Rania berusaha menjelaskan apa yang ia rasakan kepada Bastian. Agar pria itu mencabut keputusanya untuk menghentikan pernikahan kontrak mereka. Rania mengira jika Bastian tidak menyukai pelayanannya.
"K-kenapa? Apa aku melakukan kesalahan, Mas? Maafkan aku. Ini pertama kalinya aku disentuh lelaki. Jadi, aku canggung, Mas. B-bukan karena aku nggak suka sama Mas Bas..." Kalimat yang Rania ucapkan sengaja dipotong oleh Bastian.
"Nggak! Kamu emang nggak ada ngelakuin kesalahan apapun. It is normal. Tapi, maaf aku nggak bisa lanjut karena kamu masih perawan," jawab Bastian tanpa menatap sedikitpun ke arah Rania.
Rania semakin terkejut. Ia tidak habis pikir jika alasan Bastian ingin menghentikan pernikahan kontrak mereka hanya karena Rania masih perawan. Menurutnya, itu tidak masuk akal.
"Memangnya kenapa kalau aku masih perawan, Mas? Bukannya kamu beruntung? Zaman sekarang susah untuk cari perempuan yang masih perawan kayak aku." Rania protes. Menurutnya, alasan Bastian tidak masuk akal.
Bastian selesai mengenakan kancing terakhir dibaju kemeja yang ia kenakan. Ia sejenak menarik napasnya sebelum menjawab pertanyaan Rania. "Aku nggak bisa berhubungan badan sama gadis perawan karena satu hal. Tujuanku kawin kontrak untuk melampiaskan nafsu sama perempuan yang udah punya pengalaman dalam melayani pria. Bukan yang kayak kamu gini."
Gurat kekecewaan terlihat di wajah Bastian. Pria itu kecewa karena pihak Abah Ramli tidak memberi tahu profil gadis ini sebelumnya pada dirinya. “Harusnya mereka ngasih tahu profil kamu secara detail dulu sama aku. Bukan cuman negeliatin fotonya aja. Jadinya begini. Aku nggak suka.”
Rania hanya bisa terdiam menganga. Ia sungguh bingung. Tidak tahu harus bagaimana membujuk Bastian. Rania takut jika pernikahan kontraknya batal, maka ia tidak mendapatkan uang. Itu berarti biaya operasi bapaknya tidak akan bisa terbayarkan.
Keringat dingin Rania bercucuran. Ia mengambil selimut tebal yang telah tersedia untuk menutupi seluruh badannya. Kemudian, gadis itu berdiri menghadap ke arah Bastian. “ Mas, aku mohon jangan batalkan pernikahan kontrak kita. Aku dalam bahaya.” Wajah Rania tampak cemas dan ketakutan sekali.
Bastian mengernyitkan dahinya. Perasaan kecewa dengan pihak Abah Ramli masih menyelimuti dirinya. Jadi, ia tidak peduli jika Rania terus memohon padanya.
“Jangan halangi aku pergi!” ujar Bastian sembari menatap mata Rania dengan dingin. Ia sulit melangkah ke depan karena Rania menghalanginya.
Rania menggeleng dengan panik. "Nggak. Aku nggak akan ngizinin kamu keluar."
Gadis itu segera berlari ke depan pintu untuk mencabut kuncinya. Ia yang kini memegang kunci tersebut agar Bastian tidak bisa keluar. Deru napas Rania memburu karena begitu dilanda kecemasan.
Bastian mendekati Rania. "Kasih ke aku kuncinya!"
Rania lagi-lagi menggeleng. Ia menggenggam kunci itu erat-erat. Dan kedua tangannya sengaja diletakkan ke belakang. "Nggak. Mas Bastian nggak bisa pergi gitu aja. Nggak bisa batalin pernikahan kontrak ini gitu aja."
Bastian terdiam sembari terus memperhatikan Rania.
"Ingat, Mas Bastian udah tanda tangan diatas materai. Itu artinya, sampean sudah melakukan perjanjian. Jadi, Mas Bastian nggak boleh membatalkan ini." Rania berucap dengan bibir yang bergetar. Ia terus membayangkan wajah bapaknya yang saat ini masih terbaring di rumah sakit.
Bastian mendekati Rania. Bukannya menanggapi ucapan gadis itu, ia malah bertanya perihal usia Rania. "Berapa umur kamu?"
Dengan tergagap, Rania menjawab, "D-dua puluh tahun."
