"Kath!" Ben turun dari mobilnya dan bergegas menghampiri Kath.
"Apa yang terjadi?"
"Mereka membawa teman-temanku Ben! Mereka.."
"Mereka? Siapa maksudmu? Aku tidak mengerti."
"Cepat! Kau harus melihatnya." panik Kath seakan hendak menangis.
Situasi asrama tampak begitu sepi, asrama dengan beberapa lantai, kamar-kamar terpisah dengan banyak lorong, tampak begitu menakutkan, belum lagi tidak banyak yang tinggal di asrama itu.
Kamar Kath berada di lantai tiga, dan Ben dengan cepat berjalan menaiki tangga ke dua dengan mengendap-ngendap diikuti Kath di belakangnya. Kath menyadari Ben yang dengan percaya diri menaiki tangga ke dua untuk ke lantai tiga sedangkan Kath belum memberitahunya.
"Ben.." Kath berbisik, Ia tak mau penghuni kamar lain menyadari ada seorang pria di asrama.
"Ya?"
"Bagaimana kau tahu kamarku ada dilantai tiga?"
Ben tertawa lirih, "Bagaimana aku tahu Kath, bukankah dari tadi aku hanya terus berjalan, tapi kau tidak menghentikan langkahku, ku pikir kamarmu masih berada di atas."
"Oh.. Maaf, aku pikir kau mengetahuinya."
"Jika saja kau tidak mengatakan padaku, mungkin aku akan menaiki tangga selanjutnya."
"Maaf-"
"Tidak masalah, kamar yang mana?"
"Sebelah kanan."
"Itu?" Ben menunjuk pada sebuah kamar dengan pintu terbuka.
Kath mengangguk.
"Baiklah.. Ayo."
Ben membuka pintu kamar Kath semakin lebar.
"Ayo masuk!"
"Kau yakin tidak ada siapapun di dalam?"
"Meskipun mereka ada di dalam, saat kau datang dan pergi menungguku, ku yakin mereka sudah meninggalkan tempat ini."
"Maaf, aku hanya terlalu takut."
Ben dan Kath masuk ke dalam kamar, dan dengan segera Ben menutup pintunya.
"Di mana lampunya?"
"Di sampingmu." jawab Kath.
Ben meraih saklar dan menyalakan lampu kamar Kath. Ruangan kamar Kath terlihat berantakan, sangat berantakan, bahkan terdapat tulisan di sebuah kaca.
'Vampir, teman-temanmu ada pada kami!'
"Kau lihat? Mereka membawa Kak Nad dan Lisa.. Mereka tidak ada di sini saat aku pulang, seharusnya mereka sudah kembali."
"Kau tidak coba menghubungi mereka?"
"Entah kenapa nomornya tidak dapat ku hubungi, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana jika mereka melukai teman-temanku? Apa sebaiknya kita lapor polisi saja?"
"Tenanglah, jangan khawatir. Aku akan membantumu, akan semakin rumit jika kita melaporkan masalah ini pada polisi."
"Apa kau belum melaporkan mereka ke polisi?"
"Aku sudah melaporkan kejadian kemarin malam, aku tidak tahu apakah polisi sudah menangkap mereka atau belum, tapi percayalah aku akan membantumu."
"Kita harus meminta tolong, kita tidak akan dapat menangani hal ini hanya berdua saja." Kath terlihat begitu risau.
"Tenanglah Kath, aku akan meminta pendapat Jennifer, kita akan pergi kerumahnya."
"Apa dia dapat membantu?"
"Aku tidak yakin, tapi mungkin dia bisa membantu."
Kath menerima saran Ben dan mereka pergi ke rumah Jennifer.
-
-
Sesampainya, dapat mereka lihat rumah Jennifer yang begitu gelap dari luar, tak ada cahaya sedikitpun dari dalam rumahnya.
"Apa dia ada di dalam?"
Ben tak menjawab pertanyaannya dan langsung turun membuka pintu gerbang rumah Jennifer lalu memasukan mobilnya.
"Kau mau tetap di sini?"
"Tidak, aku ikut bersamamu." Kath mengikuti Ben di belakangnya.
