Pagi itu, di kantor Arja Group…
“Jadi, menurut Anda, Ibu Sari, ini adalah situasi hostile takeover dari dalam keluarga, dibungkus dengan isu kompetensi dan disabotase data?” suara Reza di telepon terdengar tenang, analitis, namun mengandung sedikit skeptisisme.
Sari, dengan telepon terjepit di antara telinga dan bahunya sambil merapikan dokumen, mencoba meyakinkan. “Pada dasarnya, ya, Pak Reza. Dan Ibu Alisha membutuhkan sudut pandang independen yang tajam. Dia tidak butuh politikus. Dia butuh ahli bedah untuk perusahaan ini.”
“Masalah keluarga itu… beracun, Ibu Sari. Mereka jarang berakhir baik untuk konsultan yang terjebak di tengahnya,” balas Reza. “Saya menghargai kepercayaan Ibu Alisha, tapi saya perlu berpikir.”
“Pak Reza,” ujar Sari, menurunkan suaranya menjadi lebih personal. “Saya sudah bekerja untuk Ibu Alisha dan mendiang suaminya lebih dari sepuluh tahun. Ibu Alisha bukan sekadar janda yang tersinggung. Dia cerdas, lulusan terbaik, dan dia berjuang mati-matian untuk amanah yang ditinggalkan suaminya dan untuk anaknya. Dia terjepit. Dan hari ini, dalam beberapa jam, ada rapat investor yang akan menentukan nasib perusahaan. Mereka seperti hiu yang sudah mencium darah. Kami butuh kejutan. Kami butuh Anda.”
Diam sejenak di seberang telepon. Sari bisa mendengar suara lalu lintas di belakang Reza.
“Rapat investor jam berapa?”
“Jam sepuluh,Pak. Di kantor Arja, lantai 40.”
“Itu kurang dari dua jam dari sekarang.Dan posisi saya masih di selatan kota. Itu hampir mustahil.”
“Tapi bukan tidak mungkin,kan?” sambar Sari, mencoba memaksakan sedikit senyum ke dalam suaranya. “Kami butuh seseorang yang berani mengambil langkah tak terduga. Bayaran Anda akan sesuai, tentu saja. Tapi yang lebih penting, ini tantangan yang langka. Menyelamatkan sebuah perusahaan dari ambruk karena konflik internal. Bukankah itu lebih menarik daripada sekadar merestrukturisasi utang UKM?”
Terdengar helaan napas dari Reza. “Anda ini sekretaris atau kepala negosiator, Ibu Sari?”
“Saya apa pun yang dibutuhkan perusahaan ini,Pak,” jawab Sari dengan tegas.
“Baik.Saya akan mencoba. Tapi saya tidak janji bisa tepat waktu. Macet di jalan tol bukan wilayah kendali saya.”
“Cukup Anda berusaha,Pak Reza. Terima kasih! Kami tunggu.”
Jam 09.55, Ruang Rapat Utama “Arjuna” lantai 40.
Suasana tebal terasa. Ruang rapat mewah dengan view panoramik itu dipenuhi oleh para investor, sebagian anggota dewan, dan tim manajemen Alisha. Clara duduk di sisi meja dengan wajah puas, ditemani oleh pengacara dan seorang direktur keuangan yang merupakan orang dalamnya. Alisha, duduk di kepala meja, terlihat anggun namun tegang. Di sampingnya, duduk konsultan internal perusahaan, Pak Wisnu, seorang pria berambut perak yang sedang membuka laptop dengan wajah serius.
“Sepertinya kita sudah bisa mulai, Ibu Alisha. Semua pihak penting sudah hadir,” ujar Pak Hendra dari komisaris, suaranya datar.
“Kita tunggu sebentar. Masih ada satu orang lagi dari tim kami,” jawab Alisha, matanya sesekali melirik ke pintu.
“Siapa itu? Bukannya Pak Wisnu sudah mewakili?” tanya Clara dengan nada merendahkan. “Jangan-jangan Ibu menghadirkan ‘penasehat spiritual’ untuk menghadapi krisis ini?” Beberapa investor yang memihak Clara terkekeh kecil.
“Dia adalah konsultan independen yang akan memberikan penilaian segar terhadap situasi kita,” jelas Alisha, berusaha menjaga kestabilan suara.
Di lobi lantai 40, Sari mondar-mandir gelisah.
Jam sepuluh lewat lima. Reza belum datang. Teleponnya tidak diangkat. Sari sudah mengirim tiga pesan singkat.
Jam sepuluh lewat sepuluh. Pintu elevator terbuka. Sari langsung menghampiri, namun yang keluar hanya karyawan biasa. Hatinya mulai berdebar kencang. Rapat sudah dimulai sepuluh menit yang lalu tanpa kehadiran Reza.
