Pemakaman berlangsung sederhana. Banyu, Bella, rekan kerja Kiran, serta keluarga Rio datang. Kiran tidak memiliki keluarga yang diketahui; beberapa orang yang hadir adalah keluarga yang ia bangun melalui persahabatan. Rio berdiri dekat Antoni dan Naya. Ia tidak dapat mendengar doa dengan jelas karena pikirannya terus kembali pada percakapan mereka.
Banyu menaruh bunga dan berdiri lama dalam diam. Rio mendekatinya setelah upacara selesai. Ia ingin berkata sesuatu, tetapi tidak tahu apa yang pantas. Akhirnya ia hanya mengucapkan terima kasih karena Banyu menemani Kiran selama dua tahun itu.
Banyu mengangguk. "Dia sahabat gue. Gue juga kehilangan dia."
Rio meminta maaf lagi atas kekerasan yang pernah ia lakukan. Banyu menjawab ia mendengar, tetapi bukan hari ini saatnya membicarakan pengampunan. Rio menghormati itu. Mereka tidak berjabat tangan atau mengubah kesedihan menjadi perdamaian cepat.
***
Setelah pemakaman, Bella mengurus barang-barang Kiran bersama Banyu sesuai daftar yang pernah dibuat. Mereka menemukan buku catatan dan menyerahkannya kepada Rio karena Kiran pernah meminta ia menyimpannya. Rio tidak membukanya. Ia menaruhnya di laci dan mengatakan ia akan membaca hanya jika merasa siap.
Antoni membantu mengurus dokumen yang perlu diselesaikan. Naya mengajak Rio pulang agar ia tidak sendirian. Rio menolak pada awalnya, lalu menerima ketika mereka berkata ia tidak harus bicara.
Di rumah, Rio duduk di ruang tengah dengan jas pemakaman masih terpakai. Naya meletakkan makanan di meja. Ia tidak menyuruh Rio makan, hanya membiarkannya ada. Setelah lama, Rio mengambil beberapa suap.
"Aku gagal," katanya akhirnya.
Antoni duduk di seberangnya. "Kamu kehilangan pasien dan orang yang kamu cintai. Itu bukan hal yang sama dengan gagal."
Rio menggeleng. Ia tahu secara logis, tetapi tidak bisa menerimanya. Antoni tidak memaksanya percaya. Ia berkata keputusan Kiran dan kerja tim telah dihormati; hasilnya tetap menyakitkan, tetapi bukan ukuran tunggal atas kemampuan Rio.
Malam itu Rio tidak kembali ke rumah sakit. Ia tidur sebentar di sofa. Naya menutupi tubuhnya dengan selimut. Ketika terbangun, ia melihat langit gelap dan mendengar rumah yang sepi. Ia meraih ponsel untuk mengirim pesan kepada Kiran, lalu sadar bahwa pesan itu tidak akan dibaca.
Ia menulisnya di catatan ponsel saja: Hari ini kita mengantar kamu pulang. Aku belum tahu bagaimana caranya hidup setelah ini. Ia tidak mengirimnya. Ia hanya menyimpan kalimat itu sebagai awal dari dukanya.
Setelah beberapa tamu pulang, Rio duduk di mobil Antoni dan tidak dapat langsung memasang sabuk pengaman. Naya bertanya apakah ia ingin menunggu sebentar. Rio mengangguk. Ia memandangi halaman pemakaman yang semakin sepi.
Banyu keluar terakhir. Ia berkata Kiran sudah diantar pulang dan mereka boleh pergi. Rio meminta maaf karena tidak tahu harus mengatakan apa. Banyu menjawab tidak ada kalimat yang tepat.
***
Di rumah, Rio melepas sepatu dan duduk di lantai. Ia membayangkan Kiran meminta ia makan dan tidur. Naya meletakkan makanan di dekatnya. Rio makan sedikit demi sedikit, bukan karena lapar, tetapi karena ia tahu tubuhnya tidak bisa terus dibiarkan.
