SORA
“Aku lihat kau sangat dekat dengannya.” Adi pun membuka pembicaraan disela kami berjalan menuju gedung yang lain di mana ruang dosen berada.
“Iya, dia temanku.”
“Oh, hanya teman.”
Aku melirik sejenak ke arah Adi, dia pun mengangguk-angguk. Entah kenapa nada bicaranya sedikit menggelitik hatiku. “Memangnya kenapa?”
“Tidak apa-apa. Aku pikir kalian memiliki hubungan lain. Syukurlah jika kalian hanya sekadar teman.”
Dahiku mengernyit mendengar Adi bicara seperti itu. Aku ingin mempertanyakan ucapannya. Namun, aku tidak memiliki waktu sekarang karena kami harus cepat, sebelum dosen yang kami tuju sudah keluar dari area kampus dan itu lebih menyulitkan.
Setelah kemarin melakukan presentasi, kelompok kami masih harus memperbaiki makalahnya agar lebih rapi dan informatif. Jadi, kami hanya diberi sedikit waktu untuk menyelesaikan tugasnya. Kelompok yang lain sudah menyerahkannya lebih dulu. Jika terlambat, maka nilai kami bisa dikurangi atau bahkan tidak keluar sama sekali, dan itu akan sungguh merepotkan di akhir semester nanti.
Sekarang kami sedang menuju salah satu ruangan dosen mata kuliah manajemen strategi. Aku cukup harap-harap cemas karena dosen yang satu ini cukup membuat jantungku berdegup lebih kencang. Bahkan keringat dingin sudah mulai bercucuran saat aku dan Adi sudah sampai di pintu ruangan tersebut. Sayangnya, apa yang aku rasakan ini bukanlah jatuh cinta.
“Selamat siang, Pak! Saya Adi dan ini Sora. Kami dari kelas A Jurusan Manajemen,” ucap Adi.
“Ah, kalian. Masuklah!” ucap Dosen.
“Terima kasih, Pak,” ucap Adi dan aku mengangguk.
Kehidupan di kampus tidak selalu menyenangkan seperti apa yang mereka sangka. Meski kami sering terlihat santai dan sesekali tertawa seolah tidak ada beban. Namun, berbeda dengan apa yang kami rasakan. Apalagi jika sudah masuk tahun ketiga dan keempat. Itu adalah dunia kampus pada masa terberat menurut para senior. Kebebasan yang aku rasakan sekarang harus dinikmati sebaik mungkin.
Memang benar, setiap orang yang menjalani kehidupan pasti sesuai porsi yang Tuhan berikan, apa pun pilihan hidupnya. Tidak bisa dibanding-bandingkan antara kehidupan satu dengan yang lainnya. Apalagi jika itu menyangkut mental seseorang. Kekuatan dan kematangan mental kerap kali disamaratakan, atau bahkan disepelekan. Padahal untuk saling menghargai itu jauh lebih mudah. Ditambah dengan dukungan, itu cukup membuat seseorang jauh lebih siap menghadapi persoalan dihadapannya, apalagi setiap orang memiliki karakter yang berbeda.
Seperti saat ini. Saat aku bertemu dengan dosen yang bisa dibilang beliau memiliki karakteristik yang sempurna untuk mahasiswanya. Hal ini cukup membuat mentalku sedikit goyah padahal sudah aku pupuk setiap hari dengan keyakinan yang terus ku lekatkan pada diri. Bertemu orang penting seperti ini cukup berat bagiku.
Berbeda dengan Adi. Dia seolah lebih siap dalam segala situasi. Namun, aku tidak merasa rendah diri. Meski aku sedikit khawatir, aku tetap berusaha untuk bertahan karena aku yakin semua ini hanya pembelajaran.
Orang tuaku pernah bilang, “setelah fase demi fase berhasil kau lewati, maka kau akan tahu apa yang benar-benar membuat mentalmu hancur. Jadi, kau harus bersiap sedini mungkin untuk suatu terburuk agar mentalmu tetap dalam genggaman.”
Akhirnya pembicaraan kami selesai dalam beberapa menit. Namun, aku merasa ini jauh lebih lama dari pada saat aku berkendara yang hitungannya hingga puluhan menit. Untung saja Adi lebih cakap dalam berbicara. Kebetulan dia juga ketua kelompok di mana aku dan tiga teman yang lain sebagai anggotanya.
“Kalau begitu, kami permisi, Pak!” ucap Adi.
“Iya.” Aku melihat Pak dosen mengangguk, mempersilahkan.
