"Ahk!"
"Tahanlah." Ben begitu serius mengobati luka di kaki Kath.
"Selesai, bisa kau gerakan kakimu?"
"Ya.." Kath mencoba menggerakan kakinya.
"Pukul 11." Ben melihat jam di tangannya.
"Kau tidak mengantuk?"
"Vampir tidak tidur di malam hari."
"Benarkah?"
Ben mengambil buku di saku jaketnya.
"Bukumu."
"Bagaimana--"
"Kau bisa menyimpannya, jika kau belum mengantuk kau bisa membacanya."
"Kau mencurinya?"
Ben tertawa.
"Sungguh kau belum membayarnya?"
"Aku sempat membayarnya tadi, jangan khawatir."
"Kau sudah membuatku berfikir buruk, terimakasih." Kath mengambil buku yang Ben berikan.
"Bagaimana aku akan membacanya di dalam gelap?"
"Kalau begitu kau simpan saja."
"Aku menyukai buku ini, aku sempat membacanya sebentar." Kath menyimpan buku itu di dalem jaketnya.
Kath memperlihatkan wajah sedih dan kecewanya karena ia mengingat Nadin dan Lisa.
"Kau memikirkan teman-temanmu?"
"Aku khawatir, mereka harus ikut terbawa dalam masalah ini karena diriku."
"Jangan khawatir, mereka baik-baik saja."
"Apa kau dapat merasakan mereka?"
Ben menoleh pada Kath, "Mengapa bertanya?"
"Ku lihat beberapa kali, kau sering kali terdiam tiba-tiba dan seperti merasakan sesuatu, dan itu terjadi saat kau dalam keadaan serius."
"Jadi kau memperhatikanku?" Ben tertawa.
"Karena saat itu kau terlihat aneh."
"Kau benar, aku dapat merasakan bahwa mereka baik-baik saja."
"Bagaimana bisa?"
"Entahlah."
"Tapi, syukurlah jika mereka memang baik-baik saja, aku tidak akan memaafkan mereka jika sesuatu terjadi pada teman-temanku."
"Aku akan membantumu menyelamatkan mereka."
"Tapi, bagaimana mungkin Jennifer tidak tahu kau dalam bahaya saat mereka menangkapmu kemarin malam?"
"Itu karena Jennifer tahu kau akan datang dan menyelamatkanku."
"Kau bohong, bahkan saat itu kau menjelaskannya pada Jennifer."
"Aku tidak berbohong, ada beberapa hal yang dapat vampir rasakan dan sebaliknya, kami dapat merasakan mereka walaupun hanya sekali bertemu."
"Bagaimana kau bisa tahu bahwa Lisa baik-baik saja? Maksudku kau tidak pernah bertemu dengannya."
"Ah eh.. Aku merasakan Nadin baik-baik saja, jadi kufikir begitu pula dengan Lisa."
"Ku harap mereka berdua baik-baik saja."
"Tunggulah, aku akan mengambil beberapa makanan di mobil." Ben mengambil makanan di dalam mobil dan kembali dengan cepat.
"Kau pasti lapar."
Ben mengambil roti bungkus, dan membukanya, lalu Ia memberikannya pada Kath.
"Terimakasih."
Sebenarnya Kath memang lapar, hanya saja situasi yang tegang membuat Ia melupakan rasa laparnya.
"Kau tidak lapar?" tanya Kath.
"Aku tidak lapar, tapi aku akan menemanimu memakan ini." Ben membuka sebungkus roti lagi.
"Boleh ku nyalakan flash ponselku?"
"Ya, tapi mungkin kau tidak akan suka berada disini."
Keadaan di tempat itu sangat gelap dan Kath hanya dapat melihat dengan samar-samar, mungkin benar yang dikatakan Ben bahwa dia tidak akan mau tidur disana jika Ia dapat melihat jelas ke sekitar.
"Aku tidak akan menyalakannya."
"Bagus."
