Jangan lupa tekan love dan komen!
Happy reading, guys!
-M E M O R I E S-
Pria itu masih mematung di sana. Di tempatnya berdiri mengabaikan Riki yang berpamitan untuk membeli air mineral di kantin karena cowok itu lupa tak membawa apapun untuk Ben. Kata Riki, setidaknya air putih adalah sebuah lambang kemurnian yang sangat alami. Seperti cinta yang begitu sederhana, tapi selalu dibutuhkan setiap saat.
"Cinta itu nggak perlu mewah, Ben. Sederhana tapi indah, dia biasa aja. Tapi, lo pasti butuh banget," ucap Riki sebelum bergegas pergi meninggalkannya.
"Duluan, ntar gue susulin ke kamar elo!" teriak cowok itu selang jarak tiga langkah di belakang Ben.
Tak ada sahutan yang keluar dari bibir Ben. Hanya saja jauh dalam hatinya Ben membenarkan apa yang baru saja dikatakan oleh Riki.
'Cinta itu sederhana, biasa aja, tapi gue pasti butuh banget.'
Sedetik kemudian setelah untuk beberapa saat ia memikirkan ucapan Riki dan angannya mulai mengingat Dara lagi, Ben menggeleng pelan dan bergegas menuju ke kamar tempat ia di rawat. Benar saja, malam ini cuaca terang tapi benar- benar terasa dingin. Ben hanya tak mau terlalu terlena dengan perasaannya kepada Dara, ia hanya perlu minta maaf dan menerima keputusan Dara selanjutnya, 'kan?
Tunggu?
Keputusan? Memang apa yang sedang Ben harapkan sekarang?
Ben memejamkan matanya sejenak sambil melanjutkan langkah. Hanya saja, baru beberapa langkah ia bergerak maju, lagi-lagi ia harus dipertemukan dengan Dara. Di lorong rumah sakit menuju kamarnya itulah ia mendapati Dara dengan sosok lelaki yang tak lebih tinggi darinya. Mata Ben menyorot serius, ia jelas mendengar suara tawa dari Dara pun dengan lelaki tak dikenal yang lebih pendek darinya itu. Secara alamiah, tangan kanan Ben bergerak menyentuh dadanya yang terasa nyeri.
Perasaan Ini mendadak datang tanpa alasan, dan Ben tak bisa membiarkan semua itu semakin menjadi. Tapi ...
"Seriusan, lo nantangin gue Ra?" Galang masih menatap cewek mungil di sampingnya dengan tatapan kagum.
"Menurut lo?"
"Oke, gue bakalan bikin elo nyesel udah bilang kayak gitu," kata Galang.
Cowok itu melakukan peregangan pada kedua jari tangannya, ia bahkan meregangkan leher sehingga berbunyi keletuk seolah-olah akan benar-benar melawan Dara. Detik itu juga Galang melakukan serangan membagi-buta dengan cara menggelitiki Dara. Hal itu sukses membuat Dara berusaha menahan diri agar tak meledakkan tawanya di lorong rumah sakit itu.
"Nggak lucu, Singgalang!" geram Dara dengan penuh penekanan.
Dialog-dialog menyebalkan itu melintas di telinga Ben dengan jelas dan Ben jelas tak bisa menghindari itu semua. Rasa nyeri di hatinya semakin menjadi, sesaat Ben semakin menekan dadanya yang sesak melihat Dara tertawa bersama orang lain.
"Gue kenapa sih?" bisik Ben pada dirinya sendiri.
Sambil mengucapkan kalimat itu pada dirinya sendiri, tak pelak setetes air mata jatuh begitu saja dari kedua mata Ben. Mendadak kepalanya terasa pusing, ada beberapa kilas ingatan yang melintas secara abstrak saat Ben memejamkan matanya. Namun, semakin Ben ingin melihat semua itu lebih jauh. Rasa sakit semakin menguasai kepala Ben sehingga cowok itu jatuh bersimpuh di tempatnya berdiri. Rasanya seperti puluhan jarum tengah menusuk kepalanya tanpa ampun.
Ben mencoba untuk tak mengerang menahan sakitnya, tapi semua itu gagal sehingga secara spontan kedua orang yang asik bercanda di depannya. Yang tak lain dan tak bukan adalah Dara dan Galang menoleh dengan bersamaan. Tanpa banyak bicara Dara berlari menghampiri Ben yang sudah dalam posisi tergeletak di lantai setengah sadar.
"Ben? Lo kenapa?!" sentak Dara sarat dengan nada kekhawatiran.
