"Bisa kau menebaknya?"
"Kemarin kau bilang padaku bahwa umurmu sama denganku, apakah kau menjadi vampir saat umurmu 22 tahun?"
"Sebenarnya, tidak." dapat Kath lihat pria di sebelahnya ini tertawa lirih.
"Aku sudah menebaknya, kau berbohong tentang umurmu."
Ben kembali tersenyum.
"Lalu, berapa sebenarnya?"
"29 tahun."
"29?"
"Tahun ini aku berumur 29 tahun Kath, aku menjadi vampir di umurku yang ke 25."
"Jadi kau dan Jennifer menjalin hubungan selama 4 tahun?"
"Tepat sekali."
"Tapi wajah kita--" Kath melihat wajah Ben tampak seumuran dengannya.
"Itu karena vampir tidak akan menua."
Kath terkejut, "Kau tidak akan menjadi tua?"
"Rambut kami bertambah panjang setiap hari, tapi wajah kami tidak akan berubah."
"Kalian tidak akan menjadi tua? Jadi itu alasan kau terus terlihat muda."
"Seperti yang kau pikirkan."
"Apakah kau mencukur rambutmu setiap hari?"
"Ya, eumh.. Mungkin 2-3 hari lalu aku baru mencukurnya."
"Ini benar-benar aneh."
"Tidak akan masuk akal jika kau memikirkannya."
"lalu berapa umur Jennifer?"
"43 tahun."
"Dan dia tidak pernah menjadi tua?"
"Tidak akan, tidak ada perbedaan antara aku dan vampir yang lainnya."
"Jika begitu berarti umurnya sudah 47 tahun."
Ben tertawa, "Kau yakin dia baru menjadi vampir saat bertemu denganku?"
"Maksudmu umurnya lebih dari itu?"
"Dia sudah belasan tahun menjadi vampir sebelum dia bertemu denganku."
"Sungguh? Kau berkencan dengan wanita seumur ibumu?"
"Lalu kau ingin aku berkencan dengan wanita sepertimu?"
"T-tidak begitu maksudku.."
"Awalnya ku pikir aku tidak akan dapat menikmati hubunganku dengan Jennifer, aku menyetujui hidup dengannya dengan keterpaksaan.."
"..tapi ternyata, Jennifer mampu membuatku mencintainya juga, meski di luar dia dingin, dia adalah wanita yang cukup baik, hanya saja naluri kami sebagai pemangsa darah manusia tidak luput membuat kami menjadi jenis makhluk yang mengerikan."
"Kau tentu mengenal begitu 8banyak vampir."
"Ya.. Biasanya vampir memiliki sebuah perkumpulan, kami terkadang mengadakan pesta di sebuah tempat."
"Pesta? Apakah itu seperti.."
"Kami tidak berpesta meminum darah manusia." Ben tampak tahu apa yang Kath pikirkan.
"Hanya minuman, dan wanita." lanjutnya.
"Seperti manusia normal pada umumnya?"
"Kami terkadang membicarakan hal-hal yang tidak penting, bahkan hingga bertukar pengalaman tentang darah terenak yang pernah kami minum."
"Darah manusia? Oh, cukup." Kath merasa jijik mendengarnya, sedangkan pria di sebelahnya ini hanya tertawa lirih.
"Lalu bagaimana dengan malam ini, apa kau tidak lapar?" Kath bertanya seolah apakah Ben sedang membutuhkan darah manusia saat ini.
"Sebenarnya kami dapat bertahan selama 3 hari."
"Setelah meminum darah?"
"Tentu.." Ben menoleh pada Kath memperlihatkan raut wajah menggodanya.
"Lalu kapan terakhir kali kau menghisap darah manusia?"
"Seperti yang mereka katakan, sebelum mereka menangkapku, aku baru saja menghisap darah manusia."
"Sungguh? Jadi apa mereka tak sengaja melihatmu tengah menghisap darah?"
"Sebenarnya tidak... Mereka menangkapku karena berpikir aku membuntuti seseorang, padahal aku hanya bersepeda. Aku tidak bohong dengan itu."
"Lalu bagaimana dengan korbanmu?"
"Mereka akan mati untuk beberapa saat, dan bangkit lagi sebagai vampir."
