Sebelum baca jangan lupa tekan love dan komen!
Happy reading, guys!
~M E M O R I E S~
Entah sejak kapan ia sudah terbangun di ruangan ini. Tanpa bergerak sedikit pun dari posisinya yang masih rebahan di atas kasur rumah sakit yang empuk. Ben mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian melempar tatapan ke setiap sudut rumah sakit yang tak lagi terasa asing. Tentu saja Ben pernah ke sini, beberapa tahun yang lalu setelah kecelakaan kecil yang membuat Ben harus cuti kuliah. Di saat itu juga dia tak pernah tau sejak kapan kedua orang tuanya meninggal karena hal yang tak jelas pula.
Ben memejamkan mata sesaat, lelaki itu duduk dari posisinya sambil menekan kepala yang terasa pusing. Ia mendesis pelan, masih mencoba mengingat-ingat lagi apa yang baru saja terjadi sehingga Ben bisa berada di kamar VVIP rumah sakit ini.
Lantas cowok itu menyipitkan sepasang matanya mengingat sebuah nama yang muncul dalam benaknya.
"Dara?" gumam Ben berhasil mengingat kejadian di kamar kos tadi.
Dadanya mendadak bergemuruh, ada perasaan yang tak bisa didefinisikan oleh Ben, tapi semua itu jelas cukup membuatnya merasa resah. Apalagi Ben ingat dengan jelas semua kalimat yang ia ucapkan kepada Dara pagi tadi. Lelaki itu memejamkan matanya lagi dengan erat, ia menunduk bergerak menurunkan kedua kaki panjangnya hingga menyentuh lantai keramik yang dingin. Tubuh Ben kini sepenuhnya menghadap ke arah jendela kaca yang tirainya tertutup. Perlahan, Setelah cukup lama mengumpulkan nyawanya sehabis terlelap selama hampir seharian, Ben berdiri dari posisinya.
Ia beranjak, sempat lupa bahwa tangannya tengah dipasangi selang infus. Ben bergerak mendorong tiang penyangga infus tersebut mendekat ke arah jendela. Tangannya perlahan menyibak tirai berwarna broken White tersebut, menampakkan pemandangan di luar sana yang didominasi oleh gedung-gedung tinggi dan gemerlap lampu jalanan yang berkelip indah.
Untuk sejenak Ben banyak berpikir lagi.
"Kenapa gue jadi semarah Itu sama Dara? Padahal apa yang gue lihat, belum tentu tentang Dara, 'kan?" Monolog malam itu keluar begitu saja dari bibirnya.
"Gue ... jahat banget lo, Ben." Ia kembali mengucapkan kalimat itu kepada dirinya sendiri.
Benar-benar pandangannya menerawang keluar, tapi jelas pikiran Ben kini tertuju pada sosok Dara. Cewek yang belakangan ini mengisi hari sepinya menjadi lebih berwarna, cewek yang hampir tak pernah ingin menunjukkan sisi tak baik-baik saja-nya itu.
Ben menghela napas pendek. Mengingat itu semua. Sudah pasti Dara juga yang membawanya ke sini, 'kan? Ben harus segera bertemu cewek itu untuk minta maaf. Tentu saja.
"Udah bangun lo?"
Suara yang terdengar asing itu membuat lamunan panjang Ben buyar seketika. Membumbung ke angkasa bak asap yang diterpa angin. Lelaki itu menoleh dan mendapati seorang pria yang sepertinya lebih tua darinya berdiri di ambang pintu membawa bungkusan paper bag di tangan. Tapi sekali lagi, siapa lelaki yang kini masuk ke kamarnya dan menata berbagai jenis makanan di atas meja beserta minuman hangatnya.
"Nggak usah kaget, gue Anggar. Kakaknya Dara," ucap lelaki itu seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Ben.
Spontan Ben membulatkan sepasang matanya menatap lelaki yang terlihat tenang tersebut. Lihat saja sekarang? Bahkan setelah semua yang Ben katakan pada cewek itu, kenapa Dara masih peduli dan meminta orang lain untuk menjenguknya? d**a Ben terasa sesak, seperti sebuah batu besar tengah menghimpitnya tanpa ampun.
Perasaan macam apa ini?
Dan kini lelaki yang mengaku bernama Anggar itu, kini sudah duduk di salah satu sofa panjang memegang sendok plastik. Anggar kemudian menoleh, menatap Ben yang terdiam cukup lama sambil menggerakkan dagu.
"Ngapain? Duduk, lo belum makan apa-apa dari pagi," titah Anggar kalem.
Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Ben menurut begitu saja. Cowok itu berjalan pelan duduk di salah satu kursi yang tak jauh dari Anggar. Ia segera menyentuh sendok plastik dan mendapati seporsi bubur ayam. Tangannya terdiam cukup lama, matanya menatap bubur di depannya dengan tatapan bersalah. Jujur saja Ben benar-benar sadar betapa ucapannya pagi tadi sudah sangat kelewatan. Padahal selama ini tanpa Ben sadari, Dara memberikan banyak perhatian yang bahkan tak pernah ia dapatkan dari siapapun lagi. Meski memang di saat-saat tertentu Dara juga sosok yang menyebalkan. Tapi, tak ada yang salah dengan hal itu. Dara tak pernah mengalah aturan yang membuat Ben sepenuhnya terluka.
