"Loh, bukannya itu semua kesukaan Kamu, Cintaku?!" ujar Amara kebingungan.
Amara memang belum mengetahui tentang amnesia yang diderita oleh Seruni. Ia menatap Sukma dengan bingung yang membuat, ibu dari Seruni itu, menghela nafas panjang.
"Sayang, Seruni ngalamin amnesia, jadi ada banyak hal yang tak lagi diingat oleh Seruni."
Penjelasan Sukma lantas membuat Amara memeluk Seruni dan menangis karena hal yang dialami oleh sahabatnya itu.
"Sayangku, maaf Aku engga tau kalo Kamu ngalamin amnesia..., ta..., tapi tenang aja, Aku kenal banget tentang Kamu. Kamu boleh tanya apa aja ke Aku!" ujar Amara sembari menepuk dadanya dengan bangga, yang membuat Seruni tertawa geli.
Saat mengatakan hal itu, tanpa sengajanya tatapannya dan Dimas bertemu yang membuat Amara langsung mengalihkan perhatiannya.
'Dia masih seperti yang dulu!'
Seruni yang tanpa sengaja melihat interaksi senyap yang dilakukan oleh Amara dan sang kakak, tak pelak menimbulkan senyum tertahan yang membuat lesung pipinya terlihat.
"Sayang, udah puas ngeliatinnya?" bisik Seruni secara tiba-tiba yang membuat Indra berdeham, karena Indra tertangkap mata oleh Seruni sedang memperhatikan dirinya.
Indra tak mengatakan apapun, ia hanya memalingkan wajahnya dan fokus pada makanan yang ada di hadapannya. Seruni menyunggingkan senyum geli karena melihat sikap malu sang suami.
***
Seruni kembali ke kamarnya bersama dengan Amara karena Indra dan Dimas langsung berangkat ke kantor setelah sarapan.
"Neng, Kamu bilang Kamu mau Ngajukan cerai sama Indra, tapi kok Aku liat kalian kelihatan adem ayem?" tanya Amara yang membuat mendung kembali terlihat di wajah Seruni.
"Apa memang Aku pernah ngajuin cerai ke Indra ya, Say? Jujur Aku lupa, tapi dalam ingatan Aku, Aku cinta banget sama Indra karena dia merhatiin dan sayang banget ke Aku! Apa ada yang Aku lewatkan ya?" tanya Seruni dengan nada Seruni.
Perkataan Seruni membuat Amara tertegun sesaat, tetapi ia langsung menyemangati sahabatnya itu.
"Sayangku, hiduplah untuk hari ini saja. Besok ada kesusahannya sendiri. Kalo memang dalam ingatan Kamu, kalian adalah pasangan romantis, ya biarkan seperti itu! Mau Kamu amnesia, mau nanti ingatan Kamu kembali, itu urusan belakang!"
Amara memeluk Seruni untuk menyalurkan semangat yang membuat Seruni merasa terharu. Seruni meminta Amara menceritakan tentang hubungan Indra dan dirinya, sejauh yang diketahui oleh Amara. Amara terlihat enggan, tetapi karena wajah memelas Seruni, akhirnya ia mengalah.
Setelah Amara menceritakan semua yang ia ketahui, Seruni menghela nafas panjang. Ia merasa lelah, sekaligus tertekan karena semua orang yang ia sayangi mengatakan hal yang sama.
Amara menepuk pelan tangan Seruni sembari menyunggingkan senyum manis untuk mencerahkan hati wanita itu. Seruni menghela nafas panjang, sebelum ia membalas senyuman Amara dan tertawa kecil sembari mengangguk-anggukkan kepalanya karena tatapan Amara kembali menyiratkan kata-kata yang sudah diutarakannya tadi.
"Ehm, teringatnya Kamu nginap dimana, Say? Kamu nginap di sini aja ya! Please...."
Bujukan Seruni dibalas oleh Amara dengan tatapan ragu. Ia tidak ingin menyakiti hati Seruni, tetapi ia juga tidak ingin berada di rumah yang sama dengan lelaki yang selama ini selalu mengganggu pikirannya.
"Ehm, Aku udah booking di hotel selama 4 hari, Say! Jadi Aku nginap di hotel aja! Tapi Aku bakalan sering-sering ke sini...," balas Amara yang membuat Seruni mencebik.
