Rio dan Mira bertemu di taman menjelang senja. Mereka berjalan sebentar, lalu duduk di bangku yang agak jauh dari keramaian. Rio bertanya apakah Mira merasa nyaman. Mira menjawab iya dan bertanya mengapa ia tampak gugup.
Rio mengeluarkan kotak kecil, tetapi tidak langsung membukanya. Ia mengatakan ia tidak melupakan Kiran dan tidak ingin Mira menggantikannya. Ia mencintai Mira sebagai dirinya sendiri—dengan pekerjaan, musik, pikiran, dan batas yang ia miliki.
"Aku belum tahu apakah aku akan kembali menjadi ahli bedah. Aku tidak ingin menjanjikan hal yang belum pasti. Tapi aku tahu aku ingin menjalani hidup bersama kamu, selama kita tetap saling jujur."
***
Rio membuka kotak cincin. Ia tidak berlutut di tengah keramaian atau meminta Mira menjawab seketika. Ia bertanya apakah Mira bersedia menikah dengannya.
Mira memandang cincin itu dan kemudian menatap Rio. Ia bertanya sekali lagi apakah ia yakin tidak melamar karena merasa harus segera membuktikan bahwa ia sudah pulih. Rio menjawab ia tidak pulih sepenuhnya dan mungkin tak akan pernah melupakan kehilangan itu. Ia melamar karena hubungan mereka telah tumbuh melalui pilihan dan percakapan.
Mira meminta waktu beberapa detik. Rio menunggu tanpa mengisi diam. Akhirnya Mira berkata, "Aku mau."
Rio mengembuskan napas lega. Ia bertanya apakah boleh memasangkan cincin. Mira mengangguk. Mereka berpelukan setelah ia meminta izin. Tidak ada janji bahwa hidup mereka tidak akan sulit.
***
Mereka duduk lebih lama, membicarakan siapa yang perlu diberi kabar. Mira ingin menyampaikan kepada keluarganya sendiri terlebih dahulu. Rio setuju. Ia hanya memberi tahu Naya dan Antoni setelah Mira mengizinkan.
Naya mengucapkan selamat dan memeluk Mira. Antoni berkata ia senang mereka memilih sendiri waktu dan cara mereka. Tidak ada yang menyebut Mira sebagai penyelamat Rio. Ia diterima sebagai calon pasangan dengan kehidupannya sendiri.
Rio mengunjungi makam Kiran beberapa hari kemudian bersama Naya. Ia membawa bunga dan mengatakan ia telah melamar. Ia tidak menyebutnya sebagai akhir duka, hanya bagian dari hidup yang terus berjalan.
***
Lamaran itu tidak menghapus kenangan, tidak mengubah keputusan kerja Rio, dan tidak menyembuhkan semua rasa takut. Namun Mira dan Rio memilih melanjutkan hidup bersama. Mereka menetapkan pernikahan sekitar sebulan kemudian, dengan acara sederhana dan waktu persiapan cukup.
Mira meminta agar mereka tetap membicarakan urusan praktis. Rio menyetujui. Mereka tidak menganggap jawaban "ya" sebagai akhir dari percakapan. Itu awal dari keputusan baru yang akan mereka buat bersama.
Rio membawa cincin ketika bertemu Mira di taman. Sebelum mengeluarkannya, ia bertanya apakah Mira nyaman membicarakan masa depan. Mira mengangguk. Mereka duduk jauh dari keramaian.
Rio mengatakan ia memilih Mira karena ia menyukai cara Mira menjalani hidup, cara ia berbicara jujur, dan karena mereka telah belajar saling menghormati batas. Ia tidak melamar untuk membuktikan telah melewati duka.
***
Ia bertanya apakah Mira bersedia menikah dengannya. Ia menambahkan bahwa Mira boleh meminta waktu atau mengatakan belum siap. Ia tidak ingin jawaban diberikan karena suasana atau tekanan.
