Bastian terdiam. Memikirkan sesuatu. Matanya melirik ke arah laci. Bastian tahu bahwa Rania menyembunyikan kuncinya disana. Sebab, gantungan kunci itu terlihat. Rania tidak memasukkannya dengan benar.
"Baiklah. Kalau kamu maksa, aku tertantang. Tidurlah di atas ranjang sekarang," pinta Bastian kepada Rania. Gadis itu menurutinya. Ia dengan cepat melakukan perintah yang di beri Bastian.
Rania sudah telentang sempurna saat ini. Tanpa sehelai benangpun yang melekat dibadannya. Namun, Bastian tak kunjung menghampirinya. Pria itu membuka laci lemari, dan berlari dengan cepat ke arah pintu. Ia membuka pintu itu dengan cepat dan keluar dengan terburu-buru. Meninggalkam Rania didalam rumah sewa mereka.
Rania duduk. Terkejut melihat Bastian yang sudah melarikan diri. Meninggalkannya seorang diri. Rania ketakutan jika tidak bisa mendapatkan uang. Teringat wajah Ayahnya yang terbaring lemah dirumah sakit.
ARRGHH!!
Ia menjerit sembari mengeluarkan isak tangis. Apa yang telah ia lakukan ini adalah sebuah kesia-siaan. Rania menatap sendiri tubuhnya yang tanpa dibalut apapun itu. Menatap dengan jijik. Merasa tidak berguna.
Ia kembali mengenakan pakaiannya lagi. Hari sudah malam, namun dirinya tetap terjaga. Terduduk disudut kamar yang redup cahaya. Meringkuk dengan memeluk lututnya. Tergugu dalam tangisnya.
***
Sinar matahari muncul dibalik tirai putih yang jarang. Rania menggeliat. Ternyata ia ketiduran dan bangun dengan keadaan mata yang sembab karena kebanyakan menangis semalaman.
Tok! Tok! Tok!
Suara pintu yang diketuk. Rania menoleh ke sumber suara. Ia segera mendekat ke arah pintu. Gadis itu berjalan untuk membukanya.
Rania membuka pintu.
"Selamat pagi pengantin baru," ucap Ratih sumringah. Anak tertua Abah Ramli yang juga menjadi bagian tim dari bisnis kawin kontrak. Ia membawa sebuah nampan yang berisikan sarapan untuk Rania dan suaminya. Itu memang bagian dari pelayanan bisnis ilegal tersebut. Tim mereka akan menyediakan makanan selama masa kontrak pernikahan kedua mempelai. Jadi, suami istri yang terikat kontrak hanya menghabiskan waktu berdua. Tidak perlu memikirkan untuk makan. Sebab, untuk urusan pangan sudah tersedia.
"S-selamat pagi juga, Mbak Ratih," balas Rania sedikit terbata. Ia takut jika wanita itu mengetahui bahwa Bastian telah pergi semalam dan membatalkan pernikahan kontrak mereka.
"Aduh, kenapa mata kamu sembab begitu, Rania?" Mbak Ratih mulai curiga. Wajahnya tampak cemas.
"Hmm. Nggak apa-apa, Mbak. Cuman kurang tidur aja kayaknya," jawab Rania. Mencari alasan lain.
Mbak Ratih tersenyum geli. Ia berbisik kepada Rania. "Karena semalaman kamu ngelayani dia ya? Berapa ronde?" Mbak Ratih menggoda Rania. Senyumnya lebar.
Rania lega. Akhirnya Mbak Ratih tidak mencurigainya.
"Hm, Mbak Ratih bisa aja." Rania berusaha menutupi wajah sedihnya. Ia tersenyum malu.
"Biasa itu. Kalau pengantin yang lain Mbak liat juga begitu pagi-pagi. Ada yang matanya bengkak karena nggak tidur semalaman, ada yang lehernya merah-merah karena bekas ehem." Mbak Ratih tertawa malu-malu diakhir kalimat yang ia ucapkan.
Rania hanya bisa tersenyum paksa.
"Ngomong-ngomong, kemana suami kamu?" tanya Mbak Ratih. Kepalanya sengaja mendongak untuk sedikit mengintip ke dalam kamar. Karena ia tidak melihat dimana pria yang menjadi suami sewa Rania.
"Hm anu, Mbak. Mas Bastian berangkat ke kota habis subuh tadi. Mendadak ada meeting penting," jawab Rania masih menutupi hal yang sebenarnya terjadi.
Mbak Ratih mengangguk sembari ber-oh ria. Tidak ada kecurigaan diwajahnya. Ia percaya dengan jawaban Rania.