Antoni berkata ia boleh meminta cuti beberapa hari. Rio menjawab ia belum memutuskan. Ia tidak ingin kembali ke rumah sakit dan melihat ruang operasi. Antoni berkata tidak ada yang memaksa.
***
Malamnya, Rio membuka pesan lama dari Kiran. Ia membaca beberapa baris, lalu berhenti saat melihat pesan yang biasa-biasa saja tentang cuaca dan makanan. Ia menutup ponsel karena tidak ingin mengubah setiap kata menjadi petunjuk.
Ia menulis kepada Renaldy bahwa ia mungkin perlu ditemani esok hari. Renaldy membalas bahwa ia siap. Rio menyadari ia mulai melakukan sesuatu yang Kiran minta: tidak menghilang dari semua orang.
***
Sebelum tidur, ia mengirim pesan kepada Banyu, mengucapkan terima kasih karena berada di sisi Kiran. Ia menambahkan bahwa ia tidak mengharapkan balasan atau maaf. Banyu membaca, tetapi baru membalas beberapa jam kemudian: sama-sama. Kita bicara nanti.
Rio tidak tahu apakah itu awal dari perdamaian. Ia tidak memaksakan tafsir. Ia meletakkan ponsel dan mencoba tidur, dengan duka yang belum berubah tetapi tidak lagi ia hadapi sepenuhnya sendirian.
Banyu menghubungi Rio beberapa hari kemudian dan bertanya apakah ia ingin datang ke restoran. Rio menjawab ia belum siap. Banyu berkata ia tidak perlu memaksa diri, tetapi pintu tetap terbuka.
Rio berterima kasih. Ia tidak menganggap undangan itu berarti semua masalah selesai. Ia menyimpan nomor Banyu dan membiarkan sahabatnya menentukan kapan mereka bicara lagi.
***
Naya menemukan Rio menatap meja makan tanpa menyentuh makanan. Ia bertanya apakah ia ingin makan bersama atau sendiri. Rio memilih ditemani. Mereka duduk tanpa membicarakan Kiran, dan Rio berhasil menghabiskan sebagian makanannya.
Beberapa hari kemudian Rio menerima undangan rapat dari rumah sakit. Ia meminta agenda dikirim lebih awal agar dapat menentukan bagian yang sanggup ia hadiri. Antoni menyetujui dan menghapus sesi klinis yang tidak perlu diikuti Rio.
***
Rio hadir selama satu jam dan menyelesaikan pembahasan direktur. Ia tidak masuk ke ruang operasi atau meminta laporan pasien. Setelah rapat, ia pulang dan tidur.
***
Naya bertanya apakah bekerja membuatnya merasa bersalah. Rio menjawab sedikit, tetapi ia tahu rumah sakit tetap membutuhkan pengelolaan. Naya berkata ia boleh bekerja tanpa berpura-pura sudah baik.
Rio juga mengabari tim bahwa ia tidak akan menerima jadwal operator tanpa evaluasi terlebih dahulu. Ia meminta semua pasien dialihkan dengan komunikasi yang jelas. Rama menyetujui dan memastikan pengganti telah ditentukan.
***
Keputusan itu membuat Rio sedih, tetapi ia merasa lebih aman daripada berpura-pura mampu. Ia tidak menyebutnya menyerah; ia menyebutnya batas yang perlu dijaga.
***
Ia mengatur jadwal sebagai direktur untuk minggu berikutnya dan meminta Antoni meninjau beban kerjanya. Mereka sepakat Rio dapat mengurangi rapat bila duka terasa berat.
Malam itu Rio menuliskan daftar urusan yang bisa ditunda. Ia tidak ingin membuat perubahan besar hanya untuk menenangkan rasa bersalah. Antoni menyarankan ia berbicara dengan pendamping yang biasa ia temui, dan Rio setuju. Ia tak tahu kapan duka akan terasa lebih ringan, tetapi jadwal realistis akan melindungi dirinya dan orang yang bergantung pada rumah sakit. Sebelum pulang, ia memastikan Rama memiliki wewenang mengatur pengganti. Keputusan itu sederhana, tetapi terasa jujur. Ia tak perlu berpura-pura mampu melakukan semuanya sendirian.