Setelah selesai membereskan sisa-sisa laporan, Leon bergegas ke parkiran agar bisa langsung menuju mansion. Dia yakin bahwa sang ibu sudah menantikan kehadiran dirinya, bukan untuk di sanjung melainkan untuk di interogasi. Melelahkan memang namun Leon sangat menyayangi wanita itu melebihi apapun di dunia ini.
Saat hendak keluar dari kantor dengan mobilnya, Leon melihat ternyata Alexander juga sudah hendak pulang.
"Lex jangan lupa ke mansion atau hidupmu kelar," Ujar Leon sembari tertawa kecil.
"Kau memang senang jika melihat diriku menderita sobat," Ujar Alexander sembari memutar bola matanya jengah.
Alexander harus mempersiapkan telinganya nanti malam untuk mendengarkan ceramah dari menantu keluarga Bagaskara itu.
Setelah perdebatan kecil antara dua sepupu itu, mereka langsung bergegas menuju mansion Bagaskara agar sang ibu tidak mengomel karena keterlambatan mereka. Sesampainya di mansion tampak Asya sedang menonton tv sembari mengemil.
"Oh kau pulang juga?" Tanya Leon pada adik bungsu nya itu.
Melihat kedatangan Leon tentu saja Laasya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk meminta tambahan uang jajan dari sang kakak.
"Iya dong, bang bagi uang jajan dong, " Seru Asya sembari mengedipkan matanya.
"Ck, kau seperti tidak diberikan uang jajan saja," Omel Leon pada Asya.
"Ayolah bang, aku mau membeli album BTS terbaru," Rayu Asya pada Leon.
Leon sangat menyayangi adiknya itu, langsung tanpa lama dia mentransfer sejumlah uang untuk sang adik.
Melihat jumlah yang di transfer oleh Leon sontak Asya berlari dan memeluk Leon.
"Udah ah sana, aku mau mandi. Apa papa di rumah?" Tanya Leon sembari ingin ke kamarnya untuk membersihkan diri.
"Iya, papa baru pulang semalam dan tiba tadi siang," Ujar Asya.
"Hmm," Gumam Leon
"Eh ada bang Lex, baru sampai bang?" Tanya Asya yang baru menyadari kehadiran Alexander
"Ck, kau terlalu sibuk dengan Leon sampai tidak menyadari kehadiran diriku," Ujar Alexander geram akan tingkah Asya
"Sorry bang, tapi ATM berjalan lebih diutamakan," Ujar Asya sambil terkikik.
Melihat hal itu, Leon segera memilih ke kamarnya dan mandi sebelum makan malam tiba. Mendengar suara tertawa dari ruang tamu membuat Clara penasaran siapa yang datang sehingga Asya sangat bahagia.
"Loh Lex, dimana Alex? Kalian tidak bareng? " Tanya Clara
"Alex sedang menuju kemari bun, ada apa bunda tiba-tiba menyuruh aku dan Alex kemari?" Tanya Alexander penasaran.
"Nanti saja saat semuanya sudah kumpul baru bunda bahas, Sya mandi dulu sudah sore ini. " Titah sang ibu pada putrinya
"Baiklah ma, dadah bang Alexander," Asya lalu menuju kamarnya untuk membersihkan diri sebelum omelan sang ibu kembali terdengar.
Jam makan malam hampir tiba, ketiga tersangka sudah berada di meja makan, di dampingi oleh Asya dan juga Andi sebagai saksi malam ini.
Sebelum mulai, Clara mempersilakan mereka semua untuk makan dulu agar tidak ada alasan saat dia mulai mengomel. Lima belas menit kemudian Clara langsung menginterogasi ketiga tersangka itu.
"Jadi? Apa ada yang mau menjelaskan kepada mama?" Tanya Clara dengan lembut.
"Menjelaskan apa ma?" Leon bingung dengan pertanyaan yang diajukan oleh sang ibu.
"Mama mendapat laporan dari seseorang bahwa Leon Bagaskara makan malam lagi," Ujar sang ibu dengan menegaskan kata lagi.