"Tadi pagi, Dara juga bawain gue bubur ayam, 'kan?" batin Ben.
Melihat reaksi yang diciptakan Ben, Anggar juga berhenti mengaduk bubur ayam miliknya. Lelaki itu bahkan meletakkan sendok plastik yang sedari tadi ia pegang ke atas mangkuk sterofoam tersebut.
"Kenapa? Lo nggak suka bubur atau merasa bersalah sama Dara?" tanya Anggar sarkas.
Merasa tak berselera lagi dengan bubur, lelaki yang mengenakan setelah celana jeans dan kaos hitam yang dibalut jaket levis itu memilih untuk meneguk kopi hitam yang masih mengepulkan asap. Sambil menyeruput minumannya, ia masih memerhatikan Ben yang kini terdiam menunduk. Jujur saja ucapan Anggar barusan tak ada yang salah, Ben memang merasa bersalah pada cewek itu. Sepenuhnya Ben menyesal, karena itu ia ingin menemui Dara dan meminta maaf kepada Dara. Ia sungguh nggak sadar sudah mengatakan kalimat-kalimat kejam itu dari bibirnya.
Ben hanya ... lelaki itu merasa seperti ada yang hilang dalam dirinya, tapi ia tak pernah tau itu apa. Ada perasaan hampa, dan setelah melihat semua kiriman dalam kotak tersebut, sebuah bayangan berkelebat sesaat membuat kepalanya sakit disertai dadanya yang sesak.
Apa yang sebenarnya pernah terjadi di masa lalu? Yang bahkan Ben tak ingat perihal sesuatu yang terasa ... menyesakkan itu?
"Gue di sini karena Dara yang minta. Nggak tau kenapa, adek gue yang bego itu minta gue ke sini buat nemenin elo makan." Sekali lagi Anggar mengimbuhi kalimatnya itu.
Mencoba melihat reaksi yang dibuat Ben sekaligus memancing lelaki yang sempat ia beri kepercayaan untuk menjaga adiknya itu, untuk bicara. Mendengar itu Ben mendadak menoleh pada Anggar. Masih dengan menggenggam sendok plastik di tangan dengan erat. Ben mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
"Dara nggak kenapa-kenapa, 'kan?"
Meski tak sepenuhnya bahagia mendengar kalimat tanya yang dilontarkan oleh Ben barusan, tapi Anggar merasa sedikit lega bahwa nyatanya Ben juga memiliki kekhawatiran untuk Dara.
"Kenapa tanya? Lo peduli emang sama dia?"
"Kenapa bukan Dara sendiri yang ke sini kalau emang dia peduli?" balas Ben balik bertanya.
"Emang kalau Dara ke sini lo peduli?"
Setelah mendengar pertanyaan sarkas dari Anggar, sontak Ben menelan salivanya kasar secara tak ketara. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di kerongkomgN sehingga cowok itu tak bisa berkata-kata lagi. Ben sadar, ucapannya barusan sangatlah egois, bahkan kelewatan setelah semua kalimat kejam yang ia lontarkan pada Dara.
Anggar yang sejak tadi mencoba tenang, kini meletakkan gelas sterofoam di tangannya ke atas meja. Lelaki itu mengalihkan tatapannya dari Ben sebelum amarahnya memuncak terlebih saat Anggar mengingat betapa adiknya telah berjuang dengan keras untuk memulihkan ingatan Ben tanpa melukai cowok itu.
"Nggak usah banyak tanya, tugas gue di sini cuma mastiin elo buat makan. Setelah itu gue pergi," kata Anggar mencoba tenang.
"Nggak usah tanya soal Dara, kalau emang lo butuh dan peduli sama dia, cari sendiri. Lo cowok 'kan, bukan banci?" imbuh Anggar menatap Ben yang terdiam menatap bubur dengan pandangan tak berselera.
Ia tau betul lelaki di sampingnya itu jelas sedang tak ingin makan, Anggar juga paham bahwa saat ini yang tengah mengisi pikiran Ben hanyalah Dara. Tapi, untuk beberapa saat biarlah seperti ini keadaannya. Mungkin memang ada baiknya membiarkan Ben untuk merenungkan kejadian ini dan berpikir sejenak dalam kekhawatiran.
Karena terkadang, kita hanya butuh waktu untuk merasa khawatir dan berpikir sendirian.
~M E M O R I E S~
-B E R S A M B U N G-
Attention Please!!!
Halo hai!
Semoga kalian baik di sana ya, buat semua pembaca saya yang nggak berwujud ini ? makasih banyak udah mampir, meskipun nggak mau menampakkan diri.
So di sini saya cuma mau bilang kalau aplikasi saya agak bermasalah. Eung ... lebih tepatnya ha-pe saya yang agak nganu ?
Jadi suka ke double up tanpa sadar, gais. Maaf banget, ya.
Jadinya saya kasih saran, kalau misalkan hari ini ada pemberitahuan up cerita dari saya. Di skip dulu, bacanya pas besoknya lagi, dijamin udah aman kok buat di baca T_T
Sekali lagi maaf ya gais, dan makasih banyak pula yang udah kasih love-nya.
Jangan lupa mampir ke cerita saya yang lain bay The way, makasih banyak banyak