Villa mewah milik keluarga Haris. Lampu yang terang benderang menerangi seisi villa tersebut.
“Nenek, dengar-dengar nenek sangat suka minum teh. Ini adalah compressed tea seharga lima ratus ribu sebagai hadiah ulang tahun nenek. Teh ini sudah berusia ratusan tahun. Aku beli dari Tiongkok.”
Malam ini adalah ulang tahun kepala keluarga Haris, nyonya Haris yang ke 70. Para cucu laki-laki, cucu perempuan, dan cucu menantu beliau berbondong-bondong memberikan hadiah ulang tahun pada neneknya.
“Nenek, aku dengar nenek percaya dengan ajaran Buddha. Ini patung Buddha giok untuk nenek. Patung ini diukir dengan giok Hotan yang terkenal dengan harga tujuh ratus ribu.”
Nyonya haris melihat satu per satu hadiah yang diberikan cucu-cucunya. Seketika beliau tersenyum lebar. Seluruh anggota keluarga Haris terlihat begitu riang dan harmonis.
Tiba-tiba, suami cucu perempuan pertama nyonya Haris yang bernama Tama Renza berkata, “Nenek, bisa pinjamkan aku uang sebanyak satu juta tidak ? Ibu Yanti di panti asuhan Gloria terkena penyakit uremia. Jadi lagi butuh uang untuk biaya pengobatan.”
Seketika seisi rumah terkejut dan terdiam. Semua orang yang ada di situ menatap Tama dengan tatapan tidak percaya.
Besar sekali keberanian lelaki itu. Padahal dia adalah seorang menantu yang tinggal di rumah keluarga istrinya. Nenek istrinya sedang ulang tahun. Tidak hanya lelaki itu tidak menyiapkan hadiah apapun untuk sang nenek. Bahkan dia berani membuka mulut dan berkata dengan keras ingin meminjam uang sebesar satu juta pada nenek ?
Tiga tahun yang lalu. Tuan Haris, suami nyonya Haris masih hidup. Beliau tidak tahu darimana menemukan lelaki seperti Tama dan membawanya kembali ke rumah. Tidak hanya itu, beliau juga bersikeras menikahkan cucu pertamanya yang bernama Alena Haris pada Tama. Saat itu, Tama tidak memiliki uang sepeser pun. Lelaki persis seperti seorang pengemis.
Setelah keduanya menikah, sang kakek menghembuskan napas terakhirnya dan pergi untuk selamanya. Dan sejak saat itu, keluarga Haris memikirkan segala cara untuk menendang Tama keluar dari keluarga Haris.
Hanya saja Tama bersikap acuh tak acuh. Tidak peduli bagaimana orang lain menghinanya, lelaki itu bersikap seperti biasa saja. Karena itu, dia bisa bertahan di rumah itu dengan status cucu menantu keluarga Haris.
Tindakan dia meminjam uang dengan sang nenek pada malam ini juga karena terpaksa dan lelaki itu sudah tidak memiliki jalan lain selain ini.
Ibu yanti adalah seorang pengurus di panti asuhan Gloria. Perempuan itu yang menampung Tama di saat lelaki itu tidak memiliki rumah untuk pulang. Dia juga yang telah menyelamatkan hidup Tama. Kini ibu Yanti terkena penyakit uremia.
Proses cuci darah dan operasi penggantian ginjal yang baru membutuhkan biaya paling sedikit satu juta. Tama sudah tidak memiliki cara lain lagi. Lelaki itu hanya bisa meminjam uang sebesar itu dari sang nenek.
Tama berpikir hari ini adalah ulang tahun nenek. Dan di saat nenek sedang bergembira merayakan ulang tahunnya, siapa tahu mungkin saja nenek bersedia mengulurkan tangannya dan membantu Tama dengan senang hati.
Tapi siapa sangka, nyonya Haris yang sedang tertawa lebar, sedetik kemudian raut wajahnya menjadi muram. Tatapan matanya menjadi tajam dan bibirnya terkatup rapat.
Lalu sang nenek tiba-tiba melemparkan cangkir teh yang ada di tangannya. Dia yang sudah tersulut emosi berteriak memarahi Tama. “Kurang ajar. Kamu ini datang untuk merayakan ulang tahunku atau untuk pinjam uang sama aku.”
Istri Tama, Alena segera menghampiri neneknya untuk memberi penjelasan pada sang nenek. “Nenek, maaf. Tama tidak mengerti tata krama. Mohon dimaklumi ya, nek.”
