"Sayang, Kamu masih harus di sini, sampai dokter ngijinin Kamu buat pulang! Sabar ya...," bujuk Sukma yang membuat Seruni menggerutu karena kesal.
Ia menatap wajah tampan Indra yang duduk di sampingnya. Ia seperti menimbang sesuatu, lalu tersenyum penuh arti.
"Oke, Aku mau, asalkan Indra nemanin aku di rumah sakit! Aku takut sendirian di sini, Mi!" keluh Seruni yang membuat Indra mengumpat dalam hati.
'Apalagi mau perempuan ini? Arghhh!'
Indra begitu kesal hingga tanpa sadar ia menggeretakkan giginya. Tanpa sengaja, ia melihat ke arah Sukma yang sedang menatapnya dengan pandangan memohon. Indra menghela nafas pelan, sebelum mengangguk. Sukma menatap Indra dengan Sayang, karena ia mengetahui watak Indra sejak kecil.
Walaupun, ia terkesan dingin tetapi dia adalah anak yang penurut. Ia sangat menghormati kedua orang tuanya, bahkan Sukma dan Prima juga mendapat perlakuan yang sama.
"Iya, besok Aku bakalan temanin Kamu. Tapi hari ini, Aku harus balik dulu ke apartemen ya, soalnya Aku ada online meeting dengan tim vendor yang ada di China, dan ada dokumen yang harus aku ambil. Gapapa kan?" jelas Indra, yang membuat Seruni mendesah keras tetapi pada akhirnya, ia menganggukkan kepalanya dengan pelan selama beberapa kali.
Ia memasang puppy eyes ke arah Indra, yang membuat lelaki itu menatapnya dengan tatapan aneh.
"Janji ya, Sayang! Kamu engga akan boongin Aku kan?"
Indra hanya bisa mengangguk menanggapi tingkah Seruni yang terkesan berlebihan di matanya itu.
'Sabar, Ndra! Tunggu sampai semua bukti kebohongan perempuan ini terkumpul! Setelah itu...,'
Bayangan ia menghancurkan Seruni berlalu lalang di pikirannya, yang membuatnya menyeringai samar.
***
Setelah Indra pamit undur diri, Seruni meminta ibunya mendekat.
"Mi, bisa ceritain tentang Aku dan Indra engga? Kenapa beberapa hari ini, dia dingin banget sama Aku ya? Trus kenapa Aku engga bisa ingat, kalo kami ada masalah sebelumnya. Yang paling ngebingungin kenapa Aku minta cerai? Aku udah berusaha ingat, Mi, tapi sejauh ingatan Aku, rumah tangga kami baik-baik aja!"
Seruni mencurahkan tentang apa yang menjadi beban pikirannya sejak kemarin. Ia merasa ada yang salah dengan sikap Indra, bahkan pembicaraan perceraian yang muncul hari ini membuatnya terkejut.
"Sayang, menurut diagnosa dokter kemungkinan Kamu mengidap amnesia ringan, Karen benturan di kepala kamu, waktu Kamu jatuh di kamar. Besok akan ada pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kondisi Kamu. Jadi Kamu bersabar dulu ya, engga usah banyak pikiran. Semua baik-baik saja, Sayang!"
Sukma berusaha menyemangati Seruni dan membawa tubuh sang putri ke pelukannya. Ia bisa melihat Seruni mengalami kebingungan, seperti halnya juga mereka.
"Ehm, untuk hubungan Kamu sama Indra...."
Sukma menarik nafas panjang sebelum menyelesaikan penjelasannya. Ia mencoba mencari kata-kata yang nyaman untuk didengar Seruni.
"Ehm, sebenarnya memang Kamu yang menggugat cerai Indra. Kamu tidak pernah mencintai Indra, Sayang! Kamu masih mencintai Bisma, dan masih berhubungan dengan cowok itu!"
Penjelasan Sukma, seperti petir yang menyambar kesadaran Seruni. Tiba-tiba kepalanya terasa sakit, hingga ia mengerang yang membuat Sukma dan Prima terkejut. Mereka segera memanggil tim medis untuk memeriksa kondisi putri mereka.
Seruni baru terbangun dari tidurnya beberapa jam setelah perawat menyuntikkan obat penenang. Ia memegang kepalanya yang masih terasa berat. Ia melihat keberadaan Indra yang duduk di sofa, hal itu menimbulkan senyum di wajahnya. Namun, senyum itu seketika memudara saat ia mengingat percakapannya dengan sang ibu.
Rasa bersalah memenuhi relungnya, walau ia masih tidak bisa mengingat semua kejadian yang sebenarnya terjadi sebelum ia masuk rumah sakit.