"Tolong panggil perawat, Lang!" Cewek itu sudah menggenggam kedua tangan Ben dengan erat.
Matanya terpejam, tak ada kalimat yang bisa ia ucapkan saat itu selain.
"Pliss, jangan jangan bikin gue semakin takut, Ben. Pliss, sembuh seenggaknya buat diri lo sendiri," bisik Dara tepat di salah satu telinga Ben.
Cowok yang belum sepenuhnya hilang kesadaran itu, masih menatap Dara dengan mata memicing menahan sakit. Dadanya yang sesak perlahan mereda saat merasakan tangan hangat Dara menggenggamnya dengan lembut. Seolah memberitahu Ben bahwa lelaki itu tak sendirian. Seolah memberitahu lelaki itu bahwa, Dara di sini.
Dara akan selalu ada di sampingnya.
"Mm-maafin gue, Ra." Ben mengucapkan kalimat itu dengan terbata.
Sebelum sedetik kemudian dentingan panjang mengisi pendengaran Ben dan membuat cowok itu kehilangan kesadaran sepenuhnya.
"Ben!?" teriak Dara di lorong rumah sakit itu.
~M E M O R I E S ~
Satu tahun yang lalu. Satu hari setelah Ijab qobul.
"Kalau gue jadi kembang, lo bakalan jadi apa, Ben?"
"Jadi Bego."
Sebuah tamparan keras dilayangkan Dara tepat di d**a sebelah kiri Ben. Sehingga cowok yang tengah membaca buku setebal kamus bahasa Indonesia itu meringis sakit, menyentuh dadaanya, kemudian beralih menatap Dara yang sejak tadi sudah merebahkan kepalanya di pangkuan Ben.
"Ya, lagian kamu ada-ada, aja. Mana bisa kamu jadi kembang, Ra?"
Cewek itu tampak cemberut, Ben memang paling tak bisa diajak untuk romantis. Sekali lagi ia bersiap melemparkan pukulan di dadaa lelaki yang sudah berstatus sebagai suaminya itu. Namun, saat itu juga tangan Ben menahan pergelangan tangan Dara. Cowok itu membungkuk dan memangkas jarak antara dirinya dan Dara. Kemudian Ben menjatuhkan sebuah kecupan singkat di bibir merah jambu Dara yang selalu beraroma cherry. Sontak hal itu membuat Dara sukses diam dan membolakan mata menatap Ben penuh keterkejutan.
"Heh!" gumam Dara masih menatap Ben tak terima.
Siapa bilang Ben boleh menciumnya begitu saja tanpa izin? Padahal biasanya Dara yang selalu bersusah payah untuk meminta kiss bibir pada Ben.
Cowok itu mengulum senyumnya, ia kembali mengangkat buku bacaannya merasa puas membuat Dara kesal. Lagi-lagi ia mengabaikan Dara yang masih menatapnya dalam pangkuan itu. Membiarkan Dara semakin cemberut sehingga mungkin saja bibir istrinya itu bisa dikepang beberapa menit kemudian. Keduanya memang saling mencintai, tapi bahkan setelah status mereka berubah menjadi suami istri. Ben dan Dara masih saling memanggil dengan sebutan lo-gue. Eum ... ralat. Dara yang masih sering menggunakan sebutan itu, sedangkan Ben, cowok itu sudah lebih sering menggunakan sebutan aku-kamu kepada Dara.
Dara yang selalu cerewet dalam segala situasi dan kondisi. Sedangkan Ben yang langsung menjadi pendiam saat mendadak dihadapkan dengan sebuah buku. Karena itu, sebisa mungkin Dara selalu menjauhkan buku dari Ben saat mereka sedang berduaan seperti Minggu ini di sofa panjang yang berada di kamar mereka. Sejak satu jam tadi Ben hanya mengangguk atau berdehem menjawab pertanyaan konyol Dara seperti barusan.
Mendadak cewek itu menutup buku bacaan Ben dan mendekapnya dalam pelukan, membuat Ben membalas Dara dengan tatapan protes.
"Apa sih, Ra? Kamu mau apa? Kan, udah janji kemarin kalau hari Minggu aku boleh baca buku," protes Ben tampak lucu.
"Tapi, bukan berarti lo bisa cuekin gue, 'kan?"
"Mana ada? Kapan aku cuekin kamu?"
Keduanya malah saling membalas pertanyaan lawan dengan pertanyaan balik. Kini Dara bangkit dari posisi rebahan. Gadis itu memutar tubuh menghadap ke arah Ben, masih sambil menatap Ben tak terima.
