Setelah malam yang tidak menyenangkan yang harus Seruni rasakan karena perkataan sang suami, pagi ini perasaan wanita itu menjadi lebih baik. Ia memilih untuk memfokuskan dirinya, bagaimana caranya untuk menarik perhatian Indra.
"Pagi Mbok Imah, pagi ini biar Aku yang masak sarapan ya!" ujar Seruni yang membuat baik Mbok Imah maupun Mbo Siti yang biasa menyiapkan makanan untuk keluarga Abigael, menjadi terkejut.
"Non, sejak kapan Non Seruni masuk dapur? Apa sejak menikah dengan Den Indra, Non Seruni belajar masak ya?" tanya Mbok Imah, hati-hati.
"Di rumah Aku emang biasa masak buat Indra kok!" balas Seruni, ringan.
Hal itu membuat Mbok Siti dan Mbok Imah saling berpandangan karena sejauh mereka tahu, Seruni sama sekali tidak pernah menyentuh yang namanya peralatan dapur karena wanita itu memang benci memasak.
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan Lastri dari Risma, asisten pribadi Seruni yang baru, sejak menikah dengan Indra, nona muda mereka sama sekali tidak pernah ke dapur untuk menyiapkan makanan buat sang suami.
"Non, Non Seruni bersantai aja, biar kami yang nyiapin sarapannya. Non Seruni kan baru pulih!" bujuk Mbok Imah yang langsung ditolak oleh Seruni.
"Aku udah gapapa kok, Mbo. Aku pengen buat sarapan buat Indra, sama Papi, Mami, Kak Dimas juga!" rengek Seruni yang membuat kedua asisten rumah tangga itu kebingungan dan akhirnya memilih menuruti kemauan sang nona.
Seruni menyibukkan diri di dapur, dibantu oleh Mbok Imah dan Mbok Siti. Mereka takjub dengan kemampuan Seruni yang terlihat begitu ahli dalam meramu berbagai jenis bahan makanan menjadi sajian yang menggugah selera.
"Gimana Mbok, rasanya?" tanya Seruni sambil memperhatikan dengan saksama raut wajah kedua asisten rumah tangga itu.
"Enak, Non..., ini mah rasanya udah kayak makan di restoran bintang lima!" ujar Mbok Siti dengan mata berbinar yang membuat Seruni tersenyum bahagia.
Tak lama, keempat anggota keluarga Seruni sudah berkumpul di ruang makan. Mereka saling melepaskan pandangan saat melihat Seruni sudah duduk manis di ruang makan. Biasanya Seruni lebih sering menyantap makanan di butik miliknya daripada berkumpul dengan keluarganya seperti ini, karena jarak butik Seruni cukup jauh dari kediaman keluarganya.
"Silakan duduk, hari ini aku masak spesial buat keluarga aku tercinta!" ujar Seruni dengan riang yang membuat keempat orang lain yang berada di ruang makan itu, menatap Seruni dengan pandangan tak percaya.
"Beneran Kamu yang masak, Sayang? Apa Kamu udah belajar masak waktu di apartemen kalian?" tanya Sukma yang membuat Seruni terlihat sedikit kesal.
"Kenapa pertanyaan Mami sama dengan pertanyaan Mbok Imah sih? Aku udah sering masak buat Indra waktu Kami di apartemen!" tegas Seruni yang membuat kedua orang tua Seruni dan Dimas memandang ke arah Indra dengan pandangan bertanya.
Indra hanya bisa terdiam sembari menatap ketiganya dengan tatapan penuh arti. Seruni melihat Indra seolah ia ingin suaminya itu membenarkan perkataannya, tetapi saat melihat tatapan Indra kepada keluarganya, ia memahami bahwa apa yang ia katakan tak sesuai dengan kenyataan.
Seruni berdeham untuk menetralisir perasaannya yang terlanjur sedih dan kecewa. Ia berusaha memaksakan senyum dan bersikap ceria.
"Anyway..., cobain masakan Aku dong! Kok pada diem sih?" ujar Seruni sembari menyendokkan sesendok nasi goreng ke piring Indra yang berada tepat di sebelahnya.