"Itu berarti sudah dua hari?"
"Ya dan besok lebih tepatnya."
"Syukurlah.." Kath tak sengaja mengatakannya membuat Ben menyeringai.
"Maksudku--"
"Tenang saja, aku bisa mengontrol diriku, jangan khawatir."
"Sungguh?"
"Aku bisa jamin." yakinnya.
Mereka berdua sampai disebuah jalan yang cukup sepi.
"Di mana kita sekarang?"
"Ini adalah tempat di mana aku mengalami kecelakaan."
"Di tempat ini?" Kath tak bisa melihat dengan jelas karena tak ada cahaya sedikitpun, hanya lampu sorot dari mobil yang menerangi jalan.
"Tempat ini lebih tepat di sebut hutan." ujar Ben.
Menakutkan, pantas saja tak ada seorangpun yang menolong Ben saat Ia mengalami kecelakaan, tentu banyak vampir ditempat seperti ini, resah Kath.
"Kita turun!"
Kath meraih tangan kanan Ben yang masih memegang setir.
"Kau akan menguburkan jasad Jennifer disini?"
"Apa ada masalah?"
"Di tempat seperti ini?"
"Kau pikir aku akan menguburkan Jennifer di pemakaman umum?"
"Tapi tempat ini sangat menyeramkan, bagaimana jika--"
"Jika ada vampir?"
"Ya.."
"Kau benar, ada vampir disini."
"Benarkah?!" Kath terkejut dengan polosnya, Ia menggenggam lengan Ben dengan begitu kuat.
Ben terkikik, "Kau lupa aku adalah vampir?"
"Tapi bagaimana jika ada vampri lain? Bagaimana jika mereka menginginkanku?"
"Mereka harus berhadapan denganku." ujar Ben sambil membuka pintu mobil.
"Kau akan tetap di sini?"
"Aku tidak akan ikut bersamamu."
"Kalau begitu aku tidak bisa melindungimu."
Ben mengangkat jasad Jennifer ditangannya.
"Kau yakin tidak akan ikut bersamaku?"
"Tidak, aku berubah pikiran.. Izinkan aku ikut."
"Bagus. Bawakan korek api dan bensin itu." Kath menuruti perkataan Ben.
Kath membawa jeligen berisi bensin, dan korek api di tangannya, Ia mengikuti Ben yang berjalan cepat di kegelapan, bahkan mereka tidak memakai alat penerangan apapun, Ben seolah tak kesulitan sedikitpun berjalan di dalam gelap. Sedangkan Kath susah payah mengikuti Ben yang berjalan terlalu cepat, Kath memegang jaket bagian belakang Ben agar tak kehilangan arah.
Sesekali Ben menghentikan langkahnya, seperti sedang merasakan sesuatu. Apakah dia merasakan kehadiran vampir lain? Kath menjadi semakin waspada saat Ben hanya berdiri terdiam.
"Tetap berada di dekatku." Ben mengingatkan Kath.
"Ya."
Kath berusaha mengikuti Ben yang berjalan terlalu cepat, dan tetap waspada karena bisa saja dia tersandung sesuatu.
"Ahk!" baru saja Kath bergumam, Ia benar-benar jatuh karena tersangkut ranting-ranting kering, celana jeans-nya sedikit robek dan kakinya terluka di bagian betis. Bagi Kath itu begitu sakit.
Ben terkejut dan memperhatikan Kath yang berusaha berdiri.
"Kau baik-baik saja?" Ben mengkhawatirkan Kath yang masih meringis menahan sakit.
"Ya.. Jangan khawatirkan aku." Kath mencoba berdiri perlahan.
Luka di betisnya sebenarnya cukup lebar dan membuat darah menetes dan merembes di celana jeans-nya.
"Tunggu.." Ben meletakan Jasad Jennifer di tanah.
"Julurkan kakimu." perintahnya.
"A-apa yang akan kau lakukan?"
Ben berlutut dan melihat keadaan kaki Kath, Kath bahkan tak dapat melihat jelas ke kakinya karena tempat itu begitu gelap.
"Kau bisa menarik perhatian vampir jika membiarkan darahmu menetes."