Ben membuka pintu rumah Jennifer yang tidak terkunci, tapi pria itu tidak segera masuk, Ia berdiri terdiam di sana seperti sedang merasakan sesuatu.
"Ben.. Ada apa?" Kath merasa penasaran dengan apa yang Ben lakukan.
"Ssstt.." Ben meminta Kath untuk diam, Kath menjadi gelisah.
Ben masuk perlahan sambil memperhatikan keadaan rumah Jennifer, tiba-tiba Ia berjalan ke arah tangga dan menaiki tangga dengan cepat. Kath tak dapat mengimbangi langkah Ben dan terjatuh di tangga, beruntung Ia baru menaiki beberapa anak tangga.
Mengetahui Kath yang terjatuh tampaknya itu tak mempengaruhi Ben yang terus saja menaiki tangga tanpa menghiraukan Kath, membuat gadis itu merasa kesal, bagaimana mungkin dia tak peduli, Kath harus bangun sendiri jika tak mau Ben meninggalkannya.
Kath segera berdiri dan berlari mengikuti Ben, tapi lagi-lagi Kath tersandung permadani besar yang ada dilantai atas. Rumah Jennifer sangat besar dan lantainya beralaskan permadani lembut, Kath bisa merasakannya saat Ia terjatuh, bagaimana bisa Ben berjalan tanpa bantuan cahaya sedikitpun, Kath bahkan kehilangan Ben karena di lantai atas begitu gelap.
Kath meraih ponsel di jaketnya dan menyalakan flash ponselnya, sedikit cahaya cukup membantu Ia berjalan di kegelapan itu. Kath melihat beberapa kamar di sana, kamar dengan ruangan yang cukup besar, dan Ia melihat Ben berdiri tepat di depan kamar dengan pintu terbuka.
"Bisa kau matikan ponselnya??" nada bicara Ben sedikit kesal.
Tanpa menjawab Kath mematikan flash ponselnya dan mendekati Ben, setidaknya dirinya tahu dimana posisi Ben.
Pria itu seperti memandang ke arah kasur besar di dalam kamar, kasur yang begitu besar dan tampak seperti ada sebuah benda di atas kasur, mungkin seekor anjing yang sedang tidur, apakah wanita dingin seperti Jennifer memelihara anjing?
Kath memperhatikan dengan teliti, tiba-tiba Ben yang ekspresif terlihat lemas sambil mendekati kasur itu membuat Kath semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi, itu tidak mungkin anjing pikirnya, apa itu manusia? Apa itu Jennifer?
Kath kembali mengambil ponsel dan menyorotkan layarnya ke arah kasur.
Tidak! Itu bukanlah seekor anjing, tapi itu adalah Jennifer! Ya, Jennifer yang ada di atas kasur tersebut.
Terkesiap, apa benar yang tengah dilihatnya? Jennifer tergeletak disana, tubuhnya seperti terbakar, dia sudah menjadi jasad, jasad yang terbakar. Kath dapat melihat mulutnya yang terbuka, dan beberapa siung bawang putih ada di mulutnya.
Ben menoleh pada Kath, tapi wajahnya sudah berubah menjadi lebih menakutkan, tampak seperti Ben memiliki taring di giginya. Gadis itu sangat ketakutan, ingin rasanya Kath berteriak untuk meminta tolong tapi suaranya tercekat dan Ia ingin sekali berlari tapi seketika lututnya terasa lemas.
Benarkah? Benarkah Ben adalah vampir? Pria yang Ia percaya adalah vampir?
Kath begitu terkejut hingga menjatuhkan ponselnya, Ia berusaha untuk melarikan diri tapi dengan gerakan cepat Ben sudah menahan tubuhnya di tembok hingga tak ada jarak di antara keduanya, bahkan Kath dapat merasakan nafasnya yang begitu dingin.
Kath memejamkan matanya, Ia berpikir bahwa Ben akan benar-benar menerkamnya seperti mangsa, meski Kath ingin tahu apakah pria itu memang memiliki taring, tapi Ia tak punya keberanian untuk menatapnya.
