Ben masih asik bersenandung sambil mengisi bahan bakar.
Kath keluar mobil dan memberikan syal pada Ben.
"Oh terimakasih." Ben meraih syal itu dan berniat memakainya.
Tapi Ia terkejut melihat pistol di balik syal yang Kath berikan.
"Kath?"
"Bisa kau jelaskan?"
"Kau menemukannya?"
"Apa yang akan kau lakukan dengan pistol itu?"
"Tidak, aku hanya memilikinya saja."
"Sepertinya kau sangat terburu-buru hingga tak sempat menyimpannya."
Ben selesai mengisi bahan bakar dan menatap ke arah Kath.
"Kath, dengar.. Tidak ada yang akan ku lakukan dengan benda itu."
"Kau bohong! Kau akan gunakan pistol ini untuk membunuh mereka bukan?!"
"Kath percayalah, ku mohon tenanglah." Ben meminta Kath untuk tenang.
"Aku memintamu untuk menyelamatkan teman-temanku tapi tidak dengan membunuh mereka Ben!"
Ben terdiam, seperti seorang anak yang dimarahi ibunya.
Pul terlihat sepi sehingga Kath bebas berteriak pada Ben.
"Kau tidak harus membunuh mereka, jika itu cara balas dendammu untuk Jennifer, tak ada bedanya, kau sama saja seperti mereka!"
"Sudah kuputuskan.." ujar Ben.
"Aku tidak suka dengan caramu, jika seperti ini biar aku mencari teman-temanku dengan caraku, aku tidak butuh bantuanmu Ben!"
Kath terlihat kesal dan berniat mengambil barang-barangnya di mobil dan pergi meninggalkan Ben, entah dengan cara apa Ia harus menyelamatkan teman-temannya, Ia hanya tak mau menyaksikan Ben membunuh para pemburu vampir itu.
"Lalu bagaimana denganku Kath?"
"Apa?"
Kath berdiri menatap Ben menunggu apa yang akan pria itu ucapkan selanjutnya.
"Kau bisa saja datang ke kantor polisi dan meminta tolong mereka untuk mencari teman-temanmu, lalu bagaimana denganku? Apa aku harus melakukan hal yang sama? Haruskah ku laporkan kematian Jennifer pada mereka? Haruskah ku katakan pada polisi bahwa Wesley telah membunuh Jennifer? Haruskah ku laporkan hal itu pada polisi?"
"Bagaimana caraku mendapat keadilan Kath?" Ben sama sekali tak marah pada Kath, Ia hanya tak menyangka Kath benar-benar tak memahaminya.
Kath yang sudah memegang tas miliknya, tak sengaja menjatuhkannya, Ia memikirkan ucapan pria tersebut, hatinya tersentuh dengan penjelasan Ben.
"Ben.." Kath mendekat dan menatap pria itu semakin dalam.
"Mereka bukanlah orang-orang jahat, mereka hanya mencoba melindungi manusia sepertiku." ujarnya lembut.
"Tapi mereka harus bertanggung jawab atas kematian Jennifer."
"Tidak, hanya dengan cara itu manusia bertahan hidup, dengan memerangi vampir sepertimu."
Ben tertawa lirih, bagaimana mungkin saat ini Kath mengatakan hal itu, sedangkan tadi Ia sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Baiklah, aku mengerti." Ben menghela nafas panjang.
Kath sedikit lega, tapi tidak. Ben belum selesai bicara.
"Kau manusia dan aku hanyalah vampir yang mencoba bertahan hidup, aku pernah mati sekali dan aku menjalani hidupku yang baru, aku fikir aku memiliki kesempatan untuk hidup lebih lama seperti manusia yang beruntung, aku melewati hidupku bertahun-tahun sebagai vampir dengan keputusasaan, tak pernah ada tujuan dalam hidupku, tapi saat ini aku menyadari meski sulit menjadi vampir aku tak pernah menyesal karena sekarang kau ada di depanku, aku dapat mengenalmu, jika Jennifer tak datang dan menolongku dulu, mungkin aku tak ada disini bersamamu Kath."
Kath terdiam, hatinya menjadi sangat sedih dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Jadi sekarang biarkan aku melewati jalanku sendiri, menyesali semua kenyataan yang sudah kau tunjukan padaku, aku mengerti kehadiranku sebagai vampir yang memang harus kalian musnahkan, percuma. Kau bisa pergi dan meninggalkanku Kath."