"B-benarkah? Apakah penciuman vampir memang setajam itu?" Kath tampak panik.
Tanpa persetujuan Kath, tiba-tiba saja Ben menjilat darah di betis Kath dan dapat Kath rasakan jika pria itu mengecup lukanya.
"He-hey!" Kath terkejut karena Ia hanya dapat merasakannya saja.
"Apa kau menjilatnya? Ben?!"
"Setidaknya darahmu tak terbuang sia-sia." Ben tertawa lirih, "Itu tidak akan menarik vampir-vampir bukan?" lanjutnya.
Jantung Kath berdegup kencang, seolah tak percaya dengan yang Ben lakukan padanya. Ia masih merasa takut kalau-kalau pria itu akan menggigitnya.
"Aku tidak mungkin melukaimu, Bangunlah." Ben meraih tangan Kath dan membantunya berdiri.
"Bukankah rasanya tidak begitu sakit?" tanyanya.
Kath merasakan keanehan pada kakinya, lukanya tiba-tiba tidak sesakit tadi.
"Ya."
Ben mengangkat tubuh Jennifer kembali, "Jangan lepaskan peganganmu."
Mereka berjalan lagi, kali ini sedikit lebih pelan karena Kath tak dapat berjalan cepat seperti sebelumnya.
Kath tidak ingat berapa lama Ia sudah berjalan, Ia merasa lelah, beruntung Ben berhenti, pria itu meletakan tubuh Jennifer lagi di tanah.
"Tetap disini." itu berarti Kath harus melepaskan pegangannya pada jaket Ben.
"Kau?"
"Tunggulah.."
Ben menghentak-hentakan kakinya, Ia seperti mencari tanah yang lunak. Setelah mendapatkan tempat yang cocok, Ia menggali tanah yang lunak dengan sebuah ranting dan tangannya.
Kath berdiri tepat disebelah tubuh Jennifer, dan tak sengaja kakinya menyentuh tubuhnya. Kath terkejut dan mundur satu langkah menyadari Ia sangat dekat dengan jasad itu. Ia menunggu beberapa menit sampai Ben selesai menggali.
"Bantu aku membuka selimutnya."
"A-aku tidak mau." Kath menolak.
"Baiklah, biar aku lakukan sendiri."
Selesai membuka selimut yang membalut tubuh Jennifer, Ben menggelar sebuah sprei bersih milik Jennifer, dan membalut tubuhnya lagi dengan sprei itu.
"Kau akan menguburnya sekarang?"
"Tunggulah.." suara Ben terdengar lemas, sepertinya Ia begitu sedih karena harus menguburkan jasad Jennifer.
Kath hanya diam dan menunggu, karena Ia sama sekali tak dapat melihat apa yang Ben lakukan. Kath merasa penasaran dan mengambil ponsel dari kantongnya. Ia tak menyalakan flash hanya mengarahkan layar ponsel mencari dimana Ben berada, dan Ia menemukannya. Pria itu berdiri terdiam sesaat dengan jasad Jennifer yang Ia angkat. Lalu Ia menaruhnya di tanah yang sudah Ia gali, lumayan dalam dan aneh melihat Ben bisa menggali tanah itu hanya menggunakan ranting dan tangannya.
Setelah meletakan jasad Jennifer, Ben berlutut dan terdiam lagi. Apa Ia sedang berdoa? Apakah vampir juga berdoa? Kath terus saja bertanya-tanya.
Ben menimbun jasadnya dengan tanah dan meratakan tanahnya lagi, setelahnya Ia berjalan ke arah Kath.
"Simpan ponselmu, aku sudah selesai."
"Apa kau baik-baik saja?" Kath menyadari wajah Ben yang sendu.
Ben yang terlihat sedih tersenyum manis pada Kath, "Aku baik-baik saja."
-
-
"Tetap dekat." Kath memegang jaket Ben dengan erat.
Ben berjalan memutar sambil membuang satu sprei dan membakarnya, lalu berjalan lagi sedikit jauh dari tempat Ia membuang sprei yang pertama, dan Ben membakarnya lagi.
"Untuk apa kau membakarnya?"
"Menghilangkan jejak." ujar Ben.
Sisa satu selimut yang ternyata tidak Ben buang.
