EZA
Jantungku berdegup tidak karuan. Tanganku mencengkram stang motor guna mengendalikan diri. Untung saja posisiku masih membelakanginya, jadi Sora tidak tahu bagaimana raut wajahku sekarang yang tengah gelisah. Sesekali aku melihat tangan Sora yang melingkar di perutku. Sungguh, hal sederhana ini membuatku gila.
Apa Sora sengaja melakukannya?
Aku berharap jika hal itu benar. Namun, aku ingat jika Sora bukan tipe yang seperti itu. Aku takut jika yang dia lakukan ini adalah ketidaksengajaan. Jujur saja, aku tidak mau dia melepas pelukannya.
Aku ingin sampai lebih cepat, karena menerjang hujan deras itu sungguh menyulitkan. Namun, di sisi lain aku ingin momen ini bisa lebih lama aku nikmati, meski aku harus bergelut dengan hujan dan ketidakwarasan.
“Ah, maafkan aku,” ucap Sora terdengar samar.
Hatiku mencelos saat merasakan pelukan Sora mengendur. Aku ingin menahan tangannya agar tetap di sana, tapi rasanya aku tidak mampu karena ini bukan hal genting seperti tadi. Bahkan lebih parahnya aku tidak merasakan tangan Sora di bagian tubuh mana pun. Entah kenapa hati ini merasa kecewa mendapatinya.
“Tidak apa-apa. Kau tidak perlu minta maaf. Jika kau ingin, kau boleh melakukannya.”
Satengah dari kalimat itu adalah bualan dan setengahnya lagi adalah harapan. Hari ini aku menjadi pria aneh sepanjang sejarah hidupku. Sora bisa membuat diriku menjadi serba salah untuk melakukan apa yang ingin aku lakukan. Membuat isi kepalaku penuh hanya tentangnya. Bahkan bisa membuatku sampai lupa diri untuk menahan rasa peduli saat melihat dia tidak senang.
Perasaan kali ini membuatku serasa mau gila.
Tidak ada lagi percakapan di antara kami. Entah aku ataupun Sora, tidak ada yang berinisiatif untuk membuka pembicaraan selama perjalanan. Sampai akhirnya kami pun sampai di depan rumah Sora dengan hujan yang kian mereda.
“Eza, masuklah dulu!” ucapnya.
“Ah, tidak usah. Aku langsung pulang saja. Bajuku basah.”
“Tapi ....”
“Mungkin lain kali aku akan mampir. Apa kau ingin aku kedinginan karena terus memakai kemeja ini?”
“Aku bisa pinjamkan baju papa untukmu.”
Aku merasa aneh dengan sederet ucapan Sora. Apalagi dia mengucapkan dengan wajah polosnya. Bahkan aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku memakai pakaian papanya. Bukannya aku tidak mau, tapi hal ini sulit aku jelaskan.
“Bukannya apa-apa. Aku tidak ingin merepotkan. Ini juga sudah malam.” Aku berusaha beralasan agar Sora mau mengizinkanku pergi, sampai akhirnya dia pun mengangguk.
“Ah, baiklah. Kalau begitu, terima kasih kau sudah mengantarku,” ucapnya.
“Sama-sama.” Aku melihat ojek online yang aku pesan pun menghampiri. “Sora, aku pulang.”
“Iya, Eza. Hati-hati!”
Aku hanya mengangguk lalu pergi dari sana bersama ojek yang aku pesan. Semilir angin membuatku semakin bergidik. Keadaanku saat ini terlalu menyedihkan untuk berkunjung ke rumah Sora. Meski dia menawarkan kenyamanan, aku tidak ingin membuatnya repot. Setidaknya aku ingin berpenampilan rapi saat bertemu dengan orang tuanya.
Udara malam cukup menusuk tulang kali ini. Bahkan kondisi kulitku sudah memprihatinkan. Terlihat pucat dan mengkerut. Butuh sekitar lima belas menit untuk sampai di kampus. Aku langsung disambut Jey saat masuk ke dalam salah satu ruangan organisasi mahasiswa.