Mereka selesai memakan roti dan beberapa camilan sambil berbincang-bincang.
Ben merebahkan tubuhnya di atas selimut Jennifer, tapi Kath masih terduduk sambil mengecek ponselnya.
"Sayang sekali, baterainya hampir habis."
"Kita bisa mengisi baterai ponselmu nanti di mobil."
"Baiklah." Kath menyimpan ponselnya di saku jaketnya.
Ben melihat Kath yang menguap, "Sudah mengantuk?"
"Tidak." gadis itu mengatakan tidak, tapi menguap lagi.
"Sepertinya kau benar-benar mengantuk."
"Ben, sebenarnya aku tidak dapat tidur di tempat seperti ini, dan bagaimana aku dapat tidur hanya beralaskan selimut yang tidak begitu tebal."
"Jangan fikirkan soal itu, bagaimana jika ku bacakan bukumu."
"Ehh?"
"Berikan bukumu."
Kath mengambil bukunya lagi di saku jaketnya dan memberikannya pada Ben.
"Kau bisa membacanya di dalam gelap?"
"Tentu."
"Benarkah? Mata seperti apa yang bisa membaca di dalam gelap?" Kath merasa heran dengan keanehan itu.
"Sebaiknya, rebahkan tubuhmu." Ben menarik lengan Kath sampai Ia terbaring bersamanya.
Pria itu benar-benar manis, ketika Kath merasakan bahwa Ia tidur dengan lengan Ben sebagai bantalnya, Ben tau tidak ada alas kepala untuk mereka sehingga Ia sengaja menjadikan lengan kirinya sebagai bantal untuk Kath tidur.
"Tapi.." Kath merasa canggung dengan situasi mereka.
"Santai saja, kau merasa nyaman bukan?"
Kath takenjawab, Ia hanya diam, artinya 'Ya'.
"Bisa kau bukakan halaman yang ingin ku bacakan?"
"Eh, tidak perlu, aku akan tidur."
Kath menutup bukunya dan memegangnya.
"Baiklah jika kau tidak mau."
Dalam keadaan sekarang Ben sudah bersikap begitu manis, bagaimana mungkin pria itu harus membacakan buku untuk dirinya, Kath tak sanggup menahan degup jantungnya yang begitu cepat.
"Mengapa jantungmu berdegup kencang sekali?" nyatanya Ben dapat merasakannya.
"Apa? Tidak! Aku rasa tidak."
"Tapi aku merasakannya."
"Sudahlah aku akan segera tidur." Kath yang sebelumnya tidur dengan posisi yang sama seperti Ben, memutar badan dan memunggunginya.
"Tidurlah.. Aku masih ingin menatap bintang-bintang dilangit."
Bintang? Bagaimana dia dapat melihat bintang di bawah jembatan? Lucu, fikir Kath.
Ben hanya menghibur dirinya yang teringat akan Jennifer. Ia tahu gadis itu menertawakan kekonyolannya.
"Jennifer.."
Ada apa dengan Jennifer? Tiba-tiba bulu kuduk Kath meremang.
"Aku merindukannya." lanjutnya.
Kath mengubah posisi tidurnya lagi, Ia tahu bahwa Ben sedang bersedih dan membutuhkan seseorang untuk mendengarkan kesedihannya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Kath.
"Ku rasa, tidak cukup baik."
"Apakah dia wanita yang luar biasa untukmu?"
"Ya, dia luar biasa."
"Apa kau juga bersikap begitu manis padanya?"
"Kenapa? Apa kau merasakan aku begitu manis padamu?"
"Ehh tidak, maksudku--"
"Aku bahkan bersikap lebih manis dari ini."
Entah apa yang Ben fikirkan, Kath terkejut saat tiba-tiba Ia merasakan nafas Ben yang dingin di wajahnya. Kath tak dapat melihatnya dengan jelas, tapi Ia merasakan pria itu berada sangat dekat dengannya dan dia mencoba memberi contoh bagaimana Ben begitu dekat dan tentu begitu manis pada Jennifer.