"Kau tidak membuangnya?"
"Kita membutuhkan ini."
"Selimut?"
"Ya."
"Tapi untuk apa?"
"Kau akan tahu nanti."
"Berikan tanganmu." Ben menjulurkan tangannya pada Kath.
"Eh, ya.." Kath merasa bingung tapi Ia mengerti bahwa Ben akan menggenggam tangannya.
Ben merasakan tangan kath yang dingin.
Tapi sebaliknya Kath terkejut saat Ben memegang erat tangannya, karena tangan Ben lebih dingin seperti es.
"Apa kau kedinginan?"
"Ya, sedikit."
Ben berniat melepas jaketnya, namun sebelum Ben melakukan itu, Kath lebih dulu menolaknya.
"Tidak.. Kau pakai saja, cuacanya benar-benar dingin."
"Jangan khawatir itu tidak mempengaruhiku."
Ben melepas jaketnya dan memakaikannya pada Kath.
Kath sebenarnya merasa jijik mengingat jaket yang Ben pakai itu adalah bekas Ia menggendong Jennifer. Tapi setidaknya bagian dalam jaketnya bersih.
Ben menggenggam tangan Kath lagi dan tangan satunya memeluk selimut Jennifer.
"Kemana kita akan pergi?"
"Kita akan pergi tidur."
"Tidur?"
"Apa kau tidak lelah?"
"Sebenarnya aku lelah dan mengantuk."
"Bagus, jadi ikut saja."
Ben berjalan cepat, tapi kali ini Kath tidak begitu kesulitan mengikutinya karena Ben menggenggam tangannya hingga mereka sampai ke mobil, Ben melempar selimut Jennifer ke kursi belakang.
"Kemana kita akan pergi?"
"Masuklah, mungkin vampir bisa mencium aromamu."
Bulu kuduk Kath meremang, Ia bergegas masuk ke dalam mobil.
Ben tertawa melihat tingkah Kath, sebenarnya Ia hanya bercanda, tapi Kath dengan polosnya mengira itu adalah sungguhan.
Mobil berjalan pelan, Kath bertanya-tanya kemanakah mereka akan pergi, beristirahat? Tapi kemana tepatnya? Tidak mungkin mereka tidur di hotel? Berdua? Ahh.. Ben tidak akan sebrengsek itu, pikirnya.
-
-
Mereka mengunjungi sebuah toko buku dengan perpustakaan di dalamnya.
"Kau ikut denganku?"
"Mengapa kita datang kesini?"
"Kau lihat?" Ben menunjuk ke sebuah mini market.
"Aku akan membeli plester luka untukmu, lalu kita akan pergi kedalam."
"Membaca buku?" Kath melihat jam ditangannya, pukul 10 malam.
"Ikut saja." Ben melemparkan bucket topi pada Kath.
"Pakailah." tanpa bertanya Kath memakai topi yang Ben berikan.
Ben membeli plester dan obat luka untuk Kath, Ben melihat ke arah kaki Kath yang terluka, Ia tak melihat darah yang tembus ke celana jeans Kath, artinya masih aman.
"Kita akan mengobatinya nanti." Kath mengangguk.
Mereka berdua berjalan ke arah toko buku.
"Jangan banyak bertanya, pilihlah buku yang kau suka, dan kita bertemu di meja itu." Ben menoleh pada sebuah meja di sudut ruangan.
Kath memilih sebuah buku berjudul, 'The Little Prince' dan membawanya ke meja yang Ben maksudkan.
Pria itu sudah duduk disana dengan memegang sebuah buku.
"Mengapa kita disini?" pertanyaan yang terus menerus berada di pikiran Kath.
"Kau lihat pria yang duduk disana." Ben mengarahkan pandangan Kath pada seorang pria setengah baya.
"Siapa mereka?"
"Mereka adalah sekumpulan pemburu vampir, kurasa masih anak buah Wesley."
"Sungguh?"
"Kau tidak lihat Wesley disana?"
"Aku tidak melihatnya."
"Wesley dan gerombolannya biasa berdiskusi disana, dengan dalih membaca buku."
"Membaca buku di malam hari seperti ini?"
"Ya."
"Tidak waras."
Mereka melihat sebuah mobil datang.