"Ku mohon jangan sakiti aku.." Kath ingin sekali menangis tapi Ia tak mungkin menangis dalam keadaan seperti itu.
"Aku tak akan menyakitimu Kath."
"B-benarkah?" Kath masih enggan menatapnya.
"Apa kau bisa mempercayaiku?"
Kath membuka matanya dan menatap ke arah pria di hadapannya, wajahnya yang tadi menakutkan kini kembali tampan, hanya saja matanya masih menyiratkan kemarahan.
"Kau pembohong," ucap Kath reflek, "Apa jaminannya aku percaya padamu?"
"Kita temukan pelakunya bersama."
"Kau sudah membohongiku berkali-kali. Bagaimana aku bisa percaya padamu Ben??"
"Aku bisa saja menghisap darahmu, tapi kau sudah menolongku saat itu, jadi kali ini aku akan menolongmu."
"Jika aku tahu kau adalah vampir, aku bersumpah tidak akan membantumu!"
Ben tertawa kecut, "Semuanya telah terjadi, pada kenyataannya kau telah membantu pria vampir yang mungkin saja bisa menyakitimu."
"Kau b******k Ben! Hilangnya teman-temanku adalah di sebabkan karena aku telah menolong pria vampir sepertimu."
"Jangan menyesalinya, apa jaminan mereka akan meloloskanmu? Kau sungguh-sungguh percaya pada mereka?"
"Mereka akan meloloskanku karena aku bukanlah vampir."
"Tapi dia mengancammu dengan menculik teman-temanmu, mereka tidak benar-benar percaya padamu Kath."
Kath terdiam sejenak memikirkan ucapan Ben.
"Jadi bagaimana dengan tawaranku? Apa kau akan menerimanya?"
"Apa kau tidak akan menyakitiku?"
"Aku berjanji kau tak akan menjadi santapanku jika kita bekerja sama, namun aku tak jamin kau aman jika kau menolaknya." ujar Ben lebih kepada mengancamnya.
Kath mengangguk, "Baiklah.."
"Baiklah, kita sepakat."
Sebenarnya Kath enggan bekerja sama dengan pria vampir penghisap darah seperti Ben, resikonya akan begitu besar, tapi mau bagaimana lagi, demi teman-temannya dan demi keselamatannya terpaksa Kath menerima tawaran Ben.
Ben melepaskannya dan mengambil ponsel Kath yang terjatuh dan memberikannya pada Kath.
"Bantu aku."
"Apa yang harus aku bantu? Kau tidak akan memintaku memegang jasad Jennifer bukan?"
"Meski aku memintanya kau harus melakukannya."
"Jangan buat aku melakukan hal yang menjijikkan."
"Diam saja dan dengarkan kata-kataku! Sekarang bisa kau ambilkan beberapa selimut di lemari??" kesal Ben.
Tanpa menolak Kath menuju lemari besar setinggi atap dan mencari beberapa selimut di dalamnya dan memberikannya pada Ben.
Ben membalut tubuh Jennifer dengan beberapa selimut tebal sampai jasadnya tak terlihat sedikitpun. Lalu Ia menggendong tubuh Jennifer dan meletakannya di luar kamar.
"Bantu aku arahkan flash ponselmu." Kath mengikuti semua yang Ben minta.
Ben mengambil sisa bawang putih yang tertinggal dikasur dan sebuah salib. Ben meletakan jadi satu pada sobekan baju tidur Jennifer dan menggulungnya.
"Pegang ini."
"Aku tidak mau!" tolak Kath.
"Ini tidak kotor, pegang saja dengan benar." yakin Ben.
Menjijikkan, Kath memegang buntalan bawang dan salib dengan sangat terpaksa.
"Tetap saja, menjijikkan." gerutu Kath.
Kath memperhatikan Ben yang sibuk membersihkan kasur itu, tampak seperti Ben ingin menghilangkan jejak Jennifer sebagai vampir.
"Ayo jalan!"
Ben mengangkat jasad Jennifer dan menggendongnya di kedua tangannya, kemudian dengan cepat Ia berjalan ke bawah, membuat Kath lagi-lagi tertinggal.
