Sebulan sebelum pernikahan, Rio dan Mira menyusun rencana sederhana. Mereka memilih acara kecil bersama keluarga dan beberapa sahabat. Mira tidak ingin pesta menjadi pengumuman bahwa Rio telah melewati masa lalu. Rio setuju. Mereka ingin merayakan pilihan mereka saat ini, bukan menulis ulang sejarah.
Mereka membagi anggaran dan tugas. Rio mengurus tempat, Mira memilih makanan dan musik. Tidak ada keputusan yang diambil sepihak. Saat Rio mengusulkan acara di rumah sakit, Mira menolak karena ingin tempat yang tidak berkaitan dengan pekerjaannya. Rio menerima.
***
Rio tetap bekerja sebagai direktur. Ia menghadiri rapat dan tidak kembali mengoperasi. Ketika seorang kolega bertanya apakah ia akan kembali setelah menikah, Rio menjawab status perkawinan tidak menentukan kesiapan klinisnya. Ia akan mengevaluasi secara profesional bila waktunya tiba.
Rama mendukung jawaban itu. Antoni memastikan rumah sakit mempunyai tim yang cukup. Rio merasa lebih tenang karena hidup pribadinya tidak dipakai untuk mengukur kemampuan kerja.
Mira bertanya apakah Rio ingin mengambil cuti sebelum pernikahan. Ia berkata ia akan mengurangi agenda, tetapi tetap bekerja. Mereka juga menjadwalkan waktu istirahat bersama tanpa persiapan.
***
Mereka membicarakan kenangan Kiran dan bagaimana nama itu mungkin muncul pada hari pernikahan. Mira berkata ia tidak keberatan bila Rio menyimpan satu foto secara pribadi, tetapi tidak ingin acara mereka menjadi peringatan untuk orang lain. Rio setuju. Ia tidak akan membawa foto ke tempat acara atau meminta tamu membicarakannya.
Mereka sepakat Rio dapat mengunjungi makam Kiran sendiri sebelum hari pernikahan. Mira tidak harus ikut, dan tidak akan merasa ditinggalkan.
***
Banyu mengirim pesan kepada Rio, menanyakan apakah ia ingin bertemu sebelum menikah. Rio menyetujui dan menawarkan waktu yang cocok untuk Banyu. Mereka duduk di restoran setelah tutup.
Banyu belum sepenuhnya memaafkan pukulan lama, tetapi ia berkata ia melihat Rio berusaha berubah. Rio berterima kasih dan tidak meminta hubungan mereka kembali seperti dulu. Mereka sepakat tetap berteman dalam batas yang nyaman.
Rio pulang dengan perasaan gugup dan bersyukur. Ia tidak menganggap persiapan pernikahan sebagai bukti bahwa semua luka selesai. Ia dan Mira sedang membuat keputusan praktis yang akan membantu mereka menjalani hidup bersama dengan lebih jujur.
Mira dan Rio membicarakan siapa yang ingin mereka undang. Mereka membuat daftar bersama dan menetapkan jumlah yang dapat mereka tanggung. Naya ingin mengundang lebih banyak kerabat, tetapi menerima ketika Rio menjelaskan batasnya.
Mira tidak ingin namanya digunakan dalam materi promosi rumah sakit. Rio menyetujui. Pernikahan mereka bukan acara institusi atau kisah publik.
***
Mereka membagi biaya sesuai kemampuan. Rio tidak membayar semuanya sebagai bentuk perlindungan. Mira berkontribusi pada bagian yang ia pilih. Jika keluarga menawarkan bantuan, mereka akan mencatat apakah itu hadiah atau pinjaman.
Mereka juga menentukan bahwa tidak ada hadiah yang membuat keluarga berhak mengatur pekerjaan atau tempat tinggal mereka.
***
Rio menemui Banyu dan Bella untuk memberi kabar. Banyu mengucapkan selamat dan berkata ia akan datang jika diundang. Rio bertanya apakah ia nyaman hadir. Banyu menjawab iya, tetapi tidak ingin diminta memberi pidato tentang Kiran.
Rio setuju. Bella berkata ia senang Rio tidak menjadikan pernikahan sebagai bukti bahwa ia sudah melupakan Kiran. Rio menjawab ia tidak akan.
