"Sial!" gerutu Ben sambil masuk kedalam mobil.
"Apa yang terjadi?"
"Keadaan di sana begitu panas, hampir saja membunuhku."
"Sungguh? Kau baik-baik saja?"kath merasa khawatir, meski Ia terkesima melihat Ben yang semakin tampan dengan style rambutnya yang baru.
"Bagaimana? Aku semakin tampan bukan?" tanya Ben sembari melihat wajahnya di kaca spion mobil.
"Eh.. Ya, rambut itu cocok untukmu."
"Aku bertanya apakah aku semakin tampan?"
"Tentu, kau sangat tampan." Kath Sebenarnya berkata jujur.
"Hati-hati kau bisa jatuh hati padaku." goda Ben.
'Aku sudah jatuh hati padamu Ben! Kau saja yang tidak tahu.'
"Baiklah kita pergi mengambil pakaianmu dan selesaikan misi pertama kita."
"Misi pertama?"
"Kau akan mengetahuinya nanti."
-
-
Kath meminjam sebuah ruangan di binatu untuk mengganti pakaiannya.
Kath keluar dan terkejut melihat Ben sedang menunggunya di depan ruangan untuknya berganti pakaian.
"Sebenarnya aku lebih nyaman dengan pakaian ini." celetuk Kath memecah suasana canggung.
Tubuh Ben menyender pada tembok sambil memperhatikan Kath, bagaimana gadis itu tidak merasa malu.
"Tidak masalah, kau tetap cantik dengan baju tertutupmu." jawabnya sambil berjalan meninggalkan Kath dan pergi ke kasir untuk membayar jasa mencuci diikuti Kath dibelakangnya.
Di dalam mobil mereka berdua hanya diam, mungkin sudah hampir satu jam.
Ben berkali-kali meminggirkan mobilnya karena di jam-jam begini matahari mulai terik dan sepertinya Ben tidak tahan, meski kaca mobilnya adalah kaca mobil yang tidak tembus cahaya. Beruntung mereka sampai ke tempat tujuannya.
"Rumah siapa?"
"Temanku."
Rumah berpagar tinggi memutar, dengan cat berwarna putih, tidak nampak rumah seorang vampir, apa temannya adalah manusia?
Sepertinya pemilik rumah mengetahui kedatangan Ben karena pagarnya terbuka otomatis.
Siapa sangka, pepohonan di dalam pagar rumah itu sangat rimbun dan membuat suasana terlihat teduh karena pepohonan itu menghalangi sinar matahari.
Kath khawatir jikalau Ben membawanya kepada kerumunan vampir yang lapar. Tapi Ia berusaha tenang, Ben pasti menertawakan Kath jika Ia memperlihatkan rasa takutnya.
"Turunlah."
Kath ragu-ragu, tapi Ia tidak boleh takut.
"Mister Ben!" teriak seorang pria yang membuka pintu rumah bersama wanita yang menempel padanya.
"Justin, Julie!" sapanya.
Ben meraih tangan Kath dan menariknya berjalan kearah pria dan wanita yang sepertinya adalah pemilik rumah.
"Tunggu, apa kau menemukan gadis ini semalam?" bisik Justin pada Ben, dan tentu itu adalah sebuah sindiran.
'Menemukannya, apa dia fikir aku barang? Tidak sopan!'
"Oh tidak, dia adalah temanku."
"Teman? Kau bersama dengannya tadi malam?" wanita yang bernama Julue lagi-lagi membuat Kath kesal.
"Ya aku bersamanya tadi malam."
"Lalu Jennifer? Kau pergi dengan wanita ini dan meninggalkan Jennifer?" Julie melempar lirikan tajam pada Kath.
'Sialan! Jennifer sudah mati!'
"Bukan begitu, dia wanita baik-baik."
"Lalu?"
"Sesuatu terjadi pada Jennifer."
"Tunggu! Dia manusia?!" Julie berteriak setelah menyadari jika Kath ternyata adalah manusia.
"Ya, kalian pasti terkejut."
"Masuklah dan jelaskan pada kami." ajak Justin.
Kath kesal pada Ben mengapa Ia tak menjelaskan pada mereka bahwa dirinya bukanlah w***********g.
-
-
"Maaf karena sudah berfikir buruk tentangmu Kath." ujar Kyle setelah mendengar penjelasan Ben.
"Dan aku sangat terkejut bahwa ternyata kalian sama-sama dari Indonesia."