"Kapan?" tanya Dara, "dari tadi lo tuh cuma 'heem' ,'iya,' 'hooh, Ra', ngangguk kayak burung kutilang. Abis itu lo ngatain gue bego? Masih tanya kapan? Lo bilang Minggu ini mau ngabisin waktu sama gue? Mana? Dari tadi lo malah asik sama buku, ngeselin tau nggak?!" balas Dara hanya dalam satu tarian napas. Cewek itu kini menghela napasnya yang naik turun tanpa melepaskan Ben dari tatapan kesalnya.
Mendengar itu semua Ben kicep. Ia menatap Dara dengan ngeri, menggaruk kepalanya yang tak gatal berharap Dara nggak memperpanjang masalah ini.
"Iya, maaf. Habis pertanyaanmu absurd semua gitu," gumam Ben.
Bukannya membuat istri kecilnya itu merasa lebih baik, Ben seolah semakin mengiram bensin ke dalam api yang berkobar. Cowok itu segera tersenyum lebar dan mengangkat kedua jari tangannya bergerak ke atas membentuk huruf 'V'
"Apa lo bilang barusan?"
Cup!
Sekali lagi sebuah kecupan singkat Ben jatuhkan tepat ke bibir ranum merah jambu Dara yang manis. Cowok itu segera menjauh dan kembali duduk di tempatnya menjaga jarak aman dari Dara.
"Heh! Nggak ada yang kasih izin lo buat nyium gue, ya!" ucap Dara tak terima.
Bagaimana bisa Ben mencuri ciuman darinya semudah itu, sedangkan Dara harus bersusah payah setengah mati untuk mendapatkan ciuman dari Ben. Bahkan saat cowok itu terlelap saja, Dara kesulitan untuk sekedar mengecup bibir Dara.
Cup!
Sekali lagi Ben mengecup bibir Dara sekilas sehingga berhasil membuat kedua pipi Dara memerah. Dan saat itu juga Ben harus bergegas pergi menjauh dari Dara, tepat sebelum gadis itu semakin menggila dan membuat Ben harus semakin menahan diri untuk tak menghabisi Dara demi menjaga janji mereka.
"Benjoool sialaaan!" teriak Dara nyaring.
Ia membanting buku dalam pelukannya ke atas sofa, bergegas mengejar Ben untuk membalas ciuman cowok itu dengan pagutan ringan. Sehingga tak pelak, terjadilah sebuah aksi kejar-kejaran di dalam kamar yang tak begitu luas tersebut. Tepatnya, kamar pengantin baru yang sedang sangat berbahagia.
~M E M O R I E S~
-Adhele : All I Ask-
I will leave my heart at the door
I won't say a word
They've all been said before, you know
So why don't we just play pretend?
Like we're not scared of what's coming next
Or scared of having nothing left
Look, don't get me wrong
I know there is no tomorrow
All I ask is
If this is my last night with you
Hold me like I'm more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
'Cause what if I never love again?
I don't need your honesty
It's already in your eyes
And I'm sure my eyes, they speak for me
No one knows me like you do
And since you're the only one that matters
Tell me who do I run to?
Look, don't get me wrong
I know there is no tomorrow
All I ask is
If this is my last night with you
Hold me like I'm more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
'Cause what if I never love again?
Let this be our lesson in love
Let this be the way we remember us
I don't wanna be cruel or vicious
And I ain't asking for forgiveness
All I ask is
If this is my last night with you
Hold me like I'm more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
'Cause what if I never love again?
-B e r s a m b u n g-
Attention Please!!!
Halo hai!
Semoga kalian baik di sana ya, buat semua pembaca saya yang nggak berwujud ini ? makasih banyak udah mampir, meskipun nggak mau menampakkan diri.
So di sini saya cuma mau bilang kalau aplikasi saya agak bermasalah. Eung ... lebih tepatnya hape saya yang agak nganu ?
Jadi suka ke double up tanpa sadar, gais. Maaf banget untuk ke-tidaknyamanan ini ya.
Jadinya saya kasih saran, kalau misalkan hari ini ada pemberitahuan up cerita dari saya. Di skip dulu, bacanya pas besoknya lagi, dijamin udah aman kok buat di baca T_T
Sekali lagi maaf ya gais, dan makasih banyak pula yang udah kasih love-nya.
Jangan lupa mampir ke cerita saya yang lain bay The way, makasih banyak banyak
Lavyuu yang udah tekan loveT_T