"Hehehe mama tau dari mana?" Cengir Leon yang mulai paham arah pembicaraan
Leon melirik Alexander yang mulai keringat dingin padahal di ruangan itu AC nyala. Melihat saudaranya ketakutan ide jahil pun terlintas di benak Alex
"Ada apa Lex? Kenapa kau seperti maling yang tertangkap oleh warga?" Tanya Alex dengan nada mengejek.
"Ah tidak, aku hanya sedang latihan pernafasan saja," Ujar Alexander sembari menginjak kaki Alex agar laki-laki itu tidak berbicara yang bukan-bukan.
"Awsh Lex, jangan menginjak kakiku," Ujar Alex tertawa
"Diamlah!" Senggah Leon frustasi pada kedua saudaranya itu yang tidak tau situasi dan kondisi.
"Jadi, bagaimana? Apa yang mama ketahui itu benar Alexander?" Tanya Clara pada Alexander
Mendapatkan pertanyaan itu sontak Alexander semakin takut, takut menjawab benar maka dia akan di habisi oleh Leon, jika dia menjawab salah maka Clara akan menghukum nya. Ah pilihan yang sulit bagi Alexander.
"Ah bunda, jangan terlalu percaya pada gosip," Ujar Alexander berusaha tenang agar Clara tidak curiga.
"Oiya? Bagaimana seorang mata-mata bisa bergosip Lex?" Tanya Clara pada Alex.
"Tidak bunda, mata-mata harus memberikan informasi sesuai dengan apa yang dia ketahui tanpa melebihkan atau mengurangkan hal itu," Ujar Alex dengan polosnya.
Kepolosan Alex membuat Leon dan Alexander geram karena laki-laki itu tidak bisa membaca situasi agar bisa menolong mereka berdua.
"Wah sepertinya ada yang berbohong ma," Kompor Asya pada sang ibu
Asya memang senang memanaskan suasana saat ini membuat kedua laki-laki itu ingin menguliti Asya.
"Alex, kau memang jenius dan jujur. Lalu apa benar yang bunda tanya pada Leon itu?" Tanya Clara pada Alex.
"Benar bunda, malam itu Alexander membawa tiga wanita ke apartemen Leon," belum sempat Alex mengadukan semuanya pada Clara, Alexander langsung membekap mulut laki-laki itu.
"Ohh jadi putra-putra mama sudah berani berbohong sekarang?" Tanya Clara menatap Alexander dan Leon.
"Tidak ma, bukan begitu, anu" Penjelasan Leon membuat Clara semakin marah.
"Leon, kau tau bukan itu bukanlah perbuatan baik. Bagaimanapun mereka memiliki keluarga dan juga tanggungjawab, Bagaimana bisa kau dengan seenaknya membunuh mereka hanya demi kepuasan yang sementara. Apa kau tidak berpikir bagaimana jika itu adalah Asya atau mama?" Omel Clara pada Leon.
Mendengar Clara mulai mengomel membuat Andi memilih menyibukkan dirinya dengan berkas daripada dia juga kena nantinya.
"Tuh dengar kan Leon apa kata bunda," Ejek Alexander pada sepupunya itu.
"Kau pun membantunya Lex, kau tau bukan semua itu tidak baik. Kau seharusnya menasehati sepupumu agar tidak begitu, apalagi kau lebih tua daripada Leon harusnya menjadi contoh bukan malah setuju saja dengan apa yang adikmu inginkan," Omel Clara pada Alexander.
Mendengar Alexander juga mendapat omelan membuat Leon menertawakan sepupunya itu.
"Sudahlah mengomeli kalian itu hanya membuang tenaga saja karena pasti kalian tidak akan menurut apa kata mama," Ujar Clara dengan kesedihan yang dibuat-buat agar kedua laki-laki itu merasa bersalah.
"Hayoo gara-gara kalian mama sedih, ckck benar-benar anak durhaka," Ujar Asya ikut dalam drama yang dibuat sang ibu.
Melihat sang ibu bersedih Leon segera memeluk dan meminta maaf.
"Ma, Leon minta maaf. Iyon janji akan mencoba menghilangkan kebiasaan itu, mama jangan sedih," Ujar Leon merasa bersalah.
"Bunda, Alexander juga janji akan lebih memperhatikan Leon dan melarang dia melakukan hal itu," Ucap Alexander sembari ikut memeluk Clara agar wanita itu tenang.