"Ehm, Sayang..., Kamu udah lama sampai?" tanya Seruni dengan nada sungkan yang membuat Indra mengalihkan perhatiannya yang dari tadi tertuju pada laptop yang ada di atas meja.
"Kamu udah bangun?" ujar Indra datar, yang membuat Seruni merasakan sedikit nyeri di dadanya karena sikap dingin lelaki itu.
Dalam ingatan Seruni, kehidupan pernikahan mereka begitu bahagia hingga ia tak akan mau menggantikan kehidupan pernikahannya itu dengan orang lain. Namun, yang membingungkannya adalah penjelasan dari orang terdekatnya bertolak belakang dengan ingatannya.
Indra sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya. Hal itu membuat Seruni kesal, ia memutar otak untuk memastikan Indra akan memperhatikan dirinya sepenuhnya.
"Sayanggg, bisa ambilkan aku air putih..., aku haus!" pinta Seruni dengan manja yang membuat Indra menggeretakkan giginya tetapi tetap memenuhi permintaan dari istrinya itu.
"Makasih, Sayangku. Ehm, kok Kamu dingin banget sih sama Aku, Aku ada salah ya sama Kamu?" tanya Seruni yang membuat Indra mendengus kasar.
Di satu sisi ia lelah dengan sikap Seruni yang sepertinya sedang merencanakan jebakan untuk dirinya, tetapi di sisi lain dia juga memikirkan perkataan sang dokter. Hal itu membuat dirinya mengalami dilema.
"Seruni, jika kamu masih berpura-pura, sudahlah lepaskan semua topeng kamu sekarang! Hanya tinggal kita berdua di sini! Kamu bisa jujur tentang apa mau Kamu! Kamu mau main playing victim, aku ladeni! Aku yang gugat cerai! Kamu puas sekarang!"
Ucapan dingin Indra membuat Seruni terdiam. Ia menatap wajah sang suami dengan lekat. Ia terus memikirkan perkataan sang ibu. Ia berusaha keras mengingat semuanya, tetapi dalam ingatannya tak ada masa kelam yang terjadi dalam pernikahannya.
"Sayang, Aku sama sekali engga pengen playing victim. Aku sama sekali engga ingat semua yang Kamu tuduhkan ke Aku! Apa mungkin Aku yang hidup dalam pernikahan bahagia, bisa ngajuin cerai ke lelaki yang Aku cintai? Kamu pikir Aku gila!" tegas Seruni yang membuat Indra menggusar rambutnya dengan kasar.
"Ah, baiklah Kamu boleh aja bilang Kamu engga ingat apa-apa, tapi Aku.. AKU MASIH INGAT SEMUANYA! SEMUA PERBUATAN KAMU YANG MENJIJIKKAN ITU!"
Indra mulai kehilangan kesabarannya. Ia sebenarnya tak tahan harus berada dalam satu ruangan dengan perempuan yang ia benci itu. Seruni terkejut dengan intonasi suara Indra yang meninggi. Dadanya terasa sakit, ia meremas selimut yang menutupi tubuhnya dengan kencang. Ia berusaha untuk mengendalikan emosi dan air matanya yang mulai membuat pandangannya mengabur. Ia menunduk dalam diam.
Indra menatap ke arah Seruni. Selama dua tahun pernikahan mereka, Indra mengenal temperamen Seruni yang meledak-ledak, tetapi saat ini yang ia lihat adalah Seruni yang terlihat tenang dan malah terkesan manja.
Seruni mengangkat wajahnya dan lihat ke arah suami dengan pipi yang sudah oleh air mata. Hal itu membuat Indra terkejut, ia tidak pernah melihat Seruni menangis selain saat pesta pernikahan mereka, dimana Indra mengetahui air tangisannya itu.
Namun, kali ini ia merasa tak mengenal Seruni sama sekali. Tingkahnya bertolak belakang dengan Seruni yang ia kenal sebagai istrinya.
"Sayang..., ntah mungkin Aku memang melakukan kesalahan seperti yang kalian ceritakan, Aku minta maaf. Aku sama sekali engga ingat!"
Tangis Seruni pecah yang membuat Indra menghela nafas kasar. Ia tidak siap dengan perubahan sikap Seruni yang seperti langit dan bumi. Indra hanya bisa diam dan memandangi Seruni dengan tatapan aneh.
"Kamu kok engga meluk Aku, sih! Aku kan lagi sedih, Yang!"
Perkataan Seruni selanjutnya, membuat Indra menepuk dahinya dan memandang Seruni dengan tatapan tak percaya.
"Ntah Kamu amnesia atau engga, Kamu memang perempuan yang merepotkan!" ujar Indra sembari menarik Seruni ke dalam pelukannya.
'Kamu milik Aku!'
****