“Ah pegal sekali,” ucap Isabella.
Pagi itu, Isabella terbangun dengan leher pegal dan rambut berantakan karena tidur di sofa kecil milik Mirella.
Isabella menatap langit-langit apartemen sambil mencoba mengingat mengapa dirinya tidak berada di kamar sendiri.
Begitu ingatannya kembali pada perceraian, koper yang dilemparkan keluar rumah, dan wajah mantan suaminya yang penuh penghinaan, Isabella langsung menarik bantal untuk menutupi wajahnya.
"Aku bersumpah, kalau suatu hari bertemu Dario lagi, aku akan menagih semua biaya hidup yang sudah kuhabiskan untuk keluarganya," gerutunya dari balik bantal. "Termasuk biaya kesabaran, karena itu barang paling mahal yang pernah kuberikan kepada mereka."
"Kalau kamu terus menggerutu, tetangga sebelah akan mengira aku memelihara nenek-nenek di ruang tamu."
Isabella menurunkan bantal dan mendapati Mirella berdiri di ambang pintu dengan dua cangkir kopi.
Rambut sahabatnya masih berantakan, tapi wajahnya sudah tampak segar.
"Aku baru dua puluh lima tahun, Mirella. Tolong jangan mempercepat proses penuaanku."
"Kalau begitu, berhentilah berbicara seperti perempuan yang sudah melewati tiga perang dunia." Mirella meletakkan kopi di meja. "Bagaimana tidurmu?"
"Seperti putri kerajaan yang diasingkan oleh keluarganya sendiri."
"Putri kerajaan biasanya punya kastel cadangan."
"Kalau begitu, aku putri kerajaan yang sangat miskin,” ucap Isabella.
Mirella tertawa, lalu duduk di kursi seberang sofa. "Sudah memikirkan tawaran pekerjaan itu?"
Isabella langsung melirik ponselnya yang tergeletak di meja.
Pengumuman lowongan pengasuh eksklusif keluarga De Luca masih terbuka di layar, lengkap dengan persyaratan yang terasa lebih menegangkan setelah ia membacanya berulang kali semalam.
"Aku memikirkannya sepanjang malam," jawab Isabella sambil meraih cangkir kopi. "Gajinya bisa membantuku menyewa tempat tinggal sendiri, membeli kebutuhan, dan menabung. Tetapi nama keluarga itu membuatku ingin memeluk diri sendiri."
"Karena mereka keluarga mafia?"
"Karena aku tidak yakin bisa membedakan aturan rumah biasa dengan aturan rumah mafia." Isabella mengerutkan hidung. "Di rumah biasa, kalau kita memecahkan piring, kita membelinya lagi. Di rumah mafia, apakah aku harus mengganti piring itu dengan menyerahkan ginjalku?"
"Isabella!"
"Aku hanya bertanya!"
Mirella menggeleng sambil menahan senyum. "Dengarkan aku. Kamu punya pengalaman merawat Daud, kamu sabar menghadapi anak-anak, dan kamu tahu bagaimana mengurus rumah. Jangan menolak kesempatan hanya karena kamu takut pada nama besar mereka."
"Aku tidak takut pada nama mereka,” geleng Isabella.
"Oh, ya?"
"Aku hanya menghormati jarak aman antara diriku dan orang-orang yang bisa memerintahkan seseorang menghilang sebelum sarapan."
Mirella menghela napas panjang. "Kamu benar-benar tidak bisa serius lebih dari lima menit."
Isabella menatap kopi di tangannya.
Di balik semua leluconnya, ia tahu Mirella benar. Ia tidak memiliki kemewahan untuk memilih pekerjaan berdasarkan kenyamanan.
Tabungannya hampir habis, keluarganya tinggal jauh, dan ia tidak ingin terus membebani sahabatnya.
"Aku akan melamar," putusnya akhirnya. "Kalau gagal, setidaknya aku bisa berkata bahwa aku pernah mencoba mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang membuatku hampir tersedak."
"Begitu lebih baik." Mirella segera mengambil ponselnya. "Kirim lamaran sekarang. Aku akan membantumu memeriksa berkasnya."
***
Dua jam kemudian, Isabella sudah duduk di meja makan dengan laptop pinjaman Mirella, ia mengenakan blus putih sederhana dan celana hitam, sementara rambut panjangnya diikat rapi.