Di dalam ruang rapat, tekanan mulai memuncak.
“…dengan segala hormat, Ibu Alisha, penurunan saham dan kebocoran informasi ini menunjukkan ketidakstabilan kepemimpinan. Dan sekarang, dengan laporan keuangan yang bermasalah di proyek logistik—yang menurut saya kelalaian yang sangat fatal—kepercayaan investor semakin terkikis.” Seorang investor paruh baya bernama Pak Joko bersuara keras. “Kami butuh kepastian. Dan kepastian itu, menurut kami, ada jika pengelolaan dikembalikan ke dalam satu komando keluarga besar yang solid, dalam hal ini diwakili oleh Ibu Clara Arjuna.”
“Saya tidak setuju,” sahut Alisha. “Masalah teknis pada satu laporan sedang diselidiki. Itu tidak mengubah fundamental perusahaan yang sehat. Dan kepemimpinan saya telah membawa pertumbuhan 15% di sektor retail kami dalam setahun terakhir.”
“Pertumbuhan yang akan hancur jika sentimen negatif ini terus berlanjut!” sergah investor lain.
Clara tersenyum tipis. “Kami, keluarga, hanya ingin yang terbaik untuk Arja Group. Dan kadang, yang terbaik adalah mengakui kelemahan dan menyerahkan tongkat estafet kepada yang lebih berpengalaman.”
Perdebatan memanas. Pak Wisnu, konsultan internal, mencoba menengahkan dengan bahasa yang penuh jargon bisnis, tetapi terdengar seperti pembelaan yang lemah. Alisha merasa semakin terjepit. Dia melirik ke arah pintu. Kosong. Di mana dia?
Jam sepuluh lewat dua puluh.
Pintu elevator di lobi akhirnya terbuka. Reza Pratama melangkah keluar, dengan napas sedikit tersengal. Dia masih mengenakan kaos polo biru navy yang sederhana, celana chino beige, dan sepatu sneakers putih bersih—sama persis seperti pakaian saat ditabrak Alisha pagi tadi.
“Pak Reza! Tuhan, akhirnya!” Sari hampir menarik lengannya. “Mereka sudah mulai! Ikut saya!”
“Maaf, macet parah di arteri. Ponsel saya juga kehabisan baterai,” ujar Reza singkat sambil berjalan cepat mengikuti Sari.
“Tapi… Pak, Anda tidak ganti pakaian?” tanya Sari, melihat penampilannya yang sangat kasual untuk rapat tingkat tinggi.
“Tidak sempat. Ini saja yang penting,” jawab Reza, tenang sekali.
Sari menarik napas dalam dan langsung membukakan pintu ruang rapat yang berat. Semua kepala menoleh ke arah mereka.
Dentangan percakapan langsung terhenti. Para investor dan direksi yang mengenakan jas dan kemeja bermerek terbaik memandang dengan ekspresi campuran antara kaget, bingung, dan menghina. Sebuah tawa kecil dan bisikan-bisikan langsung menyebar.
“Ini konsultan independennya? Kayak baru dari gym.”
“Alisha jadi bahan lelucon nih.”
“Ini sudah putus asa level akut.”
Clara tidak bisa menyembunyikan senyum sinisnya. “Ibu Alisha, tamu terakhir Ibu ini?”
Alisha sendiri hampir terjatuh dari kursinya. Dia memandang Reza dengan mata wide open, campur aduk antara rasa lega dan panik melihat penampilannya. Apa yang dia lakukan?
Namun, di ujung meja, salah seorang investor yang lebih muda, sekitar umur 35-an, bernama Bima, tiba-tiba duduk tegak. Matanya membelalak. Dia mengenali pemuda berkaos itu. Tapi sebelum dia bisa berkata apa-apa, Reza memberinya pandangan singkat yang sangat tajam, seperti peringatan. Bima menutup mulutnya, tapi wajahnya penuh keheranan dan rasa hormat yang tiba-tiba.
Reza mengangguk santai pada Alisha. “Maaf terlambat, Ibu Alisha. Lalu lintas.” Kemudian, tanpa menunggu diantar, dia berjalan langsung ke depan ruangan, mendekati papan tulis interaktif, mengambil spidol. Suaranya lantang, jelas, dan memotong semua bisikan.
“Selamat pagi. Saya Reza. Dan sebelum kita membuang waktu membahas pakaian saya—yang menurut saya cukup nyaman dan fungsional—mari kita bahas angka-angka yang tidak nyaman bagi Anda semua.”