"Ya sudah. Ini Mbak cuman mau nganter ini. Minum susunya. Makan yang banyak ya." Mbak Ratih memberikan nampan yang berisikan sarapan itu kepada Rania.
Rania menerimanya. "Terimakasih ya, Mbak."
Mbak Ratih tersenyum. "Sama-sama. Oh iya, Ran. Jangan lupa selalu pakai pengaman ya kalau kalian bertempur. Ingat, tujuan pernikahan kalian ini bukan untuk menghasilkan keturunan." Mbak Ratih mengingatkan Rania.
Gadis itu mengangguk tanda mengerti. "Iya, Mbak."
"Mbak tinggal ya." Mbak Ratih pamit pergi dari hadapan Rania.
"Eh, Mbak." Rania menyentuh pelan pundak Mbak Ratih ketika wanita dewasa itu hendak melangkahkan kakinya.
Mbak Ratih berhenti. Ia menoleh lagi ke arah Rania. "Ada apa?"
"Hm. Anu, Mbak. Abah Ramli ada dirumah nggak, Mbak?" tanya Rania.
"Ada. Memangnya kenapa? Ada perlu tah?" Mbak Ratih bertanya.
Rania mengangguk. "Iya, Mbak. Ada keperluan."
"Oh yaudah datang aja ke rumah, Ran." Mbak Ratih memberi saran.
"Baik, Mbak. Terimakasih ya," ucap Rania dengan sopan. Berusaha tersenyum untuk menutupi kesedihannya.
Mbak Ratih keluar dari rumah sewa tersebut. Setelah memastikan wanita dewasa itu telah pergi, Rania cepat-cepat bersiap dan berniat untuk mendatangi rumah Abah Ramli. Gadis berusia dua puluh tahun ini memiliki ide agar ia bisa mendapatkan uang itu untuk membayar biaya operasi bapaknya.
Pak Muh, Bapak kandung Rania itu harus melakukan operasi pengangkatan ginjal karena kanker ginjal yang dideritanya. Rania yang merupakan anak tunggal dari mantan juragan tembakau kaya itu harus berjuang sendiri untuk mendapatkan uang. Bisnis Bapaknya tiba-tiba bangkrut, mengharuskan Rania untuk bertahan bagaimanapun caranya.
Rania sampai disebuah rumah yang pemiliknya adalah Abah Ramli. Rumah itu tidak jauh dari rumah sewa yang tadi menjadi tempat tinggal Rania bersama Bastian.
Tok! Tok! Tok!
Rania mengetuk pintu. Ia berusaha menutupi tangannya yang bergetar karena takut jika idenya untuk mendapatkan uang itu gagal.
Ceklek!
Pintu terbuka. Seorang pria tua muncul dari balik daun pintu itu. Ia membetulkan posisi kacamata senjanya untuk memastikan apakah yang dia lihat benar atau tidak, bahwa Rania saat ini yang tengah berdiri didepannya.
"Rania?" sapa Abah Ramli untuk memastikan.
Rania mengangguk dengan sopan. "I-iya, Abah."
"Ayo duduk dulu," ajak Abah Ramli. Ia berjalan lebih dulu ke kursi yang berada diteras rumahnya. Rania mengkuti.
"Kemana suami kamu?" tanya pria tua itu.
"Hm, Mas Bastian pergi dari subuh tadi ke kota karena ada meeting penting, Abah," jawab Rania sedikit takut. Tapi, ia berusaha untuk menutupi ketakutannya itu.
Abah Ramli mengangguk, memercayai perkataan Rania.
"Lalu, ada perlu apa kamu kesini?" tanya Abah Ramli.
Mendengar pertanyaan itu, mulut Rania langsung bersiap bergerak untuk mengatakan idenya.
"M-maaf, Abah. Mas Bastian memintaku untuk mengambil uang mahar itu," ucap Rania. Tentu ini hanyalah rekayasanya agar bisa mendapatkan uang tersebut.
Kening Abah Ramli berkerut. Ia menatap serius ke arah Rania. "Kenapa? Bukannya perjanjiannya uang itu akan aku berikan padamu setelah kontrak pernikahan kalian selesai? Berarti enam hari lagi."
"I-iya, Abah. Tapi, Mas Bastian mengatakan seperti itu tadi subuh setelah kami selesai berhubungan badan." Rania mencoba untuk memastikan Abah Ramli. Meskipun dirinya tidak yakin jika mucikari kawin kontrak itu akan memercayainya.
Pria tua itu terdiam sejenak. Ia tetap menatap Rania. Tatapannya datar. Rania tidak bisa menebaknya.