Kath semakin tak dapat mengatur degup jantungnya yang semakin kencang.
"Kau bisa merasakannya? Tampaknya degup jantungmu semakin kencang, kau gugup?"
"Eumh.. Tidak, maksudku cukup, aku bisa merasakannya."
"Kath.. Apa kau tertarik untuk merasakannya?"
Seolah mengerti dengan apa yang di maksudkan Ben padanya, tawarannya pada Kath untuk menjadi vampir.
"Ben, aku tidak ingin.."
Ben tersadar, Ia tak mau menyakiti gadis disampingnya.
"Maafkan aku, aku hanya--"
Kath meraih tangan kanan Ben, dan menggenggamnya lalu Kath mencoba tidur.
"Ini membuatku nyaman.. Ku mohon jangan bangunkan aku." ucap Kath.
Ben membalas genggaman tangan Kath dan tangan kirinya menepuk-nepuk pundak Kath dan Ben merasa terhibur dengan sikap hangat Kath padanya.
-
-
Kath terbangun dari tidurnya dengan posisi yang masih sama tapi tangannya tak lagi menggenggam tangan Ben, Ia bahkan tak sadar tidur dengan memeluk Ben.
Kath memperhatikan Ben yang tidur dengan begitu tenang, wajahnya tampan meski terlihat lelah, lalu Kath melihat ke rambut Ben yang sepertinya memang bertambah panjang.
Kath melihat jam di tangannya, sudah pukul 5 pagi. Kath menggeliat, dan merasakan tangan kiri Ben yang masih menjadi bantalnya.
Apa Ben tidak merasa pegal?
Kath teringat akan tawaran Ben semalam. Menjadi vampir? Sama sekali tak pernah terbayangkan di benak Kath. Bahkan tidur bersama vampir? Aneh sekali, rasanya seperti mimpi.
Kath mencubit pipinya dengan keras, "Ahk! Sakit." Kath menyadari suaranya yang terlalu keras dan menoleh ke arah Ben.
Tapi Ben sepertinya tetap tenang dan tak terkejut dengan teriakan Kath, syukurlah.
Kath memperhatikan lagi wajah Ben yang tampan, pria itu tidak pernah terlihat sedih, dan sepertinya hidupnya sebagai vampir menyenangkan. Tapi benarkah begitu?
"Kyaaaaa!!" Kath berteriak karena seekor ular merayap di sebelah Ben.
Ben terbangun dan tampaknya Ia mengerti mengapa gadis itu berteriak, lalu dengan cepat Ia menangkap kepala ular itu dan melemparnya jauh.
"Kau membawaku tidur di tempat seperti ini?!" Kath berteriak dan matanya mulai berkaca-kaca menahan air matanya yang siap terjatuh.
"Maaf Kath, ular itu tidak akan kembali."
"Aku ingin pulang.. Hiks.." Kath mulai meneteskan air matanya.
Ciwek sekali, "Baiklah, aku akan mengantarmu pulang, biar aku yang menyelamatkan teman-temanmu sendiri."
Tangisannya berhenti mengingat tujuannya bersama dengan Ben sekarang.
"Maaf, aku sangat takut pada ular dan serangga."
Kath memperhatikan sekitar, rumput yang rumpun dan mereka tepat di sebelah hutan, pasti banyak hewan melata disana.
"Ahk.." Ben mengerang karena sinar matahari yang terik menyorotnya.
"Ben?" Kath sedikit panik.
"Tidak, aku baik-baik saja."
Ben merapikan rambutnya yang sudah semakin panjang, tetap terlihat tampan.
"Kita pergi ke hotel."
HOTEL?
"Ta..tapi kenapa kita harus ke hotel?"
"Kau tidak mau membersihkan badanmu?"
Kath beranjak dari selimut Jennifer, dan Ben melipat selimut Jennifer dengan rapi.
"Ayo!"
-
-
Mereka sampai di sebuah hotel kecil, mungkin lebih tepatnya motel.
