Seruni tertidur sambil memegangi tangan Indra, yang membuat lelaki itu merasakan kebas di sekujur lengannya. Ia melepaskan tangan Seruni dengan perlahan, agar tidak membangunkan wanita itu. Ia memandangi wajah Seruni yang terlihat damai saat ia tertidur.
Ia memijat kepalanya yang terasa pusing karena tingkah sang istri. Selama ini Seruni tak pernah menunjukkan sisi lemah dan manjanya kepada Indra.
Setiap kali mereka bertemu di rumah, hanya sikap dinginlah yang dihadiahkan Seruni kepadanya. Jika tidak hari mereka akan dipenuhi dengan adu argumen yang tak ada habisnya, karena Seruni terus membuat ulah agar Indra mengetahui bahwa ia tidak mencintai lelaki itu.
'Apa mungkin dia memang ngalamin amnesia sesuai diagnosa dokter? Kalo iya, Aku harus bersikap gimana, Tuhan? Gimana kalo ingatannya kembali?'
Indra terus bergumul dalam hatinya. Ia tidak ingin saat Seruni mengingat semuanya kembali, ia akan kembali menjadi Seruni yang ia benci. Seruni yang tak akan pernah memiliki tempat di hatinya.
"Tolong Kamu selidiki, kejadian sebelum Ibu masuk rumah sakit? Saya mau informasinya secara detail! Kemana aja dan siapa aja yang Ibu jumpai hari itu!"
Indra menghubungi asisten pribadinya, yang selama ini ia tugaskan untuk mengawasi gerak-gerik Seruni di dalam maupun di luar kediaman mereka.
"Baik, Pak. Akan segera Saya infokan setelah semua datanya terkumpul!" jawab Reno, sang asisten.
Indra tidak bisa fokus dengan pekerjaannya sepanjang hari itu, karena tingkah Seruni.
Setelah bangun, Seruni duduk di samping Indra sembari menyandarkan kepalanya di bahu Indra. Ia memeluk lengan Indra yang membuat lelaki itu risih. Sepanjang dua tahun pernikahan mereka baru kali ini mereka melakukan sentuhan fisik layaknya suami istri.
Sentuhan fisik mereka yang Indra ingat hanyalah ciuman di kening saat upacara pernikahan dan tangan Seruni yang melingkar di lengan selama menyapa tamu di pesta resepsi pernikahan mereka.
"Kamu ngapain sih nempel terus, aku risih!" ujar Indra jujur, tetapi tidak mendapat tanggapan serius dari Seruni.
Ia tetap menempel layaknya lem di sisi Indra.
"Suamiku, Kamu mungkin engga tau dalam ingatanku, Kita sering ngelakuin skinship kayak gini! Aku rasa wajar, Kita kan suami istri!" jelas Seruni.
"Dalam ingatan Kamu, mungkin iya! Tapi dalam ingatanku, engga akan pernah ada hubungan kayak gini di antara Kita!" tegas Indra sembari menggeser kepala Seruni agar menjauh darinya.
Namun, Seruni sepertinya tidak menerima penolakan itu. Ia mengulang hal yang sama, sampai Indra menyerah dan membiarkan Seruni melakukan hal yang ingin ia lakukan. Seruni tersenyum samar sambil memeluk lengan Indra lebih erat yang membuat Indra mengumpat dalam hati.
***
Keesokan harinya, sesuai dengan arahan dari dokter, Seruni melakukan pemeriksaan lanjutan. Hasil pemeriksaan itu memang membuktikan bahwa Seruni mengalami amnesia ringan. Hal itu membuat keluarganya dan Indra menghela nafas panjang.
"Saya harap keluarga dan suami Ibu Seruni bisa menjaga pasien dengan baik. Cara membantu ingatannya Bu Seruni kembali, bisa dengan pergi ke tempat-tempat yang dulu biasa Bu Seruni dan suami kunjungi, atau kebiasaan manis yang sering kalian lakukan dulu. Tapi jangan terlalu memaksa Bu Seruni mengingat hal yang ia lupakan, akan ada waktunya ingatannya kembali, yang penting teratur memberikan Ibu Seruni obat dan vitamin. Dan jangan melewatkan jadwal konsultasi ke dokter ya, Bapak, Ibu!" jelas sang dokter setelah hasil pemeriksaan Seruni keluar.
Setelah berkonsultasi dengan dokter, mereka kembali ke ruangan di mana Seruni berada.
"Indra Sayang, Mama mohon tolong bantu Kami, untuk terakhir kali ya. Mama mohon Kamu dan Seruni mau pindah ke rumah kita, untuk sementara waktu sampai ingatan Seruni kembali. Kalo memang setelahnya Kamu tetap mau pisah dengan Seruni, Kami engga akan melarang!" bujuk Sukma dengan tatapan memohon yang membuat Indra merasa tak nyaman.
"Iya, Ndra, Kami mohon sekali ini aja, tolong bantu Kami!" timpal Prima yang membuat Indra semakin tercekat. Ia tak tega menolak permintaan sahabat dari orang tuanya itu.
