sora menghindar lalu menjauh setelahnya. Aku tidak bisa membayangkan. Bahkan tidak ingin, bagaimana pun skenarionya.
“Aku akan mengantarmu pulang.”
Sontak saja Sora menolak. “Aku bisa pulang sendiri. Apa kau lupa jika aku selalu berkendara ke mana pun?”
“Aku tidak lupa. Hanya ingin saja.”
“Kau sedang sakit. Istirahatlah!”
Aku menatapnya sendu.
“Kau cukup mengantarku sampai parkiran. Sisanya, do’akan aku selamat sampai rumah.”
“Kalau itu tentu saja.”
Sora mengangkat tangannya dan memberikan jompol seraya berlalu meninggalkan area kampus. Aku hanya kembali dengan lesu, meski rasa pening ini mulai berkurang. Sesampainya di ruangan, aku tidak melihat Jey. Bahkan di mana pun. Aku langsung bersiap di depan laptop yang tadi aku ambil dari laci.
Tugasku belum sepenuhnya selesai, tapi tenang saja, ini hanya membutuhkan sedikit penyuntingan karena aku sudah menyelesaikan drafnya semalam. Aku juga perlu merevisi beberapa yang dibutuhkan untuk kegiatan divisi panjat tebing minggu depan, yang harus segera ku serahkan pada ketua pelaksana kegiatan yang akan dibahas di sesi rapat dua hari lagi.
“Sora, sudah pulang?”
Aku mengalihkan perhatian pada seseorang yang baru saja datang. Dia Jey, siapa lagi yang tahu tentang Sora.
“Hm.”
“Kenapa kau tidak istirahat dulu? Memangnya sudah baikan? Bahkan semalam kau tidur jam tiga pagi,” ucap Jey.
“Mau bagaimana lagi. Tugas ini harus segera selesai besok dan laporanku juga belum ku jamah lagi.”
“Hm, kau benar. Aku juga tidak bisa banyak membantu.”
“Tidak masalah. Kau selalu bisa diandalkan di waktu yang tepat.”
“Kau terlalu berlebihan.”
Jey menawarkan makanan yang dia bawa. Aku pun ikut mencicipinya. Rasa kantuk pun terus menyerang seperti tadi pagi setelah meminum obat. Namun, aku memaksa mata ini agar tetap terjaga sampai detik ini.
“Hah! Akhirnya.” Rasa lega pun mulai terasa setelah beban satu bisa diselesaikan. Rasanya punggungku pegal karena seharian ini duduk tanpa ada istirahat. Aku mulai merebahkan diri di atas karpet, di mana di sampingku ada Jey yang sibuk dengan ponselnya.
Tidak terasa, rasa lelah dan pengaruh obat tadi membuatku terlelap. Mataku terasa berat walau hanya sekedar melihat jam dinding yang terpasang di sebelah kanan. Aku sedikit terkejut saat mendapati hari yang sudah gelap. Jam menunjukkan pukul sembilan malam.
Tubuhku terasa lebih nyaman sekarang, walau sepertinya belum sepenuhnya pulih. Aku mencari keberadaan Jey, tapi aku tidak menemukan dia di mana pun. Namun, aku tidak memusingkannya. Aku langsung membereskan barang-barang lalu pergi ke parkiran untuk segera pulang, karena hari ini aku belum memberitahu orang rumah lagi.
Untung saja malam ini tidak turun hujan. Namun, tetap saja udara dingin begitu menusuk, sampai jaket yang melekat di tubuhku saja seolah tidak berguna. Perutku juga semakin tersiksa karena aku melewatkan jam makan malam.
Baru saja kakiku melangkah memasuki rumah, suara mama langsung menyapa.
“Kenapa kamu itu sulit sekali memberitahu orang rumah jika pulang telat?” ucap mama.
“Maaf, Ma, lupa,” jawabku sambil memberi salam pada mama.
“Eh, kamu demam?” Dahi mama mengernyit.
“Sedikit. Aku ketiduran setelah minum obat tadi. Makanya langsung pulang,” jelasku.
“Iya, sudah. Ganti baju sana, terus makan. Mama akan siapkan handuk untuk mengompres,” ucap mama.
“Tidak perlu, Ma. Aku akan segera membaik. Aku ganti baju dulu,” ucapku yang langsung berlalu menuju kamar.
“Dasar ... sudah begini saja!”
Aku masih bisa mendengar keluh mama sebelum akhirnya aku menutup pintu kamar.
Namanya juga orang tua, ya aku bisa apa.
Aku pun melepas jaket dan celana panjang, lalu beralih ke kamar mandi. Rasanya hawa tubuhku tidak karuan. Bahkan saat menyentuh air saja, respon tubuhku begitu sensitif.
Aku rasa mama mengganti airnya dengan air es.