Julie membelai wajah Kath. Gadis itu merasa risih dan ngeri karena bisa saja Julie berniat jahat padanya.
"Tidak masalah." jawab Kath.
Ben meneguk segelas minuman yang Julie bawakan sebelumnya.
"Nikmat.." Ben memperhatikan sisa-sisa minumannya.
'Apakah itu darah?' Kath bisa gila jika terus memikirkannya.
"Kath, kau suka pasta? Aku bisa membuatkanmu pasta terenak, bagaimana jika kita memasaknya bersama?" tanya Julie.
"Aku tidak lapar, terimakasih."
"Sayang sekali.."
"Jika begitu buatkan saja untukku." Ben menatap ke arah Kath dengan senyum manisnya.
Kath mengerti senyuman itu, Ben sepertinya memang ingin mencairkan suasana karena Kath yakin Ben pasti tahu bagaimana perasaan takutnya saat ini.
"Baiklah, Kath tolong bantu aku." Julie pergi ke dapur lebih dulu.
Dan Justin pergi mengambil sesuatu.
"Kau memintaku membuatnya? Bersama dengan teman vampirmu?" Kath mendekat pada Ben dan berbisik dengan nada kesal.
"Ayolah Kath, Justin dan Julie memang teman vampirku, tapi mereka adalah orang baik." Ben semakin mendekatkan wajahnya pada Kath.
"Orang baik tidak akan merendahkan." Kath mendorong tubuh Ben lalu berjalan cepat menghampiri Julie.
Ben mengangkat alisnya, Kath memang sangat cantik ketika sedang marah.
Rumah Julie memiliki banyak jendela dengan tirai-tirai besar yang sepertinya hampir tak pernah mereka buka, lampu menyala dimana-mana.
'Jika manusia mereka mungkin akan terkena penyakit liver.' Kath menyeringai.
-
-
"Dulu aku sebebas dirimu." Julie membuka pembicaraan.
"Maaf?"
"Ahh pastanya ada dilemari, kita harus merebusnya lebih dulu."
Kath berjalan mengambil pasta, rumah Julie memang sangat rapi, bahkan tak terlihat rumah seorang vampir, nyaman berada disana karena semua barang tersusun rapi bahkan bermacam-macam bahan makanan tersedia di lemari.
"Bagaimana kau berbelanja ini semua?"
"Aku berbelanja sebulan sekali, dan tentu aku akan keluar setelah matahari terbenam."
"Apa tidak ada yang curiga?"
"Ben terlalu gegabah, Ia berani keluar di siang hari karena mobilnya, dan itu yang membuat pemburu vampir menyadarinya."
"Karena kaca mobilnya yang hitam?"
"Ya."
"Apa kau adalah teman Jennifer?"
"Kau benar, aku dan Jennifer berteman lama, disaat dia baru menjadi vampir."
"Itu berarti kau lebih lama menjadi vampir darinya?"
"Ya kau benar lagi, dan selama ini aku tidak pernah berteman baik dengan manusia." jawab Julie.
"Tapi Ben membawamu dan aku terpaksa bersikap ramah padamu." Julie memperhatikan Kath dan tersenyum.
Kath menjadi takut saat Julie memperhatikannya, apa maksudnya Julie tidak suka pada Kath?
"Tapi aku tidak membenci manusia, karena aku membutuhkan darah mereka, dan ya aku bisa menerimamu karena kau adalah orang yang baik, kau bekerja sama dengan kami." jelas Julie.
'Tidak. Jika bukan karena teman-temanku kita tidak akan menjadi teman.' ujar Kath dalam hati.
"Baiklah.. Jika kau tidak membubuhkan garam dalam rebusan pastamu, itu akan kurang nikmat."
"Oh.. Maaf aku melupakannya."
Julie tertawa, memperlihatkan sikap kemanusiaannya, bahwa vampir tak selalu menakutkan.
Ya.. Jika mereka tidak sedang lapar.
-
-
"Lansvale?"
"Lansvale Street nomor 28."
"Jadi itu rumah Liam Murphy?"
"Liam Murphy?" Kath menyela pembicaraan Ben dan Justin.
Mereka memperhatikan Kath yang datang dari belakang membawa sepiring besar pasta yang selesai Ia buat.
"Kau sudah selesai?" tanya Ben.
"Kau belum menjawabku, siapa dia?" Kath meletakan piring pasta dan memperhatikan Ben yang memegang peta ditangannya.
"Liam Murphy, pemburu vampir." jawab Justin.