Mira bertanya apakah Rio masih mencintai Kiran. Rio menjawab iya, dalam bentuk kenangan dan rasa sayang pada masa lalu. Ia juga mencintai Mira sebagai dirinya sendiri. Mira bertanya apakah ia ingin menjadikan pernikahan cara menghindari kesepian. Rio menjawab tidak. Ia memiliki keluarga, sahabat, dan dukungan lain; ia memilih menikah karena ingin membangun kehidupan bersama.
***
Mira meminta beberapa menit. Rio menunggu tanpa mengisi diam. Mira berkata ia ingin menikah dengannya, tetapi mereka harus tetap berbicara terbuka tentang duka dan pekerjaan. Rio menyetujui.
Mira mengulurkan tangan. Rio bertanya apakah boleh memasangkan cincin. Ia mengangguk. Mereka berpelukan setelah saling meminta izin. Tidak ada foto publik atau pengumuman langsung.
***
Mereka menelepon keluarga masing-masing. Naya mengucapkan selamat dan bertanya kapan mereka ingin merayakan. Mira menjawab belum menentukan. Antoni berkata mereka bisa memilih sendiri.
Rio dan Mira membahas waktu persiapan sekitar satu bulan. Mereka ingin acara sederhana, dengan jumlah tamu terbatas dan biaya yang jelas. Mira ingin mempertahankan pekerjaan; Rio mendukung. Rio tetap direktur dan tidak berjanji akan kembali mengoperasi.
***
Malam itu Rio mengunjungi makam Kiran sendiri. Ia berkata ia telah melamar Mira. Ia tidak meminta restu atau menganggap Kiran harus memberi jawaban. Ia hanya membagikan kenyataan hidupnya.
Rio pulang dengan rasa sedih dan bahagia yang bercampur. Lamaran tidak menutup duka, tetapi ia dan Mira telah memilih langkah berikutnya bersama.
Setelah Mira menjawab setuju, Rio tidak langsung menelepon keluarga. Ia bertanya apakah Mira ingin menghubungi orang tuanya terlebih dahulu. Mira memilih menelepon malam itu.
***
Mereka membahas waktu lamaran resmi kecil kepada keluarga. Mira ingin suasana sederhana, tanpa tamu banyak. Rio menyetujui.
***
Rio meminta Mira memeriksa ukuran cincin dan apakah ia nyaman mengenakannya. Mira berkata ukurannya pas, tetapi ia ingin memilih cincin kawin sendiri kelak. Rio setuju.
***
Mereka membuat daftar hal yang perlu dipersiapkan selama bulan itu. Mira mengatur urusan keluarganya, Rio mengatur jadwal kerja, dan keduanya mengelola anggaran bersama.
***
Rio berkata ia masih takut kehilangan. Mira menjawab takut itu boleh ada, tetapi ia tidak ingin pernikahan menjadi jaminan bahwa kehilangan tak akan pernah terjadi. Rio memahami.
Mereka sepakat menjaga hubungan dengan percakapan, bukan janji bahwa hidup akan selalu aman.
Setelah Mira menerima, mereka tidak segera membuat unggahan. Mira ingin memberi tahu keluarga lewat telepon. Rio menghormati urutan tersebut.
***
Naya menangis bahagia, tetapi bertanya apakah Mira benar-benar nyaman. Mira menjawab iya dan berkata ia memilih Rio. Naya menerima jawabannya tanpa memberi nasihat tambahan.
***
Antoni mengucapkan selamat kepada Rio dan bertanya apakah mereka memerlukan bantuan administrasi. Rio menjawab mereka akan mengurus sendiri dan meminta bantuan bila perlu.
***
Mereka memilih waktu sebulan untuk persiapan, tetapi akan meninjau ulang bila ada masalah kerja atau keluarga. Tidak ada hukuman atas penundaan.
***
Rio berkata kepada Mira bahwa ia ingin mengunjungi makam Kiran sebelum pernikahan. Mira menjawab ia mengerti dan tidak akan meminta ikut.
Mereka mulai menyusun rencana dengan tenang.
=