Lobi Arja Group yang megah, dengan dinding marmer dan patung kontemporer, biasanya membuat Alisha merasa bangga. Hari ini, ia hanya merasa seperti melewati lorong panjang menuju medan pertempuran. Langkahnya cepat, membunyikan ketokan halus sepatu haknya di lantai yang mengilap.
“Selamat pagi, Ibu Alisha.”
“Pagi,Bu Direktur.”
Sapaan karyawan yang lalu lalang ia balas dengan anggukan singkat dan senyum tipis yang sudah ia latih dengan sempurna. Senyum itu pupus begitu elevator menutup dan membawanya ke lantai paling atas.
“Bu! Terima kasih Tuhan Ibu sudah datang.”
Sari,sekretarisnya yang telah berusia sepuluh tahun lebih tua darinya dan menjadi tangan kanan sekaligus penasihat yang dipercaya, sudah menunggu di depan pintu kantor direktur. Wajahnya yang biasanya kalem tampak cemas.
“Ada apa, Sar? Rapat dengan investor masih jam sepuluh, kan?” tanya Alisha, meletakkan tasnya di meja assistant Sari.
“Bukan itu, Bu. Lihat ini.” Sari mengarahkan tabletnya ke Alisha. Grafik saham Arja Group ditampilkan dengan garis merah menukik tajam. “Sejak berita ‘konflik internal kepemilikan’ bocor ke media bisnis kemarin sore, saham kita terus terjun bebas. Dan ini email dari Bank Mandiri, mereka ‘menunda sementara’ pembahasan perpanjangan kredit modal kerjanya. Alasannya: ‘ketidakpastian struktur kepemimpinan’.”
Alisha menutup mata sejenak, menahan sakit kepala yang mulai berdenyut. “Clara. Pasti dia yang membocorkannya. Ini cara ninjanya untuk memaksaku menandatangani.”
“Iya, Bu. Dan itu berhasil. Dewan sudah mulai gelisah. Tadi pagi Bapak Hendra dari komisaris sudah menelepon, bertanya ‘kapan masalah keluarga ini selesai?’.” Sari mengikuti Alisha yang masuk ke dalam ruangan kerja luas berpanel kayu itu. “Apa yang mau kita lakukan? Tekanan dari dalam dan luar sudah mulai tidak tertahankan.”
Alisha berjalan menghampiri jendela panorama yang memandang seluruh kota. Dia membelakangi Sari, mencari kekuatan dari pemandangan itu. “Aku tidak bisa menyerahkan perusahaan begitu saja, Sar. Ini untuk Melodi. Dan untuk Arka. Dia membangun ini dari nol. Clara hanya melihatnya sebagai mesin ATM keluarga.”
“Saya tahu, Bu. Tapi kita butuh strategi. Bukan hanya bertahan, tapi menyerang balik. Kita butuh bukti bahwa kepemimpinan Ibu stabil dan profitable. Kita butuh… terobosan.” Sari duduk di salah satu kursi di depan meja, suaranya penuh dengan keprihatinan tulus.
“Terobosan,” gumam Alisha. Pikirannya melayang tiba-tiba. Dari kekacauan pagi ini, sebuah gambar muncul: seorang pemuda tampan dengan mata tajam, berdiri di samping motornya yang lecet. Konsultan Manajemen & Restrukturisasi Bisnis.
Dia berbalik dengan tiba-tiba.“Sar, bagaimana pendapatmu jika kita mencari konsultan eksternal? Seseorang yang benar-benar independen, tidak terikat dengan keluarga atau politik internal, untuk membantu merestrukturisasi dan memberi penilaian objektif tentang arah perusahaan?”
Sari mengerutkan kening. “Ide yang bagus secara teori, Bu. Tapi mencari konsultan yang kompeten dan benar-benar netral butuh waktu. Dan kita tidak punya waktu. Selain itu, klien seperti kita biasanya ditangani oleh firma besar yang biayanya selangit dan… seringnya punya koneksi dengan pihak-pihak di sini juga.”