"Pria yang melemparmu kemarin saat di binatu." tambah Ben.
"Maksudmu pria tinggi itu?"
"Dia adalah pria kesepian yang hanya tinggal sendiri dirumahnya, kita akan mencari Nadin dan Lisa disana." jelas Ben.
"Kau yakin mereka ada disana? Kita bisa menemukan mereka?"
"Aku tidak yakin, tapi aku akan memeriksanya."
"Baiklah."
"Sebaiknya kau tunggu disini bersama Julie, aku akan pergi kesana sendiri nanti sore."
"Tidak, aku harus ikut Ben, aku harus memastikan teman-temanku ada disana."
"Tempat itu tidak aman, jadi sebaiknya kau tetap disini."
"Apa kau akan ikut?" tanya Kath pada Justin.
"Eumh maaf sepertinya aku tidak bisa membantu, aku tidak mau cari perkara dengannya."
"Tidak?! Kau tidak bisa membantu?! Kau harus membantunya, bukankah kalian sama-sama vampir?! Bagaimana mungkin kau biarkan teman vampirmu pergi sendiri?!"
Kath menjadi posesif, entah kenapa Ia jadi mengkhawatirkan Ben jika memang Ia harus pergi ke tempat Liam sendiri.
Julie memperhatikan sikap Kath yang terlihat panik dan Justin melihat ke arah Ben yang tentu sama-sama merasa aneh dengan Kath yang berani membentaknya.
Ben menghampiri Kath dan menenangkannya.
"Tenanglah, sebaiknya kita nikmati pasta yang kau buat pasti rasanya sangat nikmat."
Ben menarik perlahan tangan Kath dan memintanya duduk.
Julie dan Justin masih terdiam, mereka tak menyangka akan mendengar teriakan Kath yang nyatanya adalah manusia.
"Julie.. Bisa kau bawakan minum."
Wanita itu tersentak.
"Ehh, ya tunggulah."
Julie sibuk dengan pasta dan minuman mereka.
Kath menyadari suasana canggung yang terjadi karenanya.
"Justin.. Aku tidak berniat melakukan hal tadi, aku minta maaf."
"Aku mengerti, tidak masalah Kath."
"Aku harus ke kamar kecil." Kath beranjak dari duduknya dan berjalan mencari toilet yang tentu tidak Ia ketahui letaknya karena sebenarnya Ia hanya merasa tidak enak dengan perasaannya dan Ia harus menenangkan perasaannya.
Gadis itu tak menemukan toilet yang Ia cari sehingga Ia berdiri menyender pada meja dapur dan mengatur nafasnya.
Tentu bukan karena Kath takut harus tinggal dirumah itu bersama Julie dan Justin, tapi karena Ia mengkhawatirkan Ben.
"Apa ini toilet?" Ben mengejutkan Kath yang sedang memejamkan matanya.
"Ben?"
Ben semakin mendekat pada Kath.
"Aku tidak menemukan toiletnya, dan aku merasa malu jika harus terus bertanya."
"Lalu kau berdoa untuk menemukan toiletnya?"
Kath tertawa kecil.
"Tidak begitu."
"Aku akan baik-baik saja." Ben seolah mengetahui apa yang sedang gadis itu fikirkan.
"Bagaimana kau yakin jika kau akan baik-baik saja?"
"Percayalah padaku." Ben tersenyum manis padanya.
"Bagaimana aku bisa percaya padamu, sedangkan malam itu kau hampir saja mati."
"Aku terlalu meremehkan mereka, dan aku tidak akan mengulanginya, aku akan lebih berhati-hati."
"Bawa aku bersamamu."
"Kath, terlalu berbahaya."
"Kau membutuhkanku malam itu, jadi bagaimana jika kau membutuhkanku saat kau berada disana nanti?"
"Aku tidak ingin kau terluka."
"Bawa aku, atau saat kau kembali nanti kau tidak akan melihatku lagi."
"Kath, mengapa bicara begitu?"
"Putuskan!"
Ben terdiam beberapa saat.
"Baiklah jika kau memaksa."
"Jadi aku akan ikut?"
"Hmm."
"Terimakasih." Kath tersenyum lebar.
"Justin pernah berurusan dengan Liam dan itu membuatnya tak ingin ikut campur urusanku dengannya."
"Jadi karena itu dia tak mau membantu?"
"Ya, aku bisa pergi denganmu bukan?"
"Aku bukan pengecut dan kau bisa mengandalkanku."
"Baiklah Nona Kath, tapi apa kau jadi pergi ke toilet?"