Rasa lega menyapa saat aku dan Adi sudah berada di luar ruangannya. “Aku senang kau lebih memilih kami. Aku tidak tahu harus bagaimana tadi jika hanya aku yang pergi menemui beliau.”
“Aku tahu mana yang harus aku pilih. Jelas aku akan memilihmu,” ucap Adi.
“Omong kosong. Aku sedang tidak menerima rayuan.”
Adi pun terkekeh. “Setelah ini kau akan pergi ke mana?”
“Mungkin ke kantin. Aku mulai lapar setelah andrenalinku diuji.”
“Kalau begitu, ayo! Aku akan temani.”
Sejenak, aku menatapnya dengan mengernyitkan dahi seraya terus berjalan keluar dari area gedung. “Bukannya tadi kau bilang akan pergi rapat merundingkan aksi untuk lusa? Bahkan aku harus sedikit memaksamu untuk menemui dosen.”
“Sepertinya akan diundur. Tidak masalah bukan jika kita pergi ke kantin bersama? Sepertinya aku juga mulai lapar.”
“Ah.” Aku hanya mengangguk-angguk sambil berdehem menanggapinya.
Tidak ada pembicaraan lagi di antara aku dan Adi. Namun, sesekali aku mendengar orang begitu antusias saat mereka berpapasan dengan kami. Apalagi saat mereka berinteraksi dengan Adi. Aku berusaha tidak mengidahkan topik pembicaraan mereka yang menurutku tidak penting untuk diriku. Aku berniat untuk pergi lebih dulu, tapi Adi menahanku lalu mengakhiri pembicaraan mereka.
“Maaf. Aku senang bicara dengan mereka,” sesal Adi.
“Tidak masalah. Padahal kau bisa tetap mengobrol dengan mereka jika kau mau. Aku bisa pergi sendiri tadi.”
“Aku sudah setuju untuk pergi ke kantin, jadi aku akan tepati.”
“Hm, terserah kau saja.” Aku tidak masalah dengan keputusan Adi, karena tugas yang seharusnya telah selesai. Aku tidak akan menuntut apa pun jika itu bukan kewajiban dan tidak ada sangkut pautnya denganku. Apalagi kita bukan teman dekat. Aku tidak punya hak untuk itu.
Setelah memesan makanan, kami pun memilih meja pojok dengan Adi yang duduk di depanku. Dia mencoba mengajakku bicara. Membawa topik apa pun di mana aku hanya menyimaknya saja, karena aku tidak memiliki kata-kata untuk menyanggah atau menjawab kalimat yang nantinya akan menjadi sebuah obrolan yang asyik. Aku sedikit bingung untuk berinteraksi dengan orang yang memang kurang dekat denganku.
Tiba-tiba ponselku bergetar dan nama Eza tertera di barisan notifikasi. Ada beberapa pesan yang Eza kirim. Aku pun membalasnya, lalu beralih pada Adi yang masih sibuk menceritakan apa yang telah dia lakukan untuk organisasi yang dia ikuti.
“Kau tahu, hal yang seperti ini cukup riskan jika dilakukan tanpa strategi yang matang. Apalagi ini menyangkut publik. Terlalu banyak cabang untuk menentukan siapa dalang yang sebenarnya,” ucap Adi.
“Bahkan aku yang mendengarnya saja sedikit ngeri. Aku tidak bisa membayangkan jika aku ikut.” Aku mencoba menanggapi sebisaku.
“Kalau kau ingin ikut, aku bisa menjagamu. Kau bisa tahu bagaimana peliknya masalah publik dengan emosi yang menggebu-gebu,” ucap Adi.
“Ah ...” belum selesai aku berucap, tiba-tiba sebuah suara di belakangku terdengar lebih dulu.
“Kau tidak perlu ikut, Sora. Bahaya!” Kalimat itu membuatku mengalihkan perhatian pada seseorang yang baru saja datang dari arah punggungku.
“Cepat sekali kau sampai,” ucapku.
Dia Eza, yang saat ini langsung mengambil duduk tepat di sampingku.
“Aku mencarimu sejak tadi. Kebetulan saat kau membalas pesan, jarakku cukup dekat kemari,” jelas Eza.
“Bukankah kau ada kelas?” Seingatku Eza bilang seperti itu tadi.
“Aku pikir akan selesai sesuai jam. Namun, sepertinya dosenku sedang berbaik hati hari ini,” ucap Eza dengan santai.
“Ah, baiklah. Aku mengerti. Kau ingin makan apa?” tanyaku.
“Aku sudah pesan tadi. Oh iya, tidak apa-apa kan aku duduk di sini?” Eza melirik aku dan Adi bergantian.