"Dia datang."
"Apakah itu dia? Artinya.."
"Mereka akan berburu malam ini. Ayo kita pergi." Ben menuntun Kath keluar dari sana tanpa membuat gerombolan Wesley curiga.
Mereka menunggu di mobil sambil memperhatikan Wesley yang turun dari mobil.
"Mereka mengerikan, orang-orang berdarah dingin." ujar Kath.
"Kau merasa begitu? Bagi vampir mereka lebih mengerikan dari yang kau pikirkan."
"Bisakah kita mengikuti mereka, mungkin kita akan mendapat petunjuk dimana teman-temanku berada."
"Tidak sekarang, sebaiknya kita pergi."
"Baiklah.."
Ben melajukan mobilnya kembali.
-
-
Mereka telah sampai di suatu tempat, dan tidak seperti yang Kath pikirkan, ternyata tempatnya adalah di bawah sebuah jembatan.
"Ben?!"
"Hm?"
"Kenapa kau membawaku kemari?"
"Kau pikir kemana aku akan membawamu?"
"Kita akan bermalam disini?"
"Ini adalah tempat yang aman."
"Tapi, bukankah kita bisa menyewa hotel atau tempat penginapan lain?"
"Wesley datang untuk berburu malam ini, dan aku yakin saat ini mereka sedang berkeliling di kota mencari vampir-vampir yang sedang berkeliaran, bahkan mereka tak segan mendatangi hotel dan memeriksa setiap kamar hotel."
"Tapi kenapa?"
"Mereka pikir vampir tidak punya pekerjaan lain selain memangsa, dan bersenang-senang."
"Kalau begitu kita bisa mencari penginapan disekitar sini."
"Kita tidak akan menemukannya."
"Bagaimana jika ada vampir lain di dekat sini."
"Kau lupa aku adalah vampir, mereka tidak akan berani mengganggumu."
"Kalau begitu aku akan tidur disini, disini lebih aman dari pada berada di luar." Kath berpikir untuk tidur di mobil.
"Silahkan saja, tapi aku tidak ada disini saat kau membutuhkanku."
"Ben.." Kath memikirkan perkataan Ben.
"Turunlah, atau tetap di sini."
Ben mengambil selimut bekas Jennifer dan berjalan ke bawah jembatan, tempat itu memang sangat sepi, walaupun mobil Ben terparkir aman dan tidak akan ada yang menyadari, Kath tetap tak dapat tidur di mobil itu sendiri, membayangkan jasad Jennifer yang sebelumnya berada di kursi belakang.
"Tunggu aku!" Kath keluar dari mobil dan berteriak.
"Hati-hati!"
Lagi-lagi Kath terjatuh, Ia benar-benar ceroboh.
"Aku tidak apa-apa." Kath memberitahu supaya Ben tak perlu mendekat dan menolongnya.
Dengan perlahan Kath mencoba berdiri, tapi kakinya terasa sakit karena sebelumnya Ia sudah terluka.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya.." Kath berjalan pincang ke arah Ben.
"Mari." Ben meraih tangan Kath dan menuntunnya.
"Kenapa tidak tidur saja di mobil, kau bisa tidur di kursi belakang."
"Tidak, aku akan selalu dekat denganmu."
Ben tertawa, Ia tahu Kath ketakutan.
Ia menggelar selimut Jennifer di bagian tanah yang datar.
"Kemari." Ben mengarahkan Kath untuk duduk di atas selimut.
"Sungguh?" Kath merasa ragu duduk di sana apalagi sampai harus tidur di atas selimut itu.
"Kau tahu bukan aku membalut tubuh Jennifer dengan 3 sprei lebih dulu."
Kath mengetahuinya, hanya saja Ia tetap merasa jijik.
"Duduklah, ini bersih."
Tak ada pilihan, Ia duduk di atas selimut Jennifer.
"Biar ku lihat kakimu."
Kath meluruskan kakinya dan Ben membubuhkan obat luka pada kaki gadis itu.
"Kau harus berhati-hati Kath, kau sudah terjatuh lebih dari sekali."
Kath memperhatikan Ben yang mengobati lukanya, meski sikapnya dingin tapi Ia lembut dan peduli padanya.
•••