"Satu kamar?"
"Mengapa?"
"Ehh, tidak."
Kath sedikit ambigu mengetahui Ben hanya menyewa satu kamar untuk mereka, tapi tentu tidak akan ada hal-hal aneh yang akan terjadi karena ini bukan saatnya untuk TIDUR.
Ceklek!
Bagi Kath suasana semakin panas saat Ia melangkah masuk ke kamar itu.
Brak!
Apa Ben mengunci pintunya? Kath merasa was-was karena tidak akan ada yang tau jika Ben memiliki niat buruk pada Kath, menggigitnya misalnya.
Ben merogoh tas ransel yang Ia bawa dari mobilnya, seperti mencari sesuatu.
Ternyata pakaian wanita, apa itu pakaian milik Jennifer? Entah kapan Ben mengambilnya.
"Pakailah, kau tidak akan mengenakan bajumu lagi bukan."
"Ehh, bagaimana--"
"Kau tahu aku dan Jennifer melakukan segalanya bersama, bahkan dia lupa menyimpan bajunya setelah kami bepergian, beruntung itu berguna untukmu ."
"Aku harus memakai ini?" Kath memperhatikan pakaian Jennifer yang Ben berikan.
Rok mini dengan atasan yang-- Crop Top? Jennifer memiliki selera yang sama sepertinya, tapi haruskah memakai Crop Top disaat genting begini?
Bagaimana tidak, saat terakhir Ia keluar asrama, Ia menggunakan celana jeans panjang dan kaos, bahkan Ia melupakan cardigannya. Meski begitu, itu sangat membantu saat Kath harus tidur di bawah jembatan tadi malam.
"Aku akan mandi, jadi tunggulah."
Argh! Situasi apa ini, ya Tuhan semoga saja Ben tidak tahu apa yang Kath fikirkan.
"Baiklah, aku akan menunggu diluar."
"Di luar? Kau tidak takut gerombolan Wesley mendapatimu?"
"Eung.. Ehh.."
"Tunggulah disini." Ben masuk ke dalam kamar mandi.
Oh tidak! Tenang lah, Pria itu hanya akan mandi dan tidak melakukan hal-hal aneh. Kath berusaha menghilangkan pikiran-pikiran buruknya, lalu lagi-lagi memperhatikan baju milik Jennifer.
Apa pria itu benar-benar ingin menjadikannya sangat mirip dengan Jennifer?
Ia harus mencari binatu dan mencuci bajunya dengan cepat, tidak mau tahu Ia tak ingin memakai pakaian itu.
Kath membaringkan tubuhnya dikasur, waktu yang tepat sambil menunggu Ben selesai mandi.
Brugh!
Rasanya nyaman sekali, mengapa tidak dari semalam mereka menginap disana, Ia tak perlu merasakan sakit di badannya.
Memikirkan itu membuatnya semakin merasakan badannya yang mulai terasa pegal.
Hening.. Hanya terdengar lirih suara air dari shower di kamar mandi, dan Ben sudah selesai membersihkan badannya.
Kath terbangun dan merasakan pegal di badannya semakin menjadi, Ia mengulet dan terkejut saat melihat Ben sudah keluar dari kamar mandi dan saat ini hanya mengenakan handuk dibadannya.
Ia bertelanjang d**a?! Kath benar-benar merasa malu dan berpura-pura tidur kembali.
"Kau sudah bangun? Aku sudah selesai, jadi sebaiknya cepat bersihkan badanmu."
Kath semakin malu, rasanya Ia ingin menenggelamkan wajahnya saja di kasur.
"Ba..baiklah.."
Tanpa berbasa-basi Kath segera masuk ke kamar mandi.
"Hei!"
Yakk! Mengapa Ben memanggilku?!
Kath tak menghiraukan dan tetap menutup pintu kamar mandi rapat-rapat.
"Bodoh, dia mau ganti baju disini?" Ben mengatai Kath yang meninggalkan pakaian Jennifer di atas kasur.
