Rio dan Mira bertemu lagi di kafe dekat rumah sakit. Mereka memilih meja di luar supaya tidak ada staf yang menganggap Mira masih datang sebagai pasien. Ia memesan teh, Rio memilih kopi tanpa gula. Mira bertanya apakah ia selalu minum begitu pahit.
"Sejak dulu. Kiran sering bilang aku aneh."
Mira mengangguk, tidak bertanya siapa Kiran. Rio sadar ia baru saja menyebut nama itu tanpa bersiap. Ia menarik napas dan meminta maaf bila membuat percakapan terasa berat.
"Anda enggak perlu minta maaf karena menyebut seseorang yang penting," kata Mira.
Rio kemudian bercerita bahwa Kiran adalah mantan kekasihnya dan meninggal setelah sakit. Ia tidak menjelaskan semuanya. Mira mendengarkan, lalu bertanya apakah ia ingin berhenti bicara. Rio berkata ia ingin melanjutkan sedikit.
Ia menjelaskan bahwa selama ini ia berpikir harus memilih antara mengingat Kiran dan bergerak maju. Ia belum tahu bagaimana melakukan keduanya. Mira menjawab ia tidak memiliki pengalaman yang sama dan tidak akan memberi petunjuk seolah tahu jawabannya.
***
Mira bercerita tentang rutinitasnya sendiri, tentang musik yang ia pelajari dan buku yang sedang dibaca. Ia tidak memiliki kisah traumatis untuk membuat percakapan menjadi seimbang. Rio menghargai obrolan biasa itu. Ia melihat Mira sebagai orang yang berdiri sendiri, bukan kesempatan untuk mengobati kesedihannya.
Setelah minum, Rio bertanya apakah Mira bersedia berjalan sebentar. Ia menerima jawaban ya dan mereka berjalan di trotoar. Mereka menjaga jarak wajar. Tidak ada sentuhan atau janji.
Mira bertanya tentang pekerjaannya sebagai direktur. Rio menjawab ia menyukai sebagian tugasnya dan mulai belajar mendelegasikan. Ia belum kembali melakukan operasi. Ia tidak tahu apakah keputusan itu sementara atau permanen.
"Apakah itu membuat Anda merasa kehilangan identitas?" tanya Mira.
"Kadang. Tapi aku juga sadar identitasku bukan cuma pekerjaan."
Mira mengangguk. Ia tidak berkata bahwa ia bisa membantunya kembali ke meja operasi. Mereka berjalan sampai persimpangan lalu berpisah.
***
Di rumah, Rio menuliskan perasaan setelah pertemuan itu. Ia merasa nyaman dan merasa sedih karena nyaman. Ia tidak berusaha menyimpulkan bahwa satu perasaan membatalkan yang lain. Ia mengirim pesan kepada Mira, berterima kasih karena telah mendengarkan. Mira membalas bahwa ia senang berbincang.
Rio kemudian membuka foto Kiran. Ia tidak meminta maaf kepada foto itu karena berbicara dengan Mira. Ia hanya mengingat Kiran, lalu menyimpan ponsel.
Hari itu tidak mengubah status hubungan siapa pun. Namun Rio mulai berani menyebut nama Kiran dalam percakapan tanpa merasa seluruh dirinya akan runtuh. Ia menyadari bisa mengenal seseorang baru tanpa menyembunyikan orang yang telah ia cintai.
Sebelum pulang, Rio bercerita bahwa selama dua tahun ia mengira Kiran memilih orang lain. Ia tidak tahu alasan sebenarnya sampai Banyu memberitahunya. Mira bertanya apakah ia masih marah atas kebohongan tersebut. Rio menjawab kadang-kadang, tetapi ia juga marah kepada dirinya karena memilih asumsi.
"Anda sudah sempat bicara dengannya?" tanya Mira.
Rio menjawab iya, dan mereka saling meminta maaf. Ia tidak menceritakan rincian yang Kiran belum pernah izinkan dibagikan. Mira menghargai batas itu.
