“Kalau kamu lakukan sesuai dengan yang nenek minta, sekarang juga aku bisa berikan uang yang dia minta,” lanjut nyonya Haris.
Antonio yang dibicarakan oleh nyonya Haris adalah seorang lelaki yang selama ini sudah mengejar Alena.
Lelaki itu berasal dari keluarga kelas atas. Kekuasaan dan kehebatan keluarganya melampaui apa yang keluarga Haris miliki. Karena itu nyonya Haris selama ini ingin mengikat hubungan dua keluarga dengan menikahkan Alena dengan Antonio.
Tiba-tiba kepala pelayan datang dan berkata dengan suara keras, “Den Antonio memerintahkan orangnya untuk mengantarkan hadiah ulang tahun untuk nyonya. Sepotong batu giok kuno yang diukir dengan gambar Buddha yang bernilai tiga juta,”
Di saat nyonya Haris mendengar apa yang kepala pelayan katakan tadi, dia langsung bergembira. Lalu dengan cepat dia berkata, “Cepat bawakan ke sini. Biarkan aku melihatnya.”
Kepala pelayan segera mengantarkan lempengan giok ke hadapan nyonya Haris. Semua orang yang berada di situ spontan berdecak kagum.
Lempengan giok tersebut berwarna hijau zamrud. Begitu bersih jernih dan bersinar indah dengan sempurna. Tanpa memiliki cacat sedikit pun. Sekali lihat semua orang juga akan tahu kalau lempengan giok tersebut adalah barang kelas atas.
Andre yang menghadiahkan giok Hotan, lelaki tersebut tidak bisa menahan perubahan ekspresi pada wajahnya saat melihat hadiah dari Antonio. Antonio tidak memiliki hubungan apapun dengan keluarga Haris. Tetapi siapa sangka lelaki itu bisa dengan mudahnya merogoh kocek untuk memberikan hadiah pada nyonya Haris.
Nyonya Haris terlihat begitu senang sambil menatapi lempengen giok yang ada di tangannya. Lalu dengan riang dia berkata, “Aduh, nak Antonio ini baik sekali sih. Andaikan saja dia bisa jadi cucu menantuku. Aku akan lebih senang lagi sampai tidak bisa berhenti tersenyum.”
Setelah berkata seperti itu, nyonya Haris terdiam. Lalu dia mendongakkan kepalanya untuk menatap Alena. “Bagaiaman? Apakah kamu mau pertimbangkan syarat yang nenek bilang tadi, Lena? Tanya nyonya Haris pada cucunya itu.
Alena dengan yakin langsung menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju. “Nenek, aku tidak akan cerai sama Tama.” Ujar Alena.
Ekspresi wajah nyonya Haris seketika berubah menjadi sangat tidak enak untuk dilihat. Nenek yang sudah tersulut emosi tesebut langsung berkata, “Dikasih kesempatan bagus malah tidak mau! Kamu malah mati-matian bergantung sama barang tidak berguna ini. Cepat usir sampah ini dari sini. Ini adalah pesta ulang tahunku. Aku tidak mau ada sampah di pestaku!”
Tama merasa sangat kecewa dengan keluarga Haris. Saat ini dia juga tidak punya muka untuk tetap berada di rumah keluarga istrinya ini. Karena itu dia berkata pelan pada istrinya. “Lena, maaf. Aku pergi dulu. Aku mau pergi ke rumah sakit untuk jaga Bu Yanti.”
“Kalau gitu aku ikut kamu pergi ya,” ujar Alena segera.
Saat mendengar hal itu, sang nenek menjadi semakin murka dan berkata, “Kalau sekarang kamu pergi juga, aku tidak akan menganggap kamu sebagai cucuku lagi. Kamu bawa papa dan mamamu juga. Kalian semua pergi bersama barang tak berguna itu dari keluarga ini.”
Alena tercengang. Perempuan itu tidak pernah menyangka kalau neneknya akan mengatakan sesuatu yang kejam seperti itu.
Tama segera berkata pada istrinya, “Kamu tetap di sini aja ya. Enggak usah peduliin aku.”
Setelah berkata seperti itu, lelaki itu langsung membalikkan badannya dan beranjak pergi tanpa menunggu istrinya tersadar.
