Seruni menatap Indra dengan tatapan tak percaya, sejak kapan Indra berencana menceraikan dirinya.
"Ka..., kamu..., engga salah ngomong kan, Sayang? Kenapa kamu mau cerai dari aku? Aku salah apa sama kamu?" ujar Seruni setengah terisak.
Indra menatapnya dengan pandangan aneh. Seruni melepaskan pelukannya lalu berlari ke pelukan ibunya.
"Mami, Mami tau kenapa Indra mau cerain Aku? Aku ada buat salah apa? Masa masih muda gini, Aku harus jadi janda, Mi?"
Kedua orang tua Seruni, Indra dan Dimas saling berpandangan karena merasa ada yang aneh dengan Seruni. Mereka saling mengirimkan sinyal waspada.
"Seruni, kamu lupa, kalo kamu yang minta perceraian ini, Sayang?" tanya Sukma hati-hati.
"A..., Aku?! Engga mungkin Mami, gimana mungkin aku cerain lelaki sesempurna suamiku!" Seruni beranjak dan mendekati Indra yang terkejut dengan kehadiran Seruni.
"Liat Mi, cowok setampan ini, bodinya oke banget, belum lagi CEO perusahaan ternama. Dimana aku bisa nyari suami dengan spek sesempurna ini!" ujar Seruni sembari menyentuh wajah, dan meraba d**a Indra yang membuat lelaki itu bergidik ngeri.
"Kamu engga kesambet kan, Dek?" timpal Dimas yang ikut bergidik ngeri melihat perilaku adiknya yang tidak biasa itu.
Seruni mencebik dan memelototi Dimas. Ia melingkarkan tangannya pada lengan Indra. Indra berusaha menolak rangkulan wanita itu, tetapi Seruni mencengkeram lengannya dengan kencang.
"AKU ENGGA MAU CERAI! KALO AKU CERAI DARI INDRA, MENDING AKU BUNUH DIRI AJA!" ancam Seruni yang membuat kedua orang tuanya dan Dimas langsung membujuknya dan memberikan sinyal kepada Indra.
"Mana surat cerainya?" tegas Seruni sambil mengulurkan tangannya ke arah Indra. Indra menyerahkan dokumen itu kepada Seruni. Seruni langsung mengoyak kertas itu menjadi beberapa bagian, lalu mengembalikannya ke tangan Indra.
'Ada apa sebenarnya ini? Apalagi yang perempuan ini rencanakan?' batin Indra yang merasa jengah dengan tingkah Seruni.
"Ada apa dengan putri kami ya, Dok? Seruni seperti kehilangan ingatan!" tanya sang ayah saat mereka berempat memutuskan menemui dokter, setelah Seruni kembali beristirahat.
"Sepertinya Ibu Seruni kehilangan ingatan sementara, Pak! Kita akan coba melakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait hal ini, kita akan terus memantau kondisi Ibu Seruni. Untuk saat ini mohon tidak memberikan tekanan mental yang berat kepada Ibu Seruni, agar kondisinya tetap stabil ya, Pak!" jelas sang dokter yang membuat Prima, ayah Seruni mengangguk sambil melihat ke arah sang istri, Dimas dan Indra.
'Hilang ingatan? Apa mungkin? Ini pasti akal-akalan perempuan itu aja!'
Lagi-lagi Indra membatin, karena ia sama sekali tak percaya kalau Seruni sampai kehilangan ingatannya. Ia masih mengingat semua yang sudah terjadi selama dua tahun pernikahan mereka. Bagaimana perlakuan Seruni kepadanya, tatapan jijik yang selalu wanita itu alamatkan kepadanya. Ia tidak akan terperangkap dengan semua rencana yang sudah dipersiapkan wanita itu.
Indra bertekad akan membuktikan bahwa semua hanya akal-akalan dari Seruni saja. Namun, Indra belum bisa menebak apa niat terselubung dari wanita itu. Ia akan segera mencari tahu dan membongkar semua kebohongan Seruni. Ia tidak akan membiarkan Seruni bertingkah semaunya lagi.
***
"Seruni, aku dengar kamu masuk rumah sakit. Maafkan aku, Sayang. Aku dijebak sama perempuan itu! Aku udah usir dia dari apartemen!"
Bisma langsung menjelaskan peristiwa yang terjadi di apartemennya, dua hari yang lalu. Seruni yang melihat kehadiran Bisma terlihat bingung karena Bisma memanggilnya sayang dan seolah ingin memeluk dirinya. Hal itu membuat Seruni menahan tubuh Bisma agar tidak mendekati dirinya.
"Wow..., wow..., santai aja, Bis. Kamu kenapa datang-datang langsung ngomong yang aneh-aneh sih? Aku tau kita punya masa lalu, tapi Kamu kan tau, Aku udah nikah sama Indra. Dan Aku sangat mencintai suamiku. Aku harap Kamu bisa merelakan Aku dan bahagia dengan orang lain!" tegas Seruni.