Wajahnya terlihat lebih segar setelah mandi, meskipun lingkaran tipis di bawah matanya belum sepenuhnya hilang.
Isabella mengisi formulir lamaran dengan teliti, memasukkan pengalaman mengurus rumah tangga dan merawat Daud, lalu melampirkan dokumen yang diminta.
Ketika sampai pada pertanyaan tentang alasan melamar, Isabella berhenti mengetik.
"Apa yang harus kutulis di sini?" tanyanya sambil memiringkan laptop ke arah Mirella. "'Saya membutuhkan uang karena mantan suami saya menganggap saya tidak menarik lagi'?"
Mirella hampir menyemburkan kopinya. "Jangan pernah menulis itu!"
"Baiklah. Bagaimana kalau 'Saya memiliki kemampuan bertahan hidup yang luar biasa setelah dibuang seperti sampah'?"
"Isabella, aku mohon!"
Isabella terkekeh, kemudian menghapus kalimat yang baru saja ditulisnya.
Setelah berpikir sejenak, ia mengetik bahwa dirinya memiliki pengalaman merawat anggota keluarga, mampu bekerja di bawah tekanan, dan bersedia mempelajari kebutuhan khusus anak yang akan diasuhnya.
Isabella membaca kembali jawabannya, memperbaiki beberapa kesalahan, lalu menekan tombol kirim.
Sebuah pemberitahuan muncul di layar.
Lamaran Anda telah diterima. Kandidat yang lolos pemeriksaan awal akan dihubungi untuk mengikuti tahap seleksi berikutnya.
Isabella menatap layar itu dengan mulut sedikit terbuka.
"Sudah?" tanyanya.
Mirella mengangguk. "Sudah."
"Kenapa rasanya seperti baru saja menyerahkan surat wasiat?"
"Karena kamu berlebihan."
Isabella menutup laptop, lalu menyandarkan punggung ke kursi, sejak malam sebelumnya, ia merasa telah melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri, sekecil apa pun itu. Namun, ketenangan tersebut hanya bertahan sampai ponselnya berdering.
Nama Dario muncul di layar.
Senyum Isabella langsung menghilang, ia membiarkan panggilan itu berdering sampai berhenti.
Beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk.
[Dario: Jangan menghubungiku lagi. Semua barangmu sudah dibuang. Jangan datang ke rumah untuk meminta apa pun.]
Isabella membaca pesan itu tanpa berkedip. Tangannya mengencang di sekitar ponsel, sementara dadanya terasa sesak oleh kemarahan yang sejak tadi berusaha ia tekan.
Mirella memperhatikan perubahan wajahnya. "Dario?"
Isabella mengangguk pelan, lalu meletakkan ponselnya di meja. "Dia membuang barang-barangku."
"Isabella, kita bisa meminta bantuan hukum jika dia menahan barang-barang milikmu."
"Aku tahu." Isabella mengusap wajahnya. "Aku hanya tidak mengerti bagaimana seseorang bisa hidup bersamaku selama dua tahun, lalu memperlakukanku seolah-olah aku tidak pernah berarti apa-apa."
Mirella meraih tangannya. "Cara dia memperlakukanmu tidak menentukan nilai dirimu."
Isabella terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk. "Aku tahu. Hanya saja, terkadang aku perlu mendengarnya dari orang lain."
"Kalau begitu, dengarkan baik-baik. Kamu tidak harus kembali kepadanya, tidak harus memohon, dan tidak harus membuktikan bahwa kamu pantas dicintai. Sekarang, fokuslah membangun hidupmu sendiri."
Isabella membalas genggaman sahabatnya. "Terima kasih, Mirella."
"Jangan berterima kasih dulu. Kamu masih harus mencari pekerjaan."
"Benar juga." Isabella menarik napas, kemudian berdiri. "Baiklah. Kalau keluarga De Luca menerimaku, aku akan menjadi pengasuh terbaik yang pernah mereka miliki."
Mirella mengangkat alis. "Bukankah tadi kamu takut mereka akan mengambil ginjalmu?"
"Kalau gajinya cukup untuk membeli ginjal pengganti, aku bersedia mempertimbangkannya."
"ISABELLA!"
Tawa Isabella akhirnya memenuhi apartemen kecil itu, mengusir sebagian kesedihan yang sejak kemarin terus membuntutinya.