“Bagaimana jika… bukan firma besar? Bagaimana jika seseorang yang independen, yang mungkin punya perspektif segar?” tanya Alisha, mencoba menyembunyikan gelagatnya.
“Seseorang? Siapa, Bu? Ibu punya calon?” Sari langsung menangkap intonasi di suara atasannya.
Alisha mengambil napas. Kedengarannya gila. “Pagii tadi… aku menabrak seseorang. Kebetulan, dia tinggal di kompleks yang sama. Dan… dia memberikan kartu namanya. Dia seorang konsultan manajemen dan restrukturisasi bisnis independen.”
Sari terdiam sesaat, lalu tertawa kecil tanpa suara. “Hanya Ibu, Alisha, yang bisa mendapatkan calon konsultan dari sebuah insiden tabrak lari.”
“Bukan tabrak lari! Aku minta maaf dan menawarkan ganti rugi!” protes Alisha, sedikit tersipu. Tapi senyum kecil Sari membuatnya sedikit rileks.
“Baiklah. Namanya siapa? Latar belakangnya?”
“Reza Pratama.Hanya itu yang aku tahu.” Alisha mengambil kartu nama kecil dari dompetnya dan menyerahkannya pada Sari.
Sari langsung membuka laptopnya, jari-jarinya menari di atas keyboard. “Mari kita lihat… Reza Pratama… Lulusan MBA Stanford… Wah. Pernah bekerja di firma konsultan ternama di Singapura selama lima tahun… Membuka praktik independen dua tahun terakhir… Kliennya campuran, UKM hingga beberapa perusahaan menengah… Tidak ada catatan negatif. Profesional.” Dia menatap Alisha. “Kredensialnya bagus, Bu. Bahkan sangat bagus. Tapi, apakah dia mau? Dan apakah dia bisa menghadapi badai di sini?”
“Aku tidak tahu. Tapi kita harus mencoba sesuatu yang berbeda, Sar. Aku lelah dengan permainan kata-kata dan ancaman terselubung. Aku butuh seseorang yang melihat angka, data, dan strategi, bukan nama keluarga atau sentimen lama.” Ada api kecil yang menyala di mata Alisha, sebuah tekad yang muncul dari kelemahan.
“Oke. Mari kita hubungi dia. Saya akan—”
Belum selesai Sari berbicara,pintu kantor terbuka dengan ketukan yang tergesa-gesa diikuti oleh seorang karyawan muda dari divisi keuangan, Pak Rendra. Wajahnya pucat.
“Maaf mengganggu, Bu Direktur, Ibu Sari. Tapi ini darurat.”
“Apa yang terjadi,Rendra?” tanya Alisha, langsung siaga.
“Laporan revisi proyek pembangunan pusat logistik bulan lalu… itu salah, Bu. Salah perhitungan besar. Estimasi biaya yang kita ajukan ke investor ternyata kurang hampir 30%. Itu kesalahan yang tidak mungkin terjadi jika sistem kita berjalan normal.” Napas Rendra tersengal.
“Apa? Bagaimana bisa?” Sari berdiri. “Itu sudah diperiksa tiga kali!”
“Itulah, Bu. Saya dan tim sudah telusuri. File excel master-nya… ada formula yang sengaja diubah. Beberapa data input dari purchasing juga ‘hilang’. Dan akses ke folder server proyek itu hanya dimiliki oleh tim inti dan… level direksi.” Rendra menatap Alisha dengan campuran rasa takut dan kesetiaan. “Saya tidak mau menuduh, Bu. Tapi ini bukan kesalahan biasa. Ini seperti… ada yang sengaja membuat kita terlihat tidak kompeten, atau lebih buruk, menipu investor.”
Ruangan itu terasa sesak. Alisha merasakan dingin mengalir di tulang belakangnya. Bukan hanya tekanan dari luar. Ada musuh di dalam rumah. Sabotase.
