"Iya Kak, Aku baik, Kakak gimana kabarnya?" ujar Amara Kikuk, karena tatapan intens yang berasal dari Dimas.
Ia mengumpat dalam hati karena merasa tatapan Dimas mampu membuat semu merah jambu di pipinya.
'Come on, Amara Wiguna, that was past! Just past!'
"Halo Mara...."
Dimas menggoyangkan tangannya untuk menyadarkan lamunan Amara. Hal itu membuat Amara tersadar dan menarik wajahnya menjauhi tangan Dimas yang terasa dekat ke wajahnya.
"Ah, maaf Kak Dimas, tadi ada yang Aku pikirin, jadi agak meleng! Hehehe...."
Dimas hanya mengangguk pelan saat mendengar perkataan dari Amara. Ia menyunggingkan senyum simpul yang membuat Amara kembali mengumpat dalam hati. Senyum Dimas itu adalah salah satu kelemahan dari Amara.
Amara berdeham dan memalingkan wajahnya dan mencoba menikmati vanilla latte yang dipesannya tadi.
"Maaf, Aku terlambat!" ujar Indra yang akhirnya muncul.
"Gapapa, Sayangku! Duduk sini!" ujar Seruni yang terlihat begitu bahagia saat melihat kehadiran sang suami. Ia menepuk kursi kosong yang berada di sebelahnya.
Indra menghela nafas pelan, lalu mengikuti arahan dari Seruni. Indra menyapa Dimas dan Amara.
"Wah, udah pada ngumpul aja nih! Udah lama banget kalian engga ngumpul kayak gini! Ada acara spesial apa ini?" tanya seorang pria yang terlihat akrab dengan mereka.
"Hai, Ngga! Iya nih, tumben pada bisa ngumpul..., udah berapa tahun ya kita engga ngumpul? Sejak Amara pindah kota kayaknya!"
Penjelasan dari Dimas membuat Amara terkejut. Ia tidak menyangka bahwa baik Dimas maupun Seruni tak pernah lagi berkumpul di restoran itu, sejak kepergiannya dulu.
"Jadi kalian engga pernah ngumpul di sini lagi?" tanya Amara ragu untuk menghapus rasa penasarannya.
"Engga, kami datang bergantian! Engga seru ngumpul, kalo engga ada Kamu! Tanya aja sama Kak Dimas, iya kan Kak?"
Dimas kembali mengangguk untuk membalas perkataan dari sang adik. Jantung Amara kembali berpacu dengan cepat. Ia tidak pernah mengetahui isi pikiran Dimas. Ia pernah sekali salah kaprah dalam memahami sikap Dimas yang hangat, hingga ia memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya kepada Dimas. Namun, itu adalah kesalahan fatal dalam hidup Amara karena pada akhirnya, Dimas menolaknya dengan halus yang membuat harapan yang dipupuknya selama itu, kandas begitu saja.
Ia tidak ingin berharap lagi, walau ia tahu dengan pasti, ia sedang membohongi dirinya sendiri karena rasa itu tidak pernah padam sama sekali. Malahan sejak perpisahan itu, rasa rindunya kepada Dimas terus membuncah. Ia menjalani hari-harinya dengan perasaan cinta sepihak dan kenangan manis tentang Dimas yang selalu memenuhi pikirannya.
"Uni, ini minuman kesukaan Kamu!" ujar Rengga sang pemilik restoran dengan ramah yang membuat Seruni tersenyum senang dan mengucapkan terima kasih dengan cara yang manis kepada Rengga.
"Oh iya, ini siapa? Aku engga pernah liat sebelumnya."
Seruni langsung memperkenalkan Indra kepada Rengga.
"Ah iya, Kak Rengga..., ini Kak Indra, suami Aku! Sayang, ini Kak Rengga, sepupu Amara, sekaligus pemilik resto sama bengkel langganan Kami!"
Penjelasan dari Seruni membuat Rengga terkejut. Ia tidak pernah mendengar tentang pernikahan Seruni, baik dari Dimas maupun Amara. Rengga langsung menetralisir wajahnya dan tersenyum kepada Indra sembari mengulurkan tangannya.
Indra menjabat tangan Rengga dan mengangguk singkat sebagai tanda perkenalan. Ia sempat melihat raut wajah keterkejutan Rengga, yang membuat ia menyimpulkan sesuatu, tetapi ia mengabaikannya seolah hal itu bukan urusannya.