“Astaga! Kau benar-benar. Cepat ganti bajumu!” Raut wajah Jey terlihat syok melihat keadaanku sekarang. Dia pun memberikan kantong yang berisi baju. Aku langsung pergi ke kamar mandi yang tersedia di gedung ini. Hanya butuh beberapa langkah untuk sampai di lokasi.
Saat berteduh tadi, aku sempatkan menghubungi Jey untuk meminjam bajunya. Sedikit menjelaskan bagaimana keadaanku pula, akhirnya Jey setuju. Dia memang kawan yang bisa diandalkan di saat genting. Apalagi rumahnya cukup dekat dengan kampus dibanding rumahku yang masih membutuhkan lebih dari tiga puluh menit, mengingat sepeda motorku masih di parkiran kampus.
“Gila. Kau naksir perempuan sampai berkorban seperti ini,” ucap Jey sambil menggeleng tidak percaya.
Aku hanya berdehem sambil menggosok rambutku yang basah, karena aku pun tidak tahu kenapa aku bisa sampai seperti ini untuk gadis seperti Sora. Sekarang, aku sudah berganti pakaian dengan yang lebih layak dan nyaman. Namun, aku masih mencari sesuatu yang bisa membuat tubuhku hangat.
“Memangnya dia sespesial apa?” tanya Jey.
Aku mendengar ada nada penasaran di dalam kalimatnya. Namun, aku masih enggan menjawab. Aku masih sibuk mencari apa yang aku butuhkan.
“Apa kau tidak punya kopi?” tanyaku.
“Memangnya di sana tidak ada?”
“Hm.” Aku pun menggeleng.
“Berarti habis. Aku pun tidak punya.”
“Kita keluar. Sepertinya sudah tidak hujan.”
“Boleh.”
Tidak membutuhkan waktu lama, aku dan Jey pun sampai di salah satu coffee shop. Di sini cukup ramai. Namun, kami masih mendapatkan tempat untuk duduk. Aku membiarkan Jey yang memesan. Rasanya tubuh ini lelah dan lapar, sampai aku malas bergerak.
Pikiranku tiba-tiba menerawang, memikirkan setiap detik yang telah aku dan Sora lalui. Rasa penasaran ini belum juga usai tentangnya. Bahkan pertanyaan Jey pun mulai terngiang di dalam pikiranku. Aku pun tidak memiliki jawaban yang saklek atas pertanyaannya. Namun, aku merasa apa yang aku lakukan ini benar untuk gadis seperti Sora.
“Sebenarnya kau habis dari mana sampai bisa basah kuyup seperti itu?” tanya Jey.
Aku mengalihkan pandangan pada Jey yang baru selesai memberikan secarik kertas pesanan kami. Saat ini aku dan Jey berada di salah satu coffee shop yang biasa kami gunakan untuk berkumpul di waktu luang. Coffee shop ini memiliki design ala klasik. Terlihat dari furniture yang mereka gunakan, ditambah alunan musik yang mendukung, dan juga lampu pijar yang terlihat temaram. Berada di sini membuat suasana dingin tidak terlalu kentara karena nuansa hangat yang mereka gunakan.
“Aku habis mengajaknya untuk melihat alam. Ya, sekadar bersenang-senang,” ucapku santai.
“Lalu, apa kau juga membuat dia basah kuyup sepertimu?” tanya Jey penasaran.
“Hm.” Aku mengangguk perlahan.
“Astaga! Dan gadis itu mau?” Rasanya aku ingin meraup wajahnya yang berekspresi berlebihan, antara terkejut dan tidak percaya.
“Memangnya kenapa?” tanyaku dengan santai.
“Aku tidak habis pikir, kau mengajak seorang gadis kencan lalu pulang dalam keadaan menyedihkan. Aku rasa dia akan kapok jika kau mengajaknya kencan lagi. Kenapa kau tidak mengajaknya ke sini saja atau pergi nonton. Aku rasa para gadis lebih menyukai yang seperti itu, yang tidak membuat riasan wajahnya luntur.”
