Rio bertemu Mira lagi dua pekan kemudian di acara terbuka rumah sakit. Kali ini Mira datang karena tertarik pada sesi musik untuk pengunjung dan keluarga. Ia tidak datang sebagai pasien dan tidak membutuhkan layanan Rio. Mereka saling menyapa setelah acara selesai.
Mira bertanya apakah Rio sering menghadiri kegiatan seperti itu. Rio menjawab ia mulai mencoba muncul di luar rapat. Ia berkata dulu ia terlalu sering mengukur dirinya dari jumlah operasi yang ia lakukan. Mira tidak menanyakan lebih jauh.
"Kadang pekerjaan membuat kita lupa ada bagian diri yang lain," katanya.
Rio mengangguk. Mereka berbicara tentang musik dan buku selama beberapa menit. Mira tidak bertanya soal Kiran. Rio pun tidak bertanya tentang kehidupan pribadi Mira. Ia merasa percakapan itu ringan, dan justru karena ringan ia takut menganggapnya sebagai sesuatu yang lebih besar.
***
Renaldy menyadari Rio lebih sering menyebut Mira. Ia bertanya apakah Rio tertarik. Rio menjawab ia tidak tahu. Ia hanya merasa nyaman berbicara.
"Kalau lo nyaman, akui aja. Itu belum berarti lo harus pacaran."
Rio menerima nasihat itu. Ia menyadari kesalahannya dulu adalah menyusun asumsi tanpa bertanya. Kali ini ia tidak akan membayangkan Mira memiliki perasaan tertentu hanya karena ia ramah.
Mereka bertemu lagi setelah beberapa hari, kali ini di kafe yang sama. Rio bertanya apakah Mira ingin minum kopi bersama. Ia menambahkan bahwa ia memahami bila Mira lebih nyaman menjaga hubungan sebatas acara rumah sakit. Mira menjawab ia bersedia berbincang, tetapi ingin memastikan urusan rumah sakit mereka sudah benar-benar selesai. Rio berkata benar, semua komunikasi pelayanan sudah berakhir dan ia tidak terlibat dalam perawatannya.
Mira mengatakan ia juga tidak ingin rasa terima kasih membuatnya merasa berutang. Rio menyetujui. Mereka sepakat bahwa bila suatu saat berbicara di luar rumah sakit, itu karena pilihan pribadi, bukan karena ia pernah membantu.
***
Percakapan mereka berlangsung tentang kehidupan sehari-hari. Mira bercerita ia menyukai pekerjaan dan musik. Rio bercerita ia masih menjalankan tugas direktur tetapi belum kembali ke meja operasi. Ia tidak menyembunyikan itu, namun juga tidak menceritakan seluruh duka pada pertemuan pertama.
Mira tidak berkata ia bisa menyembuhkannya atau membuatnya kembali menjadi dokter bedah. Ia hanya bertanya apakah ia ingin membicarakan hal itu. Rio berkata belum. Mira menghormati jawabannya.
Saat berpisah, mereka tidak mengatur kencan berikutnya. Rio pulang dengan perasaan tenang sekaligus takut. Ia tidak ingin menggunakan Mira untuk menutupi kehilangan Kiran. Ia juga tidak ingin menutup pintu hanya karena takut bahagia akan tampak seperti pengkhianatan.
Ia menulis dua nama di buku catatannya: Kiran—yang pernah ia cintai. Mira—seseorang yang baru ia kenal. Ia tidak membandingkan keduanya. Mereka bukan pengganti dan bukan perlombaan. Untuk saat ini, mereka hanya dua bagian berbeda dalam hidup yang terus berjalan.
Rio melihat Mira sekali lagi di sebuah acara terbuka yang tidak terkait layanan pasien. Mira mengundangnya melalui daftar peserta karena ia mengisi sesi musik. Rio bertanya apakah ia datang sebagai tamu biasa. Mira menjawab iya, dan tidak ada urusan medis atau administrasi di antara mereka.