Bastian tersenyum merendahkan. "Bahkan umurmu baru dua puluh tahun. Tapi udah berani jual diri."
Rania merasa tersinggung dirinya dikatakan jual diri oleh pria itu. "Tolong jaga mulut sampean!" Mata Rania dipenuhi riak air yang seakan ingin tumpah. Perkataan itu menyakiti hatinya. Ingin sekali rasanya ia menceritakan semuanya. Segala penderitaan hidupnya, atau mengajak Bastian untuk bertukar posisi dengannya. Agar Bastian tahu bahwa ia melakukan ini semua karena keadaan yang mendesak.
"Lha, kenapa kamu malah nangis? Benar kan? Ini namanya jual diri. Kamu masih muda. Lebih baik berkarya atau cari kerja," kata Bastian dengan bijak.
Rania tertunduk. Malu dengan perkataan Bastian. Namun, itu juga menyayat hatinya.
“Cepetan kasih ke aku kuncinya!” pinta Bastian. Suaranya terdengar keras. Sehingga membuat Rania terkejut.
Rania menyeka air matanya. Ia mengangkat kepalanya untuk memandang ke arah Bastian. Keduanya saling pandang dalam waktu yang singkat.
Tiba-tiba, Rania membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Kini, tak sehelai benangpun melekat disana. Kemudian, gadis itu menarik paksa tubuh Bastian untuk memeluknya.
Bastian terkejut. Ia menolak tarikan dari Rania. Namun, gadis itu tetap memaksanya dalam keadaan telanjang bulat.
Brukk!
Bastian didorong oleh Rania. Tubuh pria itu jatuh diatas ranjang dengan posisi telentang. Lalu, dengan cepat Rania menindih tubuh kekar Bastian. Ia membuka baju pria itu dengan buru-buru.
"Hei! Apa yang akan kamu lakukan?" Kedua mata Bastian membulat. Terkejut dengan serangan mendadak dari Rania.
Gadis itu tidak mendengarkan protes dari pria tersebut. Ia tetap berada di atas tubuh Bastian. Meraba bonggolan dibalik celana milik pria itu. Bastian menganga. Ia benar-benar tidak menyangka dengan perlakuan Rania terhadapnya. Ini semua diluar dugaannya.
"Lepasin aku!" Bastian sekuat tenaga menolak junior di balik celananya itu disentuh oleh Rania. Ia berusaha untuk menurunkan Rania dari tubuhnya.
"Kalau kamu nggak bisa dihalusin, aku bakal pake cara kasar!" ujar Bastian dengan sedikit teriak agar Rania yang sedang gila itu dapat mendengarkannya. Namun, tetap saja Rania masih melanjutkan aksinya. Kali ini ia mencoba untuk membuka celana Bastian.
Sontak pria itu langsung mendorong tubuh Rania hingga gadis itu terjatuh ke lantai.
Brukk!!
“Aww..” Rania memekik kesakitan. Tulang belakangnya beradu pada lantai. Jika saja ia tidak menjaga keseimbangan tubuhnya, maka kepalanya sudah pasti terbentur lemari.
“Dasar cewek gila!” umpat Bastian kepada Rania. Wajah pria itu terlihat sangat kesal. Ia membenarkan baju dan celana yang ia kenakan. Lalu, Bastian turun dari ranjang dan mendekati Rania yang masih terduduk menahan sakit.
“Mana kuncinya?” tanya Bastian dengan wajah masamnya. Meminta kunci yang masih disembunyikan gadis itu.
Rania terdiam. Tubuhnya bergemetar. Ia berniat untuk tidak memberikan kunci itu kepada Bastian. Ia tidak ingin jika Bastian pergi dan membatalkan pernikahan kontrak mereka. Sebab, Rania butuh uang itu.
"Cepetan kasih ke aku kuncinya!" bentak Bastian sedikit memaksa.
Rania menggeleng. Terbesit sebuah ide di kepalanya. Ia bergerak ke depan dan sujud di bawah Bastian sembari memegang kedua kaki pria tersebut.
Rania berharap jika Bastian akan berubah pikiran.
"Tolong aku, Mas. Tolong jangan batalkan kawin kontrak kita ini. Bertahanlah satu minggu." Suara Rania terdengar pilu dan serak karena tangisnya.
"Mas, aku janji akan melakukan apa aja," imbuh Rania masih memohon.