"Bisa kau pelankan langkahmu??" Kath benci melihat Ben yang meninggalkan dirinya jauh di belakang. Ben hanya tertawa lirih, Kath tahu jika pria itu pasti menertawakannya.
Ben membuka pintu mobil bagian penumpang dan menaruh jasad Jennifer di sana.
"Cepat naik!"
"Di sana?" tunjuk Kath pada kursi belakang yang belum sempat Ben tutup.
"Aku tidak menyuruhmu untuk duduk di belakang, jika kau mau duduk di sana, silahkan saja."
Kath menghentakkan kakinya tanpa sepengetahuan Ben, lagi-lagi Kath membuat pria itu menertawakannya.
Kath lebih memilih diam daripada harus berdebat tak jelas dengan pria dingin sedingin es itu. Dengan kesal Ia segera memasuki mobil dan duduk di sebelah kemudi. Sedangkan Ben menutup pintu rumah Jennifer dan membuka gerbang rumahnya lalu mengeluarkan mobil.
"Bisa kau turun dan tutup gerbangnya?" Ben menggoda.
Kath menoleh dengan sinis membuat pria itu kembali tertawa.
"Kau sangat berani, setelah tadi memohon padaku untuk tak menyakitimu."
Ingin rasanya Kath memukul dan menarik rambut pria paling mengesalkan itu.
"Kemana kita akan pergi?" tanya Kath setelah keduanya diam beberapa saat.
"Aku akan mengubur jasad Jennifer terlebih dahulu."
"Mengubur?"
"Apa kau pikir para Vampir juga tidak layak dikubur setelah mereka mati?"
"Entahlah, bagaimana aku tahu, jadi tidak masalah jika aku bertanya padamu."
"Bukankah sudah jelas aku akan menguburnya."
"Bisakah kau tidak membuatku marah karena setiap jawabanmu itu membuatku kesal."
Ben terkekeh, "Sungguh? Jika begitu sebaiknya tidak usah banyak bertanya." lanjutnya.
Kath melirik ke arahnya dengan tajam. Sangat menyebalkan!
"Tunggu di sini." Pria itu menghentikan mobilnya di depan sebuah minimarket.
"Aku ikut." tidak mungkin dia harus menunggu di mobil bersama jasad Jennifer, pikirnya.
"Baiklah.. Kau mau makan sesuatu?" lanjut Ben.
Kath hanya berjalan dan tak menghiraukan Ben, Ia masih merasa kesal padanya, sedangkan Ben mengikutinya di belakang.
"Ambilah beberapa makanan." ujar Ben.
"Mengapa harus makan makanan instan?" gerutu Kath lirih, "Apa dia tidak punya uang untuk membayar."
Kath mengambil beberapa makanan, dan menaruhnya di kasir.
"Hanya ini? Kau tidak mau yang lain?"
Kath hanya mengangkat bahu, malas untuk merespon.
"Kau benar-benar akan menghabiskan ini semalaman?" tanya Ben mencoba menggoda Kath yang meletakkan begitu banyak makanan di meja kasir.
"Terserah padaku." ketus Kath.
"Tampaknya kekasihmu gagal untuk diet." celetuk pria penjaga kasir membuat Ben tertawa, Kath yang sedang berjalan keluar, sedikit mendengar ucapannya.
"Apa mereka pikir aku gemuk?? Menyebalkan! Kekasih? Dia mengira aku kekasihnya??" Kath tertawa kecut.
Di luar, Kath duduk di sebuah kursi di depan mini market, segar rasanya menghirup udara malam. Ia memandang mobil Ben yang mewah itu, tak seorang pun tahu ada jasad vampir di dalamnya, membuatnya tak berani memandang mobil itu terlalu lama.
"Ayo!" Ben mengejutkannya.
Kath berjalan ke arah mobil mengikuti Ben. Sesampainya, pria itu meletakan belanjaan mereka di kursi belakang dekat dengan jasad Jennifer.
"Haruskah kita menyimpan makanan itu di sana?"