***
Pada waktu yang sama, jauh dari apartemen Mirella, mansion keluarga De Luca berdiri megah di balik gerbang besi hitam dan penjagaan bersenjata.
Di ruang kerja yang luas, Alessandro Vittorio De Luca sedang membaca laporan pelamar pengasuh sambil sesekali memeriksa jam tangannya.
Matteo Ferrante berdiri di seberang meja dengan sebuah tablet di tangan.
"Sudah ada beberapa kandidat yang memenuhi persyaratan awal, Don," lapornya. "Sebagian memiliki pengalaman profesional, sertifikat pertolongan pertama, dan pelatihan psikologi anak."
"Bagus. Periksa latar belakang mereka dengan teliti."
"Sudah kami mulai." Matteo menggeser layar tablet. "Ada satu kandidat yang baru mengirimkan lamaran pagi ini. Namanya Isabella Sofia Moretti."
Alessandro mengangkat pandangan. "Pengalaman?"
"Merawat anggota keluarga dan mengurus rumah tangga. Tidak banyak pengalaman formal sebagai pengasuh profesional, tetapi berkasnya lengkap."
"Kenapa melamar pekerjaan ini?"
"Dia menuliskan bahwa dirinya membutuhkan pekerjaan dan bersedia mempelajari kebutuhan anak yang akan diasuhnya."
Alessandro menyandarkan punggung ke kursi. "Setidaknya dia tidak menulis bahwa dia ingin menikah dengan seorang De Luca."
Matteo mengangkat sebelah alis. "Apakah ada yang benar-benar menulis seperti itu?"
"Ada." Tatapan Alessandro kembali dingin. "Dan aku tidak ingin melihat nama mereka dalam daftar seleksi."
Matteo menahan komentar yang hampir keluar dari mulutnya. Ia sudah cukup lama bekerja bersama Alessandro untuk mengetahui bahwa atasannya itu tidak menyukai orang yang berusaha mendekati keluarganya demi uang atau kedudukan.
"Apakah Isabella Moretti akan dimasukkan ke tahap pemeriksaan berikutnya?" tanyanya.
Alessandro mengambil berkas pelamar tersebut, membacanya sekilas, lalu meletakkannya kembali.
"Periksa semuanya. Jangan meloloskan siapa pun hanya karena cerita hidupnya menyedihkan."
"Dimengerti, Don."
"Dan, Matteo?"
Pria itu berhenti sebelum mencapai pintu. "Ya, Don?"
"Pastikan tidak ada satu pun kandidat yang menganggap putraku sebagai jalan untuk mendapatkan kekayaan keluarga De Luca."
Matteo mengangguk. "Saya akan memastikan semuanya diperiksa."
Setelah Matteo keluar, Alessandro kembali menatap foto kecil di sudut mejanya. Leolin sedang duduk di taman dalam foto itu, tetapi wajah bocah tersebut tidak menunjukkan keceriaan seperti anak seusianya.
Sudah tiga tahun sejak kematian Chiara, dan sejak saat itu, rumah yang dahulu dipenuhi suara tawa terasa semakin sunyi.
Alessandro mengepalkan tangan sesaat sebelum kembali membuka berkas berikutnya.
Ia tidak membutuhkan seorang perempuan untuk menggantikan Chiara. Ia hanya membutuhkan seseorang yang mampu membuat putranya merasa aman tanpa memanfaatkan nama keluarga mereka.
***
Sementara itu, di apartemen kecil yang jauh dari mansion tersebut, Isabella sedang membantu Mirella mencuci piring sambil mengoceh tentang kemungkinan-kemungkinan terburuk dari pekerjaan barunya.
Ia belum tahu apakah lamarannya akan diterima, ia bahkan belum pernah melihat wajah pria yang namanya tertera pada pengumuman pekerjaan itu. Namun, satu hal telah berubah.
Setelah diusir dari rumahnya sendiri, Isabella memiliki sesuatu yang bisa ia tunggu.
Sebuah kesempatan dan tanpa disadarinya, kesempatan itu akan membawanya memasuki dunia yang sama sekali berbeda, dunia tempat seorang Don paling kejam tidak pernah membiarkan siapa pun mendekati putranya tanpa alasan yang jelas.
Bersambung.