"Seruni, maafin Aku, Sayang! Aku tau Kamu lagi ngehukum Aku kan? Kamu itu cintanya sama Aku, bukan sama dia!" seru Bisma yang tiba-tiba saja muncul di kediaman keluarga besar Seruni.
"Bis, Kamu itu kenapa sih? Kenapa belum kapok juga udah dihajar sama Kak Dimas kemaren? Udah dong, Aku masih menghargai hubungan kita di masa lalu, makanya Aku masih ngomong gini sama Kamu! Tapi ini terakhir kalinya, ke depan Aku berharap Kamu engga akan muncul lagi di hadapan Aku dan keluarga besar kami!" balas Seruni dengan tegas sambil melingkarkan tangannya ke lengan Indra, yang membuat lelaki itu sedikit terkejut.
Bisma yang melihat kejadian itu dan mendengarkan perkataan Seruni merasa sangat tersinggung hingga ia mengepalkan tangannya dengan keras. Ia sebenarnya merasa ada keanehan pada sikap Seruni, karena Seruni yang ia tahu adalah seorang yang pendendam dan impulsif.
Kejadian saat di apartemennya, seharusnya akan membuat Seruni melampiaskan amarahnya dengan membabi buta dan tidak akan melepaskan musuhnya dengan begitu murah hati. Namun, anehnya sejak ia pergi dari apartemen Bisma hingga saat mereka bertemu hari ini, tidak ada kilatan amarah atau ledakan emosi yang berasal dari Seruni.
Seruni seolah menjadi seseorang yang berbeda sejak pertemuan mereka di rumah sakit. Bisma menjadi curiga akan sesuatu, ia berusaha untuk mengingat kembali percakapan mereka kala itu.
'Apa Seruni menderita amnesia? Apa ada sesuatu yang terjadi, yang engga aku ketahui? Aku harus mencari tahu!'
Bisma kemudian menatap Seruni dengan pandangan memelas setelah ia merenung selama beberapa saat.
"Seruni sayang, Aku engga tau Kamu kenapa..., tapi Aku bisa ngebuktiin kalo Kita memang masih berhubungan setelah Kamu meni...."
Perkataan Bisma terputus karena seketika ia terhuyung akibat pukulan yang dilayangkan Dimas. Pukulan Dimas mengenai rahang Bisma yang membuat lelaki itu seketika terhuyung, lalu jatuh.
"B*JINGANN! AKU UDAH PERINGATKAN KAMU UNTUK ENGGA LAGI MENGGANGGU SERUNI! CARI MATI KAMU?!" teriak Dimas sambil mencengkeram kerah baju Bisma dan bersiap untuk melayangkan pukulan yang selanjutnya, tetapi Indra menahan lengan Dimas.
"Cukup! Udah lepasin dia! Kalo sekali lagi dia masih berani macam-macam, Kamu engga perlu turun tangan, Kakak Ipar! Aku yang akan ngabisin b*jingan ini!" ujar Indra dengan tenang yang membuat Dimas mengurungkan niatnya.
Bisma mengusap rahangnya yang terasa berdenyut akibat pukulan keras yang dilayangkan oleh Dimas.
"Bis, Aku harap Kamu bisa memahami perkataan Aku tadi. Aku sayang sama rumah tanggaku, Bis! Dan kalo Kamu pikir Kamu bisa misahin Aku sama Indra, Kamu salah besar! Sampai kapan pun, cintaku cuma buat suamiku!" Seruni mendekati ketiga lelaki itu, sembari menatap tajam ke arah Bisma.
Ia menarik lengan Indra dan Dimas, agar menjauh dari Bisma. Sekali lagi ia menatap mantan kekasihnya itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Kemudian, ia meminta Gusti salah satu pekerja yang ada di kediaman itu untuk mengantarkan Bisma ke mobilnya.
"Kak Dim, bisa engga sih, engga usah dikit-dikit main pukul! Kakak mau masuk penjara kalo dia kenapa-napa?!" gerutu Seruni setelah mereka tiba di ruang keluarga.
"Orang kayak dia itu perlu dikasih pelajaran tau engga! Selama ini Kakak diam, karena Kamu tau engga!"
Sukma langsung menyikut lengan Dimas agar ia tidak melanjutkan penjelasannya, yang membuat Dimas menghela nafas panjang, sedangkan Seruni terlihat kebingungan.