"Baiklah, jika kau keberatan." Ben mengambil kantong plastik belanjaan mereka dan menyimpannya di depan. Pria itu mengambil minuman botol dan memberinya pada Kath.
"Kau mau memaafkanku?"
Kath menoleh pada pria itu membuat keduanya saling menatap, "Kau bersikap terlalu menyebalkan." ucap Kath.
"Aku tahu.. Jadi tolong maafkan aku."
"Tidak perlu meminta maaf, kau tidak harus bersikap baik padaku." Kath memalingkan wajahnya.
"Bukankah kita rekan?"
"Rekan? Ya, kau sangat tahu jika aku hanya terpaksa melakukan ini denganmu."
"Ku mohon.."
Ben memang pandai dalam merayu seorang wanita, persis seperti ketika dia membuat Kath terhipnotis oleh kepolosannya hingga membuat Kath luluh dan membantunya lolos dari binatu. Bahkan disaat suasana hatinya begitu buruk disebabkan pria itu, justru dialah yang membuat perasaannya tiba-tiba membaik, hanya dengan memohon.
Kath meraih minuman ditangan Ben dan meminumnya.
"Terimakasih.." ucap Ben manis dan mulai melajukan mobilnya.
"Bagaimana sekolahmu?"
"Cukup baik."
"Bagaimana dengan kabar ayah dan ibumu?"
"Mereka baik, sudah dua hari aku tidak menghubungi mereka."
"Di mana mereka tinggal?"
Kath menoleh pada Ben, merasa heran dengan sikap so' perhatiannya yang tiba-tiba.
"Kenapa? Kau tak percaya padaku?"
"Mereka tidak tinggal di sini." jawab Kath memutus kecurigaan Ben.
"Lalu kau di izinkan untuk sekolah di sini?"
"Ya, aku tinggal dengan kakak perempuanku."
"Kakak perempuan, dimana Ia tinggal?"
"Melbourne.."
"Ku pikir Sidney."
"Lalu di Indonesia, dari mana kau berasal, Ben?" tanya Kath pada pria yang tengah mengemudi dengan begitu santai.
"Ibukota."
"Bagaimana dengan kedua orangtuamu?"
"Sama seperti kedua orangtuamu, mereka tinggal di Indonesia."
"Kau hanya tinggal berdua dengan Jennifer di sini?"
"Hmm.. Begitulah."
"Lalu, mengapa mereka mengejarmu?"
"Maksudmu Wesley?"
"Pemilik binatu?"
"Namanya adalah Bernardo Wesley.. Dia pemilik binatu, dan yang lainnya adalah anak buah pria itu."
"Apakah mereka memang pemburu vampir?"
"Ya, tepat."
"Dan mereka mengetahui bahwa kau adalah vampir?"
"Ini adalah tentang dendam mereka pada vampir, satu temannya menjadi korban vampir dan tak selamat, mereka menjadi gila dengan menangkap semua orang yang berkeliaran di malam hari, mengira mereka adalah orang-orang yang akan berubah menjadi vampir dan terbakar ketika matahari terbit."
"Mereka berpikir semua orang adalah vampir?"
"Kurasa begitu."
"Lalu bagaimana denganmu? Apa mereka mengenalmu sebelumnya?"
"Entahlah, aku hanya sedang menetap di Australia beberapa hari untuk suatu pekerjaan."
"Seperti yang kau katakan padaku?"
"Ya, aku tidak bohong padamu.. Suatu malam aku mengalami kecelakaan, rem mobilku tidak berfungsi dan aku menabrakkan mobil ke sebuah pohon besar."
"Lalu?"
"Keadaan jalan begitu sepi di malam hari, tak ada seorangpun yang mengetahui aku terbaring di sana. Bahkan aku tak merasakan kakiku." lanjutnya.
Mendengar penjelasan Ben membuat Kath merasa sedih untuknya, kasihan sekali, pikirnya.
"Sebuah mobil melewati tempat dimana aku mengalami kecelakaan, dan aku melihat seorang wanita keluar dari dalam mobil itu."
Jennifer, tebak Kath.
