Rio duduk di ruang kerjanya setelah rapat selesai. Dari jendela ia dapat melihat sebagian koridor menuju ruang operasi. Selama hampir sebulan ia tidak melewatinya. Ia tidak menyangka penghindaran itu akan membuatnya merasa tenang, tetapi justru membuatnya bertanya apakah ia akan selamanya seperti ini.
Rama datang untuk membahas jadwal. Rio menyampaikan bahwa ia belum siap kembali mengoperasi dan tidak ingin tim menganggap keputusannya sementara dengan tanggal akhir. Rama setuju mengatur jadwal sesuai keadaan. Ia juga berkata Rio boleh meminta bantuan profesional untuk mengevaluasi rasa takutnya, tetapi tidak akan dipaksa.
"Aku takut kalau aku enggak kembali, semua orang menganggap aku gagal," kata Rio.
"Orang lain mungkin punya pendapat. Tapi keputusanmu harus mempertimbangkan keselamatan pasien dan keadaanmu."
Rio mengangguk. Ia masih merindukan pekerjaan lamanya, tetapi belum bisa memaksakan dirinya.
***
Malamnya ia bertemu Mira. Mereka berjalan dari kafe ke taman kecil. Rio menceritakan bahwa ia belum bisa mengoperasi dan mungkin tidak tahu kapan akan siap.
Mira bertanya apakah Rio ingin kembali. Ia menjawab sebagian dirinya ingin, tetapi bagian lain merasa takut. Ia tidak ingin memberi jawaban yang menyenangkan siapa pun.
Mira berkata ia menghargai kejujuran itu. "Saya tidak akan meminta Anda kembali ke meja operasi demi saya. Itu keputusan Anda dan tim."
Rio merasakan beban kecil terangkat. Ia takut hubungan baru akan menuntutnya menjadi dokter yang dulu. Mira tidak menuntut demikian. Ia juga tidak menyebut dirinya sebagai orang yang akan menyembuhkan rasa takut Rio.
Mereka duduk sebentar tanpa bicara. Rio mengatakan ia masih mengingat Kiran setiap hari. Mira menjawab ia tidak meminta kenangan itu dihapus. Ia hanya ingin tahu siapa Rio sekarang, jika Rio bersedia menunjukkannya.
***
Di rumah, Rio memikirkan jawaban tersebut. Ia tidak perlu memilih antara Mira dan Kiran. Kiran telah meninggal; Mira hadir sebagai orang baru. Ia belum memutuskan berkomitmen, tetapi ia dapat jujur mengenai batasnya.
Ia mengirim pesan kepada Mira bahwa ia berterima kasih atas percakapan itu. Ia menambahkan bahwa ia mungkin butuh waktu untuk memahami dirinya sendiri. Mira menjawab mereka bisa berjalan sesuai kecepatan yang nyaman bagi keduanya.
Rio kemudian berbicara kepada Antoni soal opsi mengevaluasi pekerjaannya di masa depan. Antoni mendukungnya menunggu sampai Rio siap. Mereka sepakat ia tetap memimpin rumah sakit dan meminta tim mengelola tugas klinis.
Meja operasi masih kosong bagi Rio, tetapi bukan tanda bahwa hidupnya berhenti. Ia akan menjalani hari sebagai direktur dan melihat apakah suatu hari ia siap mendekat lagi. Ia tidak akan membuat keputusan itu sebagai hadiah kepada siapa pun.
Rama menawarkan waktu untuk membahas pilihan kerja tanpa menetapkan hasil. Rio meminta pertemuan berlangsung di kantor direktur, bukan dekat koridor operasi. Rama menyetujui.
Mereka mencatat apa yang Rio sanggup lakukan sekarang: memimpin rapat, menyusun kebijakan, dan mendampingi tim dalam perencanaan. Rio belum siap menangani pasien secara langsung. Ia meminta hal itu ditulis agar staf tidak berharap ia akan muncul mendadak.
***
Setelah pembicaraan, Rio menghubungi layanan dukungan profesional dan menanyakan prosesnya. Ia tidak menceritakan detail kepada staf administrasi, hanya membuat janji sebagai dirinya sendiri. Ia ingin membahas kecemasan dengan seseorang yang terlatih.