Orang tua Seruni dan Dimas langsung mengikuti gerakan Seruni. Saat menyicip masakan Seruni pertama kali, Sukma menatap sang putri dengan haru. Ia tidak menyangka putri tercintanya itu bisa memasak dan rasa masakannya pun memuaskan.
"Ehm, Kamu itu ketiban apa sih, Dek, waktu pingsan kemarin? Ini enak banget tau engga! Perasaan dari orok Kamu engga pernah hobi mas...."
Perkataan Dimas terputus karena Sukma langsung menyenggol lengan sang putra. Dimas hanya bisa menghela nafas panjang, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Seruni yang melihat hal itu kembali menjadi sedih, karena ia mengetahui bahwa keluarganya sama sekali tidak ingin membebani pikirannya.
"Ehm, apa dulu Aku emang engga bisa masak ya, Mi?" tanya Seruni dengan nada sedih yang membuat sang ibu merasa bersalah.
Sukma terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan putri kesayangannya itu.
"Selama Kamu di rumah ini, Kamu memang sama sekali engga pernah masak, Sayang.... Tapi Kami bisa memahami hal itu, karena Kamu sudah sibuk di butik. Lagian udah ada Mbok Imah dan Mbok Siti di sini."
Penjelasan dari Sukma hanya dijawab oleh Seruni dengan anggukan. Ia berusaha menatap sang ibu dan memberikan senyuman. Hal itu membuat Sukma merasa sedih. Namun, di satu sisi Sukma tidak bisa menutupi rasa syukurnya karena kejadian yang menimpa putrinya, justru mengubah Seruni menjadi lebih baik.
Seluruh keluarga besarnya memuji masakan Seruni yang membuat rasa sedih wanita itu menjadi sedikit terobati. Sedangkan, Indra memilih tetap diam, walaupun dalam hati ia mengakui rasa masakan sang istri sangat enak.
***
"Uni sayangggg!" seru seseorang yang membuat kelima orang yang ada di ruang makan menoleh ke sumber suara.
"Raraaaa!" balas Seruni sembari bangkit dari tempat duduknya.
Seruni langsung memeluk seorang wanita muda yang bernama Amara itu. Mereka saling berpelukan dan berseru senang.
"Sayangku, maaf aku baru datang sekarang! Ka..., kamu gapapa kan?"
Amara memeriksa setiap inci tubuh Seruni dengan saksama yang membuat Seruni tertawa.
"Aku baik cintakuu! Kamu kenapa sih baru pulang sekarang? Aku kangen tau engga!" keluh Seruni kepada sahabat masa kecilnya itu.
"Kamu kan tau proyek di Bali kemarin belum bisa aku tinggalkan.... Aku udah minta berkali-kali kan, Uni. O iya, Tadaaaa, ini leoh-leoh buat kesayangan akuhhh!"
Amara langsung menarik tangan Seruni untuk duduk dan meletakkan beberapa paper bag di meja makan.
"Ekhemmm, Mara sayanggg, dua serasa milik berdua ya?!" sindir Sukma sambil tertawa geli melihat tingkah laku putrinya dan Amara.
Sukma sudah mengetahui kebiasaan kedua wanita muda yang sangat ia sayangi itu. Amara merupakan putri dari almarhum sahabat Prima, sekaligus sahabatnya. Orang tua Amara merupakan sahabat Prima dan Sukma sejak zaman sekolah. Hal itu membuat Seruni dan Sukma yang lahir di tahun yang sama juga menjadi sahabat karib.
"Mama Sukma..., maaf Ma, Aku kangen banget sama Uni. Sama Papa Prima dan Mama Uni juga deng!"
Amara langsung berjalan, memeluk dan mencium pipi Prima dan Sukma yang membuat kedua orang tua itu merasa bahagia. Amara sudah seperti putri mereka, dan sejak kematian Ayah Amara, Prima sudah menjadi ayah angkat bagi wanita muda itu.
"Ha..., Hai Kak Dimas...," sapa Amara ragu, yang hanya dibalas dengan anggukan dan senyum oleh lelaki itu.
"Ehmmm, Halo Kak Indra!" lanjut Amara yang dibalas Indra dengan cara yang sama seperti Dimas sebelumnya.
"Rara sayang, kenapa Kamu bawain Aku barang-barang kayak gini?"
Eh!
****