Lalu Arkan yang sedang berdiri di belakang merka tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
Setelah itu dia berkata, “Aduh, adik iparku yang baik ini. Kamu pergi dengan tangan kosong ya? Jangan-jangan nanti kamu sampai harus meminta-minta di jalan. Kalu gitu, mau ditaruh ke mana lagi muka keluarga kami? Aku masih punya sedikit uang. Aku kasih kamu buat beli sesuatu untuk mengganjal perut aja nih.”
Setelah itu Arkan mengeluarkan sebuah koin dari saku celananya dan melemparkan koin itu ke kaki Tama. Seketika suara tawa memenuhi ruangan memecahkan keheningan.
Tama menggertakkan giginya dengan kuat. Lelaki itu membulatkan tekadnya. Lalu pergi meninggalkan rumah itu tanpa menolehkan kepalanya ke bekang sekali pun.
Lelaki itu bergegas pergi ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, dia segera pergi ke bagian administrasi. Tama ingin memohon pihak rumah sakit agar bisa menunda pembayaran biaya pengobatan bu Yanti selama dua hari.
Tapi saat Tama bertanya pada seorang perawat, tiba-tiba dia diberitahu oleh perawat tersebut. Kalau bu Yanti sudah dibawa ke rumah sakit di kota lain. Bu Yanti nantinya akan dirawat di rumah sakit tersebut.
Betapa terkejutnya Tama saat mendengar hal itu. Lelaki itu segera bertanya pada perawat itu. “Berapa banyak biaya yang aku butuhkan? Aku akan mencari jalan keluar untuk masalah biaya pengobatannya, “ujar Tama.
“Total biayanya adalah tiga juta. Yang sudah dibayarkan hanya satu juta. Sisa dua juta yang belum dibayarkan. Dan dalam waktu satu minggu, sisa pembayarannya sudah harus dilunasi,” jawab perawat tersebut.
“Yang selanjutnya, kalau boleh tau siapa yang bayar ya?” tanya Tama.
“Maaf. Kalau itu saya juga tidak tahu.” Jawab perawat itu sambil menggelengkan kepalanya.
Tama terkejut saat mendengar jawaban perawat itu. Lelaki itu ingin memperjelas masalah ini terlebih dahulu. Saat dia menolehkan kepalanya, ada seorang lelaki yang sedang berdiri di belakangnya.
Lelaki tersebut berusia sekitar lima puluh tahun. Dia mengenakan setelan jas berwarna hitam. Rambutnya yang mulai dipenuhi uban tampak keabu-abuan.
Tatapan Tama bertemu dengan lelaki itu. Tiba-tiba lelaki tersebut membungkukkan badan untuk memberi hormat pada Tama. Lelaki itu juga berkata, “Den, bertahun-tahun sudah kami mencari den. Selama ini den juga sudah menderita.”
Tama mengerutkan keningnya. Aura yang dipancarkan lelaki itu seketika berubah total. Dengan nada yang sangat dingin dia bertanya, “Kamu ini..., Malik?”
Lelaki tersebut agak kaget dan sekaligus merasa sangat gembira. Lalu dia berkata, “Ternyata den Tama masih ingat dengan saya.”
Raut wajah Tama langsung membeku. Lalu terdengar gumaman dari mulut lelaki itu. “Tentu saja aku masih ingat. Saat itu, kalian yang memaksa papa dan mamaku membawa pergi aku dari sana.”
“Kami melarikan diri dari kematian di sepanjang jalan. Dan karena hal itu, kedua orang tuaku mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Aku menjadi seorang yatim piatu. Sekarang, buat apa lagi kalian mencariku?”
Terlihat rasa sakit pada raut wajah lelaki paruh baya bernama Malik itu. “Den, saat papa den Tama meninggal, tuan juga merasa sangat terpukul. Beliau selama ini terus mencari den. Akhirnya sekarang saya menemukan den Tama. Sekarang den Tama ikut saya pulang untuk menemui tuan,” ujar Malik.
“Kamu pergi saja. Seumur hidup aku tidak akan mau bertemu dengan orang itu lagi,” jawab Tama dengan sinis.
“Den Tama, apakah den Tama masih menyalahkan tuan? Tanya Malik.
“Tentu saja,” jawab Tama dengan tegas. Lalu lelaki itu mengucapkan sesuatu sambil memberi penekanan pada setiap katanya. “Aku tidak akan pernah memafkan dia untuk selamanya.”
-Bersambung-