Degg!
Kath seperti terkena sambaran petir, Ia tak menyadari bahwa Ben sangat terluka dengan ucapannya tadi.
"Jangan khawatir, aku akan mengantarmu pulang, dan setelah itu ku pastikan kita tidak akan bertemu kembali."
Ben berjalan melewati Kath bersiap masuk kedalam mobil, tapi Kath merasa sangat bersalah padanya.
Sebelum sempat masuk, Kath memeluk Ben dari belakang, entah mendapat keberanian dari mana sampai Ia berani memeluk pria itu.
"Maafkan aku.. Aku tak bermaksud menyakiti perasaanmu Ben." kali ini Kath benar-benar meneteskan air mata.
"Aku tak pernah merasakan ada diposisimu, merasakan tersiksanya hidup dengan keterbatasan, kau hidup tapi sama sekali tak merasakan keadilan, sedangkan kau tak ingin mati terlalu cepat."
"Maafkan aku.. Hiks..hiks.."
"Aku tak ingin meninggalkanmu, atau sebaliknya." Kath menangis tersedu-sedu dengan memeluk Ben.
Ben melepas tangan Kath yang memeluknya erat dan memutar tubuhnya kearah Kath, membuat gadis itu menutup wajah dengan kedua tangannya, Kath malu jika harus menangis di hadapan Ben.
Ben menyingkirkan tangan Kath dan menghapus air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Mengapa begini Kath?" sekarang gadis itu seperti anak kecil yang sedang menangis.
"Aku tidak ingin melihatmu menangis, jadi tolong hentikan."
Kath benar-benar menyesal sehingga Ia tak sanggup menghentikan tangisannya.
"Jangan menangis, akupun tidak akan rela jika kau pergi meninggalkanku begitu saja, dan begitu pula sebaliknya, aku tak punya kekuatan untuk meninggalkanmu."
Kath sedikit lega mendengar ucapan Ben, sekarang tangisannya sedikit mereda.
Ben meraih wajah Kath supaya dapat menatap matanya dalam. Lalu tatapan mata Ben beralih pada leher putih milik Kath, Ia menyibak sebagian rambut Kath dan-- Ben mengecupnya.
Jantung Kath berdegup kencang, tapi Ia tak berontak sedikitpun, sepertinya perasaan Kath telah benar-benar berubah menjadi perasaan cinta yang membutakan hatinya.
Jika Ben menggigitnya, akan lebih baik karena itu berarti mereka benar-benar akan bersama selamanya.
Ben terdiam sejenak sambil menghirup aroma wangi dari leher jenjang Kath dan mengecupnya lagi. Tapi tiba-tiba Ia berhenti.
"Kau benar-benar mau aku melakukannya?"
Kath membuka matanya yang sejak tadi terpejam.
Dan mereka kembali bertatap muka.
"Aku tidak bisa Kath, aku tak mau menyakitimu."
Kath menelan ludah, tadi adalah kesempatan besar untuk Ben karena tampaknya Kath telah siap untuk menerima semua konsekuensinya.
Menjadi vampir, kehilangan masa depan, keluarga, teman, dan semuanya, hanya untuk menyerahkan hidupnya pada pria tampan, manis dan haus darah.
Entah apakah Ben juga memiliki perasaan yang sama seperti Kath, tapi Ben cukup membuktikan bahwa Ia juga menyayangi Kath dan tak ingin gadis itu kehilangan masa depannya hanya untuk menjadi vampir.
Ben tersadar jika apa yang Ia lakukan salah.
"Maafkan aku." Ben membelai pipi Kath yang terasa lengket karena air mata.
"Kau ini kenapa? Kau berharap aku menggigitmu, hah?" Ben menggoda Kath.
"Jangan membuatku malu." Kath menundukan wajahnya.
"Tidak Kath aku tidak akan melakukannya, kita rekan sejak malam pertama kita bertemu, aku tidak mungkin menyakiti rekanku sendiri."
'Rekan??'
"Masuklah, ada mobil datang kita harus segera pergi."
Kath buru-buru masuk kedalam mobil, dan mereka melanjutkan perjalanan.
Dalam perjalanan Kath terus memikirkan ucapan Ben.
'Rekan katanya? Setelah mencium leherku dia bilang aku hanya rekannya?' Kath merasa kesal.
'Atau dia melakukan itu karena begitulah cara dia memangsa manusia?'
'Bagaimana jika wanita? Apakah Ben juga akan melakukan hal yang sama?'
