Sebelum baca jangan lupa tekan love dan komen!
Happy reading, guys!
~M E M O R I E S~
Dara menyeruput minuman hangat di depannya setelah mengamati asap yang mengepul ke angkasa dibawa angin. Lenyap tak bersisa sedikitpun jejaknya. Seperti kisah Dara dan Ben yang begitu indah, tapi berakhir dengan sangat ironi. Lenyap tak berbekas dari ingatan Ben, dan kenyataan itu lagi-lagi membuat dadanya diserang perih. Dara mendongakkan kepala menghirup oksigen sebanyak mungkin sambil menatap langit gelap yang terlalu indah untuk ditangisi malam ini. Benda-benda langit itu masih senantiasa di sana, meski tak banyak orang yang memerhatikan keberadaannya, tapi mereka masih bertahan sama seperti Dara.
Gadis itu juga ingin tetap bertahan menunggu Ben kembali mengingatnya seperti sedia kala. Tapi, apa semua itu mungkin terjadi?
"Cedera di kepala Ben cukup parah. Sebagian sistim limbik di otaknya terluka, dan kemungkinan besar, hal Itu yang membuat Ben kehilangan sebagian ingatannya."
Penjelasan dari Dokter Gito tersebut jelas masih terekam dalam ingatan Dara. Awal di mana gadis itu menemui kejatuhannya hingga detik ini. Dara benar-benar tak tau rencana seperti apa yang tengah digariskan oleh Tuhan. Kisah seperti apa yang akan terjadi setelah ini semua. Akankan Dara bahagia, atau justru ia akan terus merasa hampa seperti ini?
Belum lagi kejadian tadi pagi. Saat Ben mendadak bersikap aneh dan mengerang sakit sehingga lelaki itu harus kembali berakhir di rumah sakit. Sebuah ketakutan paling mengerikan yang tak pernah ingin Dara bayangkan, kini malah menjadi kenyataan. Padahal selama ini Dara selalu berhati-hati dalam mengucapkan kalimat yang akan ia sampaikan kepada Ben. Karena Dara tau Ben begitu sensitif, lelaki itu bahkan masih mengonsumsi obat dokter secara rutin untuk memberikan nutrisi dan anti nyeri akibat luka pasca operasi.
Dara tau itu, meski semua itu sudah cukup lama berlalu, meski ia tak selalu berada di sisi Ben. Tapi, sudah jelas semua jadwal bahkan jenis obat yang dikonsumsi cowok itu sudah diketahui oleh Dara.
Sebesar itu pengorbanan Dara untuk memulihkan ingatan Benggala. Lantas, apakah pantas semua itu disebut sebagai sebuah kegilaan? Karena Dara terkesan mencintai lelaki yang bahkan tak mengingatnya sedikitpun.
"Cinta dan ingatan itu dua hal yang berbeda. Jangan dipukul rata, karena gue yakin Ben pasti bakal jatuh cinta sama gue lagi." Dara dengan gamblang pernah mengucapkan kalimat itu.
Namun, malam ini ... entah kenapa semuanya menjadi semu. Gadis itu ingin tetap melangkah ke depan untuk memperjuangkan cintanya, tapi mendadak ia merasa gamang. Ucapan Ben pagi tadi, apakah setidak nyaman itu Ben berada di sisinya selama ini?
"Kenapa lo mesti dateng ke kehidupan gue, sih, Ra?!"
Dara memejamkan mata mengingat semua itu, ia tersenyum samar dan meninggalkan setitik air mata yang meluncur jatuh melewati kedua pipi putihnya dengan cepat turun ke dagu. Gadis itu buru-buru menghapus jejak kesedihan tersebut sambil menghirup oksigen dengan rakus. Dadanya sesak tak tertahankan malam ini. Rasa sakit seperti apa lagi yang harus Dara lalui sekarang? Sendirian pula?
"Nggak apa-apa, Ra. Nangis aja jangan ditahan," celetuk Galang yang duduk tak jauh dari sana.
Keduanya tengah duduk di pelataran rumah sakit, menatap beberapa mobil yang terparkir rapi dan juga langit yang sudah gelap seperti perjalanan cinta Ben dan Dara. Sejak tadi pula, setelah memutuskan untuk menemani Dara jalan-jalan mencari udara segar, Galang membelikan segelas minuman hangat untuk Dara. Lantas keduanya berhenti di sana. Di sebuah kursi panjang yang berada di depan gedung rumah sakit.
Dara menunduk sejenak, gadis itu mengeratkan kardigan cokelat tua yang ia kenakan. Sebelum kemudian ia mencoba tersenyum kepada dirinya sendiri. Dara tak mungkin kalah lagi, 'kan? Dara juga tak mau jatuh tersungkur lagi seperti dulu.