Aku hanya terkekeh mendengar penuturan Jey, tapi dia ada benarnya. Hampir sebagian besar gadis pasti ingin selalu cantik dengan riasannya saat mereka berkencan, dan pergi ke tempat yang bisa dibilang aman dari segala cuaca. Namun, aku tidak merasa bahwa Sora seperti itu. Bahkan dia tidak mengungkit tentang riasannya dan tidak repot tentang itu. Atau memang Sora tidak berpikir jika tadi adalah kencan? Tapi aku pun tidak berpikir demikian. Ah, entahlah.
“Heh! Kenapa kau malah tertawa?” Jey melemparku dengan tisu yang tersedia di meja kami.
“Kau itu kenapa? Dari tadi marah-marah?” tanyaku acuh tak acuh.
“Bukan marah. Aku hanya heran saja. Bisa-bisanya kau mengajaknya keluar lalu main hujan-hujanan.”
“Kan lebih asyik, Jey. Kau tidak tahu betapa senangnya kami saat terguyur hujan. Bahkan ini lebih romantis daripada pergi menonton film.” Aku semakin tidak bisa menahan senyum yang malah semakin merekah karena bualanku sendiri. Bahkan dengan susah payah aku tutupi senyum ini dengan tangan.
“Aku jadi penasaran, seseru apa yang kalian lewati sampai kawanku ini langsung gila dalam beberapa jam.”
Tawaku pecah mendengar kalimat Jey yang begitu menggelitik perut.
“Apa kau tidak ingin cerita detailnya padaku?” Sebegitu penasarannya, sampai Jey menatapku penuh curiga dengan tangannya yang langsung dia lipat di depan d**a.
“Sejujurnya, aku tidak ingin berbagi cerita ini denganmu.”
“Ck, ku siram juga kau!” ucapnya saat pesanan kami tiba.
Aku menyudahi tawa yang sejak tadi membuat Jey jengkel. Namun, dia bukan tipe orang pendendam. Aku mengenalnya sejak awal semester di tahun pertama. Makanya, aku bisa sedekat ini dengannya. Ditambah kami juga satu organisasi dan satu jurusan.
Makanan yang beberapa menit lalu disajikan begitu menggugah selera. Perutku semakin keroncongan, mengingat hawa dingin menyelimuti tubuh selama beberapa jam yang lalu. Harus diingat, saat cuaca dingin menyerang, tubuh membutuhkan lebih banyak asupan. Bahkan bisa lebih dari tiga kali lipat porsi makan dari biasanya.
Makanan berat sudah habis, tinggal menikmati secangkir kopi hangat dengan sebatang lintingan tembakau yang dibakar. Mungkin bagi sebagian orang hal seperti ini tabu. Namun, entahlah aku hanya merasa lebih tenang saat menyesapnya, dan ini juga membantu tubuhku sedikit lebih hangat. Jey juga melakukan hal yang sama denganku, tapi aku tidak akan menyarankan bagi orang yang tidak suka. Semua ini tentang keputusan tanpa adanya paksaan.
“Jujur saja, sedikit demi sedikit aku melihatmu mulai berubah.” Jey tiba-tiba membuka pembicaraan setelah cukup lama dilingkupi oleh keheningan diantara kami.
“Maksudmu?” Perhatianku mulai beralih pada Jey lagi.
“Sikapmu padanya begitu terlihat. Bahkan kedekatan kalian kerap kali menjadi bahan pembicaraan. Aku tidak sengaja mendengarnya. Namun, aku senang bisa melihatmu bahagia dengannya.”
“Memang apa yang mereka bicarakan tentang kami?”
“Untuk hal yang seperti ini kau memang belum berubah. Masih tidak peka.”
“Aku hanya mengurusi sesuatu yang memang harus aku urus. Jika itu tidak penting untuk apa aku membuang waktu. Kalau ada waktu luang, lebih baik ku pakai untuk Sora saja.”
Jawabanku membuat Jey terkekeh. Sampai aku berpikir, apa ada yang salah denganku?