Kath terus bertanya-tanya.
"Mengapa diam?" tanya Ben yang menyadari gadis itu terus terdiam.
"Ehh tidak."
'Apa Ben dapat membaca pikiranku?'
"Kau tau apa yang ku minum tadi Kath?"
"Maksudmu saat dirumah Julie? Apa itu darah?"
"Hmm." Ben mengangguk
Artinya Ben belum haus darah, tentu Ia tak teratarik meminum darah Kath.
"Kami tidak melulu meminum darah manusia."
"Jadi kau bisa minum darah yang lain?"
"Ya, meski rasanya tak senikmat darah manusia, maka dari itu kami lebih banyak memangsa manusia."
"Ben, apa Julie dan Justin tak tergoda dengan kehadiranku?"
"Bisa saja, tapi mereka tidak akan berani padaku."
"Tetap saja." Kath berfikir mungkin Ia bisa berteman dengan vampir, dengan Julie contohnya, tapi tampaknya mereka tak dapat di ajak berteman.
"Apa menurutmu aku buas?"
"Tidak, kau adalah vampir yang cukup keren."
"Sungguh? Mengapa kau mengatakan itu?"
Kath hanya menaikan alisnya.
"Saat kau manusia dulu, apa kau memiliki kekasih? Bagaimana kehidupanmu?"
"Tentu, bagaimana mungkin pria tampan sepertiku tidak memiliki kekasih." Ben tertawa.
"Hhh.. Kau benar, selalu saja percaya diri." Kath tertawa kecut.
"Aku serius.."
"Lalu? Ceritakan.."
"Aku memiliki kekasih di Indonesia, dan kami sudah bertunangan."
"Lalu bagaimana kabarnya setelah dia tahu kau sudah mati?"
"Pernah sesekali aku mencari tahu kabarnya, dan ternyata Jennifer tidak suka itu."
"Benarkah? Lalu?"
"Ku rasa sepertinya dia sudah melupakanku."
"Syukurlah, kau tidak akan terlalu mengkhawatirkannya bukan?"
"Ya, dan Jennifer tak cemburu lagi."
Kath tertawa, "Dia cemburu? Kedengarannya lucu."
"Dia bilang hidupku sebagai manusia sudah berakhir, jadi aku tak perlu berurusan dengan masa laluku."
"Ya dia benar, kau tidak seharusnya terus mengingatnya."
"Hmm? Kau sependapat dengan Jennifer kali ini?"
Sebenarnya mendengar masa lalu Ben membuat Kath merasa cemburu bagaimana Jennifer juga tak cemburu, siapapun yang menjadi wanita Ben akan sangat cemburu jika mendengar masa lalunya dengan siapapun.
Ahh.. Ia lupa jika Ben hanya menganggapnya rekan.
'Bodoh.'
"Jika kau jadi Jennifer apa kau juga akan cemburu?"
"Aku? Tentu! Bagaimana mungkin aku tidak cemburu, kau sudah bersamaku tapi masih memikirkan orang lain, itu sungguh menyebalkan."
"Tampaknya kau mengatakan itu dari hatimu." Ben tertawa.
"Kau bertanya dan aku menjawab.. Ck!"
"Baiklah baiklah.." Ben tahu suasana hati Kath sedang tidak baik.
"Tidurlah Kath, kita akan sampai kira-kira dua jam lagi."
"Tidur?"
"Ya, kau tidak ingin tidur?"
"Baiklah, aku akan tidur, bangunkan aku saat kita sudah sampai."
"Jangan khawatir, tidurlah.."
Kath mencoba memejamkan matanya, Ia merasa sangat lelah. Jika keadaan seperti biasanya, di jam-jam sekarang dia pasti sudah merebahkan tubuhnya di kasur dan membaca buku.
Ben memandang ke arah Kath yang sudah memejamkan mata dan memperhatikannya dalam. Wanita muda yang cantik dan cerdas, tentu banyak yang mendambakan Kath, tapi bagaimana mungkin Ia menyukai pria seperti dirinya.
Ben tahu bagaimana perasaan Kath padanya, Kath sudah jatuh cinta dan tentu Ben memiliki perasaan yang sama pada gadis itu. Tapi, kebahagiaan apa yang dapat Ben janjikan? Mengatakan bahwa Kath akan bahagia menjadi vampir dan bersamanya, sungguh itu tidak akan ada apa-apanya dibanding kebahagiaannya menjadi manusia.