“Terima kasih, Rendra. Tolong, amankan semua bukti yang ada. Akses log, riwayat perubahan file, semuanya. Lakukan dengan sangat hati-hati. Jangan beri tahu siapa pun selain kami bertiga dulu,” instruksi Alisha, suaranya rendah namun tegas.
“Baik, Bu.” Rendra mengangguk cepat dan keluar, meninggalkan keheningan yang mencekam.
“Clara… atau seseorang yang bekerja untuknya,” desis Sari, mata nya menyipit.
“Atau siapa pun yang punya kepentingan agar aku jatuh,” tambah Alisha. Pikirannya berputar cepat. Ancaman di mana-mana. Saat itulah, tekadnya semakin mengeras. Dia melihat kartu nama Reza yang masih tergeletak di meja Sari.
“Sar, hubungi dia. Sekarang. Jadwalkan pertemuan secepat mungkin. Katakan kita butuh konsultan untuk audit internal dan strategi krisis. Jangan beri detail dulu di telepon.”
Sari mengangguk, memahami urgensi di mata Alisha. “Saya urus, Bu.” Ia segera mengambil telepon di mejanya.
Sementara itu, di sudut lain kota, di sebuah kafe mewah, Clara Arjuna sedang duduk dengan secangkir espresso. Teleponnya menempel di telinga, senyum tipis dan puas menghias bibirnya.
“…Sudah dipastikan, Bu Clara. ‘Kesalahan’ di laporan itu sudah terdeteksi oleh si anak muda bawahan setia Alisha. Sekarang mereka pasti panik,” suara laki-laki di seberang telepon, terdengar agak gugup.
“Bagus. Biarkan mereka panik. Biarkan investor mendengar ‘kebocoran’ berikutnya tentang ‘kecurangan laporan keuangan’. Alisha akan hancur sendiri. Dia hanya wanita lemah yang mencoba bermain di dunia pria,” bisik Clara, matanya dingin. “Lanjutkan dengan tahap berikutnya. Bekukan pemesanan bahan baku untuk proyek flagship mereka. Buat alasan teknis.”
“Tapi, Bu… itu akan merugikan perusahaan sendiri.”
“Perusahaan sementara bisa rugi.Tapi aku akan dapatkan perusahaan itu sepenuhnya setelah Alisha jatuh. Lakukan!” Clara memutuskan sambungan dengan kasar.
Dia menyeruput espresonya, menatap kota di balik kaca. Segalanya berjalan sesuai rencana. Hanya soal waktu sebelum keponakannya yang menjengkelkan itu menyerah dan menandatangani surat itu.
Kembali di kantor Arja Group, Alisha menatap layar komputer yang menampilkan grafik saham merah itu. Rasa takut berganti dengan kemarahan yang membara. Mereka menyabotase usaha Arka. Mereka mengancam masa depan Melodi.
Telepon di meja Sari berdering. Sari mengangkat, mendengarkan sebentar, lalu menutup receiver dengan tangan. “Bu, itu Bapak Hendra dari komisaris. Dia menelepon langsung. Katanya ada hal ‘sangat mendesak’ untuk dibahas sebelum rapat investor.”
Alisha menghela napas, mengumpulkan semua keberanian yang tersisa. “Tolong sambungkan, Sar.”
Sementara satu tangan menerima telepon yang penuh dengan tekanan,matanya tertuju pada layar laptop Sari yang menunjukkan profil LinkedIn: Reza Pratama. Di foto itu, pria itu tersenyum percaya diri. Sebuah tumpuan harapan yang sangat kecil di tengah badai yang semakin besar.
“Bapak Hendra, saya mendengarkan…” Alisha memulai percakapan, suaranya sengaja dibuat datar dan profesional, sementara jari-jarinya di bawah meja menggenggam erat, bertekad untuk tidak goyah.
Pertempuran resmi dimulai, bukan hanya di medan keluarga, tetapi juga di medan bisnis yang penuh dengan intrik dan pengkhianatan. Dan tanpa disadari, seorang pemuda dengan motor yang lecet mungkin saja menjadi penanda arah yang tidak terduga dalam pertempuran hidupnya.
---
Bersambung...