Ia datang, duduk di barisan belakang, dan mendengarkan. Mira memainkan lagu yang sederhana dengan beberapa nada yang meleset. Rio tidak tertawa. Ia tersenyum dan bertepuk tangan bersama orang lain.
***
Setelah acara, mereka berbicara sebentar. Rio mengatakan ia menikmati musik. Mira tertawa karena ia merasa banyak salah. Rio menjawab ia tidak perlu tampil sempurna. Kalimat itu terasa dekat dengan hal yang ia pelajari tentang dirinya, tetapi ia tidak menjadikan Mira sebagai guru atau penyelamat.
Mira bertanya apakah ia ingin minum kopi di luar rumah sakit suatu hari. Rio mempertimbangkan, lalu berkata ia bersedia, selama keduanya memahami urusan pelayanan telah berakhir dan tidak ada hubungan klinis aktif.
Mira menjawab ia memahami. Ia juga ingin pertemuan itu sebagai dua orang dewasa, bukan karena pernah menerima bantuan.
***
Mereka bertukar nomor pribadi atas persetujuan masing-masing. Rio tidak menggunakan data rumah sakit untuk menghubungi Mira. Ia menunggu sampai esok hari sebelum mengirim pesan, mengatakan ia senang bertemu dan menanyakan waktu yang cocok untuk kopi.
Mira menjawab beberapa hari lagi. Mereka menentukan kafe umum dan durasi singkat. Rio menyebut jika ia merasa tidak nyaman, mereka boleh berhenti. Mira setuju.
***
Sebelum bertemu, Rio berbicara dengan Renaldy. Ia mengakui rasa bersalah muncul karena ia mulai tertarik. Renaldy bertanya apakah ia mengharapkan Mira menghapus duka. Rio menjawab tidak. Ia hanya ingin mengenalnya.
Renaldy menyarankan Rio tetap mengandalkan keluarga dan sahabat, bukan menjadikan hubungan baru sebagai satu-satunya penopang. Rio menyetujui.
Kopi pertama mereka berlangsung ringan. Mereka berbicara tentang musik dan pekerjaan. Saat pulang, Rio merasa nyaman tetapi tidak menyebutnya cinta. Ia berterima kasih kepada Mira dan pulang.
Pertemuan itu bukan awal romansa besar. Itu hanya keputusan kecil untuk mengenal satu sama lain setelah semua urusan pelayanan selesai.
Mira menyebut beberapa acara musik yang mungkin menarik. Rio bertanya apakah ia ingin mengirim jadwalnya. Mira mengiyakan dan memilih memberi nomor pribadi lewat ponsel sendiri, bukan melalui daftar kontak rumah sakit.
***
Rio menyimpan nomor itu dengan nama Mira, bukan "pasien". Ia lalu mengirim pesan uji coba: "Ini Rio. Kalau kamu lebih nyaman tidak bertukar pesan pribadi, bilang saja." Mira membalas ia nyaman.
Mereka menentukan pertemuan kopi dan tempatnya. Rio tidak memilih kafe di area rumah sakit agar suasananya tidak terasa seperti konsultasi. Mira menyetujui.
***
Sebelum hari pertemuan, Rio bertanya kepada Renaldy bagaimana menjaga batas dengan seseorang yang pernah menjadi pasien. Renaldy berkata Rio sudah memastikan pelayanan selesai dan tidak menggunakan kuasa profesional, tetapi ia tetap perlu memberi ruang bagi Mira untuk menolak.
Rio berjanji tidak meminta balasan atas bantuan dahulu. Ia juga akan menyampaikan bila hubungan terasa tidak nyaman.
***
Kopi pertama berjalan singkat. Mira berbicara tentang musik dan Rio tentang tugas direktur. Mereka sepakat tidak membahas perawatan atau rincian pribadi. Saat berpisah, Mira berkata ia bersedia bertemu lagi, tetapi tidak menentukan kapan.
Rio menghargai ketidakpastian itu. Ia tidak menganggapnya penolakan atau janji.
=