"Pokoknya Kamu nginap di sini. Titik! Urusan hotel tinggal dibatalin toh, kalo ada penalti tinggal dibayar aja, kok susah sih! Aku bakalan minta Lastri nyiapin kamar tamu untuk Kamu!" tegas Seruni yang membuat Amara menghela nafas berat.
Ia tahu bagaimana sikap keras kepala Seruni, ia tidak pernah bisa menang bila Seruni sudah menetapkan sesuatu. Akhirnya, Amara hanya bisa mengangguk pelan, untuk mengiyakan perkataan Seruni, yang membuat wanita muda itu tertawa senang.
***
"Gimana untuk proyek yang ada di Medan, apakah sudah ada perkembangan?" tanya Indra kepada Reno, sang asisten.
Indra langsung menyibukkan diri dengan segudang rapat dan memeriksa dokumen yang sudah menumpuk di meja karena ia harus menemani Seruni di rumah sakit, beberapa hari yang lalu.
"Proyek sudah berjalan 50 persen, Pak! Tim di Medan, optimis proyek tersebut rampung sebelum due date yang ditentukan, Pak!" jelas Reno yang membuat Indra mengangguk.
"Saya minta laporan progress Minggu lalu, sore ini harus sudah diemail ke Saya!" tegas Indra yang langsung diiyakan oleh Reno.
Indra kembali fokus ke layar laptop yang ada di depannya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan nama Seruni tertera di layarnya.
Indra memandang layar itu selama sejenak, sebelum ia memutuskan untuk mengangkat panggilan dari istrinya itu.
Indra
"Halo!"
Seruni
"Halo Sayang, Kamu sibukkah? Amara ngajak kita makan siang di restoran langganan kami dulu. Kamu ikutan ya?"
Indra
"Aku sibuk! Kamu pergi bareng Amara aja!"
Seruni
"Kak Dimas juga ikutan, Sayang! Kamu mau ya, janji cuma makan siang aja!"
Hening menyelimuti percakapan itu. Indra tak menjawab pertanyaan Seruni yang membuat Seruni beberapa kali memanggil namanya.
Indra
"Ya udah shareloc aja!
Seruni
"Siap Sayangku, makasih ya Sayang! Muahhh! Selamat kerja, Sayang! See You, nanti ya!"
Indra hanya memandang layar ponselnya selama beberapa menit, setelah Seruni menyelesaikan panggilannya. Ia merasa Seruni terlalu berbeda, terlepas dari amnesia yang ia derita.
***
"Kak Dimas, di sini!" seru Seruni yang membuat tubuh Amara terasa membeku.
"Ka, Kamu ngajak Kak Dimas ke sini, Ni?" bisik Amara setelah terlepas dari keterkejutannya.
"Iya, Indra juga Aku ajak ke sini, Say! Biar lebih rame, Kamu gapapa kan?" tanya Seruni santai yang membuat Amara memijat keningnya karena frustasi dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Uni, apa Kamu lupa kejadian Aku sama Kak Dimas?" desis Amara yang membuat Seruni terkikik.
"Ingat! Tapi kan itu udah masa lalu, cintaku! Sekarang kita udah dewasa, masa masih baper aja cerita lalu zaman SMA!"
Perkataan Seruni, membuat Amara terhenyak. Baginya, setelah kejadian dengan Dimas beberapa tahun yang lalu, hidupnya tak akan pernah sama lagi. Ia tidak pernah menganggap kejadian masa lalu itu, hanya cinta monyet seorang gadis remaja kepada kakak sahabatnya. Saat itu, ia jatuh cinta, ya, ia jatuh cinta bukan hanya jatuh suka.
"Kalian udah lama?" tanya Dimas setelah sampai di meja tempat Seruni dan Amara.
"Engga Kak, baru aja kok!" balas Seruni, sedangkan Amara hanya mengangguk dan tersenyum canggung ke arah Dimas yang dibalas lelaki itu dengan senyum simpul yang selalu menjadi kekhasan Dimas.
Dimas duduk di hadapan Amara yang membuat degupan jantung wanita sangat kencang.
'Sialan! Udah bertahun-tahun kenapa rasa ini belum juga hilang! Dan, kenapa dia juga harus semakin cakep sih, Tuhan?!'
"Mara, gimana kabar Kamu? Akhirnya kita ketemu lagi ya!"
Deg
****