Rapat itu berakhir dengan suasana yang sama sekali berbeda dari awalnya. Para investor, yang tadinya penuh keraguan, sekarang berjabat tangan dengan hangat pada Alisha dan—terutama—pada Reza. Tawaran untuk bertemu secara privat dan membahas proposal detail berdatangan. Kemenangan itu terasa manis, namun bagi Alisha, ada sesuatu yang lebih menggoda daripada kemenangan itu sendiri: pria yang berdiri di sampingnya, yang baru saja menyelamatkan segalanya dengan percaya diri yang memesona.
“Saya… tidak tahu harus berterima kasih bagaimana, Reza,” ucap Alisha saat mereka berdua akhirnya sendirian di lorong menuju kantornya. Suaranya terdantung, sedikit gugup.
Reza tersenyum, senyum yang lebih hangat dan kurang tajam dibanding ekspresinya di ruang rapat tadi. “Ganti rugi untuk lecet di motor saya sudah lunas, Bu Alisha.”
Alisha tersipu, tawa kecil menggelepas. “Jangan diingat-ingat lagi, itu. Aku malu.”
Sari yang berjalan di belakang mereka dengan setumpuk dokumen, menyembunyikan senyum kecut. Dia memperhatikan bagaimana mata atasannya itu terus tertuju pada Reza, bahkan ketika Reza sedang menatap ke arah lain. Ada cahaya di mata Alisha yang sudah lama tidak muncul—cahaya kagum, dan mungkin sesuatu yang lebih.
“Saya akan buatkan laporan tindak lanjut dan proposal kerja resmi untuk Anda tinjau, Bu,” ujar Sari, memecah momen. “Pak Reza, apakah Anda ada waktu besok pagi?”
“Buatkan saja. Saya akan email Anda draf kerangka audit internal malam ini,” jawab Reza pada Sari, tapi matanya masih menatap Alisha. “Dan untuk Ibu Alisha… jangan terlalu keras pada diri sendiri. Anda tadi di ruangan itu, bertahan dengan sangat baik.”
Pujian sederhana itu membuat hati Alisha berdebar kencang. “Terima kasih. Itu… berkat Anda.”
“Tidak.Itu berkat data dan keteguhan Anda. Saya cuma penyampainya.”
Setelah perpisahan singkat, Alisha kembali ke kantornya. Namun, konsentrasinya buyar. Pikiran dan matanya selalu tertuju ke arah ruang rapat kosong, mengingat setiap gerakan, setiap kata, setiap senyum Reza. Sari yang masuk dengan teh, akhirnya tidak tahan.
“Ibu kelihatan sangat… bersemangat, Bu,” ujarnya, sengaja halus.
“Hah? Iya, dong. Kita menang hari ini,” jawab Alisha, cepat, sambil pura-pura sibuk dengan kertas.
“Bukan menang di rapat yang saya maksud, Bu,” Sari menyeringai. “Tapi menang dapat konsultan yang sangat kompeten dan… eye-catching.”
Alisha menatap Sari, wajahnya memerah. “Sar! Jangan ngawur.”
“Saya hanya observasi,Bu. Dari tadi mata Ibu tidak lepas darinya. Dan… tidak apa-apa, kok. Sudah lama saya tidak melihat Ibu tersenyum seperti itu.”
Alisha menghela napas, tidak bisa menyangkal. “Dia… berbeda. Tidak seperti yang lain.”
Sore itu, menjelang senja.
Alisha sudah akan pulang ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal: ‘Masih merasa bersalah dengan motor saya? Tebus dengan secangkir kopi. Saya tahu tempat yang bagus dekat sini. – Reza.’
Jantungnya langsung berpacu. Tangannya gemetar sedikit sebelum membalas: ‘Itu tawaran yang tidak bisa saya tolak. Di mana?’
Mereka bertemu di sebuah kafe kecil tersembunyi di pinggir kota, dengan taman terbuka yang menghadap langsung ke pemandangan matahari terbenam. Reza sudah duduk, masih dengan kaus polo, tapi mengganti celananya dengan jeans dan jaket bomber sederhana. Alisha, yang berganti menjadi dress kasual panjang, merasa sedikit overdressed.
“Ini jauh lebih baik daripada suasana ruang rapat yang pengap,” sambut Reza, menyiapkan kursi untuknya.
“Iya. Terima kasih sudah mengajak saya.”
“Yah,saya pikir kita perlu membahas kerja sama dengan suasana yang lebih… manusiawi. Tanpa para hiu investor.”
Mereka memesan, dan percakapan ringan pun mengalir. Reza bercerita tentang pengalamannya di Singapura, tentang klien-klien anehnya. Alisha tertawa lepas, merasa ringan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun.
“Jadi, benar dong saya waktu itu,” seloroh Alisha. “Anda memang konsultan. Tapi saya kira konsultan kecil, bukan CEO tersembunyi.”
Reza tertawa. “Saya sudah bosan dengan dunia korporat yang penuh atribut. Jas, jam tangan mahal, pertemuan yang penuh basa-basi. Saya lebih suka substansi. Seperti hari ini. Ekspresi wajah mereka saat saya pakai kaos… tak ternilai harganya.”
“Itu sangat berani. Dan sangat… you,” ucap Alisha, tanpa sadar.