***
Mira bertemu Naya untuk memilih makanan. Mereka berdiskusi tentang menu dan jumlah porsi. Naya bertanya apakah Mira ingin memakai tradisi tertentu. Mira memilih beberapa hal yang ia sukai dan menolak yang lain. Naya menerima tanpa menganggap penolakan sebagai kurang hormat.
***
Mereka memilih tempat kecil dan tanggal sebulan setelah lamaran. Rio memastikan jadwal kerjanya tidak tumpang tindih, tetapi tidak mengambil alih keputusan Mira. Mira memeriksa kebutuhan keluarganya sendiri.
Mereka menyadari persiapan pernikahan dapat menjadi ujian batas. Mereka sepakat bila ada hal yang terasa tidak nyaman, mereka akan membicarakan langsung sebelum mengiyakan.
Rio merasa tenang dengan kesepakatan itu. Ia tidak meminta Mira menjadi simbol awal hidup baru. Ia hanya ingin menikahi Mira sebagai dirinya sendiri, dengan masa lalu dan masa depan yang sama-sama nyata.
Mira menanyakan apakah keluarga Rio ingin mengadakan acara tambahan. Rio berkata ia akan menanyakan, tetapi keputusan akhir tetap mereka berdua.
***
Naya menyebut beberapa kerabat yang berharap diundang. Mira dan Rio membahas kapasitas tempat serta anggaran. Mereka memilih mengundang orang-orang yang dekat dan mengirim kabar kepada yang lain.
***
Mira menghubungi teman dekatnya untuk meminta bantuan memilih pakaian. Ia tidak meminta Rio mengatur seluruh persiapan. Rio mengurus dokumen dan komunikasi dengan tempat acara.
***
Mereka menetapkan satu malam tanpa pembicaraan pernikahan. Mereka makan di rumah dan menonton film. Mira merasa persiapan tidak mengambil seluruh hubungan mereka.
***
Rio memastikan jadwal rumah sakit ditangani sebelum hari acara. Ia tetap direktur dan tidak memegang tugas operasi. Antoni mengatur pengganti rapat bila diperlukan.
Mereka sepakat bila ada perubahan, tidak ada yang menyalahkan satu sama lain. Persiapan itu menjadi latihan untuk membuat pilihan praktis bersama, bukan hanya mengucapkan cinta.
Mira memeriksa tempat acara dan memastikan akses bagi keluarga yang lebih tua. Rio memeriksa transportasi serta jadwal kerja. Mereka membuat catatan masing-masing, lalu membandingkan tanpa menganggap satu daftar lebih penting.
***
Ada biaya tambahan untuk kursi. Mereka memutuskan mengurangi dekorasi daripada mengambil dana darurat. Mira setuju, dan Rio menghubungi penyedia tempat.
***
Naya menawarkan bantuan memasak. Mira bertanya apakah keluarga akan mengharapkan ia mengurus semuanya setelah menikah. Naya menjawab tidak. Mereka akan membagi tugas dan membeli makanan bila terlalu lelah.
***
Rio bertanya kepada Mira apakah ia merasa keputusan persiapan mulai menekan. Mira menjawab ia lelah, tetapi tidak merasa dipaksa. Mereka mengambil satu malam tanpa rapat.
***
Malam itu mereka makan di rumah dan menonton film. Rio tidak mengangkat topik acara. Mira merasa hubungan mereka tetap menjadi hubungan, bukan proyek pernikahan.
Mereka sepakat menyelesaikan satu hal setiap hari dan meminta bantuan bila perlu.
Pagi berikutnya, persiapan berlangsung lebih tenang. Rio memeriksa daftar tugas bersama Mira dan menghapus hal yang sebenarnya tidak penting bagi mereka. Naya menanyakan apakah bantuan diperlukan; Mira menjawab mereka sudah membagi pekerjaan. Rio tersenyum. Semua orang menawarkan bantuan tanpa menganggap mereka harus menerima semuanya. Hari itu mereka menyelesaikan beberapa urusan, lalu berhenti sebelum lelah. Mereka ingin hari pernikahan menjadi bagian hidup, bukan beban yang harus sempurna. Mira dan Rio menutup malam dengan makan bersama, lega karena masih bisa menikmati perjalanan menuju hari itu.