Setelah itu, Alena ingin menarik Tama pergi ke tempat yang agak pojok. Tiba-tiba adik sepupu Alena, Vivian Haris yang berdiri tidak terlalu jauh dari mereka tertawa sinis.
Perempuan itu lalu berkata, “Kak Lena, coba deh kakak lihat sendiri. Kak Lena udah nikah dengan lelaki sampah seperti dia ini. Coba liat aja Andre. Aku sama Andre Cuma baru tunangan aja. Masih belum nikah, Lho. Tapi Andre kasih nenek hadiah patung Buddha dari giok Hotan yang terkenal itu. Coba lihat suami kakak. Udah enggak bawa hadiah apapun buat nenek. Masih aja punya muka buat pinjam uang sama nenek.”
“Iya nih, Tama. Kita berdua sama-sama adalah cucu menantu keluarga Haris. Kami ini menantu dari cucu pertama, Lho. Tap kamu gagal menempatkan diri.”
Kali ini yang berbicara adalah seorang lelaki. Lelaki itu tidak lain dan tidak bukan adalah calon suami Vivian Haris, Andre Aresta. Andre sendiri berasal dari keluarga besar dan terpandang di kota itu.
Padahal Andre sebentar lagi akan menikah dengan Vivian. Tetapi dalam benak lelaki itu, dia masih lebih menyukai istri Tama, Alena. Karena bagi dia, kalau dibandingkan penampilan Vivian dan Alena, maka calon istrinya kalah jauh berbeda.
Alena Haris adalah seorang perempuan bak bidadari yang sanga terkenal di kota ini. Dia telah menjadi pujaan hati di setiap lelaki. Beberapa banyak lelaki yang bermimpi bisa mempersunting cucu pertama dari keluarga Haris itu.
Tapi saat Andre harus melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Alena menikah dengan seorang lelaki pengemis tidak berguna, dalam hati Andre merasa sangat geram.
“Dasar sampah. Lebih baik cepat kau enyah dari keluarga kami!”
“Bener banget! Nama baik keluarga Haris tercoreng gara-gara lelaki k*****t tak berguna seperti dia!”
“Kalau aku lihat ya, dia pasti pura-pura meminjam uang saja. Dia pasti sengaja mau menghancurkan kegembiraan nenek yang sedang merayakan ulang tahun!”
Tama mendapati seluruh anggota keluarga Haris satu per satu menghina dan mencaci maki dirinya. Tanpa dia sadari, dia mengepalkan tangannya dengan erat.
Kalau saja bukan karena dia harus mengumpulkan biaya pengobatan untuk orang yang telah menolongnya, sedari awal dia sudah membalikkan badan dan pergi meninggalkan tempat ini.
Tapi Tama teringat dengan nasihat yang ayahnya berikan padanya sejak kecil. Jadi orang jangan lupa membalas budi. Kebaikan yang orang lain berikan, harus dibalas berkali-kali lipat. Karena itu dia berusaha menahan amarah dalam hati. Dia menelan semua penghinaan yang merka berikan padanya.
Lalu dia berkata pada sang nenek, “Nenek, menolong orang lain mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri. Semoga nenek mau bermurah hati dan menolong bu Yanti.”
Tiba-tiba ada seseorang yang berdehem lalu orang itu mulai memaki Tama. “Woi, Kamu! Enggak usah banyak bacot di depan nenek. Kalau kamu berniat tolong orang, ya cari jalan keluarnya sendiri dong. Berani-beraninya kamu minta nenek keluarin uang buat kamu tolongin orang lain. Kamu kira kamu ini siapa, hah?”
Yang berbicara kali ini adalah kakak laki-laki kandung dari Vivian, Arkan Haris. Kakak beradik itu selalu memiliki rasa ketidaksukaan yang sangat besar pada Alena dalam segala aspek. Karena itu mereka suka mengambil kesempatan untuk mengejek Tama.
Ekspresi wajah Alena terlihat sedikit kikuk. “Nenek, dari usia delapan tahun Tama sudah kehilangan papanya. Ibu Yanti yang membesarkan dan merawatnya sejak saat itu. Dia ingin membalas budi juga merupakan salah satu bentuk rasa terima kasihnya pada ibu Yanti. Karena itu, aku mohon nenek bisa bantu Tama,” ujar Alena.
Kening nyonya Haris berkerut sehingga garis-garis keriput di wajahnya terlihat lebih jelas. “Aku bantu dia? Boleh saja. Asalkan kamu sekarang juga cerai dengan dia, Lena. Lalu kamu nikah dengan Antonio,” kata nyonya Haris.
-Bersambung-