“Iya, itu lebih baik. Hanya saja kau harus memperhatikan kedekatan kalian. Aku hanya takut ada yang tidak senang tentang ini. Kau harus menjaganya jika memang kau menginginkannya.”
Rasa penasaranku mulai timbul. Aku menelisik Jey yang sepertinya dia serius dengan apa yang dia katakan. Sepertinya aku harus mencari tahu kabar apa saja yang beredar menyangkut kedekatanku dengan Sora.
“Aku akui, Sora itu cantik. Apalagi saat tersenyum, dia semakin manis. Jadi aku tidak heran melihatmu begitu menginginkannya. Sepertinya dia juga gadis yang baik. Kapan ya aku bisa mendapatkannya?”
Seketika mataku melotot mendengar sederet kalimat yang Jey ucapkan. “Maksudmu apa? Apa kau sedang mencari masalah denganku?”
Jey hanya terkekeh melihatku kesal, yang tengah menatap nyalang dirinya. “Aku hanya menyampaikan kalimat terakhir itu dari seseorang yang tidak sengaja aku dengar. Maka dari itu aku memperingatkanmu. Jika kau tidak ingin kehilangannya, kau harus lebih peka dengan sekitar, karena dunia ini tidak hanya milik kalian berdua. Ada aku, ada barista, ada tukang parkir, dan sebagainya.”
“Sialan!” Aku melempar Jey dengan tisu yang tadi dia lempar ke arahku dan dia hanya tertawa karena berhasil menggodaku.
Tugas otak ini bertambah. Hubungan belum dimulai. Tentang Sora pun belum terpecahkan, ini malah mendapat saingan. Bahkan tugas kuliah yang harus dikumpulkan lusa pun baru setengah yang aku selesaikan.
Astaga!
Tiba-tiba kepalaku berdenyut hebat. Namun, aku berusaha untuk tetap tenang seperti biasanya. Perhatianku teralihkan sejenak saat melihat notifikasi yang bertengger di barisan paling atas. Aku langsung memeriksanya. Beberapa saat aku lupa tentang apa yang membuat pikiran ini menjadi pelik. Tanpa sadar kedua sudut bibirku terangkat.
“Aku semakin merinding melihatmu seperti ini.”
Mendengar komentar Jey aku pun menengadahkan kepala. Seketika aku sadar jika aku masih di tempat yang sama bersama orang yang sama. Aku berusaha agar senyum ini tenggelam kembali. Namun, ini sulit. Bahkan Jey mulai menggerutu tentang seorang wanita.
“Sepertinya aku juga harus mencari seorang gadis,” keluhnya.
Aku hanya membiarkan Jey dengan ponselnya karena aku pun sibuk dengan ponselku sendiri. Sampai akhirnya malam semakin larut yang menyuruh kami untuk segera pergi dari coffee shop ini.
Aku tidak sabar bertemu dengannya besok.
***
Jadwal kuliah untuk hari ini cukup padat. Namun, aku masih berusaha menemui Sora meski hanya untuk beberapa menit sebelum aku kembali ke kelas. Aku melihat Sora tengah berjalan bersama seseorang di lorong yang lain. Aku pun bergegas untuk menghampiri.
“Sora!” panggilku saat jarak kami kurang dari lima langkah.
“Eza, kau di sini. Apa kelasmu sudah selesai?” tanya Sora.
“Iya, beberapa menit yang lalu, tapi aku masih memiliki jadwal sekitar sepuluh menit lagi.”
“Ah, begitu.”
Tiba-tiba orang yang bersama Sora pun membuka suara. Dia seorang pria yang entah dari jurusan mana.
“Sora, kita bisa terlambat.”
“Baiklah.” Sora pun beralih padaku. “Eza, maaf. Sepertinya aku harus pergi. Kita bertemu lagi nanti.”
“Ah, baiklah. Kita bisa berkabar.”
“Tentu.”
Entah kenapa aku merasa tidak suka dengan orang yang bersama Sora. Bahkan aku merasa sikap baiknya yang dia tunjukkan padaku cukup janggal. Seperti ada niat yang terselubung.