Di tengah obrolan mereka, suara ponsel Seruni berbunyi beberapa kali yang membuat ia mengernyitkan dahinya. Indra menoleh ke arah Seruni yang sedang melihat ke layar ponselnya. Tiba-tiba raut wajah Seruni berubah yang membuat Dimas dan Amara menjadi waspada.
Tubuh Seruni bergetar hingga ponsel yang berada di tangannya terlepas. Beruntung Indra langsung sigap menangkap ponsel tersebut.
"Ja..., jangan dilihat..., pleaseee!" ujar Seruni lirih sembari melihat ke arah Indra dengan wajah pucat dan memelas.
Indra mengikuti permintaan Seruni dan memandang sang istri dengan tatapan penuh arti. Mendadak Seruni memegangi kepalanya yang mulai terasa sakit. Tak lama pandangan Seruni menggelap, dan ia jatuh pingsan.
***
"Arghhh...," gumam Seruni sambil memegangi kepalanya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan memandang ke sekelilingnya.
"Ini dimana?" ujarnya lirih.
"Sayang, Kamu udah bangun! Ini di rumah sakit! Kamu buat Kami semua jantungan tau engga!" balas Amara yang sejak tadi duduk di sofa, di sebelah bangsal rumah sakit tempat Seruni berbaring.
"Aku kenapa, Ara?" tanya Seruni yang terlihat bingung.
"Kemarin Kamu pingsan pas di resto Kak Rengga! Kami semua panik, tau engga!" jelas Amara yang membuat Seruni mulai mengingat semua kejadian yang terjadi di restoran tadi.
"Aku pingsan berapa lama, Say?" tanya Seruni.
"Kamu udah pingsan satu hari, Say! Kami bergantian jaga Kamu. Papa Prima sama Mama Sukma, Aku suruh sarapan dulu di kantin rumah sakit. Kak Dimas dan Kak Indra jaga tadi malam, ini udah ngantor. Tadi katanya siangan, bakalan balik ke sini!" jelas Amara yang membuat Seruni mengangguk pelan.
Seruni menceritakan tentang apa yang ia lihat di ponselnya, hal itu membuat Amara memaki Bisma yang sudah bertingkah keterlaluan.
"Ini engga bisa dibiarkan, Say! Kita harus lapor polisi biar dia tau rasa!" geram Amara sembari mengepalkan tangannya.
"A..., apa kemarin Kak Indra atau Kak Dimas meriksa ponsel Aku, Say?" tanya Seruni ketakutan karena ia takut Indra akan semakin jijik terhadapnya karena foto-foto kemesraannya dan Bisma yang sengaja Bisma kirimkan ke ponsel miliknya.
Amara menggelengkan kepalanya, ia menyerahkan ponsel milik Seruni kembali ke pemiliknya.
"A..., Aku yang lihat foto-foto itu, Uni Sayang! Maaf, Aku udah bersikap engga sopan, tapi Aku penasaran apa isi pesan yang Kamu terima, makanya Kamu sampai collaps kayak kemarin!" aku Amara sembari menghela nafas berat seolah ia siap menerima amukan dari sahabatnya itu.
Namun, Seruni tidak mengatakan apapun, ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan berdiam diri. Tak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibirnya selama beberapa saat.
"Ara, gimana kalo waktu ngeliat foto-foto itu, Kak Indra jijik ngeliat Aku dan ngajuin cerai?"
Suara lirih Seruni terdengar berat dan sendu, hal itu membuat Amara langsung memeluk sahabatnya itu. Ia berusaha menguatkan Seruni dan mengatakan bahwa Indra tidak akan menceraikannya hanya karena foto-foto yang dikirimkan oleh Bisma.
'Uni Sayang, sebaiknya Kamu hilang ingatan selamanya, karena dengan itu Kamu engga akan pernah tau kalo Kamu udah ngelakuin hal yang lebih dari pada itu untuk menyakiti hati Kak Indra! Aku harap Kalian bisa seperti ini saja!'
Amara terus mendoakan kebahagiaan sahabatnya itu, ia merasa bahagia saat melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh Seruni dan Indra. Ia selalu berharap bahwa amnesia yang diderita oleh Seruni, bisa membawa sahabatnya itu kepada kebahagiaan sejati yang bisa ia raih bersama sang suami.
Tiba-tiba ponsel Seruni berbunyi lagi yang membuat wanita itu memucat. Ia tak berani melihat ke arah layar ponsel dan menyerahkannya kepada Amara.
Amara mengambil ponsel milik Seruni, lalu melihat nama Bisma di layar ponsel.
'Pucuk dicinta ulam tiba, si pengecut dan b*ngsat ini akhirnya muncul juga!'
****