"Sayang, Kamu kan baru keluar dari rumah sakit..., Kamu harus banyak istirahat. Ndra, tolong temanin Seruni istirahat di kamar ya...," pinta Sukma yang membuat Indra langsung mengangguk.
Ia memahami kode yang diberikan oleh ibu mertuanya itu dengan baik. Ia juga memang ingin meninggalkan ruang tamu lebih cepat karena masih banyak pekerjaan yang menunggu dirinya.
"Ayo!" ajak Indra yang membuat Seruni tersenyum dan mengangguk dengan cepat.
***
"Ehm, kamu tidur kasur, aku tidur di sofa aja!" tegas Indra yang membuat Seruni mengernyitkan dahinya.
Ia merasa tidak terima dengan perkataan Indra. Sejak kapan dua orang yang sudah menikah dengan cinta, harus tidur pisah ranjang. Ia memanyunkan bibirnya karena kesal.
"Sayanggg, kenapa kita harus tidur terpisah? Aku engga keberatan kok tidur seranjang sama kamu!" tegas Seruni sembari mendekati Indra yang sejak tadi menyibukkan diri dengan ponselnya di sofa.
"Seruni, dari awal menikah kita udah pisah ranjang, bahkan pisah kamar kalo kamu perlu tau. Jadi akan aneh rasanya kalo kita harus berpura-pura hidup seperti layaknya pasangan normal!"
Balasan dari Indra tak pelak membuat Seruni terhenyuk. Ia lagi-lagi kebingungan akan semua kenyataan yang seolah terus menampar dirinya tanpa henti. Mengapa semua hal yang ia ketahui berbeda dengan realita yang terjadi. Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang sulit ia pahami.
"Sayang, bolehkah kamu sedikit melunak untukku? Anggaplah aku sedang kehilangan ingatan tentang kita, dan aku butuh kamu untuk memulihkan ingatanku. Seandainya ingatan aku tak kembali, apa kita engga bisa hidup dengan pernikahan yang kita bangun dari hari ini.... Apa kamu engga mau ngasih aku kesempatan kedua?" tanya Seruni dengan nada sedih yang tak bisa ia tahan.
Indra melihat ke arah Seruni dengan tatapan lekat yang membuat Seruni sedikit tidak nyaman karena itu bukan tatapan penuh cinta yang selalu Indra berikan kepada dirinya.
"Aku engga janji apakah aku bisa..., tapi akan aku coba! Aku akan bantu kamu ngembaliin ingatan kamu! Tapi engga bisa selamanya! Bagiku, enam bulan adalah waktu yang cukup untuk mengembalikan ingatanmu atau memastikan perasaan kita satu sama lain!"
Perkataan Indra memberi secercah harapan untuk Seruni yang membuat ia bertepuk tangan dan tertawa bahagia.
"Oke sayangku, enam bulan! Itu cukup! Makasih ya!"
Sebuah kecupan kecil mendarat di pipi Indra, yang lelaki itu terkejut dan langsung menjauhkan dirinya dari Seruni.
"Aku engga bilang kita harus ngelakuin skinship seperti pasangan normal..., Aku masih ingat semua perbuatan Kamu dan bagi Aku itu semua menjijikkan Seruni!" ujar Indra yang membuat Seruni tersentak.
Wajahnya memucat, ia tak menyangka Indra akan mengeluarkan perbendaharaan kata yang membuat ia sangat terhina.
"Menjijikkan? Jelaskan sama aku perbuatan aku yang paling menjijikkan di mata kamu! Apa aku serendah itu? Se..., selama ini Kita selalu mesra, dan Kamu engga pernah bicara kejam sama Aku! Kenapa kamu berubah, Yang?"
Seruni terisak yang membuat Indra menggusar rambutnya dengan kasar. Ia ingin mengutarakan semua perbuatan buruk Seruni selama pernikahan mereka dan bagaimana wanita itu sudah merendahkan nilai sebuah pernikahan yang seharusnya begitu bermakna. Namun, air mata Seruni membuat Indra mengurungkan niatnya.
"Maafkan aku! Aku engga bisa ngejelasin sama Kamu, untuk saat ini! Yang mau aku tegasin, tolong jangan berekspektasi lebih..., dan jangan mengharapkan kemesraan yang berasal dari Aku! Untuk saat ini Kita fokus untuk pemulihan ingatan Kamu aja! No unnecessary skinship for now, please!"
'Kita liat aja nanti, sayangku'
****