Warning!
Siapkan kantong kresek, karena Bab ini mengandung kalimat puitis yang kelewat melankolis. Bagi kalian yang anti, boleh di skip untuk menghindari gejala mual, dan ingin muntah tak tertahan.
Terima kasih :)
-Catatan Sandara-
Sebelumnya tidak pernah terpikirkan bahwa saat ini tidak ada lagi kita. Bahkan tidak pernah ingin memikirkan kenyataan bahwa kita adalah hal mustahil yang tercantum dalam takdir. Bukan kenyataan yang terlalu kejam, bukan juga tentang takdir yang tidak adil. Mungkin pertemuan singkat kita seperti kenikmatan kopi hitam yang tidak begitu pahit dan tidak juga begitu manis.
Sesaat hanya secangkir kopi yang masih mengepulkan asap ditemani gerimis. Sesaat yang seperti pertemuan kita, menentramkan dan meninggalkan kesan mendalam.
Lantas perlahan menyesapnya dengan mata tertutup. Membiarkan indra penciuman dipenuhi dengan aroma kopi serta tanah yang basah karena gerimis. Kecapan pertama yang membuat kita lebih tertarik untuk melanjutkan perjalanan tanpa tujuan yang jelas.
Lagi dan begitu seterusnya hingga tanpa disadari membuat aku dan kamu menyimpulkan bahwa kita adalah satu. Bahwa kita adalah sepasang yang bertemu untuk mencintai. Seteguk demi seteguk itu tanpa sadar membuatku mabuk dalam kenikmatan yang sebelumnya tidak pernah kurasakan. Bahkan alam seolah mendukung, langitnya terang menjatuhkan ribuan air mata berupa titik-titik kecil.
Sampai kemudian aku menyadari kesalahan yang terjadi.
Aku telah jatuh cinta.
Pada hari-hari berikutnya perasaan yang serupa itu lenyap entah ke mana. Meskipun kopi hitam telah kuseduh dengan racikan yang sama, namun kenikmatan yang memabukkan itu hilang tanpa jejak. Semua tak lagi sama
Yang tersisa hanya pahit setelah semua rasa luar biasa yang belum pernah kulewati. Kamu lenyap bersama tetes terakhir dalam cangkir.
Lenyap setelah membuatku jatuh.
Lenyap setelah membuatku tertawa.
Lenyap setelah membuat luka.
Lenyap setelah membuatku kesulitan menghapus kenangan singkat yang pernah terjadi.
Namun, setidaknya mengenalmu tidaklah sepahit kopi hitam. Kamu adalah kelam yang terkenang menjatuhkan. Sementara kopi adalah kepahitan murni yang menentramkan.
Kini kuseduh kopi dengan kesedihan. Berharap pahitnya menghapusmu lewat bayangan.
-S a n d a r a-
"Asal kamu tahu, aku selalu ingin menyapamu. Tapi, sesekali hatiku membentak untuk diam. Menantimu agar datang padaku lebih dulu."
Ada beberapa dari mereka yang patah hati-nya sengaja diperlihatkan dengan tindakan. Supaya orang-orang disekitarnya peka terhadap apa yang mereka rasakan. Namun, tidak sedikit juga dari mereka yang sudah hancur tak karuan di dalam diri, tetapi tidak ingin memperlihatkan apa yang sesungguhnya terjadi. Dalam fase ini, bisakah aku menyebut bahwa manusia sangatlah munafik? Mereka terluka, ingin dipedulikan tapi tidak ingin memberitahu. Rumit memang.
Sama dengan perihal cinta yang tidak pernah putus kata jika dibicarakan setiap masa. Mencintai dan dicintai adalah satu hal yang kuat. Bukan persoalan sepele, aku cinta dia, dia cinta aku. Selesai.
Tidak semudah itu! Bagi orang lain, cinta memang sederhana. Tapi cinta sulit untukku juga lelaki itu. Saat sama-sama tahu, yang ada hanya kehancuran dalam diri masing-masing.
Kami sama-sama tidak tahu harus memulainya dari mana lagi. Karena masalah yang ada sudah kerap terjadi bahkan berulangkali. Hanya kata maaf dan penyesalan yang pada akhirnya membunuh sikap dingin dari masing-masing hati.
Bukan hati yang salah, sebab ia tidak pernah berkilah. Lagi-lagi manusia dan egonya yang sulit untuk dimengerti juga dipahami.
Bukan tentang siapa yang salah. Bukan juga tentang siapa yang paling benar. Baik kamu atau pun aku sama-sama keliru. Persoalan kita selalu sama. Kerumitan yang datang juga masih sama. Ketakutan yang dihadapi juga masih sama. Lalu mengapa tidak sama-sama saling terbuka?
Cinta butuh kejelasan yang menjelaskan banyak hal. Tentang siapa kamu dan bagaimana hidupmu. Tentang perasaanmu dan kesungguhan hatimu. Tentang kenyamanan juga kepekaan. Keliru jika sebuah cinta berdiri hanya karena sebuah nama. Bagaimana kamu bisa mencintai seseorang hanya dari mendengar namanya saja? Atau bahkan mungkin membacanya saja?
Bodoh memang, namun nyata adanya. Cinta adalah satu-satunya hal gila yang tak berteori dan tak berlogika. Bagaimana cinta bisa hadir tanpa pertemuan langsung dengan berjabat tangan?
Hanya dengan menyapa lewat kata-kata, hanya dengan tertawa lewat barisan kalimat. Itu cintaku kepada kamu.
Hanya berbagi kesedihan bersama. Mengatasinya berdua. Membagi luka sama-sama, lalu tertawa lagi hingga begitu seterusnya. Itu cintaku kepada kamu.
Dengan bertanya bagaimana harimu hari ini? Bagaimana keadaan hatimu? Bagaimana dengan rutinitasmu? Memastikan semoga yang kamu katakan baik-baik saja itu benar-benar baik. Itu caraku mencintai kamu.
Oleh tanggapanmu yang terkesan biasa saja. Oleh kepedulianmu yang membuatku senang. Oleh kekhawatiranmu yang membuatku merasa nyaman. Juga segala kesederhanaan kata dan perbuatan yang kamu lakukan. Aku menyukainya. Itu sebab mengapa aku jatuh pada karaktermu.
Lucu, bahkan kita belum sama-sama saling bertemu. Tiba-tiba kubilang bahwa aku menyukaimu. Bukankah benar jika cinta memang tidak berlogika? Kamu harus tahu, sesekali aku pernah bermimpi tentang kamu. Lelaki yang kadang kupikur tidak pantas untuk kutangisi mengisi nyenyak sesaat di malam gelapku.
Bodoh memang, tapi aku tidak berkilah bahwa kenyataannya cinta memang tidak memandang fisik manusia. Aku pikir jika cinta hanya tentang penampilan fisik lalu bagaimana caranya kita mencintai Tuhan yang tidak berwujud? Bukankah cukup adil untukku. Kubilang aku mencintaimu, tadinya aku ingin pergi setelah kamu tahu. Lalu memulai hal baru yang bahkan belum pernah kurencanakan sebelumya. Lantas ada hal kecil yang membuat kisah kita semakin panjang hingga detik ini.
Detik di mana kita masih berkomunikasi, atau mungkin tidak sama-sekali. Yang perlu kamu tahu jika kamu membaca tulisanku. Sejauh apa pun kamu pergi tanpa jejak, secepat apa pun kamu berlari menjauh dan pergi. Tidak sedikit pun lupa menghapus namamu dalam hati dan benakku.
-s a n d a r a-
Hai pecinta kopi!
Semoga setiap hari yang kalian perjuangkan untuk bahagia adalah hari yang tidak akan pernah hilang untuk dikenang.
Semoga setiap pembukaan yang kalian alami selalu disertai penutupan.
Semoga pertemuan indah yang kalian impikan, akan diselesaikan dengan perpisahan indah pula yang tidak terlupakan.
Aku bukannya ingin mendoakan kemalangan yang sakitnya membekas tanpa bisa dihapuskan. Namun, yang ingin kusampaikan adalah kenyataan yang seringkali harus terjadi. Sebab semua yang pernah datang pasti akan pergi.
Hanya saja, ketika kamu datang dengan hati. Seharusnya kamu pun pergi dengan hati-hati tanpa sembunyi, dengan membawa hatiku pergi. Apalagi jika kamu benar-benar seorang lelaki sejati.
Hal rumit ini akan menjadi penutup untuk sebuah permulaan panjang setelah lama aku menghilang.
Untuk kalian penikmat kopi hitam.
Untuk kalian yang berjuang meski diabaikan.
Untuk kalian yang pernah mencintai meski akhirnya dilukai.
- S a n d a r a-
Aku pernah berpikir bahwa mencintaimu adalah hal mustahil.
Apalagi untuk memilikimu, mungkin adalah hal yang tidak akan pernah terjadi.
Ribuan kali kuucapkan pada hati dalam diri.
Bahwa cukup aku dan Tuhan yang tau akan rasa cinta ini.
Namun, ego ini turut berteriak untuk mengatakannya pada si pengikat hati.
Lantas pada akhirnya, satu hati remuk karena tidak ada perasaan yang sama.
Si pengagum rahasia menjerit dalam kegelapan bersama air matanya.
-S a n d a r a-
Sampai detik ini aku masih tidak mengerti, Bagaimana hatiku bisa menyukaimu sampai melupakan keadaan pemiliknya sendiri. Aku selalu mengatakan bahwa aku, dan semuanya pasti akan baik-baik saja. Tapi, sedikit pun tidak seperti demikian. Semuanya tidak pernah baik-baik saja. Meski aku mencoba untuk biasa saja, menganggapmu biasa saja, tapi semuanya tidak mudah.
Aku hanya bersikap seolah baik, seolah tidak apa-apa supaya kamu tidak terus-menerus merasa bersalah. Tetapi, mulai detik itu aku telah memutuskan untuk menyelesaikan semuanya. Aku menyadari bahwa aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
Meski sejujurnya aku ingin, namun aku tidak boleh egois bukan? Selain takut melukai diriku sendiri lebih jauh lagi, Aku pun takut melukai kamu lewat kata-kata. Mungkin kamu sedikit paham tentang bagaimana buruknya aku menyampaikan kemarahan.
Aku senang, mungkin kamu paham apa yang ingin kusampaikan. Tetapi, di sisi lain aku juga merasa telah menjadi seseorang yang begitu jahat. Aku ingin kamu tahu seperti apa sakitnya menjadi pemburu yang tidak akan pernah memenangkan targetnya. Yang tidak akan pernah diijinkan memenangkan target.
Aku ingin menikmati hidupku yang penuh jalan berlubang. Yang sulit dan pahit, aku ingin menikmatinya walau sesekali terjatuh. Dan aku tidak akan membiarkan diri ini atau bahkan orang lain melukai perasaanku lebih dalam lagi. Termasuk dengan caraku menyukai kamu dengan begitu salah.
Aku berhenti. . .
Karena itu, belakangan ini aku berpikir tentang banyak hal. Aku benar-benar ingin berhenti. Mungkin kalimat itu terdengar biasa saja karena aku terlalu sering mengungkapkannya. Namun, kali ini aku benar-benar akan melakukannya. Aku ingin berhenti mengenalmu tanpa melupakan namamu. Cukup kenangan yang akan menjadi milikku selama mengenalmu. Aku ingin bahagia tanpamu. Aku ingin menjalani hari-hariku seperti sebelumnya saat aku belum mengenalimu. Aku terlalu merindukan masa-masa itu. Saat aku tidak pernah menunggu pesan mati.
Tadinya aku ingin tau, sedalam apa kamu jatuh di beberapa waktu silam. Saat aku bersikap dingin pada siapa pun. Aku penasaran apakah kamu pernah jatuh karena diacuhkan. Atau mungkin kamu begitu tegar karena aku sama sekali tidak berarti apa pun untukmu (?)
Tulisan ini terlalu singkat untuk dijadikan penutup kisah kita. Mungkin ini terlalu singkat, Tapi aku tidak ingin menjabarkan sepanjang apa rasa sakit selama mengenalmu.
Aku tidak mau melukai dan dilukai. Jadi ada baiknya kita menjalani hidup masing-masing. Tanpa saling mengenal, dan berkomunikasi lagi. Mungkin nanti jika sesekali kamu mengingat kita, aku selalu di sini jika kamu ingin bertanya. Aku ingin menghapus semua.
Meski begitu jika nanti kamu benar-benar ingin sekedar menyapa carilah jalan sendiri.
Meski jauh seharusnya kamu tidak menyerah begitu saja, jika yang kamu rasakan adalah kenyamanan. Hanya karena jauh jangan melepaskan hal yang membuat hatimu tenang.
Bukan karena aku orangnya, namun karena aku tidak ingin kamu memiliki penyesalan panjang.
Aku mencintaimu. Aku pernah memperjuangkanmu sejatuh-jatuhnya. Aku pernah menangisi kamu sesakit-sakitnya. Mengadukan kamu pada Tuhan bahwa hati menginginkanmu. Bahkan tidak pernah meninggalkan kamu dalam setiap doa. Tapi, Semuanya masih sama. Dan mungkin tidak akan pernah berubah. Ini petunjuk dari Tuhan bahwa kamu bukan takdirku.
Aku senang mengenalmu. Tetapi, setiap pertemuan akan selalu ada perpisahan. Setiap ada awal pasti akan ada akhirnya. Dan ini mungkin akhir yang tepat untuk kita.
Senang pernah mengenalmu. Senang pernah menjadi seseorang yang bisa membuatmu nyaman .
Aku sempat melupakan satu hal.
Maaf untuk banyak hal yang tidak bisa kusebutkan. Termasuk untuk salahnya caraku mencintaimu.
Dan terimakasih untuk segalanya. Termasuk tawa dan banyaknya air mata.