"Hei! Kathryn! Kau meninggalkan baju gantimu!" Ben menggedor pintu kamar mandi.
Duh! Mengapa Ben menggedor pintu, apa yang dia lakukan sebenarnya?
"Kathryn!"
"Ada apa?!" Kath mematikan shower dan berteriak dari dalam.
"Bajumu!"
Ahh ya Tuhan bodohnya, dia tidak mungkin memakai pakaiannya kembali untuk menerima baju Jennifer.
Ceklek!
Kath menjulurkan tangannya dari dalam.
"Kau sudah mulai mandi ternyata."
Kath dapat mendengar nada ucapan Ben di iringi tawa.
"Cepat berikan bajunya!"
"Oh galak sekali."
Brettt!
Kath membanting pintu kamar mandi.
"Dia yang merepotkan tapi dia yang tersinggung, aneh." Ben menggerutu.
Kath sangat tahu Ben pasti pria yang liar, karena Ia dapat menilainya dari Jennifer.
Entahlah, Ia tak mau memikirkan itu.
-
-
"Kau makan dengan lahap tadi." ujar Ben sembari mengalihkan wajahnya dari jalanan dan memperhatikan Kath disebelahnya.
"Iya.. Aku memang lapar."
Nampaknya Kath sedang sibuk membenarkan rok mini Jennifer yang benar-benar mini jika Kath yang memakainya, karena tampaknya Kath lebih tinggi dari pada Jennifer.
"A..apa yang kau lihat?" ucap Kath sambil menatap Ben.
"Ti..tidak." Ben fokus lagi pada jalanan.
"Sebaiknya fokus pada setirmu." tambah Kath kesal.
Ben hanya tertawa.
"Mengapa kau tertawa?"
"Apa rok itu terlalu kecil?"
Arghh mengapa Ben memperhatikannya, "Ku rasa Jennifer tidak lebih tinggi dariku sehingga rok ini kekecilan."
"Kau yang terlalu tinggi."
"Kau yang salah memberiku pakaian."
Ben terdiam, tak ingin memulai debat dengan Kath.
"Baiklah.. Kita akan cari binatu di dekat sini."
"Di motel tidak terdapat binatu jadi kita harus mencarinya di tempat lain." tambahnya.
"Maaf jika aku merepotkanmu."
Pria itu hanya tersenyum.
"Sebenarnya kemana tujuan kita?"
Mencari rumah para pemburu.
"Apa kita bisa menemukan teman-temanku disana?"
"Mungkin saja."
Mereka berhenti di depan sebuah binatu dan Ben keluar membawa pakaian Kath dan miliknya.
Kath memperhatikan dari dalam mobil.
Rasanya seperti kencan dengan kekasih sungguhan, sebenarnya Ben adalah pria yang sangat manis, seperti pria yang di idamkannya.
"1 jam." ucap Ben sambil masuk kembali ke dalam mobil.
Itu berarti mereka harus menunggu 1 jam.
Hari menunjukan pukul 9.30, dan matahari sedang teriknya. Ben mengambil kacamata hitam, sebuah topi dan syal lalu memakainya, Ia memakai kemeja denim berlengan panjang, dan itu membantunya terhindar dari sengatan sinar matahari secara langsung.
Sebenarnya Ia malah terlihat semakin keren dengan kacamata hitam dan topi, ahh Ben memang selalu tampan.
"Apa aku terlihat seperti sedang sakit?" tanya Ben.
"Ya? Ehh.." Kath terkejut karena Ia memperhatikan Ben sejak tadi, Ia terpana dengan ketampanannya, bagaimana tidak baginya Ben sudah berhasil membuat Kath tertarik padanya meski sikapnya begitu dingin.
"Haha! Aku tau jawabanmu."
"Tidak!" Kath menyergah.
Ben yang bersender di kursi mobil menyeret kepalanya untuk melihat ke arah Kath.