“Kau sudah duduk,” ucapku sedikit sarkas, tapi dengan nada bercanda.
“Siapa tahu aku tidak boleh mengganggu kalian,” ucap Eza.
“Apa kau ingin aku usir?” ucapku.
Eza pun menarik kedua sudut bibir sampai deretan giginya terlihat. “Jangan ... jangan usir aku. Aku mau di sini.”
“Duduklah yang benar.”
Seketika Eza langsung bersikap duduk seperti anak SD. Aku berusaha menahan senyumku agar tidak mengembang, karena di sini bukan hanya kami berdua.
Tidak lama kemudian, pesanan kami pun datang. Bahkan pesanan Eza pun datang berbarengan. Kami menyudahi dulu obrolannya sejenak. Namun, saat aku tengah menikmati kuah gurih dan pedas dari semangkuk bakso, Adi memecah keheningan di antara kami dengan pertanyaannya.
“Aku rasa kau dari jurusan lain? Siapa namamu? Aku Adi, satu kelas dengan Sora,” ucap Adi.
“Kau bisa memanggilku Eza. Aku pernah melihatmu sekilas saat berkunjung ke kelas kalian,” jelas Eza.
“Ah, seperti itu. Aku tidak menyangka jika Sora memiliki teman sepertimu,” ucap Adi.
“Memangnya kenapa?” Aku melihat Eza mulai menatap Adi yang kini tersenyum ke arahnya. Itu bukan senyum ramah yang aku tahu.
Entah kenapa, rasanya atmosfer di sekitarku terasa kurang nyaman. Atau mungkin karakter Adi sedikit kurang cocok dengan karakter aku dan Eza. Padahal Eza termasuk orang yang humble and easy going, tidak sepertiku. Aku tidak tahu ada masalah apa di antara mereka berdua. Namun, aku bisa melihat sepertinya mereka sedikit tidak akrab, atau memang mereka menolak untuk akrab.
“Memangnya kenapa, Adi? Apa aku tidak boleh memiliki teman?” Aku pun menjadi penasaran dengan sederet ucapannya.
“Tidak apa-apa. Aku pikir kau penyendiri, tapi sepertinya kalian berteman baik,” ucap Adi. Dia pun tersenyum, senyumnya berbeda dari yang ditunjukan pada Eza.
“Aku juga tidak tahu mengapa bisa begitu,” ucapku. Hatiku terasa sakit mendengarnya, karena ucapan Adi seolah mengingatkanku pada masa lalu.
“Itu hanya pikiranmu saja. Kau tidak tahu bagaimana Sora. Dia spesial, melebihi martabak asin.”
Aku melirik Eza yang kini tengah menatapku dengan senyum khasnya. Aku sungguh ingin tertawa melihat tingkahnya yang abstrak seperti ini. Bahkan aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Dahiku terasa pening sambil menahan tawa agar tidak menggelegar di kantin yang mulai ramai ini.
Tiba-tiba Eza mengulurkan telapak tangannya yang bebas ke arahku. Aku berdehem sambil menaikkan sebelah alisku mempertanyakan apa maksud dari uluran tangannya. Sampai akhirnya, aku pun membalas uluran tangan itu, lalu kami tersenyum bersama setelahnya. Namun, beberapa detik kemudian aku baru menyadari sesuatu tentang Eza.
“Eza, kau sakit?” tanyaku dengan khawatir.
“Hm, hanya sedikit demam,” ucap Eza.
“Ah.” Aku merasa menyesal mendengarnya. “Maaf, karena aku kau jadi begini.”
“Tidak apa-apa. Tadi pagi sudah mendingan. Kau tidak perlu khawatir.”
“Tetap saja.”
“Bukankah kemarin itu kesepakatan. Jadi tidak perlu ada yang disesali. Ah, iya, bagaimana denganmu?”
“Aku baik-baik saja. Seperti yang kau lihat. Lalu, kenapa kau datang ke kampus kalau sakit? Kau bisa izin untuk sehari.”
“Karena aku ingin melihatmu.”
Aku memukul lengannya dengan gemas. “Kau tidak perlu membual di saat seperti ini.”
“Aku tidak membual. Kalau kau sebegitu khawatirnya padaku, kau bisa memelukku. Ayo kemari!” Eza merentangkan kedua tangannya seolah benar-benar ingin menyambutku.
“Apa sih?” Pipiku memanas. Tiba-tiba pikiranku berkelana pada kejadian di saat aku dan Eza menerobos hujan. Aku benar-benar bingung dan malu hanya sekadar mengingatnya. Apalagi sikap Eza yang seperti ini membuatku menjadi salah tingkah. Refleks tanganku mencubit perutnya.