Antoni berkata ia tidak harus memberi tahu seluruh keluarga. Rio menjawab ia ingin ibunya tahu, tetapi tidak perlu semua orang menerima laporan. Mereka menyepakati batas privasi tersebut.
***
Mira bertanya apakah Rio ingin bertemu setelah jadwalnya selesai. Rio mengatakan ia mungkin lelah dan ingin melihat keadaannya dahulu. Mira menjawab ia tidak akan menganggap perubahan rencana sebagai penolakan.
Mereka akhirnya berbicara lewat telepon selama beberapa menit. Rio mengatakan ia sedang berusaha menemukan bentuk pekerjaannya setelah kehilangan. Mira bertanya apa yang membuatnya tetap merasa berguna. Rio menjawab ia menikmati membantu tim bekerja dengan sistem yang lebih baik.
Mira mendengarkan tanpa menautkannya pada Kiran. Ia berkata pekerjaan itu terdengar bermakna bagi Rio. Rio merasa senang didengar, tetapi tidak menganggap Mira harus selalu memberi penilaian positif.
***
Malamnya, Rio menulis bahwa ia belum siap menjadi operator, namun ia tidak perlu memutuskan selamanya. Ia menyimpan catatan itu dan tidur.
Besok ia akan bekerja sebagai direktur lagi. Ia dapat melakukan hal itu dengan bangga dan tetap sedih terhadap bagian profesinya yang belum dapat dijalani. Ia tidak perlu mengubah satu keadaan menjadi keseluruhan identitas.
Pada sesi dukungan berikutnya, Rio membahas rasa takut kehilangan keahlian yang telah ia bangun bertahun-tahun. Ia bertanya apakah keputusannya tidak kembali operasi berarti ia menyerah. Profesional yang ia temui meminta Rio membedakan keinginan dan tekanan. Rio belum memberi jawaban final.
***
Ia menulis beberapa hal yang masih ia sukai dari kedokteran: membaca perkembangan layanan, mendukung tim, dan membuat pasien mendapat informasi jelas. Ia menyadari keterampilan bedah bukan satu-satunya kontribusi.
***
Mira bertanya apa yang ia pelajari dari sesi. Rio menjawab ia tidak mendapat jawaban instan. Mira berkata tidak apa-apa. Mereka berbicara tentang pekerjaan Mira setelah itu.
Rio menghargai bahwa ia tidak diminta memberi laporan lengkap. Ia juga tidak meminta Mira mengubah jadwal demi dirinya. Mereka tetap memiliki kehidupan terpisah yang saling dihormati.
Rio meminta sekretaris mengatur ruang rapat agar ia dapat bekerja tanpa melewati koridor pemicu. Ia tidak meminta seluruh rumah sakit menyesuaikan diri; hanya satu ruang alternatif untuk agenda tertentu.
***
Antoni bertanya apakah penyesuaian itu membantu. Rio menjawab iya, tetapi ia tidak menganggapnya sebagai terapi atau penyelesaian. Itu hanya membuat pekerjaan hari itu dapat dilakukan.
***
Ia mengirim catatan kepada Rama untuk memastikan batas klinis tetap sama. Rio tidak ingin orang mengira ia siap menjadi operator karena ia tampak tenang di rapat.
Rio kemudian berbicara kepada Rama bahwa ia akan meninjau keadaannya lagi setelah waktu berjalan. Ia tidak ingin staf menganggap keputusan hari ini sebagai pengumuman permanen atau janji akan kembali.
Malam itu Rio membicarakan batas kerja dengan Antoni. Ayahnya bertanya hal apa yang membuat jadwal terasa berat. Rio menyebut rapat berturut-turut dan kebiasaan memeriksa pesan hingga dini hari. Mereka menyusun perubahan yang masuk akal untuk minggu depan. Rio paham rencana itu dapat berubah bila keadaan berubah. Ia tidak perlu membuktikan dirinya telah pulih sepenuhnya; ia hanya perlu jujur tentang kapasitas hari ini, lalu meninjau ulang dengan bantuan orang-orang yang dipercaya. Ia merasa lebih tenang setelah mengatakannya dengan jelas.