"Oh ya, beri tahu aku dimana letaknya."
"Dasar." Ben mengacak rambut Kath.
"Ikut aku."
-
-
Setelah makan siang, Julie memberikan sebuah kamar untuk Benjamin dan Kathryn beristirahat.
Seharusnya vampir tidur di pagi hari sampai matahari terbenam, tapi demi menyambut Ben, Julie dan Justin harus menunda jam tidurnya.
"Hanya ada satu kamar tamu untuk rumah sebesar ini?"
"Kau mau memakai kamar yang lainnya?"
"Ehh sebenarnya aku merasa takut."
"Jika begitu tidurlah di sana, aku akan tidur di sofa." Ben menunjuk ke arah kasur besar yang ada di kamar tamu.
"Aku tidak begitu mengantuk, kau tidurlah di kasur dan aku akan membaca buku di sofa."
"Sungguh? Bagaimana jika kau mengantuk nanti."
"Jangan khawatirkan aku, ini adalah waktumu untuk beristirahat."
"Baiklah." Ben merebahkan tubuhnya di kasur dan memejamkan mata.
"Ben?"
Ben tak menjawab. Semudah itukah Ia tidur?
Kath merasa bosan, Ia duduk di sofa dan meluruskan kakinya.
"Ahhkk..!"
Kakinya terasa kaku karena lukanya yang dirasa sakit. Kath menggulung celananya dan berniat membersihkan lukanya.
Tiba-tiba Ben terbangun ketika Kath sibuk mencari plester luka dan obat olesnya.
"Dibagian depan." Ben mengagetkan Kath.
"Ehh, ku kira kau sudah tidur."
Kath membeku dan tak berani untuk menoleh, Ben berdiri merangkulnya dari belakang, bukan untuk merangkul Kath tapi Ia membantu mencari plester luka.
"Ku temukan, kemari."
Ben menarik tangan Kath dan menjatuhkannya di sofa.
"Biar aku--"
"Tidak, aku harus bertanggung jawab pada lukamu."
Kath memperhatikan Ben yang dengan teliti mengangamati lukanya, membubuhkan obat dan menutupnya dengan plester lalu menurunkan celana Kath yang tergulung.
"Terimakasih."
Ben berdiri dan memperhatikan Kath yang terduduk. Ben tiba-tiba menarik tangan Kath dan membuatnya berdiri.
"B..Ben?"
Tanpa basa-basi Ben memeluknya lembut.
Kath tak menolak pelukan Ben, Ia hanya terkejut mengapa Ben sampai memeluknya.
Hampir semenit mereka tetap dengan posisi itu, lalu Ben melepaskan pelukannya.
"Aku sudah menransfer energiku untukmu, jadi kau akan cepat sembuh."
Kath tidak mengerti, dia hanya terpaku menatap d**a Ben yang bidang, Ia tak mampu menatap mata Ben.
Sepertinya Ben pun merasa canggung karena tiba-tiba Ia melakukan itu.
"Tidurlah, kau membutuhkan energimu kembali." Kath memutus suasana canggung itu.
"Okey!" Ben dengan semangat melanjutkan tidurnya.
Pria aneh! Pikir Kath. Ia dingin tapi lembut, bagaimana aku tidak tertarik. Kath memandangi Ben yang tertidur.
Ben benar-benar memberinya energi, kath menjadi lebih semangat dari sebelumnya.
Ia tersenyum diam-diam, memandangi Ben yang tertidur dari sofa tempat Ia duduk.
-
-
Jam menunjukan pukul 5 sore.
Ben dan Kath sudah dalam perjalanan menuju Lansvale Street yang lumayan jauh dari rumah Julie.
Mereka tak berpamitan pada Julie dan Justin karena sepertinya keduanya masih tidur nyenyak.
Ben menghentikan mobilnya di sebuah pul pengisian bahan bakar.
Ia keluar dan mengisi bahan bakar.
Kath tak ikut turun, Ia hanya memperhatikan Ben dari dalam mobil.
Sinar matahari senja makin terik dan tampaknya Kath paham jika Ben pasti membutuhkan syal dan topinya, Kath panik dan segera mencari dimana syal milik pria itu.
Tampaknya syal milik Ben tergeletak di jok belakang mobil. Betapa terkejutnya Kath ketika Ia mengambil syal itu.
Gadis itu menemukan pistol disana, tepat di bawah syal yang menutupinya.
Pistol? Apa yang akan Ben lakukan dengan itu?