"Dia adalah Jennifer." Benjamin menoleh pada Kath sejenak, dan kembali fokus pada laju mobilnya.
"Jennifer memangku kepalaku, disaat aku merasa tak memiliki harapan untuk hidup, aku merasakan diriku sedang sekarat, aku merintih memohon padanya untuk menolongku." suara Ben sedikit berat, terdengar seperti hendak menangis.
"Lalu Jennifer membisikanku sesuatu.. 'Sudah terlambat untuk hidup, kau kehabisan banyak darah, maukah ku tukar dengan kehidupan yang baru?' Aku masih sangat mengingat ucapannya.."
Kini Kath tahu alasan Ben begitu memikirkan wanita yang kini tak bernyawa itu, Ia kini tahu alasan Ben terikat pada Jennifer hingga tak dapat meninggalkannya.
"Jadi, apakah dia menggigitmu?"
"Aku pikir aku masih terlalu muda untuk mati, jadi aku menerima tawarannya."
"Apa kau tahu dia akan menjadikanmu vampir?"
"Dia bertanya padaku apakah aku dapat menerima segala konsekuensinya, dan aku menyanggupi persyaratannya itu."
"Jadi itulah mengapa kau merasa sangat berhutang budi padanya?" Kath menolah pada Ben, wajah pria itu tampak sendu.
Ben mengangguk.
"Bagaimana bisa kau tidak mati?"
"Kau pikir semua korban vampir akan mati setelah kami hisap darahnya?"
"Bagaimana aku tahu?"
"Tidak semua, tergantung bagaimana kami menggigitnya."
"Lalu bagaimana dengan keluargamu?"
"Jennifer membakar mobilku, dan sampai saat ini keluargaku mengira aku sudah mati."
Mata Kath berkaca-kaca, kasihan sekali keluarganya, mereka bahkan tidak tahu kalau Ben saat ini hidup sebagai vampir.
"Itulah mengapa kau datang menemuiku setelah matahari hampir terbenam?"
"Ya.. Kau tahu alasannya."
"Tapi sore tadi saat kau datang matahari tidak benar-benar tenggelam."
"Entahlah, aku masih bisa menahan panas sinar matahari, hanya saja aku tidak dapat berlama-lama menahan rasa panasnya karena tubuhku bisa saja terbakar."
"Jadi intinya kalian dapat keluar saat pagi, siang atau saat sore, hanya saja kalian tidak dapat terkena matahari terlalu lama. Begitukah?"
"Hmm.. Pandai."
"Lalu untuk apa bawang putih itu?"
"Mereka menahan tubuh vampir di bawah sinar matahari, kau tahu rasanya akan sakit sekali meski aku tidak pernah mengalaminya, dan mereka menyumpal mulut vampir dengan beberapa bawang putih yang membuat mulut kami terasa panas, sehingga vampir tidak dapat berteriak kesakitan."
Kath membayangkan bagaimana ketika mereka melakukan hal itu pada Jennifer. Ben pasti sangat sedih saat ini.
"Jadi saat ini, kau menyimpan dendam pada mereka?"
"Vampir dan manusia sama saja, mereka memburu vampir untuk melindungi manusia yang lainnya, dan begitu pula vampir, kami memburu darah manusia untuk bertahan hidup."
"Kau tidak menyalahkan Wesley?"
"Mereka tidak tulus melakukan itu, mereka merekam dan menyebarkan video-video ketika mereka menyiksa sebangsa kami, mereka menjual hasil video mereka dan membuat dokumenter, aku tidak suka cara mereka." Ben terlihat emosional saat menjelaskan tentang apa yang Wesley lakukan.
"Bodoh sekali, aku tidak tahu kalau mereka telah mengikutiku dan berniat menyakiti Jennifer." Ben memukul setir mobil, Ia seperti sangat menyesali dirinya yang tidak tahu akan hal itu.
"Aku turut bersimpati untukmu." ujar Kath.
Suasana hening sesaat.
"Bolehkah aku bertanya lagi?" tanya Kath.
"Ya, silahkan saja.."
"Berapa umurmu Ben?"
"Umurku?"