“Akh, sakit, Sora!” pekik Eza. “Apa perutku sungguh menggemaskan?”
“Diam dan turunkan tanganmu!” ucapku.
“Bukannya kau khawatir padaku? Aku jamin ini akan membuatku sembuh lebih cepat.” Eza mengangkat alisnya beberapa kali. Tidak lupa dengan senyum menggelikan yang memperlihatkan sederet giginya.
“Eza!”
“Aku sungguh-sungguh soal itu,” ucap Eza disela kekehannya.
“Jangan bahas lagi!” pekikku dan Eza tertawa.
Aku kesal karena dia sungguh tidak pengertian sekarang. Bahkan sejak kami berpisah semalam, Eza terus membahas soal pelukan itu. Padahal aku sudah bilang jika aku tidak sengaja melakukannya. Aku sudah setengah mati menahan rasa maluku, tapi kelakuan Eza semakin menjadi yang membuatku semakin tersipu dalam kebingungan.
“Kalau kau ingin tertawa, jangan ditahan!” Eza mencolek lenganku dengan tawanya yang menyebalkan.
“Ish!” Aku memukul lengan Eza, yang akhirnya aku pun ikut tertawa bersamanya.
Pertemananku dengan Eza membuat duniaku sedikit lebih luas. Aku lebih menyukai dunia kecilku di mana aku bisa lebih fokus pada apa yang ada di hadapanku. Sejenak, aku melupakan jika di area kantin ini tidak hanya kami berdua. Bahkan aku tidak sadar jika interaksiku dengan Eza menjadi pusat perhatian di sini.
“Sepertinya kedekatan kalian cukup seru. Aku iri melihatnya.”
Ucapan seseorang membawaku ke alam sadar. Aku mengalihkan perhatian pada Adi. Astaga! Aku melupakannya.
Belum sempat aku bicara, Eza sudah lebih dulu bersuara. “Tentu saja. Bahkan ini bukan apa-apa. Masih ada hal lain yang lebih menyenangkan untuk kita berdua. Bukan begitu, sora?”
“Hah? Ah, i-iya.” Aku ragu harus bagaimana.
Adi mengangguk-angguk sambil berdehem. Ku lihat dia membereskan barangnya.
“Sora, sepertinya aku harus pergi. Rapatnya akan dimulai sebentar lagi. Terima kasih kau sudah mau menemaniku makan,” ucap Adi sambil tersenyum.
Mataku membelalak mendengar penuturannya. Aku tidak merasa seperti itu. Bahkan kau yang menawarkannya lebih dulu untuk pergi bersama. Namun, kenapa rasanya jadi aku yang jadi seolah ingin bersamamu?
Aku sibuk dengan pikiranku sendiri saat Adi mulai meninggalkan meja kami.
“Kenapa ekspresimu begitu?” tanya Eza.
“Tidak apa-apa. Hanya saja aku tidak setuju dengan ucapan terakhirnya,” keluhku.
“Hm, aku juga tidak percaya.”
Aku mengurungkan niat saat hendak memasukkan sesendok bakso yang mulai dingin. Sejenak, aku melirik Eza yang tengah menikmati makannya lagi. Aku hanya terkekeh pelan. Lalu, melanjutkan makan sampai tidak tersisa.
“Aku akan pergi ke ruang PMI, kau tunggulah di sini!” ujarku.
“Untuk apa?” tanya Eza.
“Siapa tahu kau butuh obat lagi nanti.”
“Tidak usah. Itu akan merepotkan.”
“Ini tidak merepotkan.”
“Di ruang organisasiku menyediakannya secara mandiri. Aku bisa mendapatkannya di sana.”
“Ah, begitu.” Aku pun mengurungkan niat.
“Apa kau masih ada kelas setelah ini?”
“Hm, sekitar satu jam lagi. Kenapa?”
“Aku juga masih ada kelas. Nanti jika kelas kita selesai, apa kau mau berkunjung ke ruang organisasiku?”
“Kau butuh istirahat.”
“Aku bisa istirahat nanti.”
“Jangan seperti itu.”
“Jadi, kau tidak mau?”
Beberapa saat aku diam. Memikirkan apa yang akan aku putuskan, padahal ini bukan hal sulit. Namun, dengan kepribadianku yang seperti ini membuat hal mudah menjadi rumit. Aku belum sempat memberi jawaban, tiba-tiba Eza sudah bersuara dengan semangat.
“Baik, aku anggap kau setuju.”
“Hah?” Seketika aku tercengang.