***
Mira bercerita bahwa ia pernah merasa takut mengajukan pertanyaan kepada tenaga medis saat sedang dirawat. Rio mendengarkan, tetapi tidak memberi saran klinis. Ia berkata ia menyesal dulu tidak selalu bertanya apakah orang lain ingin dibantu.
Mira menjawab, "Bertanya memberi orang pilihan."
Rio membawa kalimat itu dalam pikirannya. Ia pernah mengira perhatian berarti melakukan sesuatu sebelum diminta. Kini ia memahami bahwa perhatian dapat berarti berhenti sejenak.
***
Mereka kembali ke kafe dan membicarakan musik. Mira menunjukkan daftar lagu yang sedang dipelajari. Rio bertanya apakah ia bisa mengirim satu rekaman bila nyaman. Mira bersedia. Mereka tidak mengubah percakapan menjadi perjanjian akan bertemu terus.
Saat berpisah, Rio berkata ia menikmati waktu bersama. Mira membalas hal yang sama. Mereka menentukan akan saling memberi kabar, bukan menjadwalkan kehidupan satu sama lain.
***
Di rumah, Rio menyampaikan kepada Naya bahwa ia menyebut Kiran pada Mira. Naya bertanya apakah ia merasa lebih ringan. Rio menjawab ia merasa rentan, tetapi tidak menyesal. Naya berkata kejujuran dapat terasa berat sebelum menjadi kebiasaan.
Rio membuka buku catatan Kiran dan membaca satu halaman lagi. Ia menemukan daftar beberapa buku yang ingin dibaca. Ia tidak membuat rencana untuk memenuhi daftar itu atas namanya. Ia mencatat judulnya, lalu menutup buku.
Ia mulai menerima bahwa kenangan Kiran tidak memerlukan peran baru bagi Mira. Kiran tidak menjadi ukuran, dan Mira tidak menjadi pengganti. Rio ingin membangun hubungan dengan orang yang ada di hadapannya, sambil membawa kebenaran tentang masa lalu.
Rio bertanya apakah Mira ingin bertemu lagi pada minggu berikutnya. Mira menjawab ia perlu memeriksa jadwal. Rio tidak meminta jawaban segera. Mereka sepakat saling mengabari jika tersedia waktu.
***
Setelah pertemuan, Rio tidak menghubungi Mira untuk menanyakan apakah ia sudah sampai rumah. Ia tahu Mira dapat mengurus perjalanannya sendiri. Ia mengirim satu pesan terima kasih karena Mira bersedia mendengarkan, lalu membiarkan percakapan selesai.
***
Rio duduk bersama Renaldy dan menceritakan bahwa ia menyebut Kiran. Renaldy bertanya apakah Rio merasa dipahami. Rio berkata iya, tetapi masih canggung. Renaldy berkata tidak semua orang harus mengerti seluruh duka untuk bisa menemani.
Rio menerima hal itu. Ia tidak meminta Mira menjadi saksi seluruh masa lalunya. Ia dapat memilih apa yang dibagikan dan tetap menjaga bagian yang pribadi.
Rio menulis setelah pertemuan bahwa ia ingin menjaga privasi Kiran ketika membicarakan masa lalu. Ia tidak akan menyampaikan hal yang tidak pernah diberikan Kiran untuk dibagikan.
***
Ia juga menulis bahwa ia dapat berhenti kapan pun bila pembicaraan terasa terlalu berat. Catatan itu bukan aturan bagi Mira, melainkan pengingat untuk bertanggung jawab atas dirinya.
***
Beberapa hari kemudian, Rio bertanya kepada Mira apakah ia ingin bertemu lagi. Mira menjawab iya dan mengusulkan waktu yang cocok untuknya. Rio menerima jadwal itu tanpa meminta perubahan.
***
Mereka membuat rencana sederhana untuk minum teh. Rio tidak menganggap persetujuan itu sebagai janji hubungan. Ia hanya senang dapat berbicara lagi.
=