Reza menatapnya, senyumnya melunak. “Terima kasih. Tapi, yang lebih berani sebenarnya Anda. Bertahan lima tahun, melawan arus, membesarkan anak sendiri. Itu bukan hal mudah.”
Pujian itu menyentuh relung hatinya yang paling dalam. Dalam kehangatan senja dan keakraban ini, pertahanannya turun.
“Kadang… saya tidak merasa berani,” aku Alisha, menatap cangkir kopinya. “Saya sering terbangun tengah malam, ketakutan, merasa tidak mampu. Mimpi tentang kecelakaan itu… selalu kembali. Saya merasa bersalah karena selamat, sementara Arka…” Suaranya tercekat.
Reza diam, mendengarkan dengan penuh perhatian. Tidak memotong, tidak memberi nasihat kosong.
“Dan Melodi… dia mulai bertanya tentang ayahnya. Saya tidak tahu harus menjelaskan bagaimana. Saya takut tidak bisa menjadi kedua orang tua untuknya.” Sebuah tetes air mata jatuh ke cangkirnya. Alisha kaget, buru-buru mengusapnya. “Maaf, saya tidak tahu kenapa cerita ini.”
“Jangan minta maaf,” bisik Reza. Suaranya sangat lembut. “Itu beban yang sangat berat untuk dipikul sendirian.”
“Selama ini, saya harus kuat di depan semua orang. Di depan Melodi, di depan karyawan, di depan keluarga Arka yang selalu mengintai. Tidak ada yang bisa saya ajak bicara seperti ini. Sari pun, saya selalu coba tunjukkan bahwa saya baik-baik saja.” Alisha menarik napas panjang. “Tapi hari ini… setelah rapat itu, setelah melihat Anda mengambil kendali… saya merasa seperti bisa bernapas lega untuk pertama kalinya. Seperti ada seseorang yang akhirnya mengerti betapa rumitnya kekacauan ini, dan tidak menghakimi.”
Mata Reza berbinar, menangkap setiap kerapuhan di wajah Alisha. “Saya di sini bukan hanya sebagai konsultan, Alisha. Saya di sini… sebagai teman. Jika Anda mau.”
Alisha mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu. Di sana, dalam keemasan senja, sesuatu yang tak terucapkan mengalir di antara mereka. Rasa kagum, pengertian, dan ketertarikan yang dalam menyatu menjadi sebuah keheningan yang berbicara lebih keras dari kata-kata.
“Saya… saya mau,” jawab Alisha akhirnya, suaranya hampir berbisik.
Reza tersenyum, sebuah senyum yang membuat mata Alisha terasa hangat. “Bagus. Lalu, sebagai teman, izinkan saya mengalihkan topik ke sesuatu yang lebih ringan. Misalnya… bagaimana bisa seseorang yang bisa membuat pancake beruang yang sempurna, tidak bisa mundur mobil tanpa menabrak motor tetangga baru?”
Alisha tertawa terbahak-bahak, melepaskan semua sisa ketegangan. “Oh Tuhan, jangan mulai! Itu adalah hari yang sangat buruk!”
“Ceritakan! Saya ingin dengar versi lengkapnya dari sisi sang penabrak.”
“Jadi gini,waktu itu pikiran saya penuh dengan Clara dan dokumen…”
Mereka pun kembali bercanda, bercerita, tertawa. Waktu berlalu tanpa terasa. Matahari hampir tenggelam sepenuhnya, meninggalkan langit jingga dan ungu.
Saat akan berpisah di parkiran, Reza berkata, “Besok, kita mulai audit. Akan sulit. Clara tidak akan tinggal diam.”
“Saya tahu. Tapi saya siap sekarang,” jawab Alisha, dengan keyakinan baru.
“Dan… jika mimpi buruk itu datang lagi,” ujar Reza, menatapnya dengan serius, “ingat saja bahwa di kantor ada seorang konsultan berkaos yang akan memastikan perusahaan ini tetap berdiri. Dan… seorang teman yang hanya berjarak satu telepon.”
Perasaan hangat yang meluap membanjiri d**a Alisha. “Reza… terima kasih. Untuk semuanya.”
Dia spontan memeluknya. Itu pelukan singkat, hangat, penuh rasa syukur dan sesuatu yang lebih dalam yang belum berani dia akui. Reza kaget sejenak, lalu membalas pelukan itu dengan lembut, dengan perasaan yang sama-sama baru namun terasa sangat tepat.
Saat mereka berpisah, pandangan mereka lagi-lagi terikat. Di mata Reza, Alisha melihat tidak hanya profesionalisme, tetapi sebuah kelembutan dan ketertarikan yang tulus. Di mata Alisha, Reza melihat seorang wanita kuat yang akhirnya membiarkan dirinya menjadi lemah sejenak, dan dalam kelemahan itu, justru terpancar keindahan yang memesona.
Masing-masing pulang dengan hati berdebar dan senyum yang tak bisa dihapus dari bibir. Sebuah benih telah tertanam, tumbuh subur di tengah puing-puing konflik dan kepedihan. Benih yang mereka sebut hanya sebagai “pertemanan”, namun getarannya terasa sangat berbeda. Di tengah perjuangan mempertahankan warisan, Alisha mulai menemukan sesuatu yang mungkin bisa menjadi miliknya sendiri: sebuah harapan baru, yang datang dengan wajah seorang pemuda tampan berkaos polo dan senyum penuh percaya diri.
---
Bersambung...