"Maksudku, kau terlihat tampan dengan itu." Kath tersenyum lebar dan memperlihatkan giginya yang rapi.
"Benarkah? Jujur kau juga terlihat baik dengan pakaian itu." puji Ben.
Apa? Benarkah? Apa dia sedang menggodaku? Sebenarnya Kath merasa senang dengan pujian Ben, bahkan Ia jadi tak ingin mengganti pakaiannya.
"Aku sungguh-sungguh." Ben melemparkan senyum yang menawan.
"Yaa.. Aku tau." spontan! Mengapa Ia mengatakan hal itu.
"Itu berarti kau merasa percaya diri memakainya."
"Ehh.. Tapi aku tidak merasa nyaman."
"Baiklah, kau bisa ganti pakaianmu nanti." Ben menyenderkan kepalanya kembali, Ia memejamkan matanya, sepertinya Ben lelah.
"Ben.." panggil Kath lirih.
"Ya?" masih dalam posisi yang sama.
"Jika mereka tidak membawa teman-temanku, apakah saat ini kau tetap akan membalaskan dendammu untuk Jennifer?"
Kath terfikirkan tentang dirinya saat ini yang terjebak dalam lingkaran vampir karena tidak lain untuk menyelamatkan Nadin dan Lisa.
"Ya." singkat.
Kath membayangkan bagaimana Ben akan melaluinya seorang diri, dia memang bukan satu-satunya vampir yang ada di Australia, tapi sepertinya kehidupannya sebagai vampir begitu tertutup.
"Tapi--"
"Aku tidak bisa melakukannya sendiri, jadi mungkin aku akan datang dan meminta bantuanmu." tambahnya.
Kath ternganga mendengarnya, mengapa Ia? Itu berarti Ben benar-benar membutuhkannya?
Mengapa Ia tersentuh dengan ucapan Ben tadi, padahal Kath tidak melakukan hal apapun.
"Mengapa?"
"Karena aku tidak mampu melakukannya tanpamu." Ben bicara santai dan masih memejamkan matanya.
"Ben?"
"Jangan pernah merasa kau merepotkanku, karena kau sangat membantu." Ben menatap Kath yang tampak heran dengan jawabannya.
"Ahh.. Lupakan, maukah kau memotong rambutku?"
"Ti..tidak bisa.."
"Baiklah, aku harus mencari barber shop disekitar sini."
Ben melepaskan syalnya dan memberinya pada Kath, artinya Ia meminta Kath menyimpannya, eh tidak memegangnya sepertinya lebih tepat, karena Ben akan memerlukan syal itu kapanpun Ia butuhkan.
Kath benar-benar merasa seperti kekasih Ben sungguhan, karena Ben tidak pernah merasa canggung padanya.
"Ben.."
Kath memecah keheningan saat mobil melaju perlahan mencari barber shop terdekat.
"Hmm?" Ben terlalu serius memperhatikan kanan dan kiri.
"Jika memang situasinya berubah, kau datang dan meminta tolong padaku untuk membantumu, kurasa aku tidak akan mau membantumu."
Ben tertawa, "Aku sudah menduganya Kath."
"Itu bukan karena aku tidak mau, tapi aku terlalu takut."
"Aku mengerti." ujar Ben.
"Tapi sehari bersamamu dapat membuatku mengubah rasa takutku, jadi aku senang saat ini aku berada disini bersamamu, dan di lain waktu sepertinya aku tidak akan mengatakan tidak untuk membantumu."
Kath dapat melihat Ben yang seperti sedang mencerna ucapannya yang sedikit rumit.
Lalu Ia tersenyum. Kali ini senyumnya berbeda, senyumnya seperti menunjukan dirinya merasa nyaman bersama Kath.
Ya, tanpa disadari Ben memang sudah tertarik pada Kath ketika Ia menyelamatkan dirinya.
'Kath.. Sayang sekali aku harus bertemu denganmu disaat keadaanku sudah tidak sempurna seperti dulu.'