Maka Ben berusaha menahan perasaannya, tidak ada lagi pelukan atau belaian lembut, tidak ada lagi kecupan meski itu hanya di kening, Ia tak mau membuat Kath berharap dan malah akan menyakitinya.
-
-
Ben memarkirkan mobilnya di tepi jalan yang sepi. Rumah nomor 27 dan terdapat sebuah kebun kecil yang tak berpagar, Ben memundurkan mobilnya.
Jalanan Lansvale sangat sepi, tidak begitu banyak rumah disana dan masih terlihat hutan hutan dengan pohon besar.
"Kita sudah sampai?" tanya Kath yang terbangun.
"Ya.."
Kath melihat jam di ponselnya.
Pukul 9 malam.
"Kath tunggulah disini."
Kath meraih tangan Ben segera, "Tidak Ben, aku akan ikut bersamamu."
"Kau yakin?"
"Ya, biarkan aku ikut."
"Baiklah."
Kath dan Ben keluar dari mobil, lalu Ben mengarahkan Kath untuk mendekat padanya.
Mereka mengendap-endap melalui kebun yang berada di belakang rumah Liam.
"Ben, apa tak ada orang di dalam?"
"Entahlah, aku tidak mencium bau manusia dari dalam."
"Apa teman-temanku tidak ada didalam?" Ben tak menjawab pertanyaan Kath.
Ia mencoba membuka pintu belakang rumah Liam dan dengan mudah Ben membukanya karena sepertinya Liam tak begitu merawat rumahnya sehingga pintu rumahnya tak terkunci dengan baik.
Rumah yang berantakan dan bahkan mengerikan, saat masuk mereka berada di sebuah gudang tapi sepertinya itu adalah ruang bekerja Liam, terdapat banyak kayu-kayu disana.
"Dia adalah seorang pemahat dan dia juga mencari kayu dan menebangnya sendiri." ujar Ben.
Kath membayangkan Liam adalah orang yang sangat kuat, mengingat saat bagaimana dia melempar Kath dengan begitu kuat.
Ben berjalan masuk kedalam, terdapat beberapa ruang, dapur, kamar tidur dan ruang tamu tanpa kursi, sepertinya Liam benar-benar kesepian, dibandingkan dengan pemilik binatu yang memang kaya raya, Liam seperti tak memiliki pekerjaan selain ikut-ikutan memburu vampir setelah Ia selesai mencari kayu dan menjualnya.
"Ben, kita tidak menemukan kak Nad dan Lisa disini." Kath merasa sedih.
"Aku benar-benar tak mencium keberadaan manusia disini Kath, maafkan aku."
"Tidak masalah, kita akan tetap mencari mereka bukan?"
"Kita akan menemukan mereka, meski tidak ditempat ini, jangan khawatir."
"Terimakasih."
"Aku tetap harus menyelesaikan misiku."
"Ya? Misi?"
"Sepertinya hidup Liam tak lebih bahagia dariku?" ujar Ben menyeringai.
"Kau akan melakukannya Ben? Pada orang seperti dia?"
"Tidak ada pilihan lain Kath."
Di ruang tamu banyak sekali kepala-kepala binatang menggantung di dinding, sepertinya memang dia seorang penjagal, membunuh binatang dan memburu vampir.
"Kath!" Ben memperingatkan Kath, membuat gadis itu terkejut.
"Ada orang datang--"
Kath terlihat panik.
"Dari belakang."
"Ben??"
"Tenanglah Kath." Ben meminta Kath berlutut di sebuah sudut, Ia mengeluarkan pistolnya dan memberinya pada Kath.
"B..Ben??"
"Aku tidak akan membuat keributan dengan pistol itu dan membahayakanmu, aku akan menghadapinya, kau tetaplah disini, jika bukan aku yang keluar dari pintu itu, kau bisa langsung menembaknya untukku."
"A..apa maksudmu?"
"Peganglah kath, kau hanya tinggal menarik pelatuknya." dengan gemetar Kath memegang pistol yang Ben berikan.
Ben ternyata sudah mengambil sebuah kapak dari gudang saat mereka masuk, Ben menyadari jika suara tembakan akan menarik perhatian orang-orang disekitar mengingat keadaan Lansvale benar-benar tenang dan Ia tak mau membahayakan Kath.
"Jika kau berhasil menembaknya, larilah dan katakan pada siapapun bahwa aku dan Liam telah menyanderamu."