Dia langsung mencoret-coret beberapa poin di papan. “Dari laporan yang saya dapatkan dalam perjalanan tadi, masalahnya bukan di laporan proyek logistik yang salah itu. Itu gejala. Masalahnya ada di sini: supply chain management yang kuno, overspending di divisi marketing sebesar 22% tanpa peningkatan ROI yang signifikan, dan struktur biaya operasional yang membengkak 18% dalam dua tahun terakhir, bersamaan dengan era kepemimpinan ‘konsolidasi keluarga’ yang diusung beberapa pihak di ruangan ini.”
Semua terdiam. Clara tersenyumnya hilang. “Berdasarkan apa Anda bicara? Anda siapa?”
“Saya orang yang Anda bayar nanti jika saya berhasil menghematkan 30% dari kebocoran yang saya sebutkan tadi,” balas Reza dingin. “Sekarang, tentang isu saham yang anjlok. Itu murni permainan sentimen. Nilai buku perusahaan ini masih kuat. Aset properti saja nilainya tiga kali lipat dari kapitalisasi pasar saat ini. Yang terjadi adalah market manipulation oleh pihak yang punya kepentingan mengambil alih dengan harga murah.”
“Omong kosong! Anda hanya mengada-ada!” bentak salah satu direktur yang merupakan kaki tangan Clara.
“Saya punya data,” kata Reza, menatapnya langsung. “Dan saya juga punya analisis yang menunjukkan ada aliran dana tidak wajar dari anak perusahaan ke beberapa vendor ‘baru’ yang ternyata direksi oleh… keluarga tertentu.” Tatapannya beralih ke Clara.
Suasana jadi tegang. Pengkhianat dalam ruangan itu—sang direktur keuangan yang duduk di sebelah Clara, bernama Pak Felix—mulai berkeringat dingin. Dialah yang mengubah formula di laporan logistik itu atas perintah Clara.
Investor muda tadi, Bima, akhirnya tidak bisa menahan diri. “Maaf, izinkan saya bertanya. Apakah Anda adalah Reza Pratama, founder dan CEO dari ‘Pratama Capital’ di Singapura?”
Semua kepala kini menatap Bima, lalu kembali ke Reza. CEO? Alisha tertegun. Sari membelalak.
Reza menghela napas, seperti agak kesal identitasnya terbongkar. “Dulu, Bima. Sekarang saya hanya konsultan independen.”
“Tapi… Pratama Capital adalah salah satu calon investor utama dalam proyek ekspansi kami ke regional! Mereka terkenal sangat selektif!” seru Bima, hampir terdengar seperti fanboy.
Kontan, seluruh ekspresi di ruangan itu berubah. Ejekan berubah menjadi keheranan, lalu rasa ingin tahu, dan bahkan kekaguman. CEO sebuah firma modal ventura ternama, berdiri di depan mereka dengan kaos dan sepatu sneakers.
Reza memanfaatkan momen itu. “Identitas saya tidak relevan. Yang relevan adalah solusi. Ibu Alisha telah mengidentifikasi masalah inti dan berani membawa orang luar untuk membedahnya. Itu langkah pemimpin yang percaya diri. Daripada memecah belah perusahaan dengan perebutan kekuasaan yang destruktif, mari fokus pada cash flow improvement, digitalisasi supply chain, dan strategi ekspansi regional yang sudah ada di atas kertas tapi terbengkalai karena konflik ini. Dalam enam bulan, saya yakin saham tidak hanya pulih tapi akan menembus rekor tertinggi baru.”
Dia menatap para investor satu per satu. “Pertanyaannya, Anda mau ikut naik ke level selanjutnya, atau mau terus terjebak dalam drama sinetron keluarga yang hanya menguntungkan segelintir orang?”
Keheningan yang penuh daya menggantikan keributan. Para investor saling pandang. Clara dan Pak Felix pucat pasi. Rencana mereka hancur oleh kehadiran tak terduga pria berkaos ini.
Alisha, dengan jantung berdebar kencang namun penuh rasa syukur, mengambil alih. “Saya rasa presentasi Pak Reza cukup jelas. Kita punya pilihan. Kembali ke agenda, mari kita bahas proposal perbaikan mendetail, dimulai dari audit internal menyeluruh—yang akan dipimpin oleh Pak Reza.”
Matanya bertemu dengan mata Reza. Dalam pandangan itu, ada ucapan terima kasih, kelegaan, dan sebuah pengakuan bahwa langkah nekatnya pagi ini mungkin adalah langkah terbaik yang pernah dia ambil dalam lima tahun terakhir.
Clara berdiri, wajahnya merah padam. “Ini tidak selesai!” geramnya, sebelum keluar dari ruangan diikuti oleh pengacaranya. Pak Felix yang pengkhianat itu hanya bisa menunduk, tidak berani menatap siapa pun, mengetahui bahwa permainannya sudah berakhir.
Babak baru di Arja Group telah dimulai. Dan sang konsultan tak biasa dengan sepatu sportnya telah menjadi konduktor yang tak terduga.
---