Matanya mencari-cari dimana gerangan keluarganya berada. Mengapa ia hanya ditinggal sendirian, dan dari mana Bisma mengetahui bahwa ia masuk ke rumah sakit. Ia sudah memutuskan hubungannya dengan lelaki itu, sejak ia bertunangan dengan Indra.
"Seruni, kamu jangan gitu dong, Sayang! Aku salah, Aku minta maaf. Aku mau kita baikan lagi ya, Kamu kan mau cerai sama Indra. Aku janji akan nikahin Kamu dengan segera dan setia sama Kamu, seumur hidup Aku!" bujuk Bisma yang membuat Seruni menatapnya dengan jijik.
'Indra, kamu dimana sih? Kenapa lelaki aneh ini ada di sini? Somebody help me!'
"Kamu ngomong apa sih, Bis? Aku kan udah mutusin hubungan kita sejak Aku tunangan sama Indra. Kamu mau sama cewek mana bukan urusan Aku lagi! Kalo Kamu engga ada urusan lagi, Kamu boleh pergi! Makasih udah nyempatin waktu buat ngejenguk Aku. Tapi ke depan engga perlu lagi, Aku engga pengen Indra salah paham!" tegas Seruni, yang membuat Bisma mencengkeram lengan Seruni dengan kencang.
"Kamu kenapa sih, Sayang? Kamu engga usah pura-pura..., Aku tau Kamu terluka karena Aku!"
Cengkeraman Bisma di lengannya membuat Seruni mengaduh dan memandang Bisma dengan tajam.
"Lepasin! Sakit tau! Kamu udah engga waras ya?! Aku ini udah jadi istri orang, bisa engga Kamu ngikhlasin Aku, please!"
Pada saat bersamaan Seruni mendengar suara keluarganya yang mendekat. Ia langsung berusaha lepas dari cengkeraman Bisma dan berteriak memanggil nama suaminya dengan kencang. Indra dan keluarga Seruni yang mendengar teriakan wanita itu langsung berlari ke arah kamar inap, untuk mengecek kondisi Seruni.
"Sayang, Aku Takut...."
Seruni langsung lari ke pelukan Indra saat Bisma melepaskan cengkeramannya karena terkejut dengan teriakan dari wanita itu. Tubuh Seruni bergetar dalam pelukan Indra, yang membuat Indra bingung sekaligus khawatir.
Dimas tanpa aba-aba, langsung memukul wajah Bisma dan memerintahkan lelaki itu untuk pergi dari tempat itu dengan segera. Bisma menatap Seruni dengan tatapan aneh, yang membuat wanita itu merasa jijik. Ia memilih memalingkan wajah dan bersembunyi dalam pelukan suaminya.
"Kamu engga kenapa-napa kan?" tanya Indra setelah Bisma pergi.
"Aku takut, kalian pergi kemana sih? Kenapa dia tau Aku dirawat di sini?"
Pertanyaan Seruni membuat orang tuanya, Dimas dan Indra kembali terlihat kebingungan.
"Sayang, Kamu engga ingat siapa Bisma?" tanya Sukma.
"Ingatlah, dia mantan Aku kan? Tapi kan Aku udah putus sama dia sejak Aku sama Indra tunangan, Mi!"
Prima memijat kepalanya yang terasa sakit. Ia masih bertanya-tanya apakah mungkin Seruni sedang mengidap penyakit amnesia seperti diagnosa dokter.
Ia mengetahui dengan jelas bagaimana sepak terjang Seruni, setelah menikah dengan Indra. Ia menyelidiki Seruni secara diam-diam melalui orang kepercayaan Dimas. Ia bahkan sudah merelakan bila Indra menggugat cerai putrinya itu. Ia merasa malu kepada Indra dan keluarganya karena perangai putri bungsunya itu.
"Kamu yakin engga punya perasaan apa-apa lagi sama, Bisma?" tanya Dimas dengan nada merendahkan, yang membuat Seruni memicingkan matanya.
"Ya enggalah! Aku udah punya Indra! Persetan dengan Bisma! Kakak kenapa sih kok kayak engga percaya banget sama aku! Aku cintanya sama Indra!"
Seruni kembali memeluk Indra yang berada di sampingnya, yang membuat lelaki itu tak nyaman. Ia ingin mengenyahkan wanita itu dari hadapannya, tetapi ia masih menghormati keluarga Seruni dan mengingat perkataan dokter sebelumnya.
"Ah iya, kapan kita bisa pulang ke rumah, Sayang? Aku udah bosan di rumah sakit mulu!" keluh Seruni.
'Sial!'
****