"Tidak Ben! Jangan buat aku melakukannya, ku mohon.." Kath tiba-tiba saja menangis.
"Jaga dirimu."
Ben tak memperdulikan Kath yang menahan kakinya dan meninggalkannya ke arah belakang.
Kath dapat mendengar keributan di belakang saat Ben baru beberapa detik meninggalkannya.
Tak ada yang dapat Kath lakukan selain menangis dan berdoa supaya Tuhan melindungi Beb. Ia berusaha menutup telinganya karena tak mau mendengar keributan dari belakang.
Kath berhenti menangis ketika suara keributan tak terdengar lagi. Ia ingat pesan Ben jika Ia harus menjaga dirinya, Ia berharap Ben-lah yang akan muncul dari pintu menuju ruang tamu, tapi bagaimana jika Ben gagal? Bagaimana jika Liam yang datang? Kath harus menguatkan dirinya dan berjaga-jaga.
Ia menghapus air matanya, dan berusaha sekuat tenaga untuk bangun, meski kakinya gemetar.
-
-
Terdengar langkah kaki seseorang yang berjalan mendekat dari arah belakang.
Kath sudah siap menarik pelatuknya.
Ternyata pria itu..
Kath sudah bersiap menembak dengan segala kekuatannya.
"Ini aku." Ben berjalan gontai.
"B..Ben?!" Kath menjatuhkan pistolnya, Ia berlari kearah pria itu dan memeluknya.
"Syukurlah kau selamat, aku takut bukan kau yang datang Ben." Kath menangis sejadi-jadinya.
Ia memeluk Ben dengan kuat, gadis itu tak peduli meski Ia tak merasakan degup jantung Ben, ia hanya bersyukur pria dalam pelukannya baik-baik saja.
"Ku mohon jangan menangis begitu." suara Ben terdengar parau.
"Kau baik-baik saja?" Kath menghentikan tangisannya. Ia memperhatikan Ben dan terkejut saat darah sudah mengotori baju Kath.
"Kau terluka?? Ben??" Kath mencoba menahan darah Ben yang menetes dari perutnya dengan kedua tangannya.
"Aku baik-baik saja."
"Kau tidak baik-baik saja, kau bisa mati." Kath panik dan mencoba membantu Ben berjalan menuju mobil.
"Tidak Kath, kita harus membakar rumah ini."
"Tapi bagaimana dengan lukamu."
"Kau lupa jika aku vampir?"
Kath tidak yakin jika Ben dapat menahannya, karena bagaimanapun lukanya sangat parah.
"Baiklah, ayo.." Kath bermaksud memposisikan Ben untuk menunggu di pintu belakang.
"Tidak, kau akan melihat Liam terkapar disana."
"Aku tidak peduli."
Ben tak dapat menolak, dan berjalan ke arah gudang dibantu Kath.
Gadis itu melihat tubuh Liam tergeletak dilantai kayu, dan bekas darah ada dimana-mana.
"Duduklah.." Kath meminta Ben untuk duduk disebuah kursi kayu.
"Aku akan membantu--"
"Tidak, biarkan aku, kau bisa kehilangan banyak darah." Ben menuruti kata-kata Kath.
Kath menemukan minyak tanah dan menumpahkannya di beberapa tempat lalu yang terakhir di pintu belakang.
Kath dan Ben keluar, lalu membakar rumah Liam dari pintu belakang.
Rumah Liam dengan mudah terbakar karena sebagian bangunannya terbuat dari kayu.
Mereka buru-buru menuju mobil dan Kath mengambil alih kemudi. Ia benar-benar kehilangan konsentrasinya, Ia kebingungan dengan luka di perut Ben.
Kath menoleh pada Ben yang sudah memejamkan mata, entah apakah pria itu mencoba menahan rasa sakit atau Ia sudah tak sadarkan diri.
Kath tak mencoba memastikan, Ia terus berfikir bagaimana mengatasi luka Ben.
Membawanya ke klinik, tidak mungkin karena mereka pasti benar-benar akan memeriksa Ben, mereka dapat menyadari jika jantungnya tak berdetak.
Lukanya cukup dalam, Ia harus cepat menolong Ben atau Ben akan kehilangan banyak darah.
Rosé benar-benar putus asa dan ingin menangis, kemana Ia harus membawa Ben?
'Tenang Kath, kau pasti bisa mengatasnya.' Ia menguatkan dirinya.