"Baiklah Pa, Ma. Saya akan bantu, tetapi jika ingatan Seruni kembali dan memang masih belum ada cinta di antara kami, Saya mohon ijin untuk melepaskan Seruni!" tegas Indra yang membuat kedua orang tua itu menghela nafas lega. Dimas menepuk bahu Indra sebagai tanda terima kasih untuk pengertian dan kerja sama dari adik ipar sekaligus sahabatnya itu.
'Entah apa yang terjadi ke depan, tapi semoga Seruni memang benar-benar kehilangan ingatan..., kalo engga entah apa yang bakalan aku lakuin ke perempuan itu!'
Indra juga menghubungi orang tuanya yang berada di luar negeri tentang kejadian yang menimpa Seruni, dan keputusan yang ia ambil bersama keluarga Seruni. Penjelasan Indra membuat kedua orang tuanya yang sempat khawatir dengan keadaan Seruni dan situasi yang dihadapi oleh putranya, akhirnya bisa bernafas lega. Mereka juga berjanji akan kembali ke Indonesia setelah urusan mereka selesai.
***
Dua hari kemudian, Seruni sudah diperbolehkan pulang. Ia hanya perlu menjalani rawat jalan selama dua minggu sekali, untuk memantau kondisi kesehatan Seruni. Seruni terlihat bersemangat setelah mengetahui ia akan kembali ke kediaman orang tuanya. Ia memang sudah merindukan suasana rumah.
"Wah, Aku senang banget, Sayang..., akhirnya kita bisa pulang juga hari ini! Aku udah kangen rumah, kangen kamar kita, tempat tidur kita, kangen masakan Mbo Imah sama teh buatan si bawel Lastri!" ujar Seruni dengan nada riang.
Indra hanya mengangguk menanggapi perkataan dari Seruni. Tiba-tiba Seruni terdiam seolah ada yang sedang ia pikirkan.
"Kamu kenapa?" tanya Indra karena melihat gelagat dari Seruni yang berbeda.
"Kenapa kita pulang ke rumah Papi? Bukannya kita punya apartemen sendiri! Trus Risma mana? Bukannya selama ini Risma yang jadi asisten aku?"
Perkataan Seruni membuat Indra terkejut. Ia merasa Seruni mulai mengingat sesuatu yang membuat lelaki itu memegang lengan sang istri dengan erat.
"Kamu udah ingat semuanya?" tanya Indra yang membuat Seruni menatap Indra dengan bingung.
"Emang kapan aku bilang, aku lupa tentang apartemen kita dan Risma? Aku baru kepikiran aja, soalnya kemarin-kemarin aku sibuk mikirin tentang kita!"
Indra menatap sang istri dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia terus menimbang sejauh mana Seruni mengingat kisah masa lalunya, siapa saja yang ia ingat dan ia lupakan. Apakah yang hilang dari ingatan Seruni hanya yang berhubungan dengan pernikahan mereka atau ada yang lain? Indra merasa teka-teki mengenai ingatan wanita itu sungguh rumit.
"Sayang, kok jadi bengong? Kamu kenapa?" tanya Seruni sembari menarik kemeja yang dikenakan oleh sang suami.
Indra hanya menggeleng pelan dan kembali fokus membantu Seruni untuk membereskan barang-barang miliknya.
"Mama sama Papa yang minta kita balik ke rumah Papa dulu, sampai kesehatan kamu membaik!" ucap Indra secara tiba-tiba yang membuat Seruni mengangguk sambil tersenyum walau sang suami sama sekali tidak menoleh ke arahnya.
***
"Welcome home, Sayang! Kamar Kamu dan Indra sudah dibereskan sama Lastri. Kamu sama Indra akan tinggal di kamar yang dekat dengan kamar Dimas, karena kamar Kamu yang lama udah terlalu kecil untuk kalian berdua!" jelas Sukma yang sempat membuat Seruni terdiam.
"Oke Mi! Aku nurut aja!"
Balasan dari Seruni membuat semua orang yang berada di situ terkejut. Mereka yang selama ini mengenal watak keras Seruni, merasa tidak percaya bahwa Seruni akan dengan mudahnya menuruti Sukma. Biasanya, ia tidak akan mau bila dipindahkan ke kamar lain. Bahkan, bila ia dan Indra berkunjung ke kediaman orang tuanya, ia tanpa segan meminta kamar yang terpisah dari suaminya.
Sukma tidak bisa menutupi rasa haru dan bahagianya yang membuat Seruni kebingungan.
"Mami kenapa? Apa ada kata-kata Aku yang salah?"
Sukma menggelengkan kepalanya dan langsung menggandeng tangan Seruni dan Indra untuk mengikuti dirinya. Ia menatap Indra dan Seruni dengan sayang. Ia selalu berdoa agar putri dan menantunya itu bisa hidup berdampingan dengan rukun dan bahagia.
"SERUNI!"
****