"Gue bilang jangan ditahan Dara!" sentak Galang.
Ia menyentuh lengan Dara dan menggoyangkannya dengan pelan. Seketika itu Dara pun mendongak, membalas tatapan Galang yang turut prihatin melihat sahabatnya seperti ini.
"G-gue cuma nggak mau kalah lagi, Lang," balas Dara dengan suara tertahan.
Ucapannya tergugu menahan kesedihan yang tak ingin ia ungkapkan. Tapi, getaran itu jelas terdengar dalam setiap kata yang keluar dari bibir Dara. Galang menghela napas berat mendengar itu, ia segera menarik kepala bagian belakang Dara dan mendekap gadis itu ke dalam pelukannya.
Seketika itu pula tangisan Dara pecah di sana, dalam dekapan sahabatnya sendiri di bawah langit malam yang bergemerlap.
"Dasar bego! Lo nggak akan kalah cuma karena lo nangis," ucap Galang, "lepasin semuanya, gue nggak akan biarin lo jatuh sendirian, Ra."
Kedua tangan Galang bekerja dengan baik. Ia menepuk punggung Dara, dan sesekali juga mengusapnya pelan. Jujur saja Galang juga terluka melihat kondisi Dara seperti ini. Bagaimana pun juga Dara adalah gadis yang berhasil menarik perhatiannya, gadis yang berhasil membuat Galang jatuh kepada pesona sederhana Dara. Sehingga Galang sempat gelap mata melakukan sesuatu yang tak ia sengaja. Hingga detik ini, nyatanya ia termasuk salah satu orang yang menorehkan luka terbesar pada gadis itu tanpa diketahui oleh semua orang.
Dengan merenggut kebahagiaan Dara. Yaitu ingatan Benggala.
"Gue sayang sama Ben, Lang!" isak Dara masih dengan tangis yang belum mereda.
Entah kenapa, ucapan itu seperti tombak runcing yang sengaja ditancapkan tepat ke hatinya oleh Dara. Tanpa sadar Galang mengadu rahangnya kuat setelah mendengar penuturan Dara.
Bahkan dalam isak tangis yang sengaja Galang tampung itu, nama Ben masih saja terselip di sana. Berada di antara dirinya dan Dara seolah sosok Galang bukanlah sesuatu yang nyata untuk cewek itu.
Jika begini, haruskah Galang merasa bersalah atau justru sebaliknya?
~M E M O R I E S~
-Hanin Dhiya - Kau yang Sembunyi-
Kau yang sembunyi
Di manakah kini engkau mendengarkannya
Simak sebuah syair
Dan kalimat tagar perasaanku padamu
Setelah kau ingkari
Tanpa ada bahasa yang bisa 'ku mengerti
Entah di mana dirimu, di mana hatimu
Bicara yang jujur, jangan kau larikan diri
Entah di mana dirimu, di mana hatimu
Kau biarkan 'ku menerka tak tentu
'Ku terus bertahan di balik anehmu
Menjelaskan hatimu
Bila kau telah bosan, tinggal jelaskan
Janganlah hanya diam
Setelah kau ingkari
Tanpa ada bahasa yang bisa 'ku mengerti
Entah di mana dirimu, di mana hatimu
Bicara yang jujur, jangan kau larikan diri
Entah di mana dirimu, di mana hatimu
Kau biarkan 'ku menerka tak tentu
Bila memang kita harus pisah
Bicaralah saja, jangan kau sembunyi
Entah di mana dirimu, di mana hatimu
Bicara yang jujur, jangan kau larikan diri
Entah di mana dirimu, di mana hatimu
Kau biarkan 'ku menerka tak tentu
Bicara yang jujur, jangan kau larikan diri
Entah di mana dirimu, di mana hatimu
Kau biarkan 'ku menerka tak tentu
~M E M O R I E S~
-B E R S A M B U N G-
Attention Please!!!
Halo hai!
Semoga kalian baik di sana ya, buat semua pembaca saya yang nggak berwujud ini ? makasih banyak udah mampir, meskipun nggak mau menampakkan diri.
So di sini saya cuma mau bilang kalau aplikasi saya agak bermasalah. Eung ... lebih tepatnya ha-pe saya yang agak nganu ?
Jadi suka ke double up tanpa sadar, gais. Maaf banget, ya.
Jadinya saya kasih saran, kalau misalkan hari ini ada pemberitahuan up cerita dari saya. Di skip dulu, bacanya pas besoknya lagi, dijamin udah aman kok buat di baca T_T
Sekali lagi maaf ya gais, dan makasih banyak pula yang udah kasih love-nya.
Jangan lupa mampir ke cerita saya yang lain bay The way, makasih banyak banyak