Jangan lupa tekan love dan komen gais!
Happy reading!
~M E M O R I E S~
Malam itu Ben sengaja keluar dari kamarnya untuk mencari angin demi menghilangkan sesak. Rasa bersalah, kekosongan dan sisi hampa dalam dirinya, entah kenapa malam itu semakin menjadi. Seolah semua itu semakin muncul ke permukaan saat Ben berusaha melupakannya. Entah perihal apa pula, ia merasa kesepian meski sejujurnya ia terbiasa dengan sunyi. Tapi, meski begitu tak semua manusia bisa hidup dalam kesendirian selamanya, 'kan?
Karena di saat-saat tertentu kita pasti butuh untuk dipedulikan. Entah itu sebuah perhatian nyata yang ditunjukkan secara terang-terangan, atau malah sebaliknya. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk perasa, bagaimana pun juga kita pasti pernah berharap pada sesama manusia.
Jauh dalam hati Ben, cowok itu merindukan kehangatan. Ben juga haus akan kasih sayang sejujurnya, hatinya juga terasa dingin setelah menerima situasi yang bahkan tak bisa ia mengerti. Yang Ben ingat hanya sebuah kecelakaan kecil, malam itu hujan deras ia harus ke kampus karena suatu urusan. Dan sebuah mobil mendadak melintas di depannya sehingga membuat tabrakan tak bisa dihindari. Hanya itu, tak lebih.
Namun, setelah cowok itu terbangun dari tidur yang dirasa sangat singkat. Semuanya mendadak terasa hampa. Selain kepergian kedua orang tuanya yahh bahkan tak sepenuhnya Ben pahami apa penyebabnya, cowok itu pun merasa tengah menjalani kehidupan yang sangat hampa. Dalam setiap langkahnya selalu ada titik di mana ia merasa ada sesuatu yang hilang dalam diri Ben. Tapi, Ben juga tak tau apa itu. Semua jenis obat, jadwal rutin pergi ke dokter yang selama ini ia lakukan, Ben tak sepenuhnya mengerti. Ia hanya akan merasa sakit kepala jika tak menelan obat secara rutin.
'Apa sih yang sebenernya udah terjadi? Kenapa gue ngerasa kosong banget?' desaaah Ben memejamkan matanya sejenak.
Cowok itu kini berdiri di lorong rumah sakit, langkahnya makin dekat dengan lobi sambil mendorong tiang penyangga cairan infus yang masih setengah. Ben menghela napas panjang, dadanyaa masih sesak tanpa alasan yang jelas. Saat cowok itu membuka mata, tanpa sengaja netranya menangkap seseorang yang ia kenal duduk tak jauh dari tempatnya berdiri.
Gadis itu menangis, menunduk membiarkan rambut cokelat gelap sebahunya menutupi wajah. Ben jelas tau karena gestur yang di buat oleh cewek itu, punggungnya naik turun dan sesekali bergetar. Ia hapal siluet tubuh mungil yang kini menagis di sebuah kursi panjang yang berada di pelataran rumah sakit. Posisi Dara saat ini mengingatkan Ben pada kejadian di Halte pada malam setelah hari ulang tahunnya. Ben mendapat kado istimewa yaitu sebuah pukulan dari orang tak di kenal.
Sekaligus ... bertemu dengan Dara. Meski pada awalnya ia senantiasa menolak untuk mengakui bahwa kehadiran Dara sedikit banyaknya cukup membuat banyak perubahan dalam kehidupan Ben, tapi saat ini. Ben tak akan mengelak lagi. Gadis ajaib itu nyatanya memang berhasil mengisi kekosongan yang pernah hilang dalam diri Ben. Walaupun berulang kali pula lelaki itu terus mengakatan kalimat yang tak mengenakan hati, tapi Dara selalu datang lagi keesokan harinya. Dan, Ben tentu saja mengharapkan hal it terjadi
Tapi ....
Bahkan baru saja Dara meminta orang lain yang datang untuk menemani Ben makan. Kenapa pula gadis itu tak datang sendiri dan mengatakan berbagai kalimat menyebalkan yang akan di dengar Ben seperti biasa? Kenapa pula Dara tak datang sendiri dan membuat Ben merasa terganggu, meski kenyataannya Ben tak sepenuhnya ingin mengusir Dara dalam hidupnya?
Kenapa Dara nggak datang? Satu tanya itu muncul dalam benaknya dan membengkak di sana. Ben butuh banyak jawaban dari Dara.
"Dara?" gumam Ben sangat pelan.
Mata sipitnya semakin menyipit menatap seseorang yang duduk di sebelah Dara. Cewek itu tak sendirian, asa seorang lelaki yang memeluknya dari samping dan itu bukan Anggar. Laki-laki yang tadi mengaku sebagai kakak Dara dan menungguinya untuk makan. Meski kemudian Anggar pulang sebelum Ben menyentuh makanan itu sedikit pun. Setidaknya cowok itu sudah mengisi perutnya dengan s**u jahe hangat.
Sepasang mata Ben masih memicing menatap kedua insan yang duduk membelakanginya tersebut. Entah kenapa saat itu juga Ben ingin mendekat ke sana, menarik Dara untuk mengatakan permintaan maafnya. Akan tetapi, jika Ben melakukan itu apakah Dara akan menerimanya kembali?
"Benjol?!" teriak suara besar milik Riki dari ujung koridor.
Cowok tinggi berbadan cungkring itu berlari cepat menghampiri Ben yang tersentak dari lamunannya.
"Lo ngapain di sini, anjir? Segala sakit, udah kayak orang kaya aja, lo!" cerocos Riki dengan gayanya yang slenge'an seperti biasa.
Melihat ekspresi Ben yang tak begitu menghiraukan dirinya, Riki merangkul pundak Ben dan mengajak cowok itu untuk segera kembali ke kamarnya.
"Balik ke kamar lo, yuk! Lagian di sini dingin juga," kata Riki perhatian.
Ben tak begitu menanggapi kehadiran Riki. Kini justru sepasang matanya masih sibuk mengawasi kedua insan yang duduk di sana dengan penerangan minim. Dan satu-satunya hal yang mengganggu pikiran Ben saat ini hanyalah ...
"Rik?"
"Hah?" sahut Riki spontan menoleh pada Ben, karena sejak tadi cowok yang mengabaikan dirinya itu kini justru menyebut namanya.
"Lo suka gombalin cewek, 'kan?"
Cowok yang mengenakan pakaian lusuh seperti biasanya itu tersenyum bangga. Ia melakukan gerakan menyisir rambut ke belakang sambil menatap Ben penuh tanya.
"Kenapa? Lo butuh saran dari Suhu?" tanya Riki.
Untuk beberapa saat terdiam sambil masih menatap Dara dan sosok lelaki tak dikenal itu, Ben kini balas menatap Riki yang ada di sebelahnya.
"Gimana caranya minta maaf ke cewek?" tanya Ben gamblang.
~M E M O R I E S~
"Mending lo balik aja, Lang," pinta Dara pada cowok yang masih mengiringi langkahnya untuk kembali ke kamar.
"Seenggaknya gue anter lo sampai ke kamar dulu, lah. Lo pikir gue cowok apaan?"
"Emang lo pikir gue cewek apaan? Nggak berani balik ke kamarnya sendiri," balas Dara, ia terkekeh pelan membuat segaris senyum ikut terbit dari bibir Galang.
"Bahkan dulu, gue yang selalu berdiri di depan lo buat bales anak-anak yang nakalin elo," imbuh Dara mengenang masa kecilnya dengan Galang.
Ada perasaan hangat yang menyeruak ke dalam hati Galang. Mendengar pernyataan yang diucapkan oleh Dara barusan membuat Galang mengerti bahwa ternyata Dara masih mengingat masa kecil mereka dengan baik.
"Dulu, lo bahkan lebih kecil dari gue. Sejak kapan lo jadi setinggi ini?" Gadis itu masih bergumam sendirian.
Sedangkan Galang juga tak keberatan mendengarnya. Ia malah senang mendengar Dara menceritakan hal-hal tentang mereka berdua, sekalipun semua itu hanyalah perihal masa lalu.
"Makannya itu, sekarang giliran gue yang bakal jagain elo Sandara."
"Emang lo bisa apa?" balas Dara cepat menatap Galang dengan tatapan meremehkan.
Kedua pasang mata Galang memicing mendengarnya, ia bahkan membungkuk sebentar untuk menyamai tatap mata Dara yang lebih pendek darinya.
"Seriusan, lo nantangin gue Ra?" Galang masih menatap cewek mungil di sampingnya dengan tatapan kagum.
Sebenarnya Selemah apa sih Galang di mata Dara selama ini? Lagipula kejadian ia di-bakal oleh anak-anak komplek itu kan sudah sangat lama sekali.
"Menurut lo?"
"Oke, gue bakalan bikin elo nyesel udah bilang kayak gitu," kata Galang.
Cowok itu melakukan peregangan pada kedua jari tangannya, ia bahkan meregangkan leher sehingga berbunyi keletuk seolah-olah akan benar-benar melawan Dara. Detik itu juga Galang melakukan serangan membagi-buta dengan cara menggelitiki Dara. Hal itu sukses membuat Dara berusaha menahan diri agar tak meledakkan tawanya di lorong rumah sakit itu.
Sumpah ini nggak lucu! Sangat sangat nggak lucu. Cewek itu bahkan sudah melempari Galang dengan tatapan membunuh.
"Nggak lucu, Singgalang!" geram Dara dengan penuh penekanan.
"Tapi, lo ketawa, Dara. Lo ketawa karena gue, bukan cowok lain," batin Galang merasa senang menikmati kebersamaannya dengan cewek mungil tersebut